Simple Life

Kamis, 30 November 2017

Kira-kira sekitar satu tahun belakangan, saya tertarik dengan gaya hidup simple dan minimalis. Membaca artikel seputar topik tersebut ibarat angin segar bagi saya (yang notabene hoarder dulunya, lol).

---

A glimpse of simple life

Mungkin kamu sudah pernah baca tentang kisah nyata mantan chef.

Beliau meninggalkan hidupnya yang dulu, kemudian beralih menjual susu kedelai dan sari kacang ijo.

Kalau dari standar orang kebanyakan, mungkin keputusan beliau diremehkan, dianggap menyia-nyiakan potensi diri, tidak punya tujuan hidup...

Padahal orang-orang seperti beliau juga punya ambisi kok... Tapi ambisinya diarahkan ke akhirat. MaasyaaAllah.

Mantap jiwaa~

Eniwei, beberapa waktu yang lalu, saya membaca artikel "What if all I want is a mediocre life?" oleh
Krista O'Reilly-Davi-Digui [1] yang sempat viral di tahun 2016.

Berikut kutipan awal artikelnya...

What if I all I want is a small, slow, simple life?

What if I am most happy in the space of in between. Where calm lives.

What if I am mediocre and choose to be at peace with that?

The world is such a noisy place.

Loud, haranguing voices lecturing me to hustle, to improve, build, strive, yearn, acquire, compete, and grasp for more. For bigger and better.

Sacrifice sleep for productivity. Strive for excellence.

Go big or go home. Have a huge impact in the world. Make your life count.

But what if I just don’t have it in me. What if all the striving for excellence leaves me sad, worn out, depleted. Drained of joy.

Am I simply not enough?

Terjemahan bebas...

Gimana kalau yang aku inginkan adalah hidup yang kecil, pelan, dan sederhana?

Gimana jika aku sangat bahagia dengan hidup yang tenang?

Gimana jika aku orang yang biasa-biasa saja dan memilih berdamai dengan itu?

Dunia adalah tempat yang gaduh.

Suara-suara yang keras mengajarkanku untuk bekerja sepenuh tenaga, berkompetisi, dan memperoleh sesuatu yang lebih baik.

Jadi "orang" atau pulang.

Punya pengaruh yang luar biasa di dunia.

Menjadikan hidup lebih berarti.

Mengorbankan tidur untuk produktivitas.

Berjuang untuk menjadi yang paling unggul.

Tapi gimana kalau itu bukan aku banget?

Gimana kalau itu semua malah membuat aku jadi sedih dan letih?

Apa aku tidak cukup baik?

(soriiii for bad translation, please don't bash me)

Baca juga post sebelumnya : Bahagia itu Sederhana

---

Imho...

Berasa ngga sih? Informasi yang kita peroleh dan serap (terutama dari televisi dan social media),  mengarahkan kita jadi orang yang materialistik. Sedari kecil pun kita dididik untuk mengejar ambisi-ambisi duniawi.

Akibatnya, sebagian dari kita merasa malu ketika menjalani hidup yang sederhana.

Dunia dihuni oleh berbagai macam manusia. Tidak semua orang termotivasi untuk mengejar kekayaan, status sosial, popularitas, atau semacamnya... karena masing-masing memiliki potensi dan prioritas hidup yang berbeda.

Masalahnya, kadang kita mengejar sesuatu hanya karena semua orang berlomba-lomba mengejar itu. Padahal kita tahu, "Ini tuh bukan aku banget".

Akhirnya nelangsa sendiri deh :D

Ada beberapa faedah yang bisa kita ambil dari orang-orang yang (secara sadar) memilih untuk hidup sederhana.

(1) Paham bahwa hidup di dunia hanya sementara. Dari situlah mereka menyusun skala prioritas, lalu mengarahkan energi ke hal yang benar-benar penting bagi mereka.

(2) Mereka juga punya target duniawi (mencari nafkah, prestasi akademik, dst), tapi tidak sampai terobsesi.

(3) Mereka tidak fokus pada penilaian orang dan tidak mengukur kepuasan hidup dari sudut pandang orang lain.

(4) Mereka mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

(5) Dan yang paling menonjol adalah mereka merasa cukup. Hidup yang sederhana tidak menghalangi mereka untuk bisa bersyukur dan berbahagia.

(Iya, ini catatan buat saya juga kok haha).

Baca juga : Merasa Cukup

Wallahu a'lam.
Semoga bermanfaat.
Thanks for reading and have a nice day.

Wardah White Secret Intense Brightening Essence

Sabtu, 25 November 2017

Hmmm... Ini quick review aja yah. Daripada jeda posting kelamaan, yasudahlah(?) haha.

Bdw, harap maklum kalau nuansa fotonya beda-beda. Saya motret saat cuaca cerah-mendung-cerah dengan skill yang pas-pasan.

Baca juga : Sist, Kok Ngga Posting?

Deskripsi produk

Wardah White Secret Intense Brightening Essence, rahasia paling berharga untuk mendapatkan kulit cerah terawat.

Serum yang kaya akan bahan aktif pencerah, efektif bekerja pada kulit yang terpigmentasi. Kandungan Silver Vine extract dalam Advanced White specific system berkontribusi terhadap proses transparansi dan pencerahan kulit.

Formula yang dihasilkan melalui riset selama 5 tahun ini, memberikan kelembaban ekstra dan sangat nyaman di kulit.

Membantu mencerahkan, memperbaiki tekstur kulit, serta mengurangi munculnya noda hitam dan warna kulit yang tidak merata. Kulit menjadi halus, cerah, kenyal, dan lembab.

Gunakan sebelum memakai Wardah White Secret Night Cream.


Klaim produk

Membantu meningkatkan hidrasi kulit.

Crystal White Active secara spesifik bekerja menghambat produksi melanin.

Membantu memperbaiki tekstur kulit.

Ekstrak Silver Vine berfungsi untuk membuat kulit lebih cerah dan transparan.

Membantu mempercepat regenerasi kulit.

Formula ringan dan nyaman.


---

Review

Ini salah satu produk yang pembeliannya err... tidak saya rencanakan.

Selama ini review Wardah White Secret essence kebanyakan positif. Jadi yaah saya pikir, kenapa ngga?

Ngomong-ngomong, saya beli White Secret essence di Matahari, pas lagi diskon (nah kan!). Harganya sekitar Rp 62.000 (kalau ngga salah ingat).

Kesannya sedikit ya, karena cuma 17 ml. Tapi, kata Meti, essence-nya Wardah tuh cukup rich. Jadi, kita hanya perlu 1-2 tetes untuk diratakan sewajah.


Kemasan Wardah White Secret Brightening Essence menggunakan botol pipet.

Dulu bukannya pake botol tube kecil ya? Sepertinya lebih praktis kalau menggunakan botol tube.

Tekstur liquidnya sedikit kental, tapi tetap ringan dan cepat meresap. Ketika dioles di kulit, rasanya dingin... enak deh pokoknya.

Sayangnya... (sigh) saya ngga cocok dengan Wardah White Secret Essence.

Produk ini saya gunakan sejak akhir September 2017. Qadarullah di minggu awal pemakaian, muncul jerawat di dagu, dekat hidung, dan dahi. Baru kali ini ada essence yang bikin saya (ehm) berjerawat.

Kagetlah saya (wih lebay).

Jerawat tetap muncul meski diakali ini itu... berarti memang ngga cocok.

Padahal (sekitar 2-3 tahun belakangan) kulit saya biasanya hanya bermasalah karena pms, stres, salah makan, dst. Jarang banget karena produk.

Tapi (imho), Wardah White Secret essence (kayaknya) beneran bagus untuk mencerahkan.

Daripada mubazir, saya pake buat meratakan warna punggung tangan yang lagi belang. Alhamdulillah progresnya lumayan cepat dan hasilnya baik.

Jadi, bukan berarti produk ini ngga bagus lho ya, emang sayanya aja yang ngga cocok.

Wallahu a'lam.
Semoga bermanfaat.
Thanks for reading and have a nice day.

Vienna Blackhead Remover 3 Steps Nose Pack

Minggu, 19 November 2017

Halooo insan-insan yang berkomedo :D

Beduweeyy, salah satu kebiasaan random saya adalah elus-elus hidung sendiri pas lagi bengong, lol. Hidung berkomedo rasanya kayak berpasir brindil-brindil (apa sih).

Karena itulah saya lemah dengan produk yang berembel-embel blackhead remover. Bawaannya pengen langsung dipake hahaha (bayar dulu sisst!).

Rata-rata, produk 3 step nose pack keluaran Korea Selatan. Makanya saya excited banget pas lihat Vienna Blackhead Remover.

Produk ini saya beli di Guardian. Satu setnya isi 3 plaster. Harganya sekitar Rp 24.000. Kalau beli di luar mal bisa dapat Rp 15-16.000an lho.

Baca juga : 5 Langkah Sederhana Mencegah Komedo


Step 1 Green Tea Water Mask

Membantu mendetoksifikasi kulitmu dan membersihkan pori-pori yang kotor dengan ekstrak daun green tea. Glycolic acid membantu mempercepat proses eksfoliasi kulit.

Langkah pertama ini mempersiapkan kulitmu untuk tahap pengangkatan komedo selanjutnya.


Cara pemakaian

Gunakan Green Tea Water Mask pada permukaan hidung. Diamkan selama 5-10 menit. Angkat masker perlahan. Biarkan area hidung dalam keadaan basah.

(Maaf, foto produk Step 1 dihapus)

Step 1 berupa sheet mask yang mencover area hidung saja.

Bukanya hati-hati ya karena dalam kemasan step 1 ada airnya gaes.

Kalau saya, biasanya basahi hidung dulu dengan air masker. Baru kemudian ditempelkan sheet masknya. Sayang kan kalau airnya dibuang huhu.

---


Step 2 Charcoal & Bamboo Mask

Diformulasikan dengan black charcoal powder untuk membersihkan dan mendetoksifikasi kulit, serta mengangkat kotoran dengan butiran serbuknya yang halus.

Bamboo extract dan mandarin orange peel oil untuk membantu merevitalisasi dan merawat kulit.

Membantu mengangkat komedo.


Cara pemakaian

Keluarkan strip dari kemasan. Gunakan dengan menempelkan strip pada area hidung yang basah. Diamkan 10-15 menit atau biarkan kering dan kaku pada saat dipegang.

Angkat perlahan dimulai dari bagian ujung, ditarik ke arah tengah.

Lihatlah strip, komedomu akan terlihat di strip!

(Iya, iya...)

(Maaf, foto produk Step 2 dihapus)

Baca juga : Indo Logo : Lulur Hitam Tradisional yang Bisa Di-Peel Off


Step 3 Herbal Pore Tightening Mask

Masker ini diperkaya dengan perpaduan menyejukkan dari cotton, aloe vera, dan chamomile untuk menenangkan kulit. Kandungan ekstrak herbalnya mampu merawat pori-pori.

Pori-pori tampak lebih kecil, senantiasa terhidrasi, halus, dan lembut.

Kulit terasa segar!


Cara pemakaian

Gunakan masker perlahan pada area hidung. Diamkan selama 10 menit. Bilas bersih. Keringkan.

Untuk hasil maksimal, gunakan 1-2 kali seminggu agar pori-pori hidung senantiasa bersih.

(Maaf, foto produk Step 3 dihapus)

---

Review

Vienna Blackhead Remover 3 Steps Nose Pack saya gunakan selama sebulan (pemakaian seminggu sekali).

Berbeda dengan nose pack tradisional(?) seperti Biore, produk ini terdiri dari 3 langkah yaitu menyiapkan, mengangkat komedo, dan menenangkan kulit.

Step 1 rasanya perih di hidung, karena sehari-hari saya menggunakan produk yang mengandung BHA. Asumsi saya, konsentrat di step 1 lumayan. Sekali pake, komedo di hidung jadi melunak.

Eniwei plaster semacam step 2 ngga boleh sering-sering dipake, karena membuat pori-pori semakin lebar.

Yang paling saya suka itu step 3, yaitu berupa jelly mask (hydrogel yang basah?). Efek calmingnya oke banget, meski gampang melorot dari hidung haha.

Bayangin dong. Saat kulit masih merah-merah setelah menggunakan step 1, saya mesti menempelkan plaster step 2 di hidung. Takutnya kulit jadi iritasi.

Tapi alhamdulillah, step 3 bener-bener bisa meredakan perih dan redness.

Hasil akhirnya, kulit hidung jadi smooth banget... walau tidak semua komedo terangkat. Yaaah mungkin hanya sekitar 70%.


Final thought

Sekitar minggu lalu, saya facial. Sayangnya dua-tiga hari kemudian hidung balik kasar lagi. Mungkin mbak-mbaknya ngga tega nyakitin saya haha.

Beda dengan Vienna yang hasilnya bisa bertahan lebih lama. Selama semingguan hidung saya licin gitu. Jadi emang idealnya digunakan seminggu sekali (atau dua minggu sekali).

Vienna Blackhead Remover 3 Steps Nose Pack memang seperti yang dikatakan orang-orang... cheap but great product.

Meski demikian, saya tidak menyarankan produk ini untuk kulit yang sensitif.

Selain itu, kalau kamu menggunakan produk yang mengandung AHA, BHA, atau retinol, baiknya diskip dulu 1-2 hari (sebelum menggunakan produk ini), untuk menghindari iritasi dan reaksi negatif lainnya.

Oh iya, seingat saya, pore packnya lebih pendek/kecil dibanding Biore atau Skinmiso (cmiiw). Soalnya dia ngga nutup area yang biasanya dicover saat saya menggunakan pore pack. Cuma ngecover kurang lebih setengah dari panjang hidung.

Baca juga : Skinmiso Pore beauty Nose Pack : 4 Weeks Program

Wallahu a'lam.
Semoga bermanfaat.
Thanks for reading and have a nice day.

Bahagia yang Bersyarat

Kamis, 09 November 2017
Pernah dengar kutipan ini ngga? Atau yang sejenisnya...
You can be happy when you're nothing. You can be unhappy when you have everything. (Unknown)
Kenyataannya banyak orang yang (sebenarnya) hidup berlimpah nikmat, tapi batinnya tidak tenang. Di sisi lain, ada orang yang sederhana, tapi menjalani hidup dengan tentram.

Dalam situasi yang sama pun, setiap orang bisa memiliki derajat kebahagiaan yang berbeda.

Contoh...

Ada dua orang (si A dan B) yang kaya raya.

Si A bisa berbahagia dengan apa yang dia miliki.

Sedangkan si B justru merasa kecewa. Menurut si B, dia baru benar-benar bahagia saat memiliki properti yang jauh lebih banyak dari yang dia miliki sekarang.

Baca juga post sebelumnya : Bahagia itu Sederhana


Kok bisa?

Tebakan yang pertama kali terlintas di benak kita adalah mungkin dia kurang bersyukur.

Hmmm...

Guys, manusia adalah makhluk yang kompleks. Ada banyak hal yang melatarbelakangi sikap seseorang. Kenapa dia kurang bersyukur pun masih bisa dirinci.

Salah satu alasan yang kita bahas kali ini bagus untuk jadi pembelajaran dan (yes!) self check.

Psikolog Elinor Greenberg menjelaskan bahwa ada sebagian orang yang tidak bisa membedakan antara merasa bahagia dan merasa berharga.

Mereka berpikir bahwa uang, tampilan fisik, status sosial, dan popularitaslah yang membuat mereka bisa dicintai, berharga, dan penting.

Namun, saat semua atribut tersebut dilepas, mereka tidak tahu apa yang istimewa dari diri mereka.

Persepsi mereka tentang kebahagiaan sangat sempit, karena tergantung pada penilaian orang dan faktor-faktor eksternal lainnya (yang notabene sifatnya sementara).

Baca juga : Bersahaja itu mengagumkan

---

"Wajar kali sist..."

Menurutku ngga ada salahnya kalau hepi karena penilaian orang.

Ngga wajar sayangkuuh...

Ketika perasaan berharga disalahartikan sebagai kebahagiaan, (sadar ngga sadar) kita jadi terobsesi untuk mencari sesuatu yang lebih, lebih, dan lebih untuk mengukuhkan pengakuan dari orang lain.

"Oh, orang-orang lebih welcome sama yang cantik, ganteng, punya pasangan (dengan kriteria tertentu), punya hape baru, kaya, terkenal, dst. Berarti aku baru berharga (dan baru bisa bahagia) jika demikian..."

Trust me. Ada yang salah jika kita baru bisa bahagia ketika diakui, dikagumi, dan diistimewakan.

Problemnya juga bisa merembet kemana-mana. Misal jadi gampang bosan, minderan, benci tanpa alasan yang jelas, dengki akut sama orang lain, krisis eksistensi, bahkan depresi.

Baca juga : Bahagia Tanpa Sadar

---

Self check!

Bagi saya pribadi, cara untuk membedakan kebahagiaan dengan ego booster itu simpel aja...
Kebahagiaan sejati tidak bertambah saat diketahui orang lain dan tidak berkurang jika disembunyikan.
...plus tidak membuat kita jadi ujub atau sombong hehe.

Eniwei... Di post Bahagia itu Sederhana, kita menyinggung statement "kebahagiaan harus diperjuangkan".

Yang perlu kita pahami, memang ngga ada salahnya merasa bahagia setelah mengalami masa-masa sulit yang panjang dan berjuang meraih prestasi tertentu.

Tapi poin yang dimaksud adalah...

(1) Kebahagiaan itu bukan target, melainkan kondisi mental.

(2) Mengejar "kebahagiaan" (dalam tanda kutip, alias ego booster) adalah isu internal yang tidak semerta-merta selesai karena faktor eksternal.

(3) Jangan menyandarkan kebahagiaanmu pada standar yang dibuat orang lain dan jangan mengukur kebahagiaan orang lain dengan standarmu. Happiness is a personal thing.

(4) Pada dasarnya, kita tidak perlu membuktikan diri ke siapa-siapa.

Baca juga : Fondasi Kebahagiaan

Wallahu a'lam.
Semoga bermanfaat.
Thank for reading and have a nice day.

Bahagia itu Sederhana

Kamis, 02 November 2017
Dulu, saat saya berkata, "bahagia itu sederhana", langsung disanggah oleh seseorang... 

"Tidak, bahagia itu harus diperjuangkan."

Agak syok sih dengarnya.

Seakan-akan kebahagiaan itu bersyarat.

Awalnya saya tidak setuju, karena saya enjoy menjalani hidup yang biasa-biasa aja haha. Tapi lama-kelamaan (sadar ngga sadar) jadi kebawa deh...

...dan daftar "syarat untuk bahagia" makin hari makin panjang. 

Hidup dengan mindset seperti itu membuat saya jadi pencemas (sering was-was), sulit bersyukur, dan gampang down... yang akhirnya berujung pada stres berat, lol.

Baca juga : Bahagia tanpa Sadar


Kebanyakan orang baru bisa bahagia setelah mencapai atau memiliki sesuatu.

Konsep "bahagia itu sederhana" pun menjadi aneh dan asing. Kesannya seperti kata-kata yang manis di bibir saja. 

Karena itulah sebagian orang meragukan "kebahagiaan" yang dirasakan orang lain, hanya karena hidup orang tersebut tidak memenuhi standar untuk bahagia menurut mereka.

Belibet kah?

Kisah berikut bisa jadi gambaran...

Shovan Chowdury bercerita kalau dia pernah "diinterogasi" oleh seseorang di dunia maya [1]. Saya cantumkan terjemahan bebasnya saja ya...

Are you happy?

"Apakah kamu pernah bepergian ke luar negeri?"

Saya jawab, "Belum pernah sama sekali."

"Apakah kamu punya pacar?"

Saya jawab, "Tidak."

"Apakah kamu punya rumah, tabungan yang banyak, pekerjaan bergaji tinggi, dan mobil pribadi?"

Saya tersenyum dan menjawab, "Tidak."

"Apakah kamu punya properti keluarga?"

Saya menjawab, "Tidak, tidak sepetak tanah pun."

"Apakah kamu dapat membuat orang lain terkesan dalam sekian menit?"

Saya berpikir sejenak dan menjawab, "Tidak, saya tidak bisa."

"Apa kamu fasih berbahasa Inggris?"

Saya menghela napas dalam-dalam dan berkata, "Tidak, tapi saya berusaha mengasah keterampilan bahasa Inggris saya."

"Apa kamu berbadan tinggi?"

Saya tertawa kecil, "Tinggi saya hanya 5'2 (sekitar 158 cm)."

"Apa kamu tampan?"

Saya jawab, "Tidak sama sekali, bahkan rambut saya mulai menipis."

"IQ-mu tinggi?"

Saya jawab, "Tidak. Saya melupakan kejadian-kejadian kecil begitu cepat dan saya juga kesulitan untuk mengingat arah kanan-kiri jalan."

"Apa kamu bisa mengikat tali sepatu?"

Saya malu dan menjawab, "Tidak, tapi saya berlatih dengan menonton video di Youtube."

Dia pun berkata, "Shovan, maaf ya. Kedengarannya aneh. Mungkin kamu bukan orang yang bahagia."

Saya balas, "Tidak. Saya benar-benar bahagia. Saya menerima diri saya. Saya menikmati setiap momen dalam hidup... dengan keterbatasan yang ada.

Kebahagiaan tidak tergantung berapa banyak negara yang kita kunjungi, tampilan fisik, properti, mobil, pekerjaan bergengsi, ataupun kekasih.

Kebahagiaan tergantung dirimu sendiri.

Saya menjalani hidup yang sederhana, bekerja dengan giat, mencintai orangtua saya, menghabiskan waktu berkualitas bersama keluarga dan teman-teman, menjelajah negeri saya, membantu orang lain, berlari, mengejar passion, dan mengerjakan hal yang saya sukai."

Baca juga : Gratitude Journal

---

Kadang kita sibuk mengejar "kebahagiaan", tanpa menyadari bahwa kebahagiaan adalah kondisi mental... Bukan sesuatu yang ada di luar diri kita.

Kita masih bisa menikmati hidup dengan apa yang sudah kita miliki, karena kebahagiaan ada pada kebersyukuran dan merasa cukup.
Be happy. Not because everything is good, but because you can see the good in everything. (Unknown)
Baca juga : Bahagia yang Bersyarat

Wallahu a'lam.
Semoga bermanfaat.
Thanks for reading and have a nice day.