Catatan Tentang Produk Cruelty-Free

Jumat, 21 September 2018

Bismillah...

Animal testing adalah isu yang sensitif dan kontroversial.

Tujuan animal testing untuk menguji keamanan zat atau produk tertentu di tubuh hewan sebelum digunakan oleh manusia.

Ada banyak pihak yang menentang animal testing. Negara-negara di Eropa bahkan sudah melarang uji coba pada hewan.

Industri kosmetika juga tak mau ketinggalan. Dengan maraknya kesadaran tentang animal testing, sebagian orang menjadikan label cruelty-free (dan reputasi perusahan) sebagai salah satu pertimbangan saat membeli produk.


---

Pro Kontra

Ada sebagian peneliti yang berpendapat bahwa animal testing tetap ada manfaatnya. Di sisi lain, banyak juga pihak yang merasa animal testing tidak perlu.

Berikut pro kontra animal testing, sebagai gambaran kontroversi yang ada. Dirangkum dari berbagai sumber...

Pro

(1) Membantu menyediakan data untuk peneliti.

Misal... Tikus biasa jadi objek eksperimen, karena punya rentang hidup yang pendek (tidak seperti manusia yang rentang hidupnya rata-rata sekitar 70-80 tahun)... Sehingga peneliti dapat melakukan eksperimen jangka panjang terhadap pengaruh zat tertentu pada sistem organ makhluk hidup.

(2) Memastikan keamanan produk, demi kesehatan manusia.

Peneliti perlu menguji kualitas dan keamanan produk (terutama obat) sebelum dikonsumsi, supaya tubuh manusia tidak terpapar zat-zat berbahaya.

Jika aman, produk tersebut dapat diuji lebih lanjut pada manusia dengan risiko negatif yang lebih rendah.

(3) Kesamaan sistem organ manusia dengan binatang (meski tidak sama persis).

Ada zat-zat yang perlu diuji pada makhluk hidup.

Reaksi pada tubuh hewan tersebut digunakan untuk memprediksi reaksi pada tubuh manusia.

(4) Eksperimen atau uji coba pada manusia dapat berujung kematian.

(5) Membantu peneliti menemukan obat dan mengembangkan penanganan medis.

Penelitian tersebut juga bermanfaat untuk hewan-hewan, seperti ditemukannya vaksin rabies, anthrax, tetanus, dll.

(6) Lebih banyak jumlah hewan yang dibunuh untuk kita makan, ketimbang hewan yang digunakan untuk uji coba.

Jadi, etika "nilai hidup" pada animal testing menjadi abu-abu.

dst.

-

Kontra

(1) Risiko kematian pada hewan, karena perlakuan yang zhalim.

Ini yang jadi sorotan aktivis cruelty-free.

Banyak hewan yang menderita dan ditempatkan di lingkungan yang tidak layak. Kemudian setelah uji coba selesai, hewan tersebut dibunuh.

Memang ada peraturan tentang animal testing, tapi ada kalanya praktik di lapangan tidak sesuai dengan aturan yang berlaku.

(2) Uji coba pada hewan tidak selalu menghasilkan produk atau penemuan baru.

Ada data hasil eksperimen yang tidak terpakai dan tidak memberi manfaat nyata pada kehidupan manusia.

(3) Biaya hidup hewan yang mahal.

Penelitian yang melibatkan hewan juga butuh biaya, karena harus menyediakan tempat tinggal yang layak untuk hewan, makanan, perawatan, dst.

Terlebih prosedur uji coba kadang membutuhkan waktu yang lama.

(4) Masih ada kemungkinan hasilnya tidak valid dan tidak reliabel.

Bagaimanapun juga tubuh hewan dan manusia itu berbeda.

Di samping itu, hewan-hewan tersebut dikondisikan (mis. kelopak mata diklip untuk uji iritasi, dilarang mengucek mata, disuntik dengan dosis tertentu, dst), dikurung, serta mengalami stres.

Jadi, kemungkinan reaksi yang muncul tidak sama jika mereka dibiarkan di lingkungan alaminya.

Ada pula obat-obatan yang lulus animal testing, tapi justru bahaya jika dikonsumsi manusia. Sebaliknya, ada yang bahaya untuk hewan tertentu, tapi bermanfaat untuk manusia (mis. insulin).

(7) Sudah ada daftar ingredient aman yang telah diketahui dari uji coba sebelumnya, sehingga produsen dapat memanfaatkannya.

(8) Ada metode alternatif untuk menguji keamanan produk tanpa melibatkan hewan.

dst.

Baca juga : Alternatives To Animal Testing

---

Animal Testing & Produk Kosmetika

Uji coba dilakukan untuk menekan risiko terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, serta memastikan apakah produk atau zat tertentu bekerja sesuai tujuan.

Di antaranya adalah uji sensitivitas dan iritasi pada kulit, uji iritasi untuk area mata, riset apakah zat tertentu dapat menyebabkan cacat janin, kanker, dan lainnya. Allahul musta'an.

Secara khusus, untuk kosmetika (skin care dan make up) tidak begitu banyak argumen Pro's-nya.

Sudah ada metode alternatif yang juga akurat untuk menguji keamanan produk kosmetika.

Apalagi produk kosmetika (terutama make up) bukan bagian dari kebutuhan hidup yang darurat atau mendesak.

Bdw, kalau browsing-browsing artikel luar, sering kita temukan bahasan tentang sukarelawan (volunteer) yang mencoba produk kosmetika sebelum dipasarkan.

Updated!

Ada masukan kalau produk dengan nanoteknologi mesti diuji di makhluk hidup (hewan), karena bisa tembus ke pembuluh darah.

Selain itu, meski sudah ada daftar bahan aman, interaksi klinis antarbahan-nya juga tetap diuji.

---

Tertarik Untuk Cruelty-Free?

Belakangan ini banyak produsen yang memilih untuk tidak melakukan animal testing.

Hanya saja, kalau kita browsing di blog atau pinterest, daftar merk produk cruelty-free dan yang melakukan animal testing bisa berbeda dengan keterangan dari perusahaannya.

Dijelaskan di situs Etichal Elephant (Who To Trust?) bahwa tidak ada standar baku mengenai label produk cruelty-free.

Jadi, masing-masing pihak bisa punya standar dan definisi yang berbeda tentang apa itu "cruelty-free" (red. sama dengan klaim "alami").

Baca juga : Benarkah Produk Skin Care "Alami" Pasti Lebih Baik?

FYI, kriteria ideal untuk klaim cruelty-free di antaranya...
Tidak ada kekerasan atau uji coba pada hewan selama proses pengembangan dan produksi. Termasuk pihak lain yang terlibat, seperti laboratorium dan supplier bahan baku.
Kalau kamu benar-benar mau komit menggunakan produk cruelty free. Tips-tips berikut yang disarankan oleh aktivis cruelty-free.

(1) Yang paling mudah, perhatikan label di kemasan,

(2) Rajin browsing dan pelajari daftar merk di situs-situs yang membahas tentang animal testing dan produk cruelty free,

(3) Cek laman Frequently Asked Question (FAQ) dan laman profil perusahaan,

(4) Tanya langsung ke customer service-nya.
Noted : Ada produsen-produsen yang tidak melakukan animal testing, tapi karena tidak mengambil sertifikasi cruelty-free, jadi orang-orang tidak tahu.
---

Akhir kata...

Saya salut pada orang-orang yang teguh untuk mencari produk cruelty-free dan punya prinsip tidak mau "membiayai" produk yang pengembangannya melalui animal testing.

Sedangkan saya (dengan keterbatasan yang ada) belum bisa total menggunakan produk cruelty-free 🌧️

Postingan ini hanya membahas "kulit"-nya saja, karena saya bukan ahlinya. InsyaAllah kalau kamu browsing dan pelajari lebih lanjut akan lebih banyak informasi yang bermanfaat tentang produk cruelty-free.

Semoga ke depannya semakin banyak produsen kosmetika yang mempertimbangkan untuk tidak melakukan animal testing.

Wallahu a'lam.
Correct me if I wrong.

Barakallahu fiikunna.

Semoga bermanfaat.
Thanks for reading and have a nice day!

Note To Myself Too

Sabtu, 15 September 2018

Bismillah...
Bro, temen gue buat senang-senang banyak, tapi temen buat ke Akhirat cuma segelintir. Kalau ngga nemu gue di Surga, tolong cari gue ya...
Sering kita menemukan komen seperti itu saat ada bahasan tentang syafa'at teman shalih di Akhirat.

Ngomong-ngomong, perkataan yang dikutip di atas sebenarnya tidak dianjurkan (cmiiw). Jadi, jangan dibiasakan gaes...

Kita tidak mengingkari adanya syafa'at dari orang-orang shalih, tapi sadari bahwa syafa'at itu milik Allah 'Azza wa Jalla. Nabi sekalipun tidak bisa memberi syafa'at tanpa izin dan ridho Allah (kepada pemberi syafa'at dan yang diberi syafa'at). [1]
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman (yang artinya), "Katakanlah: Syafa'at itu hanya milik Allah semuanya. Milik-Nya lah kerajaan langit dan bumi. Kemudian kepada-Nya kamu dikembalikan." (QS. Az Zumar, ayat 44) [2]
Daripada tag-tag teman di social media, baiknya dari sekarang kita doa minta syafa'at di Akhirat kepada Allah...

Selain itu, meski kita takut akan konsekuensi dosa-dosa kita, seorang muslim jangan sampai berputus asa dari rahmat Allah Subhanahu wa Ta'ala yang sangat luas.

Sebagaimana yang sering dijelaskan para Ahli Ilmu, rasa takut itu idealnya diarahkan agar kita bertaubat serta membenahi diri; dengan memperbanyak istighfar, berbuat baik, dan beramal shalih.
"...Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah)." (QS. Hud, ayat 114) [3]
Lagipula yang namanya teman sejati tanpa diminta pun akan saling mencari dan memastikan keselamatan satu sama lain.

Kita memohon kepada Allah agar dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang selamat, aamiin.

My posts don't make me pious.
Correct me if I wrong.

Barakallahu fiikunna.

Semoga bermanfaat.
Thanks for reading and have a nice day!

Catatan Tentang DIY Skin Care

Minggu, 02 September 2018

Bismillah...

Beberapa waktu lalu, saya mendapat email Rizhana tentang resep DIY Skin Care. Dari email dia, saya dapat ide untuk membuat quick post ini, karena ternyata ada yang luput dibahas dari dua post sebelumnya [1][2]. Cuma baru sempat posting sekarang hehe.

Screenshot dilampirkan dengan izin pengirim.

Yang pertama kali kita pertimbangkan sebelum menggunakan DIY Skin Care adalah urgensi-nya.

Apakah sudah tidak memungkinkan bagi kita untuk mendapat produk yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi kulit terkini?

Apakah kita ingin mencari alternatif perawatan yang lebih sederhana?

Atau memang kita ingin beralih ke DIY-lifestyle?

Kalau alasannya karena "kulit sensitif dan ingin skin care yang lebih gentle", baiknya skip resep DIY skin care yang meragukan.

Produk yang dibuat oleh orang yang profesional dan kompeten di bidangnya insyaallah lebih aman digunakan di kulit, karena risiko alergi dan iritasi sudah diminimalisir.

Kalau alasannya "ingin yang alami-alami", yang alami pun jika tidak cocok bisa memicu masalah pada kulit kita. Jadi hati-hati...

Baca juga : Benarkah Produk Skin Care "Alami" Pasti Lebih Baik?

---

Resep DIY Serum(?) Wajah...

Jus timun segar
Aloe vera gel
Air mawar
Minyak zaitun
Kapsul Vitamin E
Bahan-bahan di resep DIY skin care ini sebenarnya bisa digunakan sendiri-sendiri.
---

Kapsul Vitamin E sebagai pengawet?

Vitamin E dikenal sebagai antioksidan yang powerful.

Namun Vitamin E tidak recommended jika digunakan sebagai pengawet di skin care yang water-based.

Memang kadang kita temui ada Vitamin E di skin care berbasis minyak. Tapi biasanya tidak digunakan sebagai pengawet tunggal (cmiiw).

Ini dari artikel lama (2012), tapi masih di-highlight sama Google.


Saya juga pernah memakai kapsul Vitamin E saat membuat cem-ceman lidah buaya. Tapi tidak berpengaruh... Cairannya tetap cepat membusuk dan tengik. Tampilannya juga jadi aneh, karena minyak Vitamin E-nya mengambang di atas permukaan jus lidah buaya.

Malah lebih bagus kalau tanpa kapsul Vitamin E. Cuma ya mesti dihabiskan dalam 1-2 kali pemakaian. Tidak bisa disimpan lama.

Baca juga : Lidah Buaya : Pre-wash Treatment for Scalp & Hair

Minyak zaitun (kita asumsikan menggunakan EVOO atau minyak zaitun cosmetics grade tanpa tambahan parfum dkk) mungkin juga akan mengambang di permukaan mixture, dan tidak tercampur dengan baik meski sebelum pemakaian produknya dikocok.

Selain itu, minyak zaitun jelas akan memberi sensasi berminyak. Mesti hati-hati kalau pake DIY Skin Care yang memakai minyak, jika pori-pori wajah kita rentan tersumbat.

Aloe vera gel dan air mawar jika keduanya adalah produk jadi (pabrikan), baiknya tidak dicampur. Dikhawatirkan bisa saling merusak komposisi yang terkandung di dalamnya, sehingga jadi tidak efektif atau justru memicu kulit bermasalah (iritasi, jerawat, dan reaksi tidak wajar lainnya).

Sebenarnya orang yang ahli bisa menelisik lebih jauh tentang resep tersebut, tapi mungkin kamu pun sudah bisa menangkap gambaran besarnya.

*cmiiw (correct me if I wrong).

---

Note to myself too...

Serum mengandung active ingredient (atau konsentrat/kadar tertentu) serta diformulasikan sedemikian rupa agar bisa masuk terserap dan bekerja di bawah permukaan kulit.

Fitur yang biasa dijanjikan oleh serum adalah mencerahkan (mengatasi hiperpigmentasi), meremajakan (mempercepat regenerasi kulit), memperbaiki tekstur kulit, dst.

Ingredients yang di gunakan dalam serum pada umumnya adalah ekstrak bahannya, bukan bahan utuh seperti di resep DIY. Trus kadang juga butuh bahan pelarut dan penstabil.

Dengan kata lain, membuat serum wajah yang bagus itu komposisinya rumit. Tidak asal dibuat gitu bosku...

Baca juga : DIY Skin Care Belum Tentu Aman Untuk Kulitmu

---

Akhir kata...

Saya harap postingan ini bisa jadi pertimbangan sebelum kamu mencoba resep-resep DIY Skin Care (serum, toner, masker) yang bertebaran di internet.
Kadang risikonya lebih besar ketimbang manfaat yang ditawarkan.
Kalau kamu ragu, baiknya jangan digunakan (termasuk DIY Skin Care di blog ini). Karena kalau kamu sudah ada feeling "ini kayaknya ngga cocok buat aku", yasudah... Daripada malah jadi was-was sendiri hehe.

Sekarang saya juga hati-hati soal DIY Skin Care untuk wajah... Soalnya dulu pernah keranjingan bikin-bikin DIY mask, tapi karena keasikan trial and error qadarullah malah jadi break out bruntusan.

Kalau memang tertarik dengan DIY Skin Care lebih baik cari aman dengan menggunakan resep sederhana yang sudah turun-temurun, seperti masker madu tok, oatmeal tok, timun tok, bengkuang tok, bedak dingin, bubuk kunyit dengan susu/yoghurt, dst. Dengan syarat tetap memperhatikan kondisi dan kebutuhan kulit saat memilih resep.

Baca juga : Kebiasaan Mudah Berfaidah Untuk Kulit Wajahmu

Wallahu a'lam.
Semoga bermanfaat.
Thanks for reading and have a nice day!