Lihatlah, Ini Aku : Si Orang Shalih!

Rabu, 17 Oktober 2018

Bismillah...

Riya' adalah saat seseorang beramal shalih untuk dilihat manusia dan dipuji.

Riya' merupakan syirik kecil yang menjadi salah satu sebab tidak diterimanya amal. Hukumnya haram, tapi (riya') tidak sampai mengeluarkan seseorang dari Islam.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda (yang artinya)...
"Allah berkata: "Aku adalah Dzat yang paling tidak butuh dengan syirik. Barangsiapa yang mengamalkan sebuah amalan dia menyekutukan Aku bersama yang lain di dalam amalan tersebut, maka Aku akan meninggalkannya dan juga kesyirikannya." (HR. Muslim)
(Catatan dari Ustadz Abdullah Roy hafizhahullah)

---

Pada asalnya, amal yang tersembunyi lebih baik, karena lebih dekat pada keikhlasan.

Namun, tidak semua ibadah disembunyikan, misal seperti berhijab, sholat wajib berjamaah di Masjid bagi laki-laki, sholat Jumat, kajian, dan amal lain yang jika dipertimbangkan akan lebih besar mashlahatnya ketika ditampakkan untuk menjadi teladan/contoh bagi yang lain.

---

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda (yang artinya)...

"Barangsiapa memperdengarkan (menyiarkan) amalnya, maka Allah akan menyiarkan aibnya, dan barangsiapa beramal karena riya', maka Allah akan membuka niatnya (di hadapan orang banyak pada hari Kiamat)."

(HR Bukhari no. 6499 dan Muslim no. 2987, dari sahabat Jundub bin Abdillah radhiyallahu 'anhu)

---

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Maukah kamu kuberitahu tentang sesuatu yang lebih aku khawatirkan terhadap kalian daripada (fitnah/ujian) Al Masih Ad Dajjal?"

Para sahabat berkata, "Tentu saja."

Beliau bersabda, "Syirik khafi (yang tersembunyi), yaitu ketika seseorang berdiri mengerjakan shalat, dia perbagus shalatnya karena mengetahui ada orang lain yang memperhatikannya."

(HR. Ahmad dalam musnadnya. Dihasankan oleh Syaikh Albani Shahiihul Jami': 2604)

---

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, bahwa orang yang berlaku riya' memiliki tiga ciri, yaitu :

(1) dia menjadi pemalas apabila sendirian,

(2) dia menjadi giat jika berada di tengah orang banyak,

(3) dia menambah kegiatan kerjanya jika dipuji dan berkurang jika diejek.

(Al Kabair, Imam adz Dzahabi)

---

Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan...

Ada dua buah pertanyaan yang semestinya diajukan kepada diri kita sebelum mengerjakan suatu amalan.

(1) Untuk siapa?

(2) Bagaimana?


Pertanyaan pertama adalah pertanyaan tentang keikhlasan.

Pertanyaan kedua adalah pertanyaan tentang kesetiaan terhadap tuntunan Rasul Shallallahu 'alaihi wasallam.

Sebab amal tidak akan diterima jika tidak memenuhi kedua-duanya.

(Ighatsat al-Lahfan, hal. 113)

---

Ibnul Qayyim rahimahullah juga berkata (yang artinya)...

"Keikhlasan tidak akan pernah bersatu dengan sifat suka dipuji, disanjung, dan keserakahan terhadap harta manusia. (Karena) yang demikian itu ibarat (tidak akan bersatunya) api dan air."

(Al Fawaaid, 149)

---

Sufyan ats-Tsauri rahimahullah mengatakan (yang artinya)...

"Tidaklah aku mengobati suatu penyakit yang lebih sulit daripada masalah niatku, karena ia sering berbolak-balik."

(Adab al-'Alim wa al-Muta'allim, hal. 8)

---

Al Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata (yang artinya)...

"Meninggalkan amal karena manusia adalah riya', sedangkan beramal untuk dipersembahkan kepada manusia merupakan kemusyrikan.

Adapun ikhlas adalah tatkala Allah menyelamatkan dirimu dari keduanya."

(Adab al-'Alim wa al-Muta'allim, hal. 8)

---

Sahl bin Abdullah at-Tasturi rahimahullah berkata (yang artinya)...

"Orang-orang yang cerdas memandang tentang hakikat ikhlas, ternyata mereka tidak menemukan kesimpulan, kecuali hal ini...

Yaitu hendaklah gerakan dan diam yang dilakukan,

yang tersembunyi maupun yang tampak,

semuanya dipersembahkan hanya untuk Allah Ta’ala.

Tidak dicampuri apapun; apakah itu kepentingan pribadi, hawa nafsu, maupun perkara dunia."

(Adab al-'Alim wa al-Muta'allim, hal. 7-8)

---

Akhir kata...

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah menasihati...

"Wahai saudaraku, ikhlas itu berat.

Sementara manusia tidak pernah lepas dari riya' dan bangga diri.

Semoga Allah menyelamatkan kami dan kalian dari penyakit riya' serta bangga diri.

Maka bersihkanlah hatimu dan jadikanlah amalanmu ikhlas karena Allah.

Engkau adalah hamba Allah, bukan hamba makhluk.

Karena yang mampu memberikan manfaat dan menimpakan marabahaya adalah Allah.

Yang mampu memasukkanmu ke dalam surga dan menyelamatkanmu dari neraka adalah Allah.

Dan yang menguasai kerajaan segala sesuatu adalah Allah."

(Syarah Misykatul Mashabih, 1/143)

---

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah juga berkata...

"Perjuangan untuk ikhlas termasuk sesuatu yang paling berat, karena jiwa ini punya banyak kepentingan.

Seorang manusia ingin tampil memukau dan ingin dihormati.

Sangat suka jika dikatakan tentang dirinya...

"Dia adalah Ahli Ibadah, orang ini demikian dan demikian."

...dengan pujian-pujian kebaikan.


Sehingga syaitan masuk dari pintu ini dan membuatnya berbuat riya' di hadapan manusia."

(Syarah Riyadush Shalihin 2 : 51-52)

---

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan doa...

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ أَعْلَمُ

Allahumma innii a'uudzu bika an usyrika bika wa anaa a'lam, wa astaghfiruka limaa laa a'lam.

"Yaa Allah, aku berlindung kepadaMu dari perbuatan syirik yang aku sadari dan aku memohon ampun kepadaMu atas dosa-dosa yang tidak aku ketahui."

(HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad, Ahmad, 4/403. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahiihul Jami': 3731 dan Shahih at Targhiib wa at Tarhiib: 36) [1][2]

---

Pengingat untuk diri sendiri sebelum orang lain.

Wallahul musta'an.
Barakallahu fiikunna.
Thanks for reading and have a nice day!
Post Comment
Posting Komentar

Please kindly check "Frequently Asked Questions" (FAQ tab on menu bar) before asking. Thank you! ^^