Kamu Tidak Tahu Ya Siapa Saya?

Jumat, 12 Oktober 2018

Bismillah...

Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Abbad hafizhahullah (pengajar di Masjid Nabawi, Madinah) menceritakan...

Mutharrif bin Abdullah bin AsySyikhir rahimahullah (ulama generasi Tabi'in) melihat seseorang yang berpakaian bagus dan berjalan dengan angkuh.

Mutharrif rahimahullah berkata kepadanya, "Wahai hamba Allah, cara berjalan seperti itu dimurkai Allah!"

Laki-laki tersebut berkata, "Kamu tidak tahu siapa aku?"

Yang ditegur adalah salah satu kapten pasukannya Hajjaj. Barangkali Mutharrif tidak kenal siapa dirinya, hingga beliau berani menceramahinya.

Mutharrif rahimahullah berkata, "Demi Allah, aku tahu siapa dirimu! Engkau bermula dari air mani yang menjijikkan, engkau berakhir menjadi bangkai yang busuk, dan selama hidup engkau membawa kotoran di perutmu. Aku tahu betul siapa dirimu."

Laki-laki itupun pergi dan tidak berjalan dengan angkuh lagi. [1]

---

Catatan...

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda (yang artinya)...

"Tiga perkara yang membinasakan, yaitu hawa nafsu yang dituruti, kebakhilan (kikir) yang ditaati, dan kebanggaan seseorang terhadap dirinya."

(HR. Abu Syaikh dan Thabrani dalam Mu’jam Ausath. Silsilah Ahaadits ash-Shahiihah no. 1802)

---

Jika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam menghadiri suatu majelis, beliau tidak mau disambut seperti raja, dimana orang-orang berdiri untuk mengagungkannya. [2][3]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya)...

"Barangsiapa yang suka seseorang berdiri untuknya, maka persiapkanlah tempat duduknya di neraka."

(HR. Abu Dawud: 5229, At-Tirmidzi: 2753, Ahmad 4/93, Al-Bukhari dalam Al-Adabul-Mufrad: 977 dan Abu Nu’aim dalam Akhbar Ashbahaan 1/219; dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Shahihah I/627)

Para Sahabat radhiyallahu 'anhu tidak berdiri apabila Rasulullah datang kepada mereka, karena mereka tahu bahwa beliau tidak menyukai hal itu.

Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata (yang artinya)...

"Tidak ada seorang pun yang lebih mereka (para Sahabat) cintai saat melihatnya, selain Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam. Namun jika melihat beliau, mereka tidak pernah berdiri karena mereka mengetahui kebencian beliau atas hal itu."

(HR. Al-Bukhari Al-Adabul-Mufrad: 946, At-Tirmidzi: 2754 dan Asy-Syamaail: 335, Ibnu Abi Syaibah 8/586, Ahmad 3/132 & 134 & 151 & 250, Abu Ya’laa no. 3784, Ath-Thahawiy dalam Syarh Musykilil-Atsar no. 1126, dan yang lainnya; shahih).

---

Al Hasan Al Bashri rahimahullah berkata (yang artinya)...

"Seandainya perkataan setiap orang itu jujur dan amalannya baik, ia bisa saja jadi orang yang merugi."

Orang-orang bertanya, "Bagaimana bisa merugi?"

Beliau menjawab, "Ia rugi ketika ia kagum dengan dirinya sendiri."

(Syu'abul Iman, 6780)

---

Umar bin Abdul Aziz rahimahullah apabila berkhutbah di atas mimbar, kemudian dia khawatir muncul perasaan ujub di dalam hatinya, dia pun menghentikan khutbahnya. [4]

Demikian juga apabila dia menulis tulisan dan takut dirinya terjangkit ujub, maka dia pun menyobek-nyobeknya.

Lalu dia berdoa, "Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari keburukan hawa nafsuku."


---

Ibrahim bin Adham rahimahullah berkata (yang artinya)...

"Tidaklah bertakwa kepada Allah, orang yang ingin kebaikannya disebut-sebut orang."

(Ta'thirul Anfas, hal. 286)

---

Bisyr bin Al Harits rahimahullah berkata (yang artinya)...

"Ujub itu engkau merasa memiliki amal yang banyak dan menganggap amal orang lain sedikit."

(Hilyatul Auliya, 8/348)

---

Ibnul Mubarak rahimahullah ketika ditanya tentang ujub, ia berkata (yang artinya)...

"Engkau melihat di dalam dirimu sesuatu yang tidak ada pada diri orang lain."

(Syu'abul Iman, 7/50)

---

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata (yang artinya)...

"Tidak ada suatu perkara yang lebih merusak amalan daripada perasaan ujub dan terlalu memandang jasa diri sendiri."

(Al-Fawa'id, hal. 147)

---

Imam Nawawi rahimahullah berkata (yang artinya)... 

"Ketahuilah, bahwa keikhlasan niat terkadang dihalangi oleh penyakit ujub. Barangsiapa berlaku ujub (mengagumi amalnya sendiri), maka akan terhapus amalnya. Demikian juga orang yang sombong."


Al Fudhayl bin Iyadh rahimahullah berkata (yang artinya)...

"Wahai sungguh kasihan engkau...

Engkau berbuat buruk, namun engkau merasa berbuat baik.

Engkau tidak tahu, namun engkau merasa seorang alim.

Engkau pelit, namun engkau merasa dermawan.

Engkau dungu, namun engkau merasa cerdas.

Sesungguhnya ajalmu pendek, sementara angan-anganmu panjang."

(Siyar A'lamin Nubala, 8/440)

---

Wallahul musta'an.
Barakallahu fiikunna.
Thanks for reading and have a nice day!
Post Comment
Posting Komentar

Please kindly check "Frequently Asked Questions" (FAQ tab on menu bar) before asking. Thank you! ^^