Pengen Berhenti : Kenapa ya Blogku Ngga Berkembang?

Jumat, 31 Maret 2017

Pernah kepikiran untuk berhenti blogging?

Fyuh, kamu tidak sendirian.

Bahkan blogger populer sekalipun pernah bertanya pada diri mereka sendiri, "Is it worth it?", but they keep going :)

Daripada gundah gulana, berikut beberapa poin yang perlu kita pahami saat hopeless melihat statistik blog yang errr... mengecewakan.

Sorry, edited. Bukan berarti sekarang saya pengen berhenti gaes. Yang di awal hanya ilustrasi. Postingan ini saya share siapa tahu bisa jadi insight buat kamu juga :D

Baca juga : Sist, Kok Ngga Posting?

---

#1 Niche

Bentar-bentar. Apa hubungannya perkembangan blog dengan Niche?

Ada niche tertentu yang akan selalu jadi trending, yaitu kesehatan (menurunkan berat badan, nutrisi, kehamilan, dll), nasihat relationship (manajemen konflik, dst), portal berita, dan tips bisnis (mencari uang secara online).

Kalau niche blog kita ngga populer, ya jelas butuh waktu lumayan sampai punya traffic. 

Sangat dianjurkan untuk memilih topik yang benar-benar kita sukai, supaya kita ngga kehilangan passion buat mengeksplor. Lagian kalau dipaksakan (bahas topik yang kita ngga suka) ya bakal kelihatan palsu.

Setelah memilih niche, ngga berarti semua bahasan dalam topik itu harus kita cover. Kalau dikerucutkan, ada lagi yang namanya micro niche. Contohnya untuk niche beauty, topik utamanya skin care, micro nichenya fokus membahas ingredients.

Topik utama blog ngga harus satu lho. Kita bisa gabungkan 2-3 topik dalam satu blog.

Blog gado-gado kerap dipandang sebelah mata. Padahal kalau punya konsep yang matang dan dipromosikan dengan tepat, blog gado-gado juga bisa cepat berkembang kok. 
---

#2 Kenali pengunjung blogmu

Ada alasan kenapa saya terus berusaha menyampaikan hal yang rumit agar mudah dimengerti.

Menurut situs Smart Blogger, pengunjung website dapat dibagi dalam tiga kelompok, yaitu beginner, intermediate, dan advanced.

Saya yakin situasi ini juga dialami blogger/content writer lain. Kadang karena kita sudah lama blogging, jadinya lupa... Dikira pengunjung blog ya masih itu-itu saja, yang sudah lama mengikuti blog/situs kita.

Kita pikir, "Ahh ngga masalah, mereka udah paham ini". Padahal tiap harinya bisa ada ratusan pengunjung baru yang ngga ngeh sama sekali tentang apa yang sedang kita bahas.

FYI, di dunia internet yang luas, pengunjung kelompok beginner jauh lebih banyak dibanding pengunjung intermediate dan advanced. 

Jadi, pelajari minat dan perilaku pengunjung blog kita melalui situs Analytics. Mulai dari laporan demografi pengunjung, lama kunjungan, jenis artikel yang disukai, dan lainnya.

Kemudian dari komentar dan email yang masuk juga kita bisa screening kebutuhan pembaca dan cara penyampaian yang sesuai.

---

#3 Target yang jelas

Banyak blogger yang tidak menyelaraskan harapan dan prakteknya. Akhirnya malah uring-uringan sendiri.

Contoh...

Si A pengen diundang ke event dan dapet produk-produk yang baru dilaunching.

Tapi dia tidak memantaskan blognya supaya layak dapat penawaran tersebut. Template masih berantakan, posting seadanya, ngga aktif di socmed, dan ngga ada usaha buat mengasah keterampilan menyusun konten.

Ya susah kan kalau gitu...

Trus gimana memperbaikinya?

Setiap blogger punya tujuan yang berbeda-beda. Ada yang tujuannya untuk monetisasi, personal branding, publikasi karya fotografi, memberi dampak positif ke masyarakat, dan lainnya.

Dari tujuan tadi, bisa kita break down jadi target-target bulanan, mingguan, dan harian. Target ini yang nantinya memudahkan kita untuk mengevaluasi dan mengarahkan website/blog supaya selamat sampai di tujuan (halah).

Contoh target...

Memperbarui template secara berkala (1-2 tahun sekali),
ikut workshop menulis (1 bulan sekali),
menarik ribuan pengunjung baru per bulan,
memperbaiki artikel lama (1 minggu sekali)
posting artikel 1-3x seminggu,
ngedraft 15-30 menit per hari,
dan promosi artikel di fb, twitter, instagram tiap 2 hari sekali.

*Bisa dirinci lebih spesifik sesuai visi kita.

---

#4 Buat standar suksesmu sendiri

Sebagian orang berpendapat bahwa standar blogger yang sukses adalah banyak duit, diundang ke event-event, sering dikirimin produk, dan diliput media.

Tapi ada hal yang kadang luput kita sadari. Semakin ramai traffic, jelas semakin berat pula tekanannya. Macem-macemlah problemnya.

Ada yang sedih melihat blognya sekarang macam advertorial.

Ada yang merasa ngga leluasa karena hidupnya jadi sorotan.

Ada pula yang jadi incaran orang yang punya itikad buruk. Allahul musta'an.

Jadi, saat melihat "kesuksesan" orang lain, pikirkan juga konsekuensinya.

Berangkat dari situ saya menyadari pentingnya membuat standar kesuksesan yang realistis menurut kita sendiri. Memang ngga masalah terima masukan dari orang lain, tapi pada akhirnya kita sendiri kan yang bakal jalani.
"Just because something is an opportunity, doesn't mean it's the right opportunity for you." (Marie Forleo)

Baca juga : Kenapa Saya Tidak Aktif di Social Media?

---

#5 Belajar! 

Kalau kita ngga belajar, kita ngga bakal tahu bagian mana yang perlu dipertahankan dan mana yang perlu dibenahi.

Jika statistik blog tidak berkembang sebagaimana yang kita inginkan, yaa itu berarti kita harus lebih semangat belajarnya :D

Sekarang pelatihan dan workshop menulis kreatif cukup sering diadakan. Kalaupun terkendala akses, banyak banget situs yang mengajarkan keterampilan menulis online, lengkap dengan webinar, podcast, dan infografis.

Baca juga : Blog yang Sempurna?


---

#6 Last, but not least : Konsisten!

Sebagian besar orang memang ngga sabaran.

Kita tidak suka menikmati proses. Kita ingin hasil yang instan. Padahal untuk mencapai kesuksesan yaa butuh konsistensi dalam waktu yang relatif lama.

Kunci supaya kita bisa konsisten adalah rencana yang matang (bulanan/mingguan), fokus di target yang kita buat, dan harus dipaksa pas lagi males-malesan. Makanya blogger planner dan editorial calendar sangat penting bagi orang-orang yang serius blogging.

Eniwei, sebesar apapun passion kita, pasti tetap ada masa-masa jenuh.

Cuman, saat kita kelamaan "istirahat", biasanya akan terasa sulit untuk mulai dan nemuin ritme yang pas untuk posting lagi.

Kalau saya, ngatasinnya dengan menambah topik baru di blog, supaya ngga bosen hehe.
The more challenges you face, the more you have content to share. (Chris Lema)
Akhir kata... Sayang banget ngga sih, kalau ngelepas blog atau situs yang sudah lama kita rintis dari nol? Mungkin bukan ngga berkembang sama sekali, tapi progresnya yang lambat.

Daripada berhenti, mending diperbaikin, supaya kita juga lebih nyaman bloggingnya hehehe. Ayo dong, semangaat! :D

Wallahu a'lam.
Happy blogging and have a nice day.

Yang Kulitnya Berjerawat, Sudah Coba DARSI?

Minggu, 26 Maret 2017

Sebagian besar sudah pernah coba pasti yaa. Buktinya dari tahun ke tahun, produk ini masih sering dicari.

Kondisi internal tubuh memang berpengaruh ke kesehatan kulit. Sebagian orang lebih memilih cara yang relatif aman dengan memilih produk berbahan alami.

Saya sebagai acne proner (lah kok bangga haha) juga kenal Darsi dari lamaa. Sebelumnya (bertahun-tahun yang lalu) pernah konsumsi yang pil, tapi kemarin nemu yang kapsul di supermarket jadi pengen coba.

---

Deskripsi Produk

DARSI CAPSULE
(12 capsules @550 mg)
Membantu mengurangi jerawat, bisul, dan gatal-gatal.

Khasiat dan Kegunaan
Membantu mengurangi jerawat, bisul dan gatal-gatal. Membantu memperbaiki peredaran darah.

Cara Pemakaian
Minumlah secara teratur 2 kali sehari @2 kapsul. Dosis dapat ditingkatkan atau dikurangi sesuai kebutuhan. Untuk anak-anak gunakan setengah dari dosis dewasa.

Anjuran
Dianjurkan minum air putih minimal 2.5 liter perhari.


Tips penyimpanan

Produk-produk Borobudur Natural Herbal Industry mengandung bahan alam yang berkhasiat serta diproses menggunakan mesin-mesin berteknologi modern yang sesuai dengan "Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik" (CPOTB).

Dianjurkan untuk memperhatikan cara penyimpanan produk, terutama untuk sediaan dalam bentuk kapsul karena mengandung ekstrak dengan konsentrasi tinggi. Semua sediaan dalam bentuk kapsul dan pil akan aman dikonsumsi sampai batas kadaluwarsa.


Darsi mengandung Curcumae Rhizoma Extract (akar temulawak), Zingiberis aromaticae Rhizoma Extract (akar lempuyang wangi), Zingiberis purpurei Rhizoma Extract (akar bengle), Andrographidis Herba Extract (sambiloto), Curcumae domesticate Rhizoma Extract (akar kunyit), Sappan Lignum Extract (kayu secang), dan Elephantopi Folium Extract (daun tapak liman).

Singkatnya, formula tersebut berfungsi untuk membersihkan darah, anti inflamasi, penawar racun, serta meringankan penyakit kulit seperti bisul dan eksim.

---

Review

Saya beli produk ini di Hypermart seharga Rp 16.000 (isi 12 kapsul). Selama saya mengonsumsi Darsi, jerawat hormonal sangat terkontrol. Bulan lalu tumben-tumbenan lho ngga ada bumps jerawat baru pas pms. Cuma, tetep ngga bisa ngeredam jerawat yang muncul karena stres, lol.

Pas awal Maret ini juga kulit saya rewel lagi. Dibilang alergi kayaknya saya ngga makan aneh-aneh. Yah, mungkin karena banyak dosa :')) astaghfirullah.

Sayangnya, Darsi juga ngga mampu meredakan kulit yang sempat kering dan gatal. Sembuhnya malah pake air teh hijau. Jadi, dari pengalaman saya pribadi, Darsi efeknya lebih ke mencegah aja. Kalau untuk menangani sih ngga.

Baca juga : Cuci Muka Pake Air Teh Hijau


Please note, hasil bagi setiap orang bisa sangat berbeda.

Ada yang bruntusannya sembuh setelah rutin mengonsumsi Darsi (bisa browsing lebih lanjut). Sebaliknya, ada pula yang jerawatnya malah makin parah.

Untuk yang kedua, saya ngga gitu paham ya... Meski ada yang bilang itu detox dkk, tapi bisa jadi karena memang ngga cocok atau justru alergi. Soalnya saya pernah ngalamin reaksi negatif juga saat salah memilih suplemen kulit.

Baca juga : Beberapa Pertanyaan Seputar Skin Care (2016)

Kalau ada hal yang tidak wajar selama mengonsumsi Darsi (maupun ramuan herbal dan suplemen lain), baiknya segera hentikan pemakaian. Hubungi layanan konsumen (kontak telp/sms/email) dan konsultasikan ke dokter jika perlu.

---

Kenapa distop?

Bdw, di post sebelumnya saya bilang hanya menggunakan Darsi untuk sementara saja. Saat ini saya rutin minum Habbatussauda.

Aduh, malah bahas produk lain haha. Tapi ngga papalah ya, soalnya kadang suka ditanyain :))

Baca juga : Kulit Wajah Rentan Bermasalah? Yuk, Puasa Produk Kosmetika.

Alasannya, selain untuk daya tahan tubuh, Habbatussauda juga bagus buat kulit, sirkulasi darah, dan mood (yang notabene penting karena saya rentan stres).

Makin yakin setelah nonton (via youtube) video aktivitas sel darah merah dan putih membaik setelah mengonsumsi Habbatussauda.

Banyak deh manfaatnya, panjang kalau disebutin satu-satu. Jadi, menurut saya Habatussauda sudah cukup buat mengcover apa yang saya butuhkan saat ini.

Wallahu a'lam.
Semoga bermanfaat.
Thanks for reading and have a nice day.

Cuci Muka Pake Air Teh Hijau

Kamis, 23 Maret 2017
Meski sekarang ada yang membasuh wajah dengan sparkling water dan larutan unik lainnya, tapi air teh, air beras, atau bahkan air mineral biasa masih sering digunakan untuk perawatan wajah.

Seperti biasa, yang jadi pertanyaan saat kita melihat artikel DIY/Homemade Skin Care adalah "emang ngefek?"

Itulah yang akan kita bahas di sini hehe.

Ide postingan ini saya dapat dari @ichissa (via dm instagram). Kayaknya ngga perlu kita bahas panjang lebar tentang khasiat teh hijau, yaitu kaya antioksidan dan kemampuan untuk menenangkan kulit.


Saya juga pernah cuci muka pake air teh. Tapi karena itu teh biasa, jadi meninggalkan stain cokelat di kulit. Ketauannya pas dilap dengan toner. Karena itu kali ini saya coba menggunakan Teh Hijau Tong Tji.

Kata @ichissa bagusnya pake teh hijau bubuk (pure matcha, bukan yang latte). Namun, apa daya, cari pure matcha susah di daerah saya.


Ketimbang teh basi, saya menggunakan teh hijau yang masih hangat. Ini kekhawatiran saya pribadi aja sih hehe :D kulit saya acne prone, takut kalau teh basi banyak bakterinya.

Cara pemakaian

Umumnya digunakan single use pagi-pagi atau bisa juga digunakan untuk bilasan terakhir setelah cuci muka dengan facial wash.

Bdw, yang saya gunakan adalah teh seduh tubruk, bukan celup.


Review

Saya coba menggunakan teh hijau untuk membasuh wajah sejak Januari 2017, cuma 1x sehari. Daan... saya ngga melihat adanya perubahan sama sekali. Mungkin karena saat itu kulit saya memang lagi sehat. Yasudah, saya jadi rada males dan ngga telaten pakenya hehe.

Saya pun bingung, "Ini mau review apaan kalau kayak gini" wkwkwk.

Akhirnya saya tanya sana sini (ke teman dan reader blog). Kalau disimpulkan, emang ada kok orang-orang yang kulitnya jadi bersih (dalam artian blemish free) setelah rutin membasuh wajah dengan air teh basi. Dan itu ngga hanya teh hijau lho ya, tapi juga teh melati biasa.

Meski demikian... Begitu kulit bermasalah, saya masih ragu pake teh hijau. Takut kulit makin kering dan gatal. Saat itu saya tahan-tahan aja ngga pake apa-apa.

Baca juga : Kulit Rentan Bermasalah? Yuk, Puasa Skin Care.

Satu hari di bulan Maret (tsah) saya iseng coba basuh wajah dengan teh hijau. Masya Allah, gatal-gatal yang saya alami berhari-hari langsung reda. Besokannya kulit saya juga jadi lebih kalem dan ngga reaktif.

Yee... kenapa ngga dari kemarin-kemarin ya saya memberanikan diri.

---

In my opinion...

Sebelumnya saya meragukan pernyataan bahwa teh hijau bisa jadi pertolongan pertama saat kulit kita bermasalah. Ya gimana ngga... pas saya pake awal-awal kayak ngga ada efek apa-apa.

Kebiasaan deh menarik kesimpulan terlalu cepat, lol.

Efek instan yang bisa kita harapkan dari teh hijau adalah calming effect-nya. Untuk mencerahkan dan memperlambat proses penuaan sepertinya butuh waktu berbulan-bulan sampai kita bisa memperoleh hasil yang memuaskan.

Saya jadi ingat waktu pakai Evian Facial Spray pun juga gitu. Pas kulit saya lagi biasa aja, ya berasa useless produknya. Manfaatnya baru terasa saat kulit mengalami redness.

Baca juga : Evian Facial Spray

Wallahu a'lam.
Semoga bermanfaat.
Thanks for reading and have a nice day.

Kulit Rentan Bermasalah? Yuk, Puasa Produk Kosmetika.

Sabtu, 11 Maret 2017
Beberapa kali saya ditanya, "Kok kulit kamu pulihnya cepat ya?"

Iya, Alhamdulillah, tapi sebenernya cepet bermasalah juga hehe.

Sekalian curhat yaa... Penyebab jerawat yang paling sering saya alami adalah makanan, hormonal (pms-mens), dan stres. Untuk makanan bisa lah ya rada dikontrol, tapi untuk hormon dan stres itu rada susah.

Di akhir Januari 2017, kulit saya alergi setelah makan pangsit udang instan. Butuh waktu sampai pertengahan Februari baru kulit saya bisa menjinak.

Qadarullah, di awal Maret kulit saya bermasalah lagi hehe. Memang ngga jerawatan, tapi jadi kering, gradakan, ngelupas, dan gatal.

Itulah kenapa saya ngga sering-sering review produk. Selain agak gambling (cocok atau ngga), juga khawatir... nanti justru produknya yang dikira bikin break out atau memperparah, padahal memang kondisi kulit saya yang sedang tidak stabil.

Jadi, maap-maap aja, kalau review produk di blog ini kurang variatif. Trus, ngga usah penasaran saya pake apa hahaha. Itu-itu aja kok :D

Baca juga : Ini Lho Pembersih yang Saya Gunakan (2017)

Wah, ribet ya...?

Awalnya berat, tapi saya belajar menerima kondisi kulit wajah yang naik turun begini.

Berikut tips sederhana, basic banget dari pengalaman saya pribadi dalam merawat kulit yang rentan bermasalah. Sebenernya topik ini sudah sering dibahas, cuman untuk memudahkan pengunjung baru kayaknya lebih enak kalau dirangkum dalam satu artikel.


#1 Kenali trigger kulit bermasalah

Seperti yang sudah kita bahas sebelumnya, kulit bisa bereaksi atas apa saja.

Bisa karena produk kosmetika, perubahan hormon, obat-obatan tertentu, makanan, cuaca, lingkungan baru, dan lainnya. Trigger masing-masing orang bisa berbeda.

Penting banget untuk mengetahui hal-hal yang dapat memicu masalah, agar kita dapat menekan risiko break out yang parah. Please note, yang udah hati-hati saja masih suka kecolongan :D

Baca juga : Reaksi Kulit terhadap Produk Skin Care = Purging?

---

#2 Batasi penggunaan produk kosmetika
"The biggest skin care mistake is not realizing that less is more," explains Dr. Mona Gohara, associate clinical professor of dermatology at the Yale School of Medicine. "They throw all these different products on themselves, which can irritate your skin and cause inflammation". (via Good Housekeeping)
Less is more. Saya sangat sepakat dengan statement di atas. Lebih baik menggunakan sedikit produk tapi tepat sasaran, daripada menggunakan produk berlayer-layer yang belum tentu kita butuhkan.

Baca juga : Perlu Toner atau Tidak?

Saat kulit sedang bermasalah, kita memang masih perlu pembersih, pelembab, dan/atau tabir surya (untuk aktivitas di luar ruangan). Namun, penggunaan selain produk-produk tersebut baiknya dipertimbangkan dengan matang.

Baca juga : Apakah Kamu Berlebihan Merawat Kulit Wajah?

Kita pun sering mendengar nasehat, "Coba deh jangan pake apa-apa dulu."

Kurang lebih itu benar lho.

Memang tidak semua masalah kulit bisa sembuh hanya dengan diistirahatkan. Tapi pada keadaan tertentu, membatasi atau bahkan stop total menggunakan produk kosmetika (skin care dan make up) adalah pilihan terbaik.

Kulit kita dasarnya "pintar" kok, punya kemampuan untuk pulih sendiri dan beregenerasi.
Jangan sampai kita berlebihan "merawat" kulit yang sedang sakit (apalagi jika tanpa pengawasan dokter), salah-salah jadi makin reaktif.
Pernah ngga ngalamin? Masalah awalnya hanya jerawat 1-2 biji. Tapi setelah dimacem-macemin malah makin parah. Kira-kira begitulah gambarannya :D


Sebisa mungkin, saat kulit sedang bermasalah, saya skip penggunaan produk kosmetika. Paling cuma pake micellar water, karena bulan kemarin saya tidak pake oatmeal seperti yang lalu-lalu (red: kebetulan pas belum nyetok lagi).

Memang kulit jadi lebih kusam dibanding biasanya karena ngga pake produk pencerah endesbre. Tapi Alhamdulillah mrintisan di dahi saya tidak menyebar dan cepat sembuh.

Di bawah ini foto dahi saya awal Maret, sebelum ngalamin kering dan gatal. Mrintisannya rata dengan sendirinya.


---

#3 Menangani sebab dari dalam

Sudah pake ini itu tapi kulit masih sering bermasalah? Bisa jadi ada andil dari kondisi internal tubuh kita. Jadi, jangan hanya fokus di "bagusnya pake skin care apa", tapi coba pelan-pelan memperbaiki gaya hidup juga.

No doubt, yang paling bagus itu rutin olah raga.

Err... tapi, saya ngga disiplin dan payah berolah raga hahaha. Makanya saya coba alternatif lain yang mudah ditelateni : You are what you eat.

Baca juga : Susahnya Membangun Kebiasaan


Selain minum air putih (at least 2 liter per hari), saya juga coba minum madu, Darsi (sementara), dan Habbatussauda (jintan hitam/Nigella Sativa). Coba browsing jurnal penelitian tentang Nigella Sativa, kesimpulannya bagus-bagus, dan Alhamdulillah harganya juga terjangkau.

Baca juga : Yang Kulitnya Berjerawat, Sudah Coba Darsi?

Merk Kurma Ajwa, 210 kapsul hanya sekitar Rp 45.000an (tergantung beli dimana). Tapi ada juga yang lebih cocok mengonsumsi Habbatussauda berupa minyak dalam kapsul.

Dari hasil sharing dengan pengunjung lain, konsumsi Habbatussauda meningkatkan daya tahan tubuh.

Minuman probiotik seperti Yakult juga bagus lho. Kesehatan usus ternyata berpengaruh ke kesehatan kulit. Yang paling sering dishare juga teh hijau tanpa gula, karena kaya antioksidan yang dapat menangkal radikal bebas.

Kalau kamu tahan minum VCO (Virgin Coconut Oil) atau EVOO (Extra Virgin Olive Oil) monggo, oke buat kesehatan jantung, pencernaan, dan bikin kulit jadi glowing.

Selain itu, bagi muslim, rutin puasa sunnah juga sangat recommended. Secara medis, puasa berdampak positif bagi metabolisme dan detoksifikasi tubuh.

Yang gampang-gampang aja macam Senin-Kamis (bisa senin saja, kamis saja, atau keduanya) dan ayyamul bidh. Tapi pas buka, makannya jangan balas dendam (ngerapel pagi-siang-malam), sama aja bohong :))

---

#4 Kontrol stres

Aduh susah sist.
Sama hahaha.
"The mind and skin are connected on many different levels. A lot of nerve endings are connected to the skin, which wraps around the organs, so as emotions are played out neurologically, they can be expressed through the skin just as stress can be expressed through gastrointestinal symptoms, increased anxiety, or hypertension." says Karen Mallin, PsyD (via WebMD).
Salah satu benang merah yang bisa ditarik dari orang-orang yang kulitnya rentan bermasalah adalah level stres yang tinggi. Kita mesti cari cara buat rileksasi dan menenangkan pikiran.

Selain jadi trigger, ternyata stres selama kulit bermasalah juga memperparah dan memperlambat proses pemulihan kulit. So, I try not to overthink everything :))

Baca juga : Toner, Mineral Oil, dan Stress

Stres bisa melatarbelakangi sikap gegabah dalam menangani kulit yang bermasalah [1]. Entah kenapa kita jadi sulit menahan diri untuk tidak ngutak atik jerawat. Padahal kalau jerawatnya dicungkil sendiri, malah berisiko infeksi dan jadi bopeng (acne scar yang dalam).

Kita pun jadi ngga sabar dan pengen hasil yang instan. Padahal proses menangani kulit bermasalah (apalagi kasus yang parah) itu ngga 1-2 hari.

Baca juga : 15 Gosip seputar Jerawat

---

#5 Forgive yourself for not being perfect

Beberapa waktu lalu, saya melihat foto-foto saat masih bruntusan. Alhamdulillah sejak 2014 kondisi kulit saya sudah jauh lebih baik.

Kalau dulu galaunya karena jerawat perih, nyut-nyutan, dan takut pecah... sekarang (pas lagi normal) galau karena pori-pori lebar atau komedo, yang kalau dipikir-pikir itu wajar dan manusiawi.

Saking perhatiannya ke komedo, saya punya cermin pembesar yang membuat pori terlihat lebih jelas. Kalau istilah adek saya, itu Cermin Kebenaran(?). Padahal ada yang zoom-nya lebih horor hehe (12x, etc).

Cermin semacam ini bikin saya makin insecure, bawaannya pengen mencet-mencetin komedo. Kalau ngga hati-hati malah jadi luka :(


Eniwei, jaman sekarang persepsi tentang "kulit sehat" jadi bias. Ada semacam standar cantik yang tidak realistis, sehingga membuat kita merasa kurang, kurang, dan kurang.

Rasa-rasanya pengen gitu punya kulit yang smooth dan poreless(?) macam bayi.

Kita pun jadi berlebihan menggunakan produk-produk tanpa mempertimbangkan keamanan dan kesesuaiannya dengan kondisi kulit kita. Akhirnya bisa ketebak, bukannya makin kinclong, kita malah makin gundah (halala).

Intinya, memiliki kulit yang rentan memang menantang (kalau ngga mau dibilang beban). Tapi pastikan kita menanganinya dengan hati-hati, supaya ngga nambah masalah baru.

Sebagai penutup, saya suka sekali dengan kutipan dari Skinacea di bawah ini. Bagus buat jadi renungan...
Sometimes you just have to take a deep breath and appreciate how well things have gone for awhile and give yourself a break from always trying to be so perfect. And, as you know, you really are your own worst critic. I was really hard on myself to get good skin, but being hard on myself did nothing to make my skin better or clear my acne any faster. So, take a moment and forgive yourself and be okay with yourself for not being perfect. Imperfections are what make life interesting and unique anyway. (via Skinacea)
Baca juga : Obsesi Kulit Putih Sebagian Orang Asia

Wallahu a'lam.
Semoga bermanfaat.
Thanks for reading and have a nice day.

Jika Kita Disakiti Orang Lain

Rabu, 08 Maret 2017

Bismillah...

Seseorang bertanya pada Ustadz Nuzul Dzikri (Menjaga Pesona Taman Surga sesi 1 - Hang Tv),
Bagaimana caranya agar hati bisa mengikhlaskan kesalahan yang diperbuat orang lain kepada kita?
Jawaban beliau saya tuturkan ulang dalam bahasa tulis, tanpa mengubah esensi...

Ada sebuah tips penting yang disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, "Apabila Anda melihat seseorang disakiti oleh manusia (dicela, dicaci maki, dighibahi, difitnah, mungkin sampai ada kontak fisik), lalu dia tidak mengembalikan pada dirinya, dosa, dan kesalahannya... tidak pula beristighfar kepada Allah, maka camkan bahwa itulah musibah yang sejati."
Allah sudah berfirman, “Dan musibah apapun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura, ayat 30)
Ketika kita disakiti, ditipu, difitnah, dighibahi orang, itu pasti konsekuensi dosa.

Jadi, segera introspeksi diri dan evaluasi dosa-dosa kita.

Baca juga : Jangan Su'udzon kepada Allah

Misal kita diomongin, pastikan apa kritikan mereka kepada kita.

Kalau memang kritiknya benar, perbaiki.

Kalau ternyata itu fitnah, bukan berarti kita bersih dari kesalahan. TAPI Allah balas kesalahan yang pernah kita lakukan di tempat lain, di kesempatan lain, melalui kondisi-kondisi tersebut.

Saat kita merasa bersalah kepada Allah 'Azza wa Jalla, kita ngga akan terlalu ngotot ke orang lain. Walaupun secara kasat mata jelas-jelas dia yang salah.

Kalau fokus kita hanya kepada orang yang menyakiti kita, kita tidak akan berkembang.

Contoh...

Ada yang memfitnah kita, lalu kita sakit hati.

Biasanya kalau sakit hati pelampiasannya gimana?

Kita telpon teman kita, kemudian curhat 2 jam.

Waktu kita habis untuk menceritakan kesalahan orang lain.

Produktif atau tidak?

Sekarang bandingkan kalau waktu tersebut kita gunakan untuk diri sendiri.
Ini saya salah apa lagi nih... Sampai Allah takdirkan saya difitnah melalui dia.
Dengan begitu kita akan mengaudit diri kita habis-habisan.

"Oh, ternyata ini...", lalu kita istighfar, dan memperbaiki diri.

Kita akan berkembang kalau terus menerus mempraktekkan pola ini.

Syaikh Abdurrazzaq Al Abbad hafizhahullah berkata, "Konsep muslim itu dua. Akui nikmat Allah dan akui kesalahan kita."
Aku akui seluruh nikmat-nikmat ini dari-Mu Yaa Allah. Dan apa yang aku alami, masalah yang aku hadapi, itu disebabkan karena dosaku sendiri.
Inilah konsep yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dalam Sayyidul Istighfar, supaya kita dewasa.

Kalau kita sibuk menyalahkan dan menjadikan orang lain sebagai kambing hitam, kita tidak akan maju-maju.

Baca juga : Sayyidul Istighfar (Penghulu Istighfar)

"Ustadz, enak banget dong yang nyakitin kita kalau gitu."

"Hadirin, azab dia dari Allah lebih pedih daripada pembalasan kita untuk dia. Udah biarkan Allah yang balas. Kita fokus menata diri."

Ini baru satu konsep lho. Belum konsep yang lain.

Kalau kita disakiti, itu investasi akhirat.

Dosa diampunkan, derajat ditinggikan, dan dia akan transfer pahalanya ke kita.
Kalau ada orang yang transfer duit 10 juta, kita bakal marah-marah atau senang? Sekarang, mana yang lebih besar, duit atau pahala? Ya pahala. Katanya yakin pada hari kiamat? Orang yang mencela dan menyakiti kita itu kan sedang transfer pahalanya ke kita.
"Ustadz, kayaknya dia ngga punya pahala deh..."

"Yaudah, kita yang transfer dosa kita ke dia. Selesai."

Baca juga : Bicara Baik atau Diam (Orang yang Bangkrut di Akhirat)

Wallahu a'lam.
Semoga bermanfaat.

Reminder to myself too.
My posts don't make me pious.
Thanks for reading and have a nice day.

Masker Bengkoang : Mustika Ratu, Ovale, & Viva

Rabu, 01 Maret 2017
Rencananya, di bulan Februari ada beberapa produk yang mau saya review, tapi Qaddarallah kulit saya rewel lagi. Tentang ini kita bahas di postingan yang terpisah insya Allah.

Baca juga : Kulit Rentan Bermasalah? Yuk, Puasa Produk Kosmetika.

Masker bengkoang bubuk yang mau saya bandingkan adalah Mustika Ratu, Ovale, dan Viva. Please note, review ini berdasarkan pengalaman dan opini pribadi ya.


---

Mustika Ratu Masker Bengkoang

Membantu kulit tampak cerah dan menyamarkan noda.

Umbi bengkoang, akar manis, dan derivate vitamin C dalam kandungan masker bengkoang membantu kulit wajah menjadi terasa kencang, lebih lembut, lebih cerah, dan menyamarkan noda hitam.


Cara pemakaian

Campur bubuk masker dengan Air Sari Mawar Putih secukupnya, oleskan pada wajah dan leher. Hindari daerah mata.

Diamkan hingga kering (± 10 menit), lalu bersihkan dengan air. Gunakan secara teratur 2 kali seminggu untuk hasil optimal.


---

Ovale Masker Bengkoang

Membantu membersihkan, menjaga kekencangan dan membantu mengangkat sel kulit mati. Diperkaya dengan Ekstrak Bengkoang untuk membantu mencerahkan kulit wajah.

Kulit wajah Anda terasa segar, lembut, dan tampak cerah berseri.


Cara pemakaian

Campurkan bubuk masker dengan air secukupnya. Oleskan pada wajah dan leher yang bersih dan kering, kecuali bagian mata dan bibir.

Biarkan selama 10-15 menit hingga mengering. Basuh dengan air hangat hingga bersih.

Simpan di tempat kering dan tidak terkena sinar matahari langsung.


---

Viva Masker Bengkoang

Masker wajah untuk semua jenis kulit, mampu membersihkan, mengangkat sel-sel kulit mati, dan merawat kekencangan kulit.

Mengandung Pati Bengkuang untuk kulit tampak lebih cerah berseri.


Cara pemakaian

Campur Viva Face Mask Bengkuang dengan Viva Air Mawar secukupnya dan aduk hingga merata.

Oleskan pada wajah secara merata (hindarkan daerah sekitar mata dan bibir), biarkan mengering selama 10-15 menit.

Kemudian bersihkan dengan air hangat/waslap basah. Lanjutkan dengan penggunaan Viva Face Tonic sesuai dengan jenis kulit. Gunakan secara teratur 1-2 kali sebulan(?).


#FYI

Buah bengkoang (Jicama/Pachyrrhizus Erosus), selain buat ngerujak juga biasa digunakan sebagai masker, scrub, pembersih, dan pelembab.

Bengkoang kaya dengan antioksidan yang dapat melawan kerusakan kulit akibat radikal bebas.

Produk-produk yang mengandung ekstrak bengkoang populer untuk mencegah penuaan dini, mencerahkan kulit yang menggelap akibat paparan sinar UV, bekas jerawat, dan lainnya.

Tentu hasilnya akan maksimal jika digunakan secara rutin.


Tekstur ketiganya mirip. Yang paling halus dari Mustika Ratu.

Ngomong-ngomong, saya tidak campur dengan Air Mawar karena pernah bruntusan. Jadi cari aman aja dengan menggunakan air mineral biasa.


---

Review

Harga ketiganya sekitar Rp 4.000-7.000an, tergantung beli dimana. Akses belinya juga mudah ya, gampang banget didapet hehe.

Saya penasaran aja dari tiga produk masker bengkoang ini mana yang paling enak digunakan.

Bdw, selain masker bubuk, ada juga masker bengkoang yang dikemas dalam tube (tekstur krim/pasta) yang praktis. Masker sejuta umat, lol.

(Maaf, foto swatch dihapus)

Mustika Ratu Masker Bengkoang (15 gr)
- Wanginya mirip Viva (jamu), tapi tidak begitu tajam.
- Kira-kira cukup digunakan untuk 3 kali pemakaian (sewajah dan leher).
- Saat dioles terasa berpasir, sulit diratakan, dan rada bolong-bolong :(
- Terasa sejuk di kulit.
- Maskernya mudah retak.
- Cepat mengering.
- Mudah dibersihkan.

Ovale Masker Bengkoang (15 gr)
- Setelah dicampur air, maskernya jadi sangat halus, tidak berpasir.
- Encer, tapi mudah diratakan.
- Wanginya paling enak (ngga eneg) dan bikin rileks.
- Efek dinginnya paling berasa di kulit, dibanding dua masker lainnya.
- Kulit juga terasa lebih kencang (sementara)
- Tidak mudah retak.
- Mudah dibersihkan.

Viva Masker Bengkoang (30 gr)
- Bau jamu. Wanginya paling menyengat dan tajam.
- Konsistensi masker yang paling pas dan mudah diratakan.
- Cepat mengering.
- Memberi efek kencang sementara.
- Terasa sejuk di kulit.
- Setelah mengering, maskernya tidak mudah retak.
- Mudah dibersihkan.

Masker bubuk ini bisa digunakan untuk semua tipe kulit. TAPI untuk kulit kering/dehidrasi baiknya segera menggunakan pelembab setelah maskeran.

Selama pemakaian, saya tidak mengalami reaksi negatif apapun (iritasi, gatal, dll). Paling ngga tahan sama wangi jamunya aja hehe.

Secara kisaran harga sama, formulanya mirip-mirip, dan (ehm) hasilnya juga 11-12. Biasa aja, cuma kasih efek cerah sementara, kayak Saripohatji (sama-sama produk wash off).

Kalau mau mengembalikan warna kulit yang menggelap, lebih nampol kalau kita pake serum, essence, dan produk leave on dengan agen pencerah lainnya.

Macam noda bekas jerawat yang membandel jelas kurang ampuh jika hanya menggunakan masker bubuk bengkoang. Baiknya menggunakan spot treatment khusus kalau mau cepet pudar.

Baca juga :
(1) Verile Acne Blemish Cream
(2) White-Neng Skin Whitening Cream

Hmmm... Kalau disuruh pilih, saya lebih suka dengan Ovale Masker Bengkoang. Wangi maskernya enak dan dingin banget di kulit.

Menurut orang yang pernah rutin pake masker buah bengkoang asli, hasilnya lebih bagus dibanding masker bubuk pabrikan (yang notabene sudah dicampur dengan zat-zat tambahan).

Cuma memang rada ngga praktis, karena kudu dipotong dan diblender dulu.

Baca juga : Minyak Zaitun : Herborist, Ovale, Wardah

Wallahu a'lam.
Semoga bermanfaat.
Thanks for reading and have a nice day.