Fondasi Kebahagiaan

Selasa, 10 Juli 2018

Bismillah...

Hello kind-hearted people :D

Kita lanjutkan lagi Happiness seriesnya wkwk.

Postingan ini sebenarnya bagian yang lebih rinci dari bahasan Bahagia yang Bersyarat, yakni tentang penyandaran kebahagiaan pada hal-hal yang bisa lepas.

Tapi karena mempertimbangkan suatu hal, jadi saya pisah.

Yang belum baca, kita recap singkat saja....

Sebagian orang tidak bisa membedakan antara merasa bahagia dan merasa berharga.

Mereka berpikir bahwa uang, tampilan fisik, status sosial, dan popularitaslah yang membuat mereka bisa dicintai, berharga, dan penting.

Namun, saat semua atribut tersebut dilepas, mereka tidak tahu apa yang istimewa dari diri mereka.

Persepsi mereka tentang kebahagiaan sangat sempit, karena tergantung pada penilaian orang dan faktor-faktor eksternal lainnya (yang notabene sifatnya sementara).

Baca juga : Bahagia Tanpa Sadar

---

Trus apa yang mau dirinci sist?

Coba tanyakan pada diri kita sendiri.

"Ceritakan, siapa kamu?"

Mungkin di antara kita ada yang menyebutkan pekerjaan, nama kampus, jabatan, gank, hobi, saya-mama/papanya (sebut nama anak), dan seterusnya.

Nah, siapakah kita tanpa itu semua?

Perlu diketahui, saat kita melekatkan kebahagiaan dan identitas pada prestasi, kekayaan, popularitas, pasangan, status sosial, penilaian orang, dan lainnya... Hidup kita bakal collapse (luluh lantak) begitu hal-hal tersebut ditarik oleh Allah 'Azza wa Jalla.
Maka identitas yang paling solid adalah Hamba Allah (Abdullah, Abdurrahman).
Menisbatkan diri sebagai Hamba Allah yang Maha Kekal akan membuat kita qona'ah (merasa cukup) dan ridho atas apa yang kita alami (baik senang maupun susah).

Hamba Allah kan beriman terhadap qadha' dan qadar. Apapun yang Allah takdirkan, itulah yang terbaik.

Jika diberi nikmat, dia bersyukur. Jika dia mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan, dia bersabar, dan itu bisa jadi penggugur dosa, serta peninggian derajatnya.

Oleh karena itu, orang beriman yang tauhidnya kokoh, meski diuji, pembawaannya tetap tenang dan terkesan hepi-hepi saja maasyaaAllah.

Dia yakin bahwa tidaklah Allah menetapkan sesuatu dengan sia-sia. Pasti ada hikmahnya.

Di sisi lain, klaim sebagai Hamba Allah membuat kita terikat dengan konsekuensi kalimat Tauhid, di antaranya memurnikan ibadah hanya kepada Allah, menjalankan perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya.

(Note to myself too...)

---

Akhir kata...

Al Hasan bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhuma berkata (yang artinya)...

"Barangsiapa yang bersandar pada baiknya pilihan Allah untuknya, maka dia tidak akan mengangan-angankan sesuatu selain keadaan yang Allah pilihkan untuknya.

Inilah batasan sikap selalu ridha terhadap semua ketentuan takdir dalam semua keadaan yang Allah berlakukan bagi hamba-Nya." (Siyar A'laam Nubalaa', 3/262)

Wallahul musta'an.
Semoga bermanfaat.
Thanks for reading and have a nice day.
2 komentar on "Fondasi Kebahagiaan"
  1. Duhh postingannya bener" bikin "nampar" bagi yg baca, yg mungkin sempet khilaf. Intinya di dunia ini gak ada yg bisa disombongi, krna semuanya atas kehendak-Nya. Makasih ya ka atas tulisan yg bermanfaat ini. Trus semangat ya menyebarkan kebaikan dg memposting tulisan" sprt ini :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah kalau bermanfaat...

      Hapus

Please kindly check "Frequently Asked Questions" (FAQ tab on menu bar) before asking. Thank you! ^^