Mutiara Nasihat

Selasa, 30 Oktober 2018

Bismillah...

Salah satu tokoh yang sangat saya suka petuahnya adalah Al Hasan Al Bashri rahimahullah.

Karena keterbatasan akses, saya kumpulkan beberapa kutipannya untuk saya baca-baca ulang.

Link source terlampir. Ada pula yang dari buku Untaian Nasihat Hasan Bashri karya Syaikh Shalih Ahmad Asy-Syami.

Semoga bermanfaat juga buat yang lain.

---

Tidaklah gambaran kehidupan dunia seluruhnya dari awal hingga akhirnya, kecuali seperti seseorang yang tidur.

Dia melihat dalam tidurnya apa yang dia senangi, kemudian dia tersadar bangun.

(Al Mujalasah wa Jawabirul Ilmi, 227)

---

Wahai anak manusia, janganlah engkau melakukan suatu kebenaran karena riyaa' dan jangan meninggalkannya karena malu.

(Al-Bayan wa at-Tabyin, 3/135)

---

Hai anak manusia, juallah duniamu untuk akhiratmu, niscaya engkau meraih keduanya.

Dan jangan sekali-kali menjual akhiratmu untuk duniamu, hingga engkau tidak mendapatkan keduanya.

(Al-Hilyah, 2/143 dan Tahzib al-Hilyah, 1/329)

---

Al Hasan Al Bashri rahimahullah pernah ditanya tentang rahasia zuhud beliau di dunia ini, kemudian beliau pun menyebutkan 4 perkara:

(1) Aku tahu bahwa amalku tidak akan dikerjakan oleh orang lain, maka aku sibukkan diriku dengannya.

(2) Dan aku tahu bahwa rezekiku tidak akan pergi ke orang lain, maka tentramlah hatiku.

(3) Dan aku tahu bahwa Allah memantau diriku, maka aku malu jika Allah melihat kemaksiatanku.

(4) Dan aku tahu bahwa kematian menungguku, maka aku siapkan bekal untuk bertemu dengan Rabb-ku.


---

Aku sungguh merasa heran terhadap sebagian orang.

Dimana mereka diperintahkan untuk menyiapkan bekal dan diseru untuk segera berangkat (menuju akhirat), sementara mereka masih saja terus bermain-main.

(Aina Nahnu, 2/197)

---

Sungguh aneh...

Orang yang bisa tertawa-tawa, sedangkan di belakangnya adalah kobaran api neraka...

Dan orang yang bisa bergembira ria, sementara di belakangnya ada kematian selalu mengintai dirinya.


---

Yang kuketahui, bahwa sebagian dari orang-orang shalih itu berusaha keras agar Allah tidak melihatnya tertawa, sampai ia mendapatkan kepastian antara dua tempat kembalinya, di surga ataukah di neraka.


---

Seorang mukmin beramal taat dan ia dalam keadaan takut (akan siksa Allah).

Sedangkan ahli maksiat melakukan maksiat dan merasa aman (dari murka Allah).


---

Sesungguhnya seorang mukmin di pagi maupun petang hari selalu dalam kondisi sedih dan hal itu tidak terelakkan, karena dia berada di antara dua kekhawatiran.

(1) Berbagai dosa masa lalu yang ia tidak tahu apa yang akan Allah perbuat dengan dosa-dosa itu.

(2) Ajalnya yang menanti sementara ia tidak tahu kebinasaan apa yang akan menimpa saat ajal tiba.


---

Rasa takut itu harus lebih dominan daripada pengharapan, karena jika pengharapan mengalahkan rasa takut, maka rusaklah hati.

Aku heran terhadap orang yang takut siksa tapi tak berhenti (berbuat maksiat), dan orang yang berharap pahala tapi tidak mau beramal.

(Al-'Iqd al-Farid, 3/113)

---

Ada seseorang berkata kepada Al Hasan Al Bashri rahimahullah, "Hai Abu Sa'id, semalam aku hendak melaksanakan shalat (qiyamul lail), tapi tidak bisa."

Beliau berkata, "Engkau terbelenggu oleh dosa-dosamu."

(Al-'Iqd al-Farid, 3/152).

---

Demi Allah, mereka beramal dengan taat dan bersungguh-sungguh dalam melakukannya, serta takut jika ditolak.

Sesungguhnya orang beriman itu menggabungkan antara amal baik dan rasa takut.

Sedangkan orang munafik menggabungkan amal buruk dan rasa aman.

(Syarh al-Aqidah ath-Thawawiyah, nomor 382).

---

Sesungguhnya ada suatu kaum yang dibuat terlena oleh angan-angan terhadap ampunan dan harapan akan rahmat, hingga mereka meninggalkan dunia tanpa membawa amal shalih.

Seorang dari mereka berkata, "Aku berbaik sangka kepada Allah dan berharap rahmat-Nya," tapi ia berdusta.

Jika ia berbaik sangka kepada Allah, tentulah ia berbuat baik.

Andai ia berharap rahmat Allah, tentulah ia cari rahmat itu dengan amal shalih.

Hampir binasalah orang yang memasuki sahara tanpa bekal maupun air.

(Al-Bidayah wa an-Nihayah, 9/268)

---

Orang beriman adalah orang yang tahu bahwa apa yang difirmankan oleh Allah adalah seperti yang difirmankan.

Orang beriman adalah orang yang paling baik amalnya dan paling takut (kepada Allah).

Meskipun ia nafkahkan segunung harta, ia tak merasa aman sebelum menyaksikan (keselamatan setelah menyebrang di atas shirath).

Setiap bertambah kebaikan, kebajikan, dan ibadahnya, semakin bertambah pula kekhawatirannya. Ia berkata, "Aku tidak akan selamat."

Orang munafik berkata, "Kesalahan manusia itu banyak dan aku akan diampuni, aku aman-aman saja."

Ia lupa untuk beramal, tapi berharap kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

(Al-Hilyah 2/13, Tahdzib al-Hilyah, 1/338, Siyar A'lam an-Nubala')

---

Jika engkau renungkan, maka dunia hanya tiga hari.

Hari yang lalu tidak bisa engkau harapkan.

Hari yang sedang engkau jalani dan engkau harus memanfaatkannya.

Hari yang akan datang dimana engkau (bisa) menjumpainya atau tidak.

Hati-hatilah terhadap nestapa saat datangnya sakaratul maut.

Semoga Allah memberi nasihatNya kepada kami dan engkau.

Semoga Dia karuniakan akibat yang baik kepada kami dan engkau.

Semoga keselamatan, rahmat, dan berkah Allah selalu tercurah kepadamu.

---

Barakallahu fiikunna.
Thanks for reading have a nice day!
Post Comment
Posting Komentar

Please kindly check "Frequently Asked Questions" (FAQ tab on menu bar) before asking. Thank you! ^^