DIY Skin Care Belum Tentu Baik untuk Kulitmu

Senin, 31 Juli 2017
Pemerintah Amerika Serikat mendokumentasikan lebih dari 10.500 ingredients dalam produk kosmetika, namun hanya sebagian kecil dari itu yang telah diuji keamanannya [1].

Dari hasil uji tersebut, ada yang teridentifikasi sebagai carcinogen (penyebab kanker), teratogen (penyebab cacat janin), dan reproductive toxicant (berdampak pada kemampuan reproduksi).

Kabar tadi jelas sangat meresahkan. Tidak heran kalau banyak orang yang akhirnya banting setir ke produk organik dan DIY Skin Care.

Baca juga : Benarkah Produk Skin Care "Alami" Pasti Lebih Baik?

Eniwei, sebagian penggemar fanatik DIY Skin Care berpendapat bahwa yang terbaik untuk merawat kulit adalah bahan makanan mentah. Karena jika bahan tersebut aman untuk dicerna langsung, berarti aman juga untuk kulit.

Masalahnya, kulit dan organ pencernaan itu beda fungsi. Ini berarti, reaksi keduanya terhadap ingredient yang sama pun bisa berbeda [2].


pH

pH dalam tubuh kita sifatnya agak basa, sedangkan pH kulit agak asam (sekitar 4.2-6.2). Barrier kulit akan mengalami kerusakan yang signifikan jika terus-menerus menggunakan bahan dengan pH di atas 7.

Di sisi lain, kulit kita jadi overexfoliated/overpeeled jika menggunakan bahan yang terlalu asam dengan pH kurang dari 4.

Baca juga : Baking Soda : Yay or Nay?

Ada bahan-bahan mentah yang membuat kulit jadi semakin sensitif seiring berjalannya waktu.

Contoh : perasan lemon segar diklaim lebih baik dari produk yang mengandung L-ascorbic acid (vitamin C).

Kedengarannya memang meyakinkan, tapi hal ini tidak sepenuhnya benar. Perasan buah citrus dapat meningkatkan dampak buruk sinar matahari di kulit.

Ah... aku pake perasan lemon fine-fine aja tuh!

Itu dia masalahnya.
Meski kita tidak melihat tanda-tanda kerusakan di permukaan, bukan berarti kulit kita tidak bermasalah.
Kadang kulit kita sangat baik menyembunyikan efek negatif dari DIY Skin Care. Nanti, setelah sekian lama, tau-tau kulit kita jadi rentan break out dan daya pulihnya pun melambat.

Baca juga : Jangan Merawat Kulit dengan Bahan "Alami" ini

---

Jadi, apa bahan DIY yang aman?

Standarnya ya mentimun, madu, oatmeal, pisang, susu, susu almond, teh hijau, coconut oil, olive oil, avocado oil, dan... (ada yang mau menambahkan?)

FYI, tetap ada "syarat dan ketentuan" yang berlaku...

1) Madu bagus banget untuk kulit. Tapi hati-hati ya, karena ada juga yang alergi madu.

2) Susu dikenal sebagai bahan pencerah yang baik, namun bisa menimbulkan jerawat di sebagian orang. Kalau kamu mengalami break out, segera hentikan pemakaian.

3) Oatmeal yang jadi andalan saya juga ternyata ngga cocok untuk sebagian orang. Veronica Gorgeois (esthetician) menyarankan orang-orang yang alergi gluten untuk menghindari oatmeal sebagai DIY skin care, karena bisa memicu reaksi negatif.

Baca juga : Ini Lho Pembersih yang Saya Gunakan (2017)

4) Coconut oil, olive oil, dan avocado oil idealnya digunakan sebagai bagian dari double cleansing untuk membersihkan wajah. Bukan sebagai pelembab utama.

Minyak-minyak tersebut umumnya bagus untuk tipe kulit kering. Kalau kulit kamu berminyak dan acne prone, hati-hati yaa. Takutnya malah komedoan.

Ps. Ujung-ujungnya tetep cocok-cocokan, lol.

---

Apakah DIY Skin Care lebih efektif?

Dalam konteks anti aging/rejuvenating dan hiperpigmentasi... Kita ngga bisa menampik fakta bahwa well-formulated product (yang mengandung retinol, niacinamide, vitamin C, glycolic acid, dst) jauh lebih efektif dan progresnya lebih cepat dibanding DIY Skin Care.

Kulit kita pun kurang mampu menyerap nutrisi tertentu, kecuali jika bahan tersebut diformulasikan dengan benar.

Contoh yang disampaikan Skinacea adalah teh hijau (green tea) [3].

Partikel teh hijau terlalu besar untuk diserap oleh kulit. Nah, supaya hasilnya lebih memuaskan, teh hijau tersebut mesti diekstrak dulu dan diformulasikan dengan ingredient lain.

Baca juga : Cuci Muka Pake Air Teh Hijau


Oh iya, untuk masalah kulit yang parah (mis. jerawat kronis) lebih ampuh jika ditangani dengan obat di bawah pengawasan dokter. Salah memilih resep DIY umumnya malah menimbulkan masalah baru.

---

Akhir kata...

Organ pencernaan berfungsi untuk menyerap nutrisi sebanyak mungkin. Sedangkan kulit kita berfungsi untuk melindungi organ dalam dari pengaruh buruk lingkungan (red. sebagian bahan perlu diekstrak dan diformulasikan agar mudah diserap kulit).

Karena fungsi dan pH-nya berbeda, bisa jadi sebagian bahan yang aman dikonsumsi justru menyebabkan break out ketika digunakan di kulit.

Maka hati-hati jika ada sensasi pedih. Biasanya itu bukan tanda bahannya sedang bekerja, melainkan gejala iritasi.

Membuat DIY Skin Care memang seru, tapi cari tahu dulu kondisi dan kebutuhan kulit kamu. Dengan begitu, kamu bisa menentukan resep DIY Skin Care yang sesuai.

Sist, aku pake DIY Skin Care, karena takut dengan produk yang beredar sekarang :(

Formula produk yang terdaftar di database BPOM RI sudah distandarkan keamanannya. Kamu bisa baca lebih lanjut tentang BPOM RI di link berikut...


Wallahu a'lam.
Semoga bermanfaat.
Thanks for reading and have a nice day.

Benarkah Produk Skin Care "Alami" Pasti Lebih Baik?

Sabtu, 29 Juli 2017
Saat sharing dengan pengunjung, banyak yang bilang selesai ngobatin jerawat mau pake skin care alami saja, karena sudah pasti aman dan gentle di kulit.

Hmmm... saya juga dulu begitu haha.

Masalahnya, "alami" tidak selalu berarti lebih baik. Terlebih, kadang klaim alami dan organik hanya digunakan sebagai strategi marketing.

Disclaimer!

Postingan ini bukan untuk menentang penggunaan produk-produk "alami" lho yaa... Saya hanya ingin meluruskan asumsi produk alami pasti lebih bagus dari produk berbahan sintetik.

Sebelum membahas lebih lanjut, kita coba pahami dulu istilah Natural, Organic, dan Vegan.


Natural

Bahan alami diambil dari sumber daya yang sudah tersedia di alam. Umumnya diekstrak dari tumbuh-tumbuhan yang terdiri dari akar, bunga, dan minyak esensial. Sedangkan bahan yang sumbernya dari hewan di antaranya adalah beeswax, susu, madu, collagen, dst.

Untuk membuat produk, ingredients tersebut nantinya juga dikombinasikan dengan agen carrier, pengawet, surfactant, humectant, dan emulsifier [1].

Oleh karena itu... Meski bahannya bukan sintetik, tapi sebagian besar produk "alami" yang beredar masih harus diformulasikan di laboratorium dan dikemas di pabrik.

Baca juga : Lucas' Papaw Remedies Ointment

Dilansir dari Paula's Choice [2], berikut bahan alami yang efeknya positif jika diformulasikan dengan baik.


Loh, Hyaluronic acid kok alami?

Memang alami kok. Hyaluronic acid bisa diekstrak dari jengger ayam atau dibuat dari fermentasi bakteri.

---

Organic

Produsen skin care (yang beneran) organik berusaha menjawab tuntutan konsumen akan transparansi dan keamanan produk.

Sumber bahan-bahannya tidak menggunakan pestisida, GMO, radiasi, dan lainnya. Sedangkan dalam formulanya, produk skin care organik biasanya tidak mengandung zat-zat seperti paraben, pewangi, DEA/MEA/TEA, propylene/butylene glycol, dst.

Sebagian orang menyukai produk organik karena formulanya lebih simpel (less chemical ingredients). Tapi bukan berarti produk organik ngga punya kelemahan. Produk yang bebas pengawet lebih rentan terkontaminasi dan kualitasnya pun lebih cepat menurun.

Produk organik impor biasanya mencantumkan logo Cosmebio, Ecocert, NSF, atau USDA. Nah, yang paling ketat di antara itu adalah USDA organic, karena standar produknya harus mengandung setidaknya 95% bahan organik.

Kok 95% sih? Kenapa ngga 100% aja sekalian?

Penjelasannya bisa baca di Cek Arti Simbol/Logo Kosmetika

---

Vegan

Belakangan ini, produk vegan muncul sebagai sektor baru ngga baru-baru juga sih di dunia kosmetika (skin care dan make up). Tren produk vegan pada dasarnya dipengaruhi oleh berkembangnya gaya hidup vegan dan raw diet.

Produk vegan hanya dibuat dari ekstrak tumbuhan, mineral, dan zat sintetis yang aman [3]. Jadi, produk vegan tidak mengandung zat hewani seperti...

- Collagen
- Keratin
- Squalene
- Lanolin
- Madu
- Hyaluronic acid
- dst

Karena terbuat dari tumbuh-tumbuhan, produk vegan identik dengan label cruelty free.

Padahal... walau produknya tidak diuji di binatang, tidak menutup kemungkinan bahan yang digunakan adalah bahan yang diteliti dan dikembangkan melalui animal testing.

Jadi, kalau kamu bener-bener concern dengan produk vegan yang cruelty free, idealnya kamu mesti memprioritaskan keduanya, yaitu (1) tidak mengandung zat hewani, (2) bahan dan produknya tidak diuji di binatang.

Sayangnya, mencari produk dengan kriteria-kriteria tersebut di Indonesia susah, karena pilihannya sangat terbatas.

Eniwei, list merk produk yang cruelty free bisa dicek di situsnya PETA. Penjelasan singkat tentang cruelty free juga ada di artikel Cek Arti Simbol/Logo Kosmetika.

---

Lesson learned

#1 Istilah untuk pemasaran


Jangan heran kalau melihat produk "alami", tapi formulanya lebih banyak menggunakan bahan sintetik.

Di Indonesia belum ada badan resmi yang mengatur label "natural" dan "organik". Artinya, tidak ada yang melarang produsen untuk memasarkan produk berbahan sintetik dengan klaim alami.

#2 Area abu-abu

Kalau kamu baca-baca pendapat para pakar (dermatologist, esthetician, chemist, dst), diskusi mengenai "produk skin care alami dan sintetik" masuk dalam area abu-abu [4].

Kenapa?

Karena tubuh kita tidak bisa membedakan mana molekul yang alami dan mana yang sintetik. Contoh, molekul vitamin C yang diperoleh dari jeruk tampak identik dengan molekul vitamin C yang dibuat di lab.

Baca juga : Vitamin C dalam Produk Kosmetika

Selain itu, sebagian besar bahan-bahan alami diekstrak melalui proses kimia.

Kata Louise Hidinger, tak jarang ekstraknya tercampur dengan senyawa lain dan zat yang digunakan untuk mengekstrak. Ini berarti, kita sulit memperoleh ingredient yang bener-bener pure [5].

Di sisi lain, ingredients yang diproduksi secara sintetik dapat dibuat mendekati murni, karena potensi paparan alergen atau senyawa kimia lain yang dapat mengiritasi kulit bisa dikontrol.

#3 Tidak selamanya zat sintetik itu buruk

Seperti yang kita tahu, bahan alami diproduksi tanpa campur tangan manusia. Sedangkan bahan sintetik dibuat oleh manusia dengan metode yang berbeda dengan alam, atau bisa juga dari turunan bahan-bahan yang sudah tersedia di alam.

Oleh karenanya, produksi ingredient sintetik dapat menekan panen berlebih (dari sumber daya alam) yang mungkin membahayakan keberlangsungan hidup spesis tertentu.

Oh iya, menurut Nicki Zevola Benvenuti (via Futurederm), regulasi ingredient alami tidak seketat ingredient sintetik. Ingredient sintetik dibatasi pada konsentrasi tertentu untuk meminimalisir potensi iritasi, inflamasi, dan reaksi alergi di kulit [6].

Jadi, kalau mau hati-hati, ya hati-hati dengan keduanya. Karena bahan alami juga punya potensi alergi dan regulasinya tidak seketat ingredient sintetik (cmiiw).

---

Akhir kata...

Jangan terlalu parno dengan bahan sintetik dalam produk kosmetika.

Masing-masing produk (alami/organik/sintetik) ada yang baik dan ada yang buruk. Di samping itu, sebagus apapun formula produk, biasanya tetap ada someone out there yang ngga cocok kan?

Maka kurang bijak jika kita mengatakan produk "alami"-lah yang terbaik, karena ada juga bahan alami yang berisiko mengiritasi kulit hehe.

Jadi, ketimbang "pokoknya harus yang alami, saya ngga mau break out lagi", mungkin lebih tepat kalau kita bilang, "Saya mencari produk yang gentle dan menghindari ingredient yang harsh untuk kulit." :D

Baca juga : DIY Skin Care Belum Tentu Baik untuk Kulitmu

Wallahu a'lam.
Semoga bermanfaat.
Thanks for reading and have a nice day.

Tips Cantik/Ganteng yang Paling Penting : Minum Air Putih!

Selasa, 18 Juli 2017
Halooo.

Gimana kabarnya mbak cantik dan mas ganteng semua?

Setelah bertahun-tahun sharing dengan sesama acne proner, salah satu hal yang bisa saya simpulkan adalah...
Kebanyakan dari kita jarang banget minum air putih. 
Ada juga lho orang-orang yang memang sengaja ngga minum air putih. Paling banter minum es teh pas makan siang dan malam. Hmmm...

Postingan tentang pentingnya minum air putih juga pernah saya buat long-long-time-ago. Tapi emang boring sih penyampaiannya hahaha. Yaudah saya bikin ulang aja...


60 % tubuh manusia terdiri dari air. Ini berarti, semua sistem yang berjalan di tubuh kita membutuhkan air agar dapat berfungsi normal.
Kondisi dimana tubuh kekurangan air disebut dehidrasi.
Saat kita mengalami dehidrasi, otak dan organ lainnya mulai mengkerut (shrink, literally) untuk menyimpan cadangan air. Hal ini menyebabkan kita jadi jarang pipis, air seni jadi lebih pekat, dan baunya lebih pesing.

Selain itu, kemampuan kita untuk berpikir dan memecahkan masalah pun menurun. Jadi emang klop tuh sama iklan "ada Aqua?", lol.

FYI, kita bisa tahu tubuh kita lagi dehidrasi atau ngga hanya dari warna urin. Lebih lanjut bisa baca infografis milik Cleveland Clinic melalui link di bawah ini...

Baca juga : What The Color of Your Urine Says about You

---

Trus, beneran air putih bikin tambah cakep?

Kamu sudah lihat postingan Sarah Smith yang sempat viral di tahun 2013?

Hanya dengan minum air putih 3 liter per hari selama 4 minggu, wajahnya jadi tampak 10 tahun lebih muda.

Baca juga : How Drinking 3 Litres of Water a day took 10 years off my face

Awalnya dia minum air putih 3 liter/hari untuk mengatasi problem sakit kepala dan gangguan pencernaan (red: atas rekomendasi dokter).

Setelah ditelateni, ngga disangka-sangka kerut halus dan dark circle di sekitar matanya memudar. Kulitnya pun terlihat lebih cerah dan fresh.

Kalau dari pengalaman pribadi... Walau kulit saya ngga flawless, tapi saat bermasalah, alhamdulillah cepat membaik.

Dan ini sudah sering saya singgung lho...

Baca juga : Kulit Rentan Bermasalah, Yuk Puasa Produk Kosmetika.

---

Oke. Aku mau minum air putih. 8 gelas aja kan?

Sebenarnya "8-gelas-sehari" masih diperdebatkan, tapi itulah ukuran yang paling mudah diingat dan relatif aman untuk memastikan kebutuhan air putih kita tercukupi. 

Kebutuhan air putih setiap orang itu berbeda, tergantung berat badan, lokasi tempat tinggal (di dataran rendah atau tinggi), kondisi kesehatan, jenis aktivitas, dan lainnya.

Contoh : orang yang melakukan aktivitas berat dan olahraga intens jelas butuh air yang lebih banyak.
Setiap hari kita butuh sekitar 2-3 liter total water intake (red: kisaran yang pasti dihitung menurut berat badan kamu).
Garis bawahi 3 liter itu total cairan yang masuk ke dalam tubuh ya. Jadi selain air putih, bisa dari buah-buahan seperti melon, pir, dan semangka.

Kita juga boleh mengonsumsi kopi dan teh sewaktu-waktu, tapi minuman tersebut tidak menempati porsi utama dari total water intake.

Updated!

Baru diingatkan sama Mangkawani, untuk menghitung total water intake ada rumusnya (check her comment below, thanks!).

Kalau mau yang praktis...

Hitung kebutuhan air kamu di link ini Hydration Calculation

Noted!

Bagi orang-orang yang mengalami gangguan ginjal dan hati, infeksi kandung kemih, sedang hamil maupun menyusui, baiknya konsultasikan ke dokter untuk bantu menentukan jumlah air yang sesuai kebutuhan.

Baca juga : Tentang Air Putih yang Harus Kamu Tahu

---

Ribet kalau sebanyak itu :(

Kesannya 2-3 liter per hari itu banyak banget. Tapi jadi ngga berasa kalau kita minum dari wadah yang ada ukurannya.

Misal botol air mineral besar itu sekitar 1,8 liter, botol sedang 600 ml, dan ukuran gelas 240 ml.

Saya menggunakan mug melamine ukuran 600 ml, setara dengan botol sedang. Jadi, kira-kira hanya 4 kali isi ulang, kita sudah dapat 2 liter (itu kalo ngisi gelasnya ngga full).


Kalau pake ukuran gelas Aqua 240 ml x 8 = 1.920 ml. Dibuletin aja jadi 9 gelas biar lewat 2 liter haha.

Paling gampangnya pake ancer-ancer botol air mineral besar yang 1,8 liter atau sekalian beli termos air yang 2 liter.


Supaya ngga kayak di-glonggong, cara minumnya disebar ya... 

(1) Setelah bangun tidur,
(2) sebelum dan sesudah mandi,
(3) sebelum dan sesudah makan,
(4) di antara jeda waktu makan (sarapan-makan siang-makan malam),
(5) setelah bak/bab,
(6) sebelum dan sesudah olahraga,
(7) sebelum tidur malam, dst.

Ps. Jangan abaikan rasa haus. Itu sinyal kalau tubuh kita butuh pasokan air.

Tambahan dari Anindya Lubis, minumnya sambil duduk yaa, teman-teman. :D

---

Akhir kata...

Kadang kita bingung menerjemahkan saran "perbaiki gaya hidup" untuk menyehatkan kulit. Padahal kita bisa mulai dari yang simpel-simpel dulu seperti minum air putih setidaknya 2 liter per hari.

Walau kedengarannya mudah, tapi banyak juga kan yang menyepelekan hehe.

Rutin minum air putih ibarat baseline dari pola hidup kita. Efeknya ngga hanya buat kulit lho, tapi juga ke pencernaan, kualitas tidur, lingkar pinggang, dan lainnya.

Oh iya, dulu saya (dengan pedenya) merasa sudah banyak minum air putih. Eh, setelah diukur ternyata belum sampai 2 liter, lol.

Jadi, setelah baca post ini coba dicek deh, kamu sudah minum berapa liter air per hari? :D

Wallahu a'lam.
Semoga bermanfaat.
Thanks for reading and have a nice day.

It's My Cushion : Kamu Bisa Bikin Make Up Cushion Sendiri!

Kamis, 13 Juli 2017
Halo! Kayaknya saya aja nih yang telat cobain make up cushion haha.

Seperti yang kita tahu, kebanyakan make up cushion yang beredar itu dari Korea Selatan.

Masalahnya, shade produk dari Korea Selatan biasanya terbatas banget (ya ngga sih?). Susah cari yang sesuai dengan warna kulit kita. Shade yang "natural" pun kadang agak kelabu gitu untuk skin tone khas orang Indonesia.

Ada juga kan yang kurang sreg dengan formula cushion yang ngga tahan lama, too dewy, atau too dry.

Tapi kamu masih bisa kok menikmati asyiknya pake cushion. Tinggal beli cushion case-nya aja, trus isi deh dengan bb cream atau liquid foundation favorit kamu.

Masih kurang puas?

Kita juga bisa lho membuat mixture sendiri dengan mencampur bb cream/foundation, essence/serum, primer, dan moisturizer.


Cushion case yang paling beken roman-romannya adalah Memebox It's My Cushion. Harganya sekitar Rp 70.000-100.000 (tergantung beli dimana).

Sepaketnya sudah komplit ya. Ada cushion case, cushion sponge, container, dan air puff.

Printilan-printilan tersebut juga dijual terpisah. Jadi, misal puff kamu kotor, sponge-nya robek, atau mau beli container buat diisi foundation lain ya kamu bisa beli satuan.

Disclaimer!
Ini cushion case pertama saya, jadi maaf ya ngga bisa membandingkan dengan merk lain hahaha.

Deskripsi produk

Case size : diameter 7,5 cm - tinggi 2,6 cm.
Kapasitas : 15 gr

Pilihan warna : putih, hitam, pink, dan mint.


Cara penggunaan

Kalau lihat anjuran pemakaian di situs penjualnya (Althea atau Memebox) dan youtube, banyak cara yang kreatif untuk mengisi cushion case ini.

Misalnya dengan membuat mixture di wadah terpisah. Lalu celupkan spons di wadah tersebut dan pindahkan ke dalam container.

Yang paling umum adalah menuangkan mixture langsung ke container, masukkan spons ke dalamnya, tekan hingga foundationnya meresap, lalu isi lagi sisa mixture di atas permukaan spons.

Kalau saya lebih suka pake cara hemat hehehe. Selain simpel, mixture-nya juga ngga berantakan kemana-mana.

Yang perlu kita sediakan adalah...

(1) bb cream atau foundation (kalau bisa yang teksturnya liquid/encer),
(2) pinset untuk meletakkan dan membalik sponge (kalau pake jari, mixture-nya merembes),
(3) tisu dan cotton bud untuk membersihkan tepi container.

Optional

(4) primer, essence, serum, moisturizer,
(5) wadah (jika kamu ingin membuat adonan di luar container),
(6) spatula plastik kecil (untuk mengaduk mixture, jika mencampur produk).

Bdw, saya mengisi cushion case ini dengan Maybelline Fit Me Matte Poreless Foundation.






Sist... Kok ngga dicampur-campur?

Males haha.

Selain itu saya takut salah campur dan khawatir nanti mixture-nya malah terasa berat di wajah. You know-lah, acne proner.

Oh iya, ada tips dari Renee Gothamista mengenai pantangan mencampur produk untuk make up cushion.

(1) Jangan mencampur oil dengan bb cream/foundation.

Mungkin kita sering lihat orang-orang mencampur foundation dan minyak untuk mendapatkan hasil yang lebih glowing dan dewy.

TAPI khusus untuk mengisi cushion compact, baiknya jangan campur minyak dan foundation (terutama yang water-based).

Saat mixture keduanya ditempatkan di dalam cushion, minyak dan foundationnya akan terpisah.

Kalau di botol kan masih bisa dikocok sebelum digunakan. Lah kalau sudah dalam cushion, gimana coba?

(2) Lebih baik tidak mencampur sunscreen dengan bb cream/foundation

...karena akan menurunkan efektivitas agen tabir suryanya.

Jadi, lebih baik gunakan produk tabir surya dan make up cushion secara terpisah (dilayer setelah sekian menit). Atau sedari awal memang pilih isi cushion (bb cream/foundation) yang sudah mengandung tabir surya.

---

Kesan dan pesan

Make up cushion populer karena praktis. Di dalamnya sudah termasuk foundation, air puff, dan cermin. Bentuknya portable dan ngga makan tempat.

Cushion case-nya aman dan kokoh. Ngga perlu takut bocor atau apalah. Walau dari plastik, tapi dia ngga ongklek-ongklek (ringkih).

Awalnya saya mau beli warna mint, tapi kayaknya warna pastel cepet dekil yah? Yaudah deh ambil yang hitam. Hitamnya bagus lho, matte doff gitu.

Air puff-nya halus, lembut, dan empuk. Kalau dandan pake air puff (ngga tau kenapa) hasilnya lebih natural dan smooth. Foundation juga lebih nempel di kulit. Bagus nih buat yang demen No Make Up make up.


Cushion case-nya bisa di-refill dengan merk lain ngga?

Sependek pengetahuan saya, ngga bisa.

Sayang sih, apalagi beli refill (container+foundation) kan lebih murah.

Sebenarnya kita memang bisa gonta-ganti refill, selama merk cushion case-nya dari satu grup cosmetics company yang sama.

Misal merk yang di bawah grup Amore Pacific, di antaranya Etude House, Innisfree, Mamonde, Aritaum, Laneige, Iope, Hera, Sulwhasoo, dst.

Ada juga grup Able C&C, yaitu Missha, Apieu, dst. Group LG Household & Health Care, yaitu The Face Shop, SU:M37, The History of Whoo.

TAPI denger-denger cushionnya Laneige dan IOPE di-upgrade. Jadi sekarang sudah ngga compatible dengan cushion case lain dari grup Amore Pacific (cmiiw).

Baca juga : Review Maybelline Fit Me Matte + Poreless Foundation

Wallahu a'lam.
Semoga bermanfaat.
Thanks for reading and have a nice day.

Mau Memulai Blog? Baca Dulu 3 Poin Ini...

Selasa, 11 Juli 2017
Membuat blog itu gampang. Ngga sampai 5 menit juga sudah jadi. Tapi untuk mengembangkan blog tentunya butuh usaha lebih.

Ada hal-hal seputar blogging yang penting, namun telat saya sadari. Kalau kamu berminat membuat blog atau ingin evaluasi blog, postingan ini special untuk kamu :D

#1 Konsep

Konsep adalah gambaran umum yang bisa pengunjung tangkap, termasuk nilai dan manfaat apa yang akan mereka peroleh saat melihat blog kita.

Kalau kita amati, blog-blog populer sudah punya konsep yang benar-benar solid. Setelah baca-baca sebentar, kita langsung tahu...

Oh, ini beauty blog buat yang tight budget kayak saya.
Kumpulan trik cerdas mengurus rumah tangga? Hmmm, boleh juga.
dst.

Pokoknya, mulai dari topik utama, template, kategori post, hingga detail penyajian kontennya sangat terencana. Contohnya blog Lavendaire, Welness Mama, dan Viva Woman.


Menurut Agota Bialobzeskyte via Bloggerjet, kunci utama dalam menetapkan konsep blog yang baik ada dua.

1) Harus mencerminkan diri kita. 

...karena rahasia di balik konten original adalah sudut pandang yang unik dan pemilihan topik yang benar-benar kita senangi.

Lebih lanjut baca juga : Kenapa ya Blogku Ngga Berkembang?

2) Manfaat untuk pengunjung. 

Kalau hanya sekedar blogging, kita bisa saja menulis apapun yang terlintas di kepala kita. Tapi coba pikirkan, manfaat apa sih yang bisa kita tawarkan ke pengunjung?

Contoh... Mungkin setelah membaca beberapa artikel, mereka jadi terhibur, terinspirasi untuk memperbaiki diri, lebih pandai mengelola waktu, dapat info travelling yang berguna, dst. Itulah yang kita titik beratkan.
Semakin bermanfaat, semakin banyak pula pengunjung yang tertarik dan betah membaca blog kita.
Blog lama ingin ganti konsep?

Seperti kebanyakan orang, saya memulai blog tanpa konsep dan tujuan yang jelas. Cuman daripada stuck, yaudah deh konsep blog Hai Hanitis saya rombak.

Huft, rasanya seperti mulai dari nol lagi. Yaa ngga nol-nol banget sih. Ngedit ulangnya itu lhoo lumayan menyita waktu haha.

Tapi alhamdulillah setelah memperbaiki konsep, pengunjung yang datang pun lebih tertarget.

Baca juga : Welcome to Hai Hanitis!

#2 Clarity 
Konten yang baik itu penyampaiannya jelas dan mudah dibaca.
Sederhanakan hal yang ingin kita sampaikan dan gunakan kata-kata yang mudah dimengerti banyak orang. 

Oh iya, membaca buku dan artikel online itu beda lho sensasi(?)-nya. Berasa kan kalau layar gadget bikin mata cepat lelah?

Oleh karena itu...

(1) rapikan template blog (buang widget yang tidak perlu),
(2) gunakan font standar,
(3) pasang foto yang jelas (tidak buram), dan
(4) buat paragraf yang pendek-pendek saja.

Baca juga : Rumpi tentang Blog

#3 Be humble

...terutama saat menghadapi kritik yang menohok.

FYI, banyak banget orang yang sebenarnya lebih tahu daripada kita. Jadi, sebisa mungkin jangan memposisikan diri sebagai orang yang paling tahu.

Kalaupun salah, yaudah. "Subhanallah saya salah, makasih sudah diingatkan."

Ngga usah gengsi untuk mengakui kalau pengetahuan dan pemahaman kita masih terbatas. Dengan begitu kita jadi ngga ada beban dan ngga defensif menyikapi kritik.

Soalnyaa... walau perih kita memang butuh masukan untuk membenahi dan meningkatkan kualitas blog kita.

Baca juga : Deteksi Ego yang Bermasalah dan Solusinya.

Wallahu a'lam.
Happy blogging!
Thanks for reading and have a nice day.

Cara Gampang Membersihkan Sisir Plastik (Detangling Comb)

Selasa, 04 Juli 2017
Ini postingan iseng-iseng aja sebenernya. Abis browsing, saya jadi mikir kok pada ribet ya bersihin sisir plastik. Ada yang pake essential oil, trus sampe ada alat khususnya segala! :))

Mungkin selama ini saya salah... dan mungkin saya yang kelewat malas hahaha.


Dalam dunia perawatan rambut, ada istilah build up, yaitu sebum, sel kulit mati, ketombe, kotoran, debu, ampas produk hair care/styling yang menumpuk di kulit kepala. Build up tersebut juga bisa pindah ke sela-sela sisir.

Tipe kulit kepala saya berminyak, jadi build up cepet banget numpuk di sisir. Plus, beberapa hari ini lagi ngga telaten ngerawat scalp. Cuma shampoo-an biasa aja.

---

Yang perlu disediakan...

Wadah baskom.
Larutan sabun (bisa deterjen, shampoo, sabun cuci piring, dst).


FYI, amannya pake shampoo, tapi yang biasa saya gunakan adalah deterjen (salah ngga sih?). Foto di atas itu larutan Attack Jazz, lol. Dikit aja yang dilarutkan, sekitar 1/4 atau 1/5 sendok deterjen.

Cara gampang...

Bersihkan dulu helaian rambut yang tersangkut di sela-sela sisir.
Rendam sisir di larutan sabun.
Angkat seingatnya beberapa saat kemudian.


Bilas lagi dengan air bersih.
Keringkan.
Sisir siap digunakan lagi.


Sekitar 30 menit, build up-nya sudah lumer. Tapi biasanya saya angkat seingatnya aja, soalnya suka ditinggal gitu rendamannya (maklum, pelupa).

Jadi pas ditiriskan, tau-tau sisirnya sudah bersih sendiri hahaha, tanpa perlu saya gosok pake sikat gigi atau apalah.


Saya coba di sisir kayu juga ampuh. Padahal build up tuh biasanya paling lengket di sisir kayu. Tapi sejauh ini awet-awet aja lho, belum ada tanda-tanda lapuk (sekarang, ngga tau ntar gimana).

Baca juga : Cara Mudah & Murah Membersihkan Kuas Make Up

Ngomong-ngomong, detangling comb (iyah, dupe) ini tidak saya gunakan setelah keramas. Gigi sisirnya terlalu rapat, jadi kadang malah bikin rambut saya rontok dan patah. Paling dipake pas rambut sudah kering aja...

Saya lebih sering pake sisir yang giginya jarang-jarang, karena aman digunakan saat rambut masih basah. Selain itu juga bisa sekalian dibersihkan pas keramas dan ngga perlu direndam lama. Tinggal dikucek dikit sudah bersih.

Wallahu a'lam.
Semoga berfaedah :))
Thanks for reading and have a nice day!