Plot Twist : Mencela Cermin

Kamis, 08 November 2018

Bismillah...

Sekarang lagi jaman yah melabel orang lain sebagai toxic person, ketika kita dikecewakan atau melihat gelagat yang tidak kita sukai.

Kadang kita terlalu cepat menyimpulkan suatu kejadian dari sudut pandang protagonis atau "korban".

The biggest plot twist is...

Maybe you are the toxic person, but you don't realize it.

Maybe... the problem is you. It's not always the other person.

---

Setiap orang punya "blind spot" atau sisi kepribadian yang tidak disadari, karena tidak bisa dilihat sendiri secara langsung.

Nah, ada kalanya... blind spot itu justru terproyeksikan ke orang lain.

Jadi, seolah-olah orang lain yang toxic, padahal (tanpa sadar) kitalah yang bermasalah.

Mengerikan bukan?

Hanya karena belum ada yang menegur, bukan berarti kita "aman" lho.

Mungkin karena lisan kita nyelekit, tersinggungan, hobi menggosip, apa-apa suka dipasang di status, dst dst dst... akhirnya orang-orang jadi sungkan untuk menasihati kita.

---

What should I do?

Berdoa, minta hidayah dan pertolongan ke Allah 'Azza wa Jalla.

Kalau kita bisa kritis menyikapi orang lain, semestinya kita bisa lebih cermat mengamati diri kita sendiri.

Luangkan waktu untuk merenung dan jujur dengan diri sendiri.

Yang bisa kita perhatikan adalah...

(1) Perilaku dan kebiasaan kita sehari-hari,

(2) sudut pandang pada situasi tertentu dan respon kita (terutama saat stres/tertekan),

(3) prasangka, lintasan-lintasan pikiran, dan mood.

Sekarang kan banyak artikel "How To Spot Toxic People", jadi tinggal dicek ke diri kita sendiri.

Misal...

Apa kita punya sikap "me vs the world"?

Apa kita suka mendramatisir keadaan?

Apa kita lebih sering menerima (atau bahkan mengambil), daripada memberi?

Apa kita tidak menyaring kata-kata yang keluar dari lisan dan tulisan kita?

Apa kita cenderung mendominasi pembicaraan, mendikte dan mengontrol orang lain?

Apa kita susah saat orang lain senang dan senang saat orang lain susah?

Apa kita selalu menyalahkan orang lain dan sibuk mencari kambing hitam?

dst.

Kalau perlu, tulis insight-nya di jurnal atau notes hp. Dicatat jadi poin-poin, lalu kita evaluasi dari waktu ke waktu progres (perbaikan dirinya) sudah sejauh apa.

Bagi muslim, baca juga kisahnya orang-orang shalih di generasi yang direkomendasikan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, yaitu para sahabat, tabi'in, dan tabi'ut tabi'in. Kemudian jadikan parameter untuk introspeksi dan memperbaiki diri.
We have to be mature enough to understand that we have some toxic traits too. (Unknown)
---

Hanya Allah yang memberi taufik.

Pengingat diri sendiri sebelum orang lain.

Barakallahu fiikunna.
Thanks for reading and have a nice day~
Post Comment
Posting Komentar

Please kindly check "Frequently Asked Questions" (FAQ tab on menu bar) before asking. Thank you! ^^