Logika yang Kebalik-balik

Minggu, 24 Desember 2017

Ada ilustrasi "logika terbalik" yang saya baca di komentar instagram. Lupa pastinya gimana dan tidak tahu siapa yang tulis (credit belongs to him), tenggelam begitu saja. Kurang lebih begini...

"Mah, plis berhenti selingkuh. Takutlah kepada Allah!"

"Pah... Cuma Papah yang ngerasa itu salah. Jadi jangan merasa paling benar sendiri ya :) Ngga perlu dibesar-besarkan demi kedamaian rumah tangga kita..."

Allahul musta'an.

Setres ngga sih ngadepin orang yang seperti itu? :))

Emang ada ya orang kayak gini?

Sayangnya ada... dan konteksnya macem-macem.

Contoh dalam kehidupan sehari-hari... Pelaku bullying di socmed berpikir bahwa freedom of speech sama dengan freedom of hate speech.

Giliran ditanggapin baik-baik, malah dia yang lebih galak...

"Kalau tersinggungan ngga usah maen socmed-lah."

"Biasa aja kaleee..."

"Sensitif amat lu. Padahal cuma gitu doang."

#akhirzaman #bertobatlah

Gambaran situasi lainnya... Ada orang iseng yang suka cipratin air ke muka kita terus-menerus. Awalnya kita biasa aja, tapi lama-lama kita pun terpelatuk...

"Eh, berhenti ngga??'

"Dih. Santai aja kali mbak! Ini kan cuma air. Bahan alami dan ngga berbahaya. Haha lebay banget jadi orang..."

Kemudian kamu curhat ke teman, "Masa dia kayak gini dan ngomong gitu ke aku..."

"Dia bercanda kali ah..."

"Tapi ngga cuma sekali-dua kali kejadian begini. Kalaupun bercanda tetep aja kelewatan."

"Itu kan cuma perasaanmu saja."

...

FYI, banyak kejadian yang lebih kompleks dibanding contoh dalam postingan ini.

Jika perlakuan tersebut berlangsung dalam kurun waktu yang lama, (meski tidak bersalah) korban bisa dihantui pikiran-pikiran seperti ini...

"Oiya. Mungkin aku yang salah..."
"Mungkin aku memang pantas diginiin."
"Apa aku sudah ngga waras?"
"I'm worthless... Apa aku mati aja ya?"
dan lainnya.

---

Kerancuan berpikir

Salah satu bentuk mental abuse, yaitu kamu merasa ada yang salah, tapi saking samarnya kamu tidak bisa menunjuk atau menjelaskan kesalahan orang tersebut.

Terlibat dengan orang-orang seperti itu membuat kita mempertanyakan akal sehat kita. Yang salah tampak benar dan yang benar jadi salah.

Kalau kamu ada di posisi korban, BE STRONG GUYS! Kamu bisa melewati semua ini!

Langkah terbaik adalah bersikap tenang dan tinggalkan saja.

Kalaupun dia/mereka adalah orang dekat, baiknya batasi (kurangi) interaksi dan atur kelekatan emosional demi kesehatan mental kita sendiri.

---

Akhir kata...

Gaes, mental abuse is real dan dampaknya parah. Sayangnya banyak yang ngga aware, hanya karena dianggap biasa dan tidak berbahaya dibanding kekerasan fisik (salah!).

Walau kelihatannya "sepele", tapi kalau kamu browsing lebih lanjut, korban mental abuse butuh waktu pemulihan yang cukup lama... Hingga akhirnya mereka bisa berpikir jernih dan "back on the track" lagi.

Pesan penting dari para pakar dan terapis adalah validate yourself and find your inner strength. Supaya ngga terpengaruh dengan kerancuan berpikir yang mereka tumpahkan ke kita.

Cari tahu dan pelajari tentang tipe/jenis mental abuse yang kamu alami dan penanganannya.

Selain itu, cari social support yang membantu kamu untuk mengecek realita. Idealnya orang-orang yang objektif, ngga kompor, bisa berempati, dan matang secara emosional.

Banyak-banyak istighfar dan mendekatkan diri ke Tuhan juga. Buat muslim, dzikir pagi petang-nya jangan sampe ketinggalan! :D

Noted! Jika dirasa berat, baiknya konsultasikan keluhan (kondisi psikis) kamu ke psikolog/psikiater.

Allahul musta'an.
Semoga bermanfaat.
Thanks for reading and have a nice day!
8 komentar on "Logika yang Kebalik-balik"
  1. Mental abuse = sakit tapi tidak berdarah
    Bener banget mbak. Orang di sekitar saya juga nganggap mental abuse cuma hal sepele, selama bukan physical abuse just bear with it. Andaikan mereka ngerasain hal yg sama juga~
    Pas sekolah saya ngalamin ini mbak. Paling parah pas sma. Bisa dibilang temen saya bisa dihitung jari dan gak ada satupun temen cowok. Kadang mau cerita ke bk pun udah gak guna karena pasti disuruh 'biarkan saja' dan gak ada tindakan sama sekali TT
    Alhamdulillah udah lupa mental abuse yg saya alamin apa aja tapi ya rasa tersakitinya masih kerasa sampai sekarang dan efeknya suka self blaming. Jadi tiap orang nanya pengalaman di sekolah dulu gimana, ya saya cuma bisa diam dan tertawa karena udah banyak yg saya lupa LOL

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hmmm... Semua ada hikmahnya. Kesabaranmu juga ngga akan sia-sia. Memang butuh proses sampai akhirnya kita bener-bener pulih.

      Thanks for sharing Melo :') Barakallahu fiiki.

      Hapus
  2. saya pun terus mencoba untuk ga terus menyalahkan diri saya. Keep writing kak hanni :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Barakallahu fiiki, semangat! :D Terima kasih buat supportnya, Mira.

      Hapus
  3. Mental abused itu cikal bakal sesorang nantinya gampang buat suicide atau bunuh diri. Yang aku rasain sih kadang orang2 sekitar masih ngeremehin hal ini atau malah dianggap biasa2 aja. Padahal dari sd sampe kuliah kan diajarin tengang rasa loh di ppkn atau pmp. Sayangnya gak di terapin :(.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kadang kata-kata yang menurut kita sepele bisa jadi dorongan bagi seseorang untuk mengakhiri hidupnya, Allahul musta'an.

      Hapus
  4. Keep inspiring and Writing Kak Hani :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih supportnya Rika :D Barakallahu fiiki.

      Hapus

Please kindly check "Frequently Asked Questions" (FAQ tab on menu bar) before asking. Thank you! ^^