Bahagia yang Bersyarat

Kamis, 09 November 2017
Pernah dengar kutipan ini ngga? Atau yang sejenisnya...
You can be happy when you're nothing. You can be unhappy when you have everything. (Unknown)
Kenyataannya banyak orang yang (sebenarnya) hidup berlimpah nikmat, tapi batinnya tidak tenang. Di sisi lain, ada orang yang sederhana, tapi menjalani hidup dengan tentram.

Dalam situasi yang sama pun, setiap orang bisa memiliki derajat kebahagiaan yang berbeda.

Contoh...

Ada dua orang (si A dan B) yang kaya raya.

Si A bisa berbahagia dengan apa yang dia miliki.

Sedangkan si B justru merasa kecewa. Menurut si B, dia baru benar-benar bahagia saat memiliki properti yang jauh lebih banyak dari yang dia miliki sekarang.

Baca juga post sebelumnya : Bahagia itu Sederhana


Kok bisa?

Tebakan yang pertama kali terlintas di benak kita adalah mungkin dia kurang bersyukur.

Hmmm...

Guys, manusia adalah makhluk yang kompleks. Ada banyak hal yang melatarbelakangi sikap seseorang. Kenapa dia kurang bersyukur pun masih bisa dirinci.

Salah satu alasan yang kita bahas kali ini bagus untuk jadi pembelajaran dan (yes!) self check.

Psikolog Elinor Greenberg menjelaskan bahwa ada sebagian orang yang tidak bisa membedakan antara merasa bahagia dan merasa berharga.

Sebagian orang berpikir bahwa uang, tampilan fisik, status sosial, dan popularitaslah yang membuat mereka bisa dicintai, berharga, dan penting.

Namun, saat semua atribut tersebut dilepas, mereka tidak tahu apa yang istimewa dari diri mereka.

Persepsi mereka tentang kebahagiaan sangat sempit, karena tergantung pada penilaian orang dan faktor-faktor eksternal lainnya (yang notabene sifatnya sementara).

Baca juga : Bersahaja itu mengagumkan

---

"Wajar kali sist..."

Menurutku ngga ada salahnya kalau hepi karena penilaian orang.

Ngga wajar sayangkuuh...

Ketika perasaan berharga disalahartikan sebagai kebahagiaan, (sadar ngga sadar) kita jadi terobsesi untuk mencari sesuatu yang lebih, lebih, dan lebih untuk mengukuhkan pengakuan dari orang lain.

"Oh, orang-orang lebih welcome sama yang cantik, ganteng, punya pasangan (dengan kriteria tertentu), punya hape baru, kaya, terkenal, dst. Berarti aku baru berharga (dan baru bisa bahagia) jika demikian..."

Trust me. Ada yang salah jika kita baru bisa bahagia ketika diakui, dikagumi, dan diistimewakan.

Problemnya juga bisa merembet kemana-mana. Misal jadi gampang bosan, minderan, benci tanpa alasan yang jelas, dengki akut sama orang lain, krisis eksistensi, bahkan depresi.

Baca juga : Bahagia Tanpa Sadar

---

Self check!

Bagi saya pribadi, cara untuk membedakan kebahagiaan dengan ego booster itu simpel aja...
Kebahagiaan sejati tidak bertambah saat diketahui orang lain dan tidak berkurang jika disembunyikan.
Eniwei... Di post Bahagia itu Sederhana, saya menyinggung statement "kebahagiaan harus diperjuangkan".

Yang perlu kita pahami, memang ngga ada salahnya merasa bahagia setelah mengalami masa-masa sulit yang panjang dan berjuang meraih prestasi tertentu.

Tapi poin yang dimaksud adalah...

(1) Kebahagiaan itu bukan target, melainkan kondisi mental.

(2) Mengejar "kebahagiaan" (dalam tanda kutip, alias ego booster) adalah isu internal yang tidak semerta-merta selesai karena faktor eksternal.

(3) Jangan menyandarkan kebahagiaanmu pada standar yang dibuat orang lain dan jangan mengukur kebahagiaan orang lain dengan standarmu. Happiness is a personal thing.

(4) Pada dasarnya, kita tidak perlu membuktikan diri ke siapa-siapa.

InsyaAllah bersambung :))

Wallahu a'lam.
Semoga bermanfaat.
Thank for reading and have a nice day.
12 komentar on "Bahagia yang Bersyarat"
  1. Assalamualaikum, salam kenal ka :) Sebenarnya selama ini aku silent reader tapi aku menikmati stp tulisan Kaka👍 di tunggu kelanjutannya yaa ka.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa'alaykumsalam warahmatullah wabarokatuh.

      Salam kenal juga :D Alhamdulillah kalau bermanfaat.

      Iyaa aku pun menunggu kelanjutannya (lah, hahaha).

      Hapus
  2. Halo Kak Hani, aku uda ngikutin blognya dari 2013 an tapi baru komen sekarang, hahaha, salam kenal :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haloo :D salam kenal jugaa hehehe

      Hapus
  3. Assalamu'alaikum..titis...belakangan ini aq suka baca2 tulisan personalmu, ga hanya skincare aja... aq suka tulisanmu.. tulisan yg berat, abstrak, ngajak mikir, tapi bisa disampaikan dg bahasa yg ringan..

    Gimana cara bikin tulisan yg seperti itu... tulisan2 beratmu apakah sebelumnya kamu nyari sumber2 dulu? Atau semata2 random thought atau perenunganmu?

    Karena kalo aq mungkin utk tulisan2 yg agak berat, aq harus pake referensi.. tapi begitu pake referensi, tulisannya menjadi kaku dan ga asik...hmm...

    Kalau kamu gimana?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa'alaykumsalam warahmatullah wabarokatuh Nisa... Alhamdulillah kalo kamu suka :D mohon masukannya juga ya kalau ada yang kurang berkenan.

      Gimana ya? Hahaha...

      Iya, dari pengalaman dan perenungan pribadi, kadang juga dapat ide setelah melihat fenomena tertentu atau baca apaa gitu.

      Biasanya kalau dapat ide, aku diemin(?) dulu di kepala berhari-hari. Sambil cari referensi yang mungkin bisa membuktikan kalau apa yang aku kira/pikirkan itu salah, atau mungkin justru menguatkan...

      Trus dari ide dan referensi yg ada, aku buat draft dan edit abis-abisan supaya bisa dimengerti orang lain.

      Alhamdulillah kalau sekarang ada kemajuan. Sebelumnya alur pikirku loncat-loncat dan penyampaiannya sulit dipahami orang lain. Dulu aku sering banget dapet feedback, "Aku ngga ngerti sist" hehehe. Karena itulah aku lebih fokus ke gimana penyampaianku mudah dimengerti.

      Bdw baru kamu satu-satunya yang komen seperti ini :D maasyaaAllah, you're so thoughtful. Aku terharuu huhuhu.

      Thanks for stopping by :D

      Hapus
  4. Waaah...udah panjang nulis...tapi hilaaang

    BalasHapus
  5. Assalamualaikum, salam kenal kak. Selama ini saya silent reader, tapi kali ini pingin komen. Udah gitu aja

    XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa'alaykumsalam warahmatullah wabarokatuh...

      Iya, blogku banyak SR-nya ya hahaha :D salam kenaal, barakallahu fiiki.

      Hapus
  6. Assalamualaikum.
    Hani, aku setuju dan suka banget ama tulisan yang soal bahagia ini, karena aku juga makin sini seiring bertambahnya umur merasa banget kok kalau bahagia nggaknya kita nggak bergantung sama makhluk.
    aku nunggu lanjutannya hani :*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa'alaykumsalam warahmatullah wabarokatuh.

      Alhamdulillah, iya Desty, :D note to myself too... InsyaAllah mo posting tentang porepack dulu hehe.

      Hapus

Selain melalui kotak komentar, bisa juga kirim email ke haihanitisblog@gmail.com. Also, please kindly check "Frequently Asked Questions" (FAQ tab on menu bar) before asking. Thank you! ^^