Beberapa Pertanyaan Seputar Skin Care (2016)

Jumat, 30 Desember 2016

#1 Kenapa ya sabun pembersih membuat kulit saya bermasalah?

Baca : Apakah Sabun Menyebabkan Purging?

---

#2 Produk xyz aman ngga?

Baca : Produk Skin Care ini Aman Ngga ya?

---

#3 Siisss, aku purging karena produk skin care :(

Baca : Reaksi Kulit terhadap Produk Skin Care = Purging?

---

#4 Pake bedak apa sis?

Saya sudah lama ngga bedakan ^^; Kulit saya dehidrasi dan mudah muncul dry patch. Paling banter cuma pake bb cream saja. Kalau wajah mulai kilap, tinggal diblot dengan kertas minyak.

Baca juga : Kertas Minyak Acnes, Clean & Clear, Ovale, & Oxy

---

#5 Kapan kita memutuskan untuk mengobati kulit di dokter?

Saat jerawat sudah menahun dan tidak dapat sembuh hanya dengan produk over the counter.

Kalaupun sembuh, sewaktu-waktu balik jerawatan parah lagi. Atau saat mengalami masalah kulit yang tidak wajar, seperti perubahan warna, gatal/ruam yang tak kunjung reda, penanganan bekas luka, dan lainnya.

---

#6 Dokter mana yang bagus?

Mana aja insyaAllah bagus sis. Cuman tetep ya... cari dokter yang reputasinya oke dan sreg di hati hehe.

Setelah sharing dengan temen-temen reader lain (yang juga berobat ke dokter), sebenernya obat buat mengatasi masalah kulit (bruntusan, jerawat, flek), muter itu-itu aja.

Yang paling penting kitanya mesti disiplin, rutin kontrol dan konsultasi.

Baca juga : Pengalaman Mengatasi Bruntusan Alergi

---

#7 Bagaimana mempercepat purging?

Purging tidak bisa dikira-kira.

Tergantung seberapa serius masalah kulitnya dan seberapa cepat kulit kita merespon obatnya.

Kulit yang mengalami jerawat parah dan nyebar, jelas lebih lama sembuhnya. Jadi ya tunggu seselesainya saja.

Cuman, dari pengalaman saya dan teman-teman lain, kita bisa bantu mempercepat proses pemulihan kulit dengan mengurangi penggunaan produk kecantikan (terutama yang berisiko menyumbat pori), jaga makanan, memperbaiki gaya hidup, dan meningkatkan kualitas tidur.
---

#8 Saya sedang berobat. Minder banget nih keluar rumah, jerawat pada mateng semua.

Ini salah satu produk andalan orang yang sedang purging...


Kalau ada yang tanya kenapa, bilang saja lagi masa pengobatan. Mungkin bakal ada yang komen, "Ih ngobatin jerawat kok malah jadi parah gitu?"

Sabar aja.

Emangnya jerawat parah bisa sembuh kayak di iklan-iklan? Yang sekali pake obat, besokannya langsung kinclong xD

Mengobati jerawat di dokter jelas bakal dituntasin.... dan ngga instan ya. Kadang butuh waktu berbulan-bulan.

---

#9 Apa yang jadi pertimbangan untuk memilih skin care dokter dan skin care over the counter?

Skin care dokter

Pro

Praktis. Kita tidak perlu pusing-pusing pilih formula, ngecek ingredients, dan lain sebagainya. Sudah tinggal terima beres. Kalau ada masalah, bisa langsung konsultasi ke dokternya.

Kontra

Paketan krim dan treatmentnya relatif mahal. Sebagian orang juga mengalami efek rebound setelah lepas dari skin care dokter atau klinik kecantikan.

Catatan

Krim dokter insya Allah aman lho ya, karena penggunaannya di bawah pengawasan dokter. Yang penting kitanya disiplin, rutin kontrol dan konsultasi. Ikuti anjuran pakai. Jangan ujug-ujug mendadak lepas.

Baca juga : Tentang "Krim Dokter" (Pengakuan Dosa, lol)

Skin care over the counter

Pro

Banyak pilihan. Saking banyaknya bikin bingung hahaha.
Anggaran skin care bisa disesuaikan dengan budget.
Ngga gitu khawatir dengan yang namanya efek rebound.

Kontra

Butuh waktu dan trial-error hingga akhirnya bisa ketemu produk yang bener-bener cocok.
Kadang hasilnya tidak sekinclong dan "sebening" krim dokter.

Catatan

Biasanya, orang-orang yang memilih produk over the counter juga ngeboost kualitas kulitnya dengan suplemen dan treatment bulanan di dokter/klinik kecantikan (face spa, chemical peeling, dst).

Bagi yang tight budget bisa diakali dengan rutin minum air putih sekitar 2 liter per hari, minum smoothies, ngejus, nyeduh teh hijau tanpa gula, olahraga, dan lainnya.

Baca juga : Tips Cantik/Ganteng Paling Penting : Minum Air Putih!

---

#10 Kapan kita butuh suplemen kulit?

Saat asupan gizi kita tidak seimbang dan butuh booster untuk kesehatan kulit.

Ingat, yang digarisbawahi adalah kesehatan kulit, bukan semata-mata untuk memutihkan.

Mencari suplemen kulit itu harus hati-hati.

Ngga cuma sekedar, "Oh ini bikin putih, berarti bagus".

Saya dulu pernah jerawatan karena minum suplemen vitamin E 250 IU.

Kalau dipikir itu standar banget ya. Tapi kata dokter, orang yang kulitnya seperti saya lebih cocok minum suplemen omega 3 (minyak ikan).

Vitamin E kadar segitu bagusnya untuk orang yang kulitnya kering.

Baca juga : Obsesi Kulit Putih Sebagian Orang Asia

---

#11 Kenapa sista ngga pake krim pagi-krim malam saja yang praktis?

Saat ini kulit saya lebih cocok kalau regimennya dibagi per fokus perawatannya, bukan dengan krim pagi-malam atau melayer beberapa produk skin care sekaligus.

Contoh...

Pagi fokus di moisturizing/hydrating -- Hada Labo
Siang fokus di proteksi dari sinar matahari -- sunblock
Malam fokus di mencerahkan dan memudarkan noda -- Glycore

Please note, saya ngga bilang cara saya ini yang paling benar ya.

---

#12 Sis kamu peeling/scrubbing pake apa dan berapa kali dalam seminggu?

Sebelum menggunakan Glycore, saya scrubbing 2-3 kali dalam seminggu.

TAPI, karena Glycore itu sendiri sudah 8-10% AHA glycolic acid, jadi saya skip eksfoliasi sel kulit mati dengan menggunakan produk seperti peeling atau srubbing. Khawatir jadi overpeeled kulitnya :D

Baca juga : Glycore Cream : Glycolic Acid 8-10%

---

#13 Susah dapetin sunblock yang cocok :(

Sampai sekarang saya belum buat postingan khusus yang membahas tentang tabir surya (sunscreen/sunblock).

Bagi sebagian orang, ingredient yang dapat melindungi kulit dari bahaya sinar UV justru memicu reaksi alergi.

Ternyata lebih rumit kan dibanding "cocok-cocokan" cari pelembab. Jadi, cek ingredient produk tabir surya sebelum membeli dan kalau perlu konsultasikan ke dokter saat kulit kita mengalami alergi.

Tanda alergi produk tabir surya, yaitu kulit jadi memerah, ruam, dan gatal. Chemical absorber seperti mexoryl, avobenzone, oxybenzone, dan PABA yang paling sering menyebabkan iritasi dan alergi.

Namun, physical blocker seperti zinc oxide dan titanium dioxide juga dapat memicu break out jika konsentrasinya sangat tinggi. [1]

Di samping ingredient tersebut, seperti biasa zat pewangi dan pengawet pada produk tabir surya juga bisa menjadi dalang kulit yang bermasalah.


Ngomong-ngomong, menurut pengalaman saya, BB Cream bertabir surya tidak bisa memberi perlindungan yang maksimal.

Terlebih jika BB cream tersebut digunakan dari pagi, karena efektivitas tabir surya hanya sekitar 2-3 jam saja.

Baca juga : Skin Aqua BB Cream

---

#14 Pori-poriku lebar, bagaimana ya mengecilkannya?

Pori yang sudah terlanjur melebar tidak dapat dikecilkan kembali hanya dengan produk skin care.

Yang paling efektif untuk mengecilkan pori itu microneedling dan laser (cmiiw).

Produk skin care hanya mampu membersihkan pori, mengencangkan kulit, sehingga pori tampak lebih samar.

---

#15 Setelah selesai berobat, saya harus pakai skin care apa?

Sebagian besar orang yang kelar berobat tentu bakal hati-hati menetapkan regimen skin care yang baru. Biasanya pada pake produk-produk basic saja seperti pembersih-pelembab-sunblock.

Merk yang masih jadi favorit adalah Viva Cosmetics, Himalaya Herbals, Acnes, Hada Labo, Sebamed, Cetaphil, The Body Shop, Paula's Choice, atau produk-produk asal Korea Selatan yang mahsyur dengan formula dan teksturnya yang ringan.

Selebihnya pada banting setir menggunakan skin care organik (minyak, balm, diy mask, dst).

Cuman yaa, rata-rata skin care organik itu dari home industry atau produk luar negeri, jadi akses belinya susah.

Iya, tapi saya bagusnya pake produk yang mana?

Ngga tau haha :D

Ini pertanyaan yang paling membingungkan. Produk buat diri sendiri aja masih perlu trial and error dulu, apalagi buat pilihkan orang lain.

---

#16 Produk-produk skin care yang saya gunakan sudah ngga ngefek.

Umumnya, hal tersebut disebabkan karena tipe dan kondisi kulit yang berubah. Jadi, bukan salah produknya.

Tipe dan kondisi kulit kita memang bisa berubah seiring berjalannya waktu. Entah karena faktor penuaan, sun damage, polusi, perubahan iklim, penggunaan obat-obatan tertentu, dan lainnya.

Ada kalanya kita memang harus mengganti total regimen skin care harian. TAPI kadang kita hanya perlu mengganti 1-2 produk saja (misal pembersih dan pelembab).

Cari yang tekstur dan formulanya sesuai dengan tipe dan kondisi kulit terkini.

Baca juga : Tipe dan Kondisi Kulit

---

#17 Memutihkan kulit atau Merawat Pori?

Contoh...

Kulit kusam, sangat berminyak, dan banyak noda bekas jerawatnya.

Idealnya, kita menggunakan produk yang fokus di perawatan pori, agar porinya bersih, minyak di wajah lumayan terkontrol, sehingga risiko kemunculan jerawat bisa ditekan.

Sedangkan untuk noda jerawat, bisa ditotol tipis dengan produk spot treatment.

TAPI, biasanya kita justru memilih produk-produk pencerah kulit, karena fokus di kusamnya, bukan penyebab kusamnya.

Baca juga : 5 Langkah Dasar Memulai Perawatan Wajah

Ingat! Pemilihan produk yang tepat dapat meningkatkan kualitas kulit. Kulit yang sehat akan glowing dengan sendirinya.


---

#18 Oil Cleansing Method/minyak pembersih bikin jerawatan :(

Pembersih berbasis minyak memang dapat mengangkat kotoran, sebum berlebih, hingga make up waterproof.

Hanya saja, kita mesti menemukan jenis minyak, kombinasi minyak (evoo+castor oil atau lainnya), dan takaran perbandingan yang cocok untuk kulit kita.

Kalau nyerah, coba cari produk pembersih lain yang teksturnya lebih sesuai dan gentle untuk kulit kita. Misal cleansing water, cream, balm, dst.

---

#19 Produknya bagus, di kulit juga enak. Tapi kenapa jadi muncul bruntus/jerawat/bumps?

(1) Baiknya produk yang mengandung AHA, BHA, atau retinol tidak langsung digunakan 2 kali sehari di awal pemakaian.

Coba dimasukkan pelan-pelan dalam regimen kita, misal awal pakai cukup 2 malam sekali saja. Kalau tidak ada reaksi negatif, baru kemudian ditambah frekuensinya jadi tiap malam pakai, dst.

Baca juga : Apakah Kamu Berlebihan Merawat Kulit Wajah?

(2) Contoh kulit bermasalah karena layer produk (dari pengalaman teman saya).

Produk yang dilayer : Garnier micellar water, SK II FTE, Wardah Renew You serum. Saat mulai regimen baru, tiga-tiganya dilayer sekaligus. Eh malah muncul bumps, padahal produk-produknya enak di kulit.

What should we do?

Saat kulit bermasalah, segera hentikan pemakaian produk-produk baru. Setelah kulit diistirahatkan, amati kondisinya membaik atau tidak.

Jika sudah membaik, coba satu-satu dulu, misal FTE atau serum Wardah saja. Kalau kulit tidak bermasalah saat pemakaiannya dipisah, berarti memang bentrok kalau dilayer.

Trus?

Tinggal atur frekuensi pakainya saja. Misal FTE pagi, serumnya setiap malam. Atau FTE pagi-malam, serumnya dua malam sekali (tanpa dilayer dengan FTE).

Sebaliknya, jika kulit tetap bermasalah meski hanya menggunakan salah satunya, berarti dasarnya memang ngga cocok.

Kalau khawatir mengalami kejadian seperti ini, baiknya gunakan skin care yang satu seri dari merk yang sama.

---

#20 Maskeran itu perlu ngga sih?

Seingat saya, dulu ada dokter kulit yang bilang, "Maskeran itu useless."

Statement tersebut bikin saya syok, karena masker yang saya gunakan ngefek kok.

"Ahh, mungkin dokternya ngga update. Kan sekarang banyak masker-masker yang bagus, sudah di-infuse dengan essence segala macam."

Begitulah pemikiran saya sebelumnya.

Makin kesini, saya jadi sadar.

Saat produk skin care utama yang kita gunakan tokcer dan benar-benar klop dengan kebutuhan kulit, kita ngga begitu butuh masker lagi.

Karena ya sesuai fungsinya, masker itu hanya perawatan pendamping (hanya digunakan 1-3 kali dalam seminggu), bukan perawatan utama.

Terlebih skin care dari dokter punya efek meremajakan kulit yang lebih unggul dibanding sebagian besar produk yang beredar di pasaran. Jadi, pake masker atau tidak, kulit pasiennya tetep kinclong gitu lho :D

---

Lainnya insya Allah akan saya buat postingan sendiri, karena ternyata lumayan panjang kalau mau digabung semua di sini.

Baca juga : 15 Gosip Seputar Jerawat

Wallahu a'lam.
Semoga bermanfaat.
Thanks for reading and have a nice day.

Sharing Seputar Scalp Care & Shampoo Reviews

Rabu, 21 Desember 2016
Saya tidak begitu memperhatikan kesehatan kulit kepala. Baru deh sekitar tahun lalu, kulit bagian belakang kepala saya terasa tidak nyaman. Pas dicek, bukan ketombe, tapi seperti endapan gitu.

Saya coba browsing, ternyata itu yang disebut sebagai build up di kulit kepala. Inilah salah satu penyebab kulit kepala jadi ngga sehat, sehingga rambut mudah kusam, patah, dan rontok.

Cirinya putih kekuningan dan jika diusap dengan jari rada waxy. Biasanya karena menggunakan produk rambut secara berlebihan dan/atau pembersihan yang tidak efektif.

Dry shampoo, wax (styling product), conditioner dan hair mask juga bisa meninggalkan build up. FYI, conditioner hanya digunakan di batang rambut. Baiknya diperhatikan pemakaiannya agar tidak mengenai kulit kepala :( terutama jika tipe kulit kepala kita berminyak.

Ngomong-ngomong, kulit kepala yang berminyak biasanya mesti 2 kali shampooan saat keramas.

Shampooan pertama busanya sedikit, karena foamnya menyerap sebum di kulit kepala. Pas shampooan yang kedua kali baru deh busanya banyak. Saya baru tahu dari beauty show Korea hehe.


No Poo Method (No Shampoo)

No Poo Method (membersihkan rambut tanpa shampoo) adalah yang paling sering direkomendasikan untuk mengatasi problem build up.

Orang yang sukses dengan No Poo Method punya kulit kepala yang bersih dari build up dan rambut yang berkilau.

No Poo Method mampu menormalkan produksi sebum di kulit kepala. Teorinya sama dengan kulit wajah.

Jika sebumnya diangkat dengan formula shampoo yang harsh, produksi minyaknya akan semakin melonjak, sehingga build up-nya semakin menumpuk.

Caranya mudah, keramas dengan air saja sebanyak 1-3 kali dalam seminggu.

Baru minggu pertama, saya sudah menyerah. Kulit kepala jadi luar biasa gatal dan bau langu (yaiyalah). Rambut di dekat kulit kepala jadi lepek.

Katanya sih itu normal(?) karena lagi masa transisi. Biasanya orang-orang butuh 1 bulan hingga kulit kepalanya bisa beradaptasi dan produksi sebumnya terkontrol. 

No Poo Method mungkin ngga cocok ya buat diterapkan di Indonesia yang iklimnya tropis. Kalau di Eropa atau US sih emang bisa-bisa aja. Waktu itu saya coba karena penasaran.

---

NATUR

Ternyata ada alternatif lain kalau kita ngga cocok dengan No Poo Method. Bisa dengan sabun homemade organik (seperti yang dicontohkan Eunice dari Wishtrend) atau dengan shampoo organik.

Hanya saja, shampoo organik harganya mahal untuk ukuran budget saya. Tetiba jadi ingat, Momzhak (dulu Cantiknya Qonita, sekarang Hala Bea) pernah review tentang shampoo Natur.

Kemasannya terlihat menjanjikan ya, karena ada label Jamu dan Halal.


Natur membuat kulit kepala saya terasa enteng. Wangi shampoo-nya juga enak, antara bau jamu dan bensin(?).

Masalahnya, di bulan-bulan awal pemakaian, rambut jadi kering dan kasar. Tapi karena targetnya buat menyehatkan kulit kepala, jadi disabar-sabarin.

Kalau ngga salah ingat ya, baru sekitar 2-3 bulan rambut saya menjinak selama menggunakan Natur.

Nah, tau-tau... Natur ganti kemasan dan formula. Kurang lebih, formulanya jadi mirip shampoo lain yang beredar di pasaran.



Efek formula baru dan lama beda tipis sih, begitu pula dengan masing-masing varian. Cuman gimana gitu rasanya...

Jadi yasudah, saya putuskan untuk coba shampoo-shampoo lain.

---

Kracie Ichikami

Informasi mengenai produk tertulis dalam bahasa Jepang (yang saya ngga ngerti haha).

Hanya cara pemakaian, peringatan, ingredient, dan keterangan produsen dan distributornya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.



---

Rudy Hadisuwarno Hair Loss Defense

Diformulasikan dengan kombinasi ekstrak Ginseng dan Active HL Defense Complex untuk membantu mengurangi kerontokan dengan menutrisi akar rambut sehingga rambut tetap kuat dan sehat berkilau.

Gunakan secara teratur rangkaian lengkap Hair Loss Defense untuk hasil terbaik.

Step 1 : Daily shampoo
Step 2 : Hair mask
Step 3 : Conditioner
Step 4 : Hair tonic


Saya coba produk ini karena sering direkomendasikan untuk rambut rontok. Sayangnya saya ngga cocok. Malah tumbuh jerawat. Awalnya ngga yakin (masa iya jadi jerawat?).

Tapi setelah cek selang seling selama beberapa hari dengan shampoo yang lain, hanya setelah menggunakan shampoo Rudy Hadisuwarno jerawat muncul di hair line.

Ngga parah sih, cuma 1 biji gitu. Dan ini ngga bisa digeneralisir ke orang lain ya. Karena banyak kok yang baik-baik saja memakai shampoo ini.

---

Herbal Essences Hello Hydration

Replenish your beautiful yet dry hair with my(?) formula fused with essential moisturizers, orhid and coconut milk. It leaves hair silky and supple. Use me : lather up, soak your head, rinse, and repeat.


---

TRESemme Total Salon Repair

Dengan teknologi terkini dan pengalaman di dunia salon, TRESemme didukung oleh para hair stylist profesional untuk menghasilkan rangkaian produk perawatan rambut profesional berkualitas salon.

Dengan Nourishing Power Ionic Complex, merawat kerusakan rambut dengan cepat dan mencegah rambut rontok.


Kayaknya saya bakal bias mengulas produk TRESemme, lol. Karena shampoo dan conditionernya TRESemme yang paling lama saya gunakan.

Yang saya review kali ini adalah varian baru TRESemme : Total Salon Repair. Setelah beberapa kali pakai, memang shampoo ini top banget (menurut saya hahaha).

Baca juga : Review Produk TRESemme, Lucido L, & Neril

---

Reviews

Ini berdasarkan pengalaman pribadi.
Hasilnya bisa berbeda untuk masing-masing orang.
Saya mencantumkan merknya saja, tidak dengan judul varian.
Supaya ngetiknya ngga kepanjangan ^^;

Wangi

(1) Kracie Ichikami
(2) Herbal Essences
(3) TRESemme

Wanginya Ichikami yang paling enak (Sakura flower scent). Cuman, karena wanginya lembut banget, jadi kurang tahan lama.

Herbal Essences wanginya paling segar (fruity-floral) dan tahan lama.

Sedangkan TRESemme? Mungkin karena saya sudah lama pake, jadi lebih familiar aja.

Tekstur

Dari yang paling encer ke yang kental.

(1) Kracie Ichikami
(2) Natur
(3) TRESemme
(4) Herbal Essences & Rudy Hadisuwarno


Paling Enak di Kulit Kepala

(1) Kracie Ichikami
(2) Natur
(3) TRESemme
(4) Herbal Essences
(5) Rudy Hadisuwarno

Bagus, meski tanpa conditioner

(1) TRESemme
(2) Herbal Essences
(3) Kracie Ichikami
(4) Natur
(5) Rudy Hadisuwarno

TRESemme, Herbal Essences, dan Kracie Ichikami membuat rambut jadi halus dan tidak musah kusut.

---

Akhir kata

Dulu saya sempat telaten keramas dengan air hangat. Tapi karena saya rasa bedanya tidak terlalu signifikan, jadi saya skip saja. Lagian males juga kudu manasin air dulu sebelum keramas huhu.

Padahal air hangat itulah yang ampuh buat meluruhkan sebum dan ampas shampoo/conditioner. Air dingin baru kita gunakan untuk bilasan terakhir.

Sebenarnya inti dari scalp care adalah menggunakan produk seringan dan sesedikit mungkin.

Karena itu orang-orang yang menjalani No Poo Method berusaha mengatasi problem rambutnya justru dengan tidak menggunakan produk apapun, kecuali air, bahan-bahan alami (tea tree oil, madu, clay), dan hair brush.

Cara untuk mengatasi build up yang belum saya coba adalah detox kulit kepala dengan menggunakan bentonite clay dan caronated water. Cara ini bisa mengatasi problem ketombe, build up, dan gatal. Sebagian besar reviewnya positif, lebih lanjut bisa browsing sendiri yaa :D

Wallahu a'lam.
Semoga bermanfaat.
Thanks for reading and have a nice day.

NIVEA Make Up Clear Cleansing Water

Sabtu, 17 Desember 2016
Sekitar tiga bulan lalu, saya cerita kalau sudah tidak memakai sabun wajah. Kulit saya lebih kalem jika dibersihkan dengan cleansing water (pembersih bertekstur air).

Apalagi kondisinya masih suka naik turun. Kadang bebal, kadang reaktif.

Karena itu penting banget untuk menggunakan pembersih yang ringan dan ngga memperparah kulit yang bermasalah hehe.

Baca juga : Hada Labo Tamagohada Face Wash


Deskripsi produk

NIVEA Make Up Clear Cleansing Water
Untuk kulit normal atau berminyak

Formula inovatif yang dapat membersihkan make up di wajah dan bahkan di area mata tanpa meninggalkan rasa berminyak.

Membersihkan secara menyeluruh, melembabkan, dan menyegarkan kulit dengan formula pembersih yang efektif dan ringan, serta tidak meninggalkan sisa-sisa make up.

Tidak mengandung pewarna, parfum, alkohol, paraben, dan silikon. Telah diuji secara dermatologi dan optalmologi cocok untuk kulit.

Cara pemakaian

Gunakan dengan kapas, pijat wajah dengan perlahan dan lembut.



Review

Botolnya minimalis, tapi cakep deh pilihan warnanya, kelihatan fresh. Ukurannya juga pas 200 ml. Kadang ya ukuran 100 ml terasa cepat banget habisnya.

Sedangkan yang gedebokan juga bikin gregetan sendiri, kok produknya kayak ngga abis-abis... padahal udah bosen pengen coba yang lain haha.

(Maaf, foto swatch dihapus)

Daya bersihnya standar. Baiknya tetap didobel dengan pembersih seperti cleansing oil. Kita butuh 3-4 kapas untuk membersihkan make up ringan (bb cream-lipstik).

Kurang lebih sama dengan Pixy Cleansing Express. Hanya saja, karena dia no parfum-dkk jadi lebih tenang pakenya.

Baca juga : Pixy Cleansing Express Anti Acne


Produk ini aman digunakan saat kulit saya berjerawat (pms -,-). Nivea Cleansing Water ngga bikin kulit jadi pedih dan memerah.

Poin ini sih yang paling penting buat saya yang acne proner. Biasanya kan obat jerawat rada cekit-cekit ya kalo produk pembersih yang kita pake too harsh.

Jadii... Secara keseluruhan, produk ini bagus. Tidak meninggalkan rasa lengket dan berminyak. Sangat ringan untuk pemakaian sehari-hari.

Setelah menggunakan produk ini, tanpa pelembab pun kulit tetap supel, ngga berasa kering kerontang. Cocok buat kulit saya yang kombinasi-dehidrasi.

Updated! 18 Desember 2016

Awalnya, saya pikir Nivea Cleansing Water itu produk yang berbeda dengan Nivea Micellar Water yang saya lihat di pinterest. Secara label dan tulisannya beda.

Setelah dikasih tahu Sherly, saya cek ke situs Nivea Indonesia. Botol kemasan dan warnanya persis, tapi tulisannya bukan cleansing water, melainkan micellar water (lah gimana?).

Kalau dilihat dari ingredientsnya sama sih hehehe, my bad.

Tertarik?

Bisa dibeli di drugstore seperti Guardian. Terakhir cek belum masuk supermarket. Harganya sekitar Rp 50.000an.

Wallahu a'lam.
Semoga bermanfaat.
Thanks for reading and have a nice day.

Memanfaatkan Rasa Iri Untuk Pengembangan Diri

Selasa, 13 Desember 2016
Iri hati adalah perasaan yang bisa muncul saat membandingkan hidup kita dengan orang lain. Perasaan ini berbahaya, jika kita meyakini bahwa orang tersebut tidak layak bahagia dan berharap hal-hal tertentu hilang darinya.

Rasa iri adalah proyeksi dari insecurity.

Dengan kata lain, ini bukan tentang apa yang dimiliki orang lain, tapi tentang masalah yang ada pada diri kita sendiri.

Meski demikian, kita bisa menyikapi rasa iri dengan cara yang lebih baik, yaitu dimanfaatkan sebagai reminder untuk memperbaiki diri.


Bagaimana mendeteksi penyakit iri?

Iri membuat kita "susah saat orang lain senang dan senang saat orang lain ditimpa kemalangan".

Kita jadi sulit mengapresiasi ide, kreativitas, ambisi, kecerdasan, keberhasilan, dan keunggulan orang lain.

Orang terdekat pun sebenarnya bisa mengamati saat kita iri. Misalnya saja kita jadi alergi jika membahas kebaikan seseorang dan cenderung meredupkan "lilin" orang lain.

Ketika ada yang bertanya, "Si A orangnya gimana?", coba cek deh respon kita.

Jika seperti ini... "Baik sih orangnya, TAPI..." Itu sudah cukup jadi warning.

Karena kalau orangnya beneran baik, sebut saja semua kebaikannya yang kita ketahui. 

Penyebab dan dampaknya

Ketidakpuasan terhadap diri sendiri merupakan penyebab utama iri hati. Ketidakpuasan tersebut membuat kita rendah diri dan silau dengan kelebihan orang lain.

Iri hati adalah perasaan yang manusiawi. Akan tetapi jika dibiarkan, perasaan itu akan menggerogoti hati dengan kebencian yang tidak beralasan, menganggu pikiran, dan menghabiskan energi.

Rasa iri juga berpotensi untuk membuat kita menyalahkan diri sendiri, orang lain, dan situasi.

Ujung-ujungnya kita beranggapan bahwa hidup tidak adil. Padahal keadilan itu subjektif sekali.

---

What should we do?

#1 Akui dan terima

Iri adalah cerminan dari cela, kelemahan, kekurangan yang tidak kita akui dan tutup-tutupi.

Ibarat reminder mengenai kesuksesan yang tidak dapat kita raih, pengalaman yang tidak kita alami, hubungan yang tidak kita miliki, dst.

Mengatasi rasa iri dimulai dengan pengakuan dan penerimaan.

Latih diri kita untuk jujur mengakui bahwa kita iri.

Ya memang begitu, mau gimana lagi.

Semakin disangkal, perasaan negatif justru semakin kuat dan intens.

Awalnya sulit, karena yang namanya pemulihan memang menimbulkan perasaan tidak nyaman. Kemudian sadari bahwa rasa iri memiliki pesan yang penting untuk kita. 

#2 Identifikasi

Kadang apa yang kita inginkan itu terbalut oleh kemasan lain.

(Contoh) mungkin kita tidak iri dengan kecantikan seseorang, tapi kita kurang merasa diperhatikan dan ingin dipuji.

Jadi, tanyakan pada diri sendiri, apa yang sebenarnya membuat kita iri?

Popularitas atau keinginan untuk diistimewakan dan dianggap special?

Mobil atau kemampuan membeli barang mewah?

Status sosial atau keinginan untuk dihormati?

Pekerjaan dan jabatan bergengsi atau kesempatan untuk aktualisasi diri?

Prestasi atau pengakuan dari orang lain?

#3 Eksplorasi

Setelah mengetahui hal yang membuat kita iri, rasakan sensasi ketidaknyamanan sepenuhnya.

Ketidaknyamanan akan terasa lebih ringan jika diekspresikan.

Kalau bisa, eksplorasi rasa iri dituliskan di jurnal (buku harian), bicara di depan cermin, disampaikan ke orang yang bersangkutan (jika akrab dan memungkinkan), atau curhat ke orang yang bisa kita percaya.

Gali pesan melalui journaling...

Tulis kita ingin menjadi orang yang seperti apa, kesuksesan seperti apa yang ingin kita raih, kebahagiaan seperti apa yang kita inginkan, apa hal-hal yang tidak bisa kita miliki tapi dapat diupayakan.

Dari situ kita list lagi, apa saja yang bisa dilakukan untuk mencapai goal tersebut dan apa saja halangannya.

Apa karena kita kurang pintar atau kurang terampil?

Apakah memang ada keterbatasan atau malah kita yang menahan diri sendiri untuk berkembang.

Penting!

(1) Pelajari kelebihan dan kekurangan yang kita miliki.

Setiap orang punya kepribadian dan kecenderungan yang berbeda. Cari tahu peluang apa yang bisa kita kembangkan dan bagaimana mengatasi kelemahan dengan cara yang tepat.

(2) Buat target-target yang realistis dan progresnya dapat diukur.

Misalnya dengan detail rencana perbaikan diri, menulis bagan Present Me vs Future Me (diri ideal yang ingin kita usahakan 1-2 tahun yang akan datang), membuat future map atau vision board. Dan berusaha komit untuk menjalaninya.

(3) Ubah yang bisa diusahakan, terima yang tidak bisa kita ubah.

Kenyataan bahwa hal tersebut bisa dicapai orang lain, kemungkinan juga bisa kita raih. Tapi yang perlu disadari, ada hal-hal yang terjadi di luar kendali kita.

Baca juga : Kintsugi : Berdamai dengan Pengalaman

(4) Lawan dorongan untuk membandingkan diri dengan orang lain.

(5) Batasi penggunaan social media.


#4 Berdoa

Ada salah satu sahabat radhiyallahu 'anhu yang secara zahir amal ibadahnya biasa saja, tapi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam menyebutnya sebagai penghuni surga.

Ternyata dia berdoa agar dihilangkan rasa iri terhadap nikmat yang melekat pada diri orang lain.

Baca juga : Bahaya Hasad

#5 Berharap kebaikan

Islam mengajarkan cara untuk menyembuhkan iri hati, yaitu dengan banyak-banyak mendoakan kebaikan pada orang yang kita iri.

Doakan agar orang tersebut bertambah nikmatnya dan nikmat tersebut diberkahi.

Kan ada tuh nikmat yang ngga berkah, misal kasur empuk, tapi tidurnya ngga nyenyak. Makanan mahal, tapi nelennya ngga enak atau malah ngga mengenyangkan.

Berat?

Ya memang harus dilawan.

Cara ini bisa menetralisir dan menyembuhkan penyakit hati tersebut.

---

Lesson Learned

#1 Fokus memperbaiki diri

Kita tidak akan mudah iri, jika kita sibuk memperbaiki diri.

Fokuslah dengan apa yang sedang kita kejar dan miliki. Terlebih memperbaiki diri juga bukan sesuatu yang instan, tapi butuh waktu.

Dengan demikian, tidak akan ada ruang di hati kita untuk merasa iri pada orang lain.

#2 Belajar bersyukur

Banyak sekali nikmat yang luput disyukuri hanya karena kita sibuk menghitung nikmat yang dimiliki orang lain. Padahal tiap orang diberkati dengan cara yang berbeda-beda.

Untuk melatih kebersyukuran, gratitude journal yang paling sering direkomendasikan.

Setelah catatannya terkumpul (mis. sekitar 1-2 bulan), coba deh baca ulang.

Bisa bikin senyum-senyum sendiri. Mood booster bangetlah pokoknya.

Baca juga : Gratitude Journal


#3 Setiap orang punya cerita

Kita bisa saja iri dengan kekayaan, mobil mewah, rumah besar yang dimiliki orang lain. Tapi anehnya, kita tidak iri dengan pengorbanan, masa-masa penuh tekanan, dan waktu yang dia habiskan untuk mencapai semua itu.

Sekarang banyak kisah-kisah inspiratif mengenai kesuksesan yang bisa kita simak. Di antaranya tentang pengalaman orang-orang yang bangkit dari keterpurukan.

Secara tidak langsung, kita belajar menempatkan diri dari sudut pandang orang tersebut.

#4 Social media bisa jadi ladang hasad

Social media membuat kita mudah mengamati hidup dan pencapaian orang lain.

Akhirnya kita malah menjadikan hidup orang lain sebagai parameter untuk mengkritisi kekurangan dan kegagalan dalam hidup kita.

Setiap orang cenderung menampilkan sisi terbaik dari dirinya di social media. Misalnya dengan posting momen-momen bahagia, hal-hal yang menarik, kutipan yang menginspirasi, dan lainnya.

TAPI kita tidak melihat gambaran yang lebih besar dari hidup seseorang hanya berdasarkan postingannya di social media.

#5 Apa yang sebenarnya terjadi tidak seperti yang terlihat

Satu waktu saya mendengar ada orang yang roman-romannya iri dengan pencapaian teman saya. Saya cuma senyum-senyum saja, karena mereka tidak tahu seperti apa hidup dia yang sebenarnya.

Mungkin karena pembawaannya tenang dan kalau ngumpul kelihatannya ceria, jadi orang-orang mengira hidupnya lancar-lancar saja.

Fenomena gunung es...

Kesan pertama, kita hanya melihat bagian kecil dari orang tersebut. Semakin sering berinteraksi, semakin lama kenal, kita pun jadi sadar bahwa hidup masing-masing orang ada sisi positif dan negatifnya.

Banyak yang masalahnya lebih berat, hanya saja mereka bisa mengendalikan diri untuk tidak mengeluh.


#6 Hidup di dunia itu sebentar

Hidup di dunia ini hanya sementara, termasuk apa-apa yang kita miliki.

Tidak ada yang kekal.

Kemewahan hanya bisa dinikmati sementara, yang cantik bakal keriput, yang cerdas akan pikun, mobil dan hape yang dulunya ngetren lama-lama out of date juga.

Jangan menilai hal-hal yang sifatnya duniawi secara berlebihan, karena yang konstan dalam hidup ini adalah perubahan.

---

Akhir kata

Waspadalah saat kita merasa lebih pantas untuk mendapat apa yang diperoleh dan dimiliki orang lain.

Jangan pula menjadikan hidup orang lain sebagai tolok ukur keberhargaan hidup yang kita tempuh.

Ingat-ingat setiap orang punya porsi rezeki dan alur kisah yang berbeda.

Selain itu, saat kita fokus memperbaiki dan meningkatkan kualitas diri, akan lebih mudah bagi kita untuk melalui naik turunnya kehidupan, tanpa sibuk "menoleh ke kanan dan ke kiri".

Baca juga : Lucu ya... Aku Iri sama Kamu, Kamu Iri sama Aku.

Wallahu a'lam.
Semoga bermanfaat.
Thanks for reading and have a nice day.

SKIN AQUA Perfect Matte BB Cream

Selasa, 29 November 2016
Menemukan bb cream untuk kulit berminyak dan kombinasi itu susah. Bagi saya pribadi sih hehe. Karena itu sebenarnya saya lebih suka pake sunblock saja.

Cumaan, akhirnya saya penasaran, gimana keampuhan BB Cream dalam melindungi kulit dari tabir surya.

Cukup ngga sih kalau kita cuma pake BB Cream saja? Tanpa dilayer dengan sunblock...


Sebenarnya pilihan saya ada dua, Hada Labo Shirojyun CC Cream atau Skin Aqua Perfect Matte BB Cream. Pengen coba HL karena saya pake skin care seri Shirojyun-nya.

Keduanya sama-sama produk Rohto. Tapi akhirnya saya coba Skin Aqua BB Cream karena merk ini terkenal dengan sunblocknya. Terlebih dari rekomendasi teman juga katanya Skin Aqua BB Cream lebih bagus daripada Hada Labo CC Cream.

Eniwei, alasan saya memilih varian Perfect Matte itu karena dahi dan hidung saya cepet banget berminyak.

Deskripsi produk

Tampilan wajah sempurna dalam satu langkah.

No make up look yang bertahan hingga 8 jam (berdasarkan pernyataan 9 dari 10 wanita dalam suatu uji internal).

SPF 27 dan PA ++, perlindungan dari UVA dan UVB.
Menyerap minyak di wajah.
Menjaga tampilan wajah bebas kilap.
Menjaga kehalusan kulit.
Mencerahkan warna kulit.
Menjaga kelembutan kulit.
Menyamarkan garis-garis kulit.
Meratakan warna kulit.
Menyamarkan noda hitam.

Cara pemakaian

Tuangkan pada telapak tangan secukupnya. Kemudian usapkan secara merata di wajah yang telah dibersihkan.


Produk ini dikemas dalam tube flip top. Aslinya kecil ya, hanya 20gr.  Harganya sekitar Rp 50.000an. Dijual di supermarket dan drugstore.


Teksturnya pekat. Sulit untuk diratakan jika kita hanya menggunakan jari-jari tangan. Kalau mau hasil yang lebih smooth dan rata, baiknya pake beauty blender.

Oh iya, BB Cream ini hanya tersedia dalam satu shade saja. TAPI entah kenapa bisa masuk ke banyak warna kulit haha.

---

Review

Skin Aqua Perfect Matte BB Cream hasilnya natural dan ringan di kulit. Itu kesan yang pertama saya rasakan ya, karena biasanya kulit saya tidak nyaman pake BB Cream yang matte.

Coveragenya light to medium. Lumayan mencerahkan, menyamarkan pori-pori yang lebar, dan meratakan warna kulit, tapi tidak mampu menyamarkan spot jerawat plus noda bekasnya.

(Maaf, foto swatch dihapus)

Sayangnyaa, produk ini memperjelas dry patch di kulit. Jadi kita mesti punya kulit yang smooth dan well moisturized, supaya hasilnya ngga cakey.

Kalau dipake untuk aktivitas indoor ber-ac, produk ini bisa tahan lama berjam-jam. Tapi kalo ada kegiatan di luar ruangan, trus kulit kita gampang minyakan lebih baik diskip aja deh hahaha.

Sebenarnya, oil control Skin Aqua Perfect Matte BB Cream standar, tapi ngga tau kenapa di kulitku cepet banget lunturnya... Apalagi kalo ditap dengan kertas minyak atau tisu, bb creamnya malah nyeplak gitu.


BB Cream saja cukup?

Kalau aktivitas kita di sekitar jam 10 pagi sampai 3 sore lebih banyak indoor, BB Cream bertabir surya saja sudah cukup.

Sebaliknya, kalau di jam segitu kita terpapar sinar matahari yang intens, baiknya dilayer dulu dengan sunblock.

Kulit saya jadi lebih kucel dan mudah menggelap jika hanya menggunakan BB Cream saja. Mana pas keringetan jadi keliatan belang gitu pula hadeuuh.

Secara keseluruhan produk ini bagus. Sesuai untuk penggunaan sehari-hari. Harganya juga reasonable dan relatif terjangkau. Yang paling penting ngga bikin komedoan dan jerawat di kulit saya hehe.

Wallahu a'lam.
Semoga bermanfaat.
Thanks for reading and have a nice day.

Maskeran Pake Kefir : Worth The Hype?

Kamis, 17 November 2016
Beberapa kali saya dapat komplain dari pengunjung, kalau kulitnya jadi bruntusan dan tidak sembuh-sembuh sejak menggunakan masker kefir.

Bingung juga yah nanggepinnya gimana haha, secara saya jualan kefir ngga, ngereview kefir juga belum pernah.

Sebelumnya saya tidak tertarik dengan masker kefir yang notabene jadi internet hype. Tapi ngga nolak juga sih pas dikasih Masker Lumajang Keveer sama teman saya pas ketemuan :3

Kalau barang dari dia saya percaya, karena kulitnya juga acne prone.


Noted!

Ini masker kefir pertama saya, jadi saya tidak bisa membandingkan dengan masker kefir dari seller lain. Saya juga tidak tahu cara membuat kefir. Yang saya share hanya pengalaman menggunakannya saja.

Saya diberi masker kefir original; masker kefir yang dicampur dengan green tea, charcoal, coffee-cocoa, strawberry, beras jepang; dan toner kefir.

Masker kefir menggunakan curd kefir, sedangkan toner kefir menggunakan whey (cairan bening yang mengendap di bawah saat fermentasi).

---

Deskripsi Produk

Setelah browsing kesana kemari, menurut saya Lumajang Keveer yang klaimnya termasuk wajar, ngga muluk-muluk.

Di antaranya adalah mencerahkan, anti aging (jika rutin maintain), menghaluskan, mengangkat sel kulit mati (karena sifatnya asam). Kan ada tuh klaim masker kefir yang ngga realistis, ngga sesuai dengan fungsinya sebagai sebuah masker.

Cara pemakaian

Aplikasikan masker seperti masker pada umumnya. Setelah kering, bilas dengan air hangat agar lemak susu tidak menempel. Jika masih terasa lengket boleh cuci muka dengan facial wash yang lembut.

Jangan digosok atau digaruk terlalu keras dan berlebihan ketika membilas. Bisa mengakibatkan kemerahan, iritasi, dan luka. Ketika memakai masker akan terasa sedikit gatal.

Pemakaian terbaik ketika malam hari, sebelum memakai perawatan malam anda (misal krim malam, jika pakai).

Anjuran pakai masker dari Lumajang Keveer

Minggu pertama ... 2x sehari
Minggu kedua ... 1-2x sehari
Minggu ketiga ... 1x sehari

Minggu selanjutnya kita bisa mengatur frekuensi pakai sembari mengamati progresnya. Jika kulit sudah mencapai hasil yang diinginkan, gunakan masker seperlunya saja.

Namun pemakaian rutin 2-3 kali seminggu dapat menjaga kondisi kulit.


Toner ini biasanya saya pake sebelum maskeran.

Beberapa kali juga saya gunakan setelah maskeran sebagai pengganti pelembab. Karena tonernya terbuat dari hasil fermentasi, jadi saat didiamkan seperti ada serbuk yang mengendap.


Review

Masker Lumajang Keveer sudah saya gunakan selama kurang lebih 1,5 bulan. Selama itu bener-bener eksperimen banget deh.

#FYI

Tipe kulit saya : kombinasi.
Kondisi : acne prone dan dehidrasi.

Reaksi Negatif?

Saya tidak mengalami gatal, kemerahan, alergi, atau iritasi. Padahal pernah selama sekian hari saya maskeran sebelum memakai tretinoin (yang notabene obat keras).

Alhamdulillah kulit saya ngga kenapa-kenapa, tapi amannya jangan ditiru hehe.

Saya memang sempat mengalami jerawat (dikit), tapi karena pms dan stres, sama sekali bukan karena masker kefirnya.

Masker Lumajang Keveer juga tidak memperparah kondisi kulit saya saat itu. Yang saya ngga cocok paling masker kefir coffee-cocoa, karena granulnya terlalu kasar untuk kulit saya yang sedang rentan.

Frekuensi Pakai

Sebelumnya saya menggunakan masker kefir 1x sehari, beberapa waktu setelahnya jadi 2x sehari, lalu jadi 2-3 hari sekali, dan kemudian saya tidak menggunakan kefir sama sekali (untuk cek perbedaannya).

Ada pula saat-saat dimana saya juga skip produk skin care yang saya gunakan untuk melihat progres dan hasil masker ini.

Kefir setiap hari 2x sehari

Asli kulit saya jadi glowing dan kenyal. Sama sekali tidak terasa kering meski setelahnya tidak menggunakan pelembab.

Tapi kulit jadi rentan overpeeled (jika kita menggunakan produk skin care lain yang mengandung AHA, BHA, atau retinol) dan mudah menggelap jika terpapar terik matahari yang intens.

Kefir setiap hari 1x sehari

Hasilnya kurang lebih sama dengan pemakaian 2x sehari. Tapi kulit tidak serentan jika digunakan 2x sehari.

Kefir 2 hari sekali

Ini yang ideal di kulit saya.

Tips!

Jika ragu, baiknya dicoba dulu di lengan atas bagian dalam. Amati ada reaksi yang tidak wajar kah. Bila kulit mengalami kemerahan, ruam, gatal yang tidak kunjung mereda, mungkin memang tidak cocok.

Bagi pemilik kulit sensitif dan acne prone, jangan langsung gunakan 2x sehari, tapi masukkan dalam rutinitas skin care secara pelan-pelan (misal 2-3 hari sekali, imho). Kalau sudah yakin cocok, baru kemudian ditambah frekuensi pakainya.

Bagi yang beraktivitas di luar ruangan, baiknya pakai sunblock di siang hari, saat sinar matahari lagi terik-teriknya.

---

Jenis Masker

Sebagian orang ada yang menyangsikan, kalau maskernya dicampur matcha atau charcoal, kefir jadi tidak bekerja dengan maksimal. Tapi di kulit saya bagus-bagus saja.

Saya pernah coba masker green tea di sisi kanan wajah dan charcoal di sisi kiri wajah, hasilnya kurang lebih sama.

Favorit saya adalah masker kefir original dan kefir yang dicampur strawberry, karena lebih terasa kenyalnya.

Selain efek itu (di kulit saya) tidak ada perbedaan yang mencolok untuk masing-masing jenis masker.

Overall, Hasilnya?

Di minggu pertama saya rasa biasa saja. Paling cuma lembab dan kenyal.

Sekitar minggu kedua, saya baru ngeh pas ngaca siang-siang, kok kulit jadi keliatan glowing dewy?

Glowingnya tuh beda, seolah-olah kayak pake primer yang bikin kulit jadi dewy gitulah. Tidak seperti saat kita maskeran dengan oatmeal, madu, dll.

Eniwei, di kulit saya efek glowing cuma sementara. Jadi bukan yang beberapa kali pakai trus jadi glowing selamanya.

Samalah kayak kita maskeran pake bengkoang, emang bikin cerah, tapi mesti rutin dimaintain (misal 3x seminggu) agar hasilnya lebih memuaskan.

Kulit saya tidak jadi putih cerah (tidak menaikkan skin tone), tapi setelah maskeran wajah terlihat lebih segar dan supel.

Begitu saya tidak menggunakan masker kefir selama seminggu, kulit jadi gampang kusam lagi. Berarti memang masker kefirnya yang ngefek.

Terus, bersihinnya juga mesti telaten. Masker ini mudah meninggalkan lemak di kulit (udah bukan berminyak lagi gaes, tapi lemak).

Komedo di hidung saya juga jadi membludak karena bersihinnya ngga bener.

Jadi, kalau sempat saya menggunakan silicone pad untuk memecah lapisan lemaknya, supaya benar-benar luruh saat dibasuh air.

Selain itu ngga ada masalah...


Detox dan Purging?

Sebatas pemahaman saya, detox dan purging adalah dua istilah yang maknanya berbeda.

Mengenai klaim masker kefir bisa mendetox, saya ngga paham ya, jadi ngga bisa komentar lebih jauh.

Tapi untuk menyimpulkan "purging karena masker kefir" itu tidak bisa sembarangan. Takutnya jika ada reaksi negatif dikira purging, ehh... ternyata break out karena ngga cocok dengan maskernya.

Yang perlu digarisbawahi, kalau kulit kita tidak bermasalah, ya jangan takut purging.

Purging kan hanya terjadi di kulit yang memang sedang mengalami problem pori tersumbat.

Kalau kulit kita mulus-mulus saja, tapi tau-tau jadi reaktif, dan tidak ada tanda akan membaik, kemungkinan besar memang tidak cocok.

Lebih lanjut bisa baca di postingan ini...

(1) Reaksi Kulit terhadap Produk Skin Care = Purging?
(2) Apakah Sabun Menyebabkan Purging?
(3) 15 Gosip Seputar Jerawat

Ditinjau dari sudut pandang tersebut, bisa jadi kulit yang mendadak bruntusan itu bukan purging.

Melainkan...

(1) reaksi penolakan karena tidak cocok dengan kulit kita,
(2) cara pemakaian/membersihkannya kurang tepat, sehingga menyumbat pori,
(3) overdoing, atau berlebihan menggunakan masker (frekuensi pakai yang kita pilih tidak sesuai kebutuhan kulit).

Worth the hype?

It is really worth to try.

TAPI kita juga ngga bisa menutup mata, kalau tidak semua orang cocok menggunakan masker kefir.

Kata kakak Nanol, masker kefir itu seperti booster produk skin care yang kita gunakan.

Saya sepakat dengan dia, karena hasilnya memang lebih maksimal jika dijadikan bagian rutinitas skin care kita, bersama dengan produk skin care lain.

Tertarik dengan Lumajang Keveer?

Kontak → Mba Ita - 081235232902 (whatsapp)

Pengiriman dari Lumajang menggunakan box styrofoam dan ice gel buatan sendiri. Kefir tahan di suhu ruangan selama 5-7 hari, jadi pengiriman tidak mengakibatkan kefir rusak. Ekspedisi J&T.

Wallahu a'lam.
Semoga bermanfaat.
Thanks for reading and have a nice day.

15 Gosip Seputar Jerawat

Minggu, 06 November 2016
Jerawat adalah salah satu kondisi kulit yang paling umum dan bisa dialami siapa saja. Yang perlu dipahami, ada beberapa informasi yang jika diterapkan justru memperparah kondisi jerawat.

Berikut beberapa bias informasi yang beredar.


#1 Hanya remaja yang berjerawat [1][2]

Jerawat tidak hanya dialami oleh orang-orang yang sedang puber. Orang dewasa (sekitar 20-50 tahun) juga bisa berjerawat.

Sebagian besar dialami wanita karena berhubungan dengan perubahan hormon (pms, mens, kehamilan, dst).

Beberapa hal yang melatarbelakangi jerawat pada orang dewasa adalah...

(1) Genetik (turunan dari keluarga) atau hipersensitivitas
(2) Konsumsi makanan atau minuman tinggi gula
(3) Hormon dari dairy products, kehamilan, melahirkan (biasanya butuh 1-3 bulan untuk kulit jadi stabil kembali), dan siklus mentruasi
(4) Perubahan kelembaban dan cuaca
(5) Produk kosmetika (make up/skin care) yang tidak sesuai
(6) Penggunaan obat atau suplemen yang membuat kondisi kulit bermasalah
(7) Stres, dst.

Baca juga : Toner, Mineral Oil, dan Stress

#2 Jerawat bisa hilang dengan sendirinya

Kalau jerawat 1-2 biji mungkin iya. Tapi untuk jerawat yang menyebar parah dan menahun baiknya segera ditangani.

Semakin lambat penanganannya, semakin sulit menghilangkan bekasnya. Penanganan yang lebih awal mencegah kemungkinan jerawat meninggalkan bopeng.

Ini penting untuk diperhatikan, terutama untuk jerawat cystic yang ditandai dengan bumps merah, lebih lebar dari jerawat biasa, dan terasa sakit.

Jerawat cystic lebih dalam dari jerawat biasa, karena itu lebih berisiko untuk meninggalkan bopeng. Pengobatannya juga lebih lama.

Jerawat bisa jadi masalah yang serius jika tidak hanya terjadi di wajah, tapi juga muncul dan menyebar di hampir semua bagian tubuh yang memiliki kelenjar minyak dan folikel rambut, seperti leher, punggung, dada, dan pundak.

Kalaupun tidak ada progres membaik dengan cara yang standar, kemungkinan itu jerawat kronis dan harus ditangani di dokter. Tanda jerawat kronis adalah muncul bopeng, kulit terus mengalami radang, komedo pun seringkali membludak.

#3 Odol, lemon, dan jeruk nipis dapat menyembuhkan jerawat [3]

Memang tidak semua bahan dapur aman untuk kulit kita. Ada bahan-bahan yang pH-nya tidak sesuai untuk kulit sehingga tidak tepat jika diandalkan sebagai obat. Tentang ini sudah dibahas di postingan berikut...

Baca juga : Jangan Merawat Wajah dan Mengatasi Jerawat dengan Cara "Alami" Ini

#4 Aktivitas seksual menyebabkan jerawat

Statement ini muncul di abad ke-17 untuk mencegah muda-mudi melakukan hubungan pranikah. Sama sekali tidak berdasarkan pada bukti ilmiah.

#5 Jerawat bisa sembuh dengan berkeringat

Keringat dikeluarkan oleh kelenjar keringat, sedangkan sebum oleh kelenjar minyak. Keringat berfungsi untuk mendinginkan tubuh (mengatur temperatur tubuh).

Produksi keringat yang berlebih dapat menyebabkan biang keringat di hairline, dahi, rahang, punggung, dan dada.

Keringat tidak boleh didiamkan, karena bisa menyumbat pori dan memperparah jerawat. Dengan kata lain, yang penting adalah olahraganya, bukan keringatnya.

Olahraga membuat tubuh jadi sehat dan bugar, sehingga metabolisme jadi lancar, hormon juga seimbang, dst.

#6 Jerawat tidak ada hubungannya dengan makanan

Memang tidak ada hubungannya dengan sebagian makanan. Yang bukti penelitiannya cukup baru dairy products (susu dan turunannya, termasuk keju).

Meski demikian, tetap dianjurkan untuk menyuplai tubuh dengan asupan gizi yang sehat dan berimbang.

Asupan gizi yang baik kontribusinya memang tidak langsung. Cuman, banyak orang yang kualitas kulitnya meningkat setelah jaga pola makan dan menghindari makanan tertentu.

Oleh karena itu memperbaiki diet (asupan gizi) biasanya direkomendasikan sebagai bagian dari rangkaian pengobatan jerawat.

#7 Gapapa mencetin jerawat

Sampai sekarang pun saya masih sulit ngerem buat ngga ngutak-ngatik jerawat hehehe -_-

Memencet jerawat membuat bakteri semakin masuk ke dalam pori. Bakteri tersebut akan memicu radang (inflammatory response).

Jerawat menjadi merah, bengep, dan sakit ya karena tubuh melawan bakteri tersebut.

Selain itu, memencet jerawat juga menyebabkan proses penyembuhannya jadi melambat dan meninggalkan acne scar yang dalam (bopeng) karena rusaknya jaringan kulit.

Kalaupun mau ekstraksi jerawat, baiknya ke dokter atau esthetician.

Baca juga : NEXCARE Acne Cover (plaster untuk menutup spot jerawat)

#8 Berjemur dapat menyembuhkan jerawat

Sinar matahari dapat membuat radang jerawat semakin parah. Terlebih obat yang mengandung zat-zat seperti tretinoin, salicylic acid, benzoyl peroxide membuat kulit semakin peka dengan sinar matahari.

Cuaca panas juga memicu produksi minyak berlebih yang membuat kulit semakin greasy.

Buat yang mulai concern ke perawatan anti aging juga mesti ingat kalau sinar matahari (UVA) mempercepat proses penuaan kulit.

Jadi, sunblock (atau produk bertabir surya) itu penting, terutama bagi kulit yang sedang bermasalah. Cuman, memang ada yang jadi jerawatan karena sunblock.

Untuk tipe kulit berminyak, sebaiknya cari sunblock yang teksturnya ringan (lotion atau gel) agar tidak menyumbat pori.


#9 Tidak boleh pake make up saat berjerawat

Pakai make up atau tidak itu pilihan. Sebagian dokter memang menyarankan untuk menghindari atau mengurangi penggunaan make up, karena salah pilih produk malah memperparah kondisi jerawat.

Saya memilih tidak menggunakan make up saat kulit sedang diobati, karena berdasar pengalaman pribadi, jerawatnya lebih cepat sembuh.

Kalaupun harus dandan atau menutupi jerawat, baiknya cari yang bersahabat untuk kulit acne prone.

Misal sekarang banyak concealer yang mengandung salicylic acid, jadi tidak hanya menyamarkan, namun juga membantu proses pemulihan spot yang berjerawat.

Ada juga bb cream yang formulanya ringan untuk kulit yang berjerawat.

#10 Pake obat tebal-tebal supaya jerawatnya cepat sembuh

Obat jerawat (topical acne solution/medication) cukup digunakan tipis-tipis.

Tidak perlu digunakan setebal dan sesering mungkin. Lagipula obat yang dioles tebal akan membuat kulit kering, pedih, dan kemerahan.

#11 Obat jerawat bekerja cepat

Untuk jerawat 1-2 biji mungkin bisa. Umumnya pengobatan jerawat ditargetkan selama 1-3 bulan untuk jerawat ringan dan 3-12 bulan untuk jerawat yang parah.

Jadi memang tidak bisa diatasi dengan instan, karena tujuannya untuk mengobati secara tuntas.

Ada kalanya treatment jerawat gagal karena sebagian besar orang berpikir jerawat bisa sembuh dengan cepat. Banyak yang menyerah karena merasa tidak ada progres di minggu-minggu awal.

Padahal, semakin serius jerawatnya, semakin butuh ketekunan untuk berobat, karena penyembuhannya lebih lama.

FYI, beberapa jenis pengobatan memang perlu dikenalkan dengan pelan tapi pasti, agar kulit bisa beradaptasi dengan formulanya.

Jerawat (terutama yang parah) juga butuh waktu untuk merespon obat. Jadi, sabar...

Lebih baik komunikasikan langsung ke dokternya jika ada keluhan. Jangan mendadak berhenti selama proses. Kalaupun ke dokter lain, pengobatannya bakal diulang dari awal lagi.

#12 Isotretinoin tidak boleh digunakan untuk mengobati jerawat

Isotretinoin termasuk obat keras yang menunjukkan hasil jangka panjang.

Cara kerjanya dengan menekan kerja kelenjar minyak, maka dari itu efek sampingnya juga lebih heboh.

Kulit jadi luar biasa kering, bibir pecah-pecah, dll. Sayangnya, memang tidak cocok buat semua orang. Karena itu penggunaannya harus di bawah pengawasan dokter.


#13 Kalau jerawat sudah sembuh ngga perlu khawatir

Justru karena kita punya riwayat jerawat (kondisi kulit acne prone) harusnya lebih hati-hati, karena komedo biasa pun bisa berubah jadi jerawat kalau terinfeksi.

Kita mesti tetap waspada saat hormon lagi naik turun (pms, mens, hamil), stres, perubahan cuaca dan lingkungan, dst. Supaya nanti pas break out (lagi) kita ngga kelabakan dan kulit bisa cepat pulih.

Jadi, kita perlu mempertimbangkan perawatan pori meski kulit sedang tidak bermasalah.

Baca juga : Kertas Minyak (Acnes, Clean & Clear, Ovale, & Oxy)

#14 Jerawat itu karena orangnya jorok

Pemahaman tersebut akhirnya memupuk keyakinan bahwa mencuci wajah dengan sabun dan scrubbing dapat mengatasi jerawat.

Padahal mencuci wajah terlalu sering dengan cara yang agresif justru mengganggu skin barrier, memperparah jerawat, dan mengganggu proses pemulihan kulit.

Jerawat juga tidak bisa dihilangkan dengan scrub. Scrubbing saat kulit berjerawat dapat menyebabkan iritasi, karena granulnya menggores kulit yang sedang rentan.

Bakteri P. acnes memang sudah ada di kulit dan bisa tumbuh subur jika skin barrier kita terganggu.

Membersihkan wajah dengan sabun 2x sehari sudah cukup untuk mengurangi bakteri, mengurangi minyak berlebih, dan mengangkat sel kulit mati.

Tips! (dirangkum dari pengalaman acne proner)

(1) Pilih pembersih yang gentle dan pH balanced, supaya kulit tidak kering kesat setelah dibersihkan. Kulit yang dipaksa kering memicu produksi minyak berlebih sebagai kompensasinya.

(2) Saat berjerawat, hindari scrub, washcloth, dan sikat wajah yang kasar. Lebih baik membersihkan pelan-pelan dengan menggunakan kedua telapak tangan dan kapas.

(3) Salah satu penyebab jerawat memang produksi sebum yang berlebih. TAPI menangani problem minyak berlebih bukan berarti kita memaksa kulit menjadi kering dengan ingredient yang harsh.

#15 Jerawat karena produk baru = purging! [4]

Jika kita mengalami jerawat tepat setelah menggunakan produk kosmetika baru (skin care dan make up), kemudian selama 1-1,5 bulan tidak ada tanda kulit membaik... maka itu berarti kita salah memilih produk.

Konsultasikan ke dokter jika jerawatnya parah.

Jerawat yang "normal" tidak terjadi dalam waktu singkat (butuh waktu sekitar 10-14 hari), karena mesti melewati proses pembentukan yang cukup kompleks, yaitu...

(1) Sel kulit mati menyumbat pori
(2) Produksi sebum berlebih dan tidak mengalir dengan lancar, karena ada sebum yang terperangkap di dalam pori.
(3) Bakteri P. Acnes tumbuh subur di pori.
(4) Terjadi inflamasi sebagai reaksi tubuh melawan bakteri.

Ngomong-ngomong, jerawat purging berkat tretinoin juga biasanya butuh 14-16 hari (sekitar 2 minggu) untuk keluar mateng semua, baru kemudian kulit pelan-pelan membaik.

Jadi bisa disimpulkan, kalau jerawat muncul tepat setelah menggunakan produk tertentu, besar kemungkinan itu alergi atau ada reaksi penolakan dari tubuh. Baiknya segera hentikan pemakaiannya.

Baca juga : Reaksi Kulit terhadap Produk Skin Care = Purging?

Akhir kata...

Kulit kita membutuhkan sebum.

Beberapa fungsi sebum adalah membentuk layer tipis untuk melindungi kulit dari sinar UV, menjaga kelembaban kulit agar tidak mudah menguap, menjaga skin barrier agar bakteri tidak mudah masuk.

Sebum berlebih dan sel kulit mati yang menyumbat pori disebut sebagai komedo (whitehead dan jadi blackhead saat teroksidasi), kemudian menjadi jerawat jika terinfeksi oleh bakteri P. acnes.

Bakteri ini memang sudah ada di kulit kita. Hanya saja, dia bisa makin subur jika skin barrier kita terganggu.

Sebagian besar jerawat umumnya tidak berkaitan dengan masalah yang serius. Namun penanganannya berbeda untuk masing-masing orang, karena disesuaikan dengan penyebabnya.

Baca juga : Kulit Rentan Bermasalah? Yuk, Puasa Produk Kosmetika.

Buat orang-orang yang kulitnya acne prone...

Dilihat dari proses umum terjadinya jerawat, memang sulit untuk mengontrol masalah hormonal dan seberapa banyak sebum yang diproduksi kelenjar minyak kita.

Beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk mencegah break out adalah...

(1) memilih tekstur produk yang tidak menyumbat pori (mis. gel, liquid/watery, dst),
(2) bijak memilih produk skin care yang sesuai kebutuhan,
(3) rutin eksfoliasi sel kulit mati (1-2x dalam seminggu, saat kulit tidak bermasalah),
(4) menggunakan pembersih yang gentle, dan
(5) tidak berlebihan merawat kulit yang rentan.

Baca juga : Apakah Kamu Berlebihan Merawat Kulit Wajah?

Wallahu a'lam.
Semoga bermanfaat.
Thanks for reading ad have a nice day.

Pengen Blogging, Tapi...

Rabu, 02 November 2016
Ini hmm... lebih ke sharing seputar blogging yang beberapa kali masuk di email. Jadi sekalian diposting saja.

Sebenernya rada sungkan bahas ginian, karena saya bukan blogger mastah. Banyak yang lebih jago dan rajin dari saya. Pure sharing-sharing aja yaa, ngga maksud menggurui :D

Sampai sekarang saya juga masih sering baca-baca tips blogging.

Walau sudah banyak perubahan dibanding dulu, tapi blog Hai Hanitis masih jauh dari apa yang saya inginkan, terutama dari frekuensi posting haha.



Pengen blogging, tapi gada kamera DSLR, laptop udah jebot, dan lainnya...

Saya juga pernah merasakan hal yang sama.

Saya berasumsi kalo ganti laptop, beli kamera mirrorless mungkin bakal lebih semangat ngeblog. Padahal dulu, saya ngga mikir kayak gitu.

Awal blogging saya bela-belain pinjem kamera temen kos buat foto produk. Setelah nabung-nabung baru bisa beli kamera digital.

Intinya, blogging ya blogging aja.

Kalo kita lebih mudah cari excuses, mungkin kita memang lagi ngga pengen atau ngga suka ngeblog.

Pikiran semacam itu saya rem dengan pertimbangan bahwa fasilitas yang ada sekarang masih bisa dimanfaatkan dan dimaksimalkan.

Sayanya aja yang kebanyakan alasan...

Belum tahu niche yang sesuai

Kalaupun kategori blog isinya sangat beragam (gado-gado), ya ngga apa-apa :D diarahkan saja jadi lifestyle blog.

Banyak lho blog gado-gado yang eksis. Idenya malah ngga abis-abis, karena ngga terbatas di satu niche.

Aku pengen beauty blogging, tapi aku ngga...... :(

Sebagai gambaran, saya cuma blogger biasa tingkat kabupaten, jauh dari sosok ideal beauty blogger jaman sekarang.

Saya ngga jago dandan, ngga putih kinclong kayak artis (kulit saya khas orang Indonesia), dan ngga gitu update dengan produk kosmetik kekinian.

Produk yang saya beli dan pake ya yang itu-itu aja. Tapi itu ngga menghalangi saya buat posting tentang skin care hehehehe.

Eniwei, saya ngga mau bilang ini beauty blog walau postingannya banyakan tentang beauty (lah gimana sih...). Jadi tiap kali ada yang bilang saya beauty blogger, dahi saya langsung mengernyit haha.

Sekarang saya lebih senang kalo blog "Hai Hanitis" disebut personal blog aja seperti judulnya... karena ke depannya saya ngga hanya membahas tentang beauty saja.

Oh iya, keterampilan blogging itu bukan sesuatu yang semalam langsung terasah. Hampir semua blogger pasti ngerasain masa-masa canggung posting artikel.

Cara penyampaiannya masih kaku, overly polite, masih meraba-raba gaya penulisan yang bisa jadi ciri khas, dst. But it's OKAY. Yakin deh makin lama blogging, makin bagus hasilnya :D

Tapi, emang mau aku seriusin sist...

Oke, cek artikel : Mau Memulai Blog? Baca Dulu 3 Poin Ini


Akhir Kata...

Loh, ada yang baca to? :|

Itu yang selalu terlintas dalam pikiran saya saat ada komentar dan email yang masuk. Pas liat statistik blog juga gitu, "Ini sapa aja yang nyasar kemari?"

Karena saya jaraaang sekali blogwalking dan ngga promosi blog.

Makanya saya kaget pas tau-tau ada yang email dan dm, hanya untuk say hi, cerita kalau dia terinspirasi dari post-post yang saya susun (maasyaaAllah, tabarakallah).

Atau saat selang beberapa lama ngga posting, ada yang hubungi bilang kalau dia pembaca lama di blog Hai Hanitis dan kasih support agar saya rutin posting lagi.

Terima kasih, kamu sweet banget ♥

Terakhir, bagi yang ingin memulai blog... bener deh mulai aja. Memang awalnya bakal awkward karena berasa monolog ngomong sendiri.

Yang paling penting sih, blogging tentang apa yang kita suka, supaya ngga terbebani.

Trus, kalau yang kita kejar hanya apresiasi orang lain, ngga bakal hepi dan enjoy... karena kita ngga bisa menyenangkan semua orang.

Wallahu a'lam.
Itu aja dari saya :D semoga bermanfaat.
Happy blogging and have a nice day.

Produk Skin Care Ini Aman Ngga Ya?

Senin, 17 Oktober 2016
Pertanyaan ini sering banget kita jumpai. Wajar sih, karena banyak skin care abal-abal yang mendompleng nomor notifikasi BPOM palsu.

Ini opini saya saja ya, karena bolak balik ditanya krim ini, krim itu aman ngga. Bosen juga hehe...


Berbahaya?

Kalau mau dikelompokkan, ada dua macam produk "bahaya" menurut orang-orang, yaitu (1) memang berbahaya karena komposisinya ngaco dan (2) aman, tapi formula atau teksturnya tidak sesuai kebutuhan kulit.

#1 Jelas bahaya

Yang pertama sudah jelas ya. Sebisa mungkin dihindari. Kasusnya sudah banyak. Jangan pake dalih kalau sudah putih, baru ganti skin care yang jelas aman. Nyatanya ngga sesederhana itu.

Ada juga yang memalsukan produk skin care ternama. Jadi lebih baik beli produk di tempat yang tepercaya seperti counter resmi, supermarket, drugstore, department store, dst.

Saya tertarik, tapi ragu...

Kalau ragu, jangan dibeli dan jangan dipake. Gampang kan? :')

Tapi si (sebut-nama-seleb-yang-tajir-melintir) pake sis...

Mereka beli mobil udah kayak beli gorengan, masa iya pake skin care abal-abal. Minimal pada perawatan di dokter. Malah ada kan seleb yang ngeluarin brand produk kosmetika sendiri.

Orang berkecukupan tapi bukan artis aja biasanya pake krim dokter/klinik kecantikan ternama, SK II, EMK, Lancome, dan skin care high end lainnya :D
---

#2 Aman, tapi ngga cocok.

Yang kedua, ini sering saya sesalkan.

Hanya karena ngga cocok tau-tau mengeluarkan statement "Produk X berbahaya." Padahal produknya jelas-jelas aman dan sudah lama terdaftar di BPOM (jauh sebelum era notifikasi). 

Nah yang kayak gini kan malah menimbulkan kesalahpahaman, karena tolak ukur skin care berbahaya jadi bias.

Maksud saya gini lho... Ada orang-orang yang kulitnya memang peka dan bereaksi terhadap zat-zat tertentu seperti pewangi, pengawet, alkohol, menthol dan lainnya.

Tapi di kulit orang lain fine-fine saja. Mungkin memang ada risiko iritasi atau alergi, tapi bukan berarti produk tersebut berbahaya. 

Bagi saya pribadi, skin care berbahaya itu jika mengandung merkuri, steroid, hydroquinone, dll.

Merkuri itu logam berat yang berbahaya untuk kulit. Sedangkan kortikosteroid dan hydroquinone aman dalam kadar tertentu (anjuran pakainya di bawah pengawasan dokter). Fungsinya sebagai obat, jadi tidak digunakan sebagai skin care harian untuk jangka panjang.

Saya kadang suka speechless kalo ada yang komen, "Wardah aman ngga sih? Garnier berbahaya? The Body Shop bikin jerawatan?"

Segambreng merk lain yang reputasinya bagus dan produsennya kredibel ikutan dicurigai.

Yang perlu kita pahami, semua produk yang terdaftar di BPOM sudah distandardisasi formulanya. Produk-produk tersebut (apalagi yang merknya sudah dikenal luas) relatif aman digunakan sebagian besar orang.
Kulit jadi bermasalah pun bisa disebabkan karena pemilihan produk yang kurang tepat. Ini juga yang dulunya sering jadi kesalahan saya. 

Contoh...

(1) Kulit berminyak dianjurkan menghindari tekstur produk berupa krim pekat atau balm, karena akan membuat kulit lebih greasy dan berisiko menyumbat pori.

Kulit berminyak lebih cocok dengan tekstur gel dan liquid/watery.

(2) Kulit sensitif dan kering baiknya menghindari produk yang mengandung alkohol dan menthol.

...dan lainnya.
---

Ah skin care biasa ngga mempan sis...

Kadang yah... ekspektasi kita pada suatu produk itu terlanjur muluk-muluk. Jadi bukan berarti produknya ngga mempan. 

Memang sih jarang ada skin care biasa (low dan mid-end) yang bisa bikin kulit semulus foto-foto testimoni krim gajebo. Supaya kinclong mesti diboost lagi dengan suplemen, superfood, atau treatment bulanan di klinik kecantikan (face spa, laser, dst).

---

Akhir kata...

Kalau sugesti kita dari awal sudah positif (tau benar produknya aman), trus selama pemakaian kita enjoy, biasanya progres skin carenya juga memuaskan.

Kalau dari awal kita sudah waswas, curiga ini aman atau ngga, baiknya jangan deh. Apalagi putih instan belum tentu sehat. Jangan sampe saking pengennya putih, kita mengabaikan sisi keamanannya.

Masih banyaaaak banget produk skin care yang jelas-jelas aman. Apalagi dengan budget Rp 300.000an ke atas. Jujur, itu sayang banget.

Saya ngomong kayak gini juga karena pernah nyesal dulu suka latah gonta-ganti skin care. Pas kulit sudah bermasalah ribet ngatasinnya.

Makanya postingan ini tuh diketik dari lubuk hati yang terdalam hehe.

Intinya, kalau mau beli produk skin care yang terjamin aman (terutama serum dan pelembab), lebih baik pake brand yang memang sudah punya nama.

Sebatas pengetahuan saya, krim dokter juga tidak bisa sembarangan dijual. Kita mesti ketemu sama dokternya, konsultasi, baru kemudian diresepin formula yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan kulit kita.

Baca juga : Tips Belanja Produk Skin Care (Catat, Cari, dan Hati-hati)

Wallahu a'lam.
Mohon maaf jika ada penyampaian yang kurang berkenan.
Thanks for reading and have a nice day.