Saat Kita Terjaga Dari Mimpi

Minggu, 19 Agustus 2018

Bismillah...

Saat kita mengalami mimpi yang indah, lalu terbangun... kita kecewa, karena manisnya mimpi tidaklah nyata.

Bagaimana jika suatu saat kita terjaga dari fananya dunia?

Siapkah kita menghadapi kenyataan hidup yang sebenarnya, yakni Akhirat?

---

Dunia bagaikan mimpi

Kadang di alam mimpi kita merasa sudah lama dan melalui perjalanan yang panjang. Begitu bangun tidur, ternyata baru sekitar 2 jam.

Dunia pun sesingkat itu.

Simak perkataan Al Hasan Al Bashri rahimahullah (dalam Al Mujalasah wa Jawahirul Ilmi, 227) [1]...
Tidaklah gambaran kehidupan dunia seluruhnya, dari awal hingga akhirnya, kecuali seperti seorang yang tidur. Dia melihat apa yang dia senangi dalam tidurnya, kemudian dia tersadar bangun.
Dan kutipan surat beliau untuk Umar bin Abdul Aziz rahimahumullah [2]...
"Dunia, wahai Amirul Mukminin, demi Allah hanya mimpi. Sedangkan Akhirat adalah nyata. Di antara keduanya adalah kematian. Para hamba berada dalam mimpi yang melenakan..."
Ketika surat Al Hasan Al Bashri ini sampai ke tangan Umar bin Abdul Aziz, beliau menangis sesenggukan sehingga orang-orang yang ada di sekitarnya merasa kasihan kepadanya.
Umar mengatakan, "Semoga Allah merahmati Al Hasan Al Bashri, beliau terus membangunkan kami dari tidur dan mengingatkan kami dari kelalaian..."
---

Periksa kembali hati

Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu (yang sudah dijamin surga) menangis setiap kali melewati kubur, karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengabarkan betapa mengerikannya alam kubur [3].
Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), "Kubur adalah persinggahan pertama dari (persinggahan-persinggahan) Akhirat. Bila seseorang selamat dari (keburukan)nya, maka setelahnya lebih mudah darinya; bila seseorang tidak selamat dari (keburukan)nya, maka setelahnya lebih berat darinya." Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda, "Aku tidak melihat suatu pemandangan pun yang lebih menakutkan daripada kubur." [HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah; dihasankan oleh Syaikh Al-Albani]
Seringkali kita menyepelekan pertanyan-pertanyaan berikut...

Siapa Rabb-mu?
Apa agamamu?
Siapa yang diutus kepadamu?
Dari mana engkau tahu?

Namun, bisakah kita teguh menjawab pertanyaan kubur, jika selama hidup kita menuhankan hawa nafsu?

Mungkinkah kita selamat, jika kita mengamalkan Islam yang tidak sesuai dengan apa yang Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ajarkan?

Maka tidak heran kalau kajian tentang Tauhid (dan perkara "basic" lainnya) selalu diulang, sampai benar-benar masuk dan tertanam kokoh di dalam hati kita.

---

Akhir kata...
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman (yang artinya), "Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya. Dan janganlah kamu mati, kecuali dalam keadaan muslim." (QS. Ali Imran, ayat 102)
Kita masih terbuai dengan kesenangan-kesenangan semu. Sengaja ingin melupakan pemutus kenikmatan yang mau tidak mau, cepat atau lambat akan kita hadapi, yakni kematian.

Jangan sampai kita dikagetkan dengan kematian yang mendadak... sementara doa, usaha, dan pikiran kita sebagian besar tersita untuk dunia yang sekelebat mimpi.

Semoga Allah 'Azza wa Jalla memudahkan kita untuk beramal shalih, membantu kita untuk terus mengingat-Nya, meneguhkan kita saat menjawab pertanyaan-pertanyaan kubur, dan memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang selamat.

Reminder to myself first and foremost 🌧️

Wallahul musta'an.
Barakallahu fiikunna.
Thanks for reading and have a nice day.
2 komentar on "Saat Kita Terjaga Dari Mimpi"
  1. Maa syaa Allah.. Tabarakallah.. Lama ga baca2 web titis... Baru baca lg.. Jazaakillah khoiron.. Menjadi pengingat diri.. Slain baca tips2..heheheh...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo halo Pikaa, wa jazaakillahu khayran. Barakallahu fiiki...

      Hapus

Please kindly check "Frequently Asked Questions" (FAQ tab on menu bar) before asking. Thank you! ^^