Introspeksi

Rabu, 24 Oktober 2018

Bismillah...

Kita sering baca tentang introspeksi diri, tapi kadang masih samar yaa... Seperti apa sih pribadi yang giat meneliti dirinya sendiri?

Berikut ucapan-ucapan para Nabi dan orang-orang shalih pada generasi sebelumnya yang menjadi teladan kita.

(Link terlampir)

---

Nabi Adam 'alaihissalam berkata (yang artinya)...

"Ya Tuhan Kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi."

(QS. Al A'raaf, ayat 23)

---

Nabi Yunus 'alaihissalam berkata (yang artinya)...

"Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Maha Suci Engkau, sungguh aku termasuk orang-orang yang zhalim."

(QS. Al Anbiyaa', ayat 87)

---

Juga dalam Sayyidul Istighfar yang diajarkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam...

"Yaa Allah, Engkau adalah Rabb-ku, tidak ada yang berhak diibadahi secara benar melainkan Engkau.

Engkau telah menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu.

Aku selalu dalam perjanjian dan ketetapan dengan-Mu, sebatas yang aku mampu.

Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang kuperbuat.

Aku mempersaksikan dan mengakui nikmat-nikmat yang Engkau berikan kepadaku.

Dan aku pun mempersaksikan dan mengakui dosa-dosaku, maka ampunilah aku.

Sesungguhnya hanya Engkaulah yang mengampuni dosa-dosa."

(HR. Bukhari 7/150)

---

Abu Bakar radhiyallahu 'anhu setelah dipuji, berdoa...

"Yaa Allah, Engkau lebih mengetahui kondisi diriku daripada aku sendiri, dan aku lebih tahu diriku daripada mereka yang memujiku.

Yaa Allah, jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka sangkakan.

Ampunilah kekuranganku yang tidak mereka ketahui.

Dan janganlah Engkau siksa aku atas apa yang mereka katakan."

(Syu'abul Iman 4/228)

---

Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu berkata...

"Andaikan ada suara dari langit yang mengatakan, 'Wahai manusia, sesungguhnya kalian akan masuk Surga kecuali seorang saja', sungguh aku takut jika itu adalah aku."

(Tahdzib Hilyatul Auliya, 1/72-73)

---

Sufyan ats-Tsauri rahimahullah mengatakan (yang artinya)...

"Tidaklah aku mengobati suatu penyakit yang lebih sulit daripada masalah niatku, karena ia sering berbolak-balik."

(Adab al-'Alim wa al-Muta'allim, hal. 8)

---

Umar bin Abdul Aziz rahimahullah apabila berkhutbah di atas mimbar, kemudian dia khawatir muncul perasaan ujub di dalam hatinya, dia pun menghentikan khutbahnya.

Demikian juga apabila dia menulis tulisan dan takut dirinya terjangkit ujub, maka dia pun menyobek-nyobeknya.

Lalu dia berdoa, "Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari keburukan hawa nafsuku."


---

Al Fudhayl bin Iyadh rahimahullah berkata (yang artinya)...

"Jika ada yang mengetahui orang yang tidak ikhlas (orang yang riya'), maka lihatlah pada diriku."

(Ta'thirul Anfas, hal 299)

---

Muhammad bin Waasi' rahimahullah berkata (yang artinya)...

"Seandainya dosa itu punya bau busuk, maka tidak seorang pun dari kalian yang sanggup untuk duduk bersamaku."

(Muhasabat an-Nafs wa al-Izra' 'alaiha, hal. 82)

---

Suatu saat ada seorang lelaki berkata kepada Malik bin Dinar rahimahullah, "Wahai orang yang riya'!"

Maka beliau menjawab, "Sejak kapan kamu mengenal namaku? Tidak ada yang mengenal namaku selain kamu."

(Al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa’iq, hal. 93)

---

Hisyam ad-Dastuwa'i rahimahullah berkata (yang artinya)...

"Demi Allah, aku tidak mampu untuk berkata bahwa suatu hari aku pernah berangkat untuk menuntut hadits dalam keadaan ikhlas karena mengharap wajah Allah 'Azza wa Jalla."

(Ta’thirul Anfas, hal. 254)

---

Ayyub as-Sakhtiyani rahimahullah berkata (yang artinya)...

"Apabila disebutkan tentang orang-orang shalih, maka aku merasa diriku teramat jauh dari kedudukan mereka."

(Muhasabat an-Nafs wa al-Izra' 'alaiha, hal. 76, Imam Ibnu Abid-Dunya)

---

Yunus bin 'Ubaid rahimahullah berkata (yang artinya)...

"Sungguh aku pernah menghitung-hitung seratus sifat kebaikan dan aku merasa bahwa pada diriku tidak ada satu pun darinya."

(Muhasabat an-Nafs wa al-Izra' 'alaiha, hal. 80)

---

Imam Ahmad rahimahullah berkata (yang artinya)...

"Kami memang orang-orang yang memiliki banyak kekurangan, seandainya bukan karena Allah yang menutupinya, tentu telah terbongkar aib-aib kami."

(Hilyatul Auliya 9/181)

---

Al Hasan Al Bashri rahimahullah berkata (yang artinya)...

"Wahai manusia, aku memberimu nasihat, tapi aku bukanlah yang terbaik dan yang paling shalih di antara kalian.

Aku sering berlebihan mengikuti nafsu dan tidak mengendalikannya. Tidak pula mengajaknya untuk melakukan kewajiban dalam berbuat taat kepada Allah.

Jika orang beriman tidak mau menasihati saudaranya sebelum mampu menyempurnakan dirinya, tentulah tak akan ada orang yang memberi nasihat; sedikit orang yang mau mengingatkan dan tak ada orang yang menyeru kepada Allah, mendorong untuk berbuat taat kepada-Nya dan mencegah berbuat maksiat kepada-Nya."

(Untaian Nasihat Hasan Bashri oleh Shalih Ahmad Asy-Syami)

---

Akhir kata...
Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu berkata (yang artinya), "Hendaklah kalian menghisab diri kalian, sebelum kalian dihisab. Dan hendaklah kalian menimbang diri kalian, sebelum kalian ditimbang. Dan bersiap-siaplah untuk hari besar ditampakkannya amal." (Madarijus Salikin 1/319)
Sebenarnya banyak banget kutipan-kutipan dari orang shalih selain di post ini yang mencerminkan kalau mereka sangat introspektif, juga aware dengan apa yang mereka katakan dan perbuat.

Tawadhu'-nya ori, jadi kita tidak mendapati nuansa-nuansa...

(1) merendah untuk meninggi,

(2) merendah untuk menyindir (pasif agresif),

(3) merendah untuk menghindari kritik/feedback yang tajam.

dst.

Bdw, ini bukan untuk ditembakkan ke orang lain ya. Tapi bahan buat self check kita aja...  Karena semua orang punya potensi kepleset.

Semoga Allah jaga kita dalam kebaikan, aamiin.

Wallahul musta'an.
Barakallahu fiikunna.

Semoga bermanfaat.
Thanks for reading and have a nice day!
Post Comment
Posting Komentar

Please kindly check "Frequently Asked Questions" (FAQ tab on menu bar) before asking. Thank you! ^^