Bahagia itu Sederhana

Kamis, 02 November 2017
Dulu, saat saya berkata, "bahagia itu sederhana", langsung disanggah oleh seseorang... 

"Tidak, bahagia itu harus diperjuangkan."

Agak syok sih dengarnya.

Seakan-akan kebahagiaan itu bersyarat.

Awalnya saya tidak setuju, karena saya enjoy menjalani hidup yang biasa-biasa aja haha. Tapi lama-kelamaan (sadar ngga sadar) jadi kebawa deh...

...dan daftar "syarat untuk bahagia" makin hari makin panjang. 

Hidup dengan mind set seperti itu membuat saya jadi pencemas (sering was-was), sulit bersyukur, dan gampang down... yang akhirnya berujung pada stres berat, lol.

Baca juga : Bahagia tanpa Sadar


Kebanyakan orang baru bisa bahagia setelah mencapai atau memiliki sesuatu.

Konsep "bahagia itu sederhana" pun menjadi aneh dan asing. Kesannya seperti kata-kata yang manis di bibir saja. 

Karena itulah sebagian orang meragukan "kebahagiaan" yang dirasakan orang lain, hanya karena hidup orang tersebut tidak memenuhi standar untuk bahagia menurut mereka.

Belibet kah?

Kisah berikut bisa jadi gambaran...

Shovan Chowdury bercerita kalau dia pernah "diinterogasi" oleh seseorang di dunia maya [1]. Saya cantumkan terjemahan bebasnya saja ya...

Are you happy?

"Apakah kamu pernah bepergian ke luar negeri?"

Saya jawab, "Belum pernah sama sekali."

"Apakah kamu punya pacar?"

Saya jawab, "Tidak."

"Apakah kamu punya rumah, tabungan yang banyak, pekerjaan bergaji tinggi, dan mobil pribadi?"

Saya tersenyum dan menjawab, "Tidak."

"Apakah kamu punya properti keluarga?"

Saya menjawab, "Tidak, tidak sepetak tanah pun."

"Apakah kamu dapat membuat orang lain terkesan dalam sekian menit?"

Saya berpikir sejenak dan menjawab, "Tidak, saya tidak bisa."

"Apa kamu fasih berbahasa Inggris?"

Saya menghela napas dalam-dalam dan berkata, "Tidak, tapi saya berusaha mengasah keterampilan bahasa Inggris saya."

"Apa kamu berbadan tinggi?"

Saya tertawa kecil, "Tinggi saya hanya 5'2 (sekitar 158 cm)."

"Apa kamu tampan?"

Saya jawab, "Tidak sama sekali, bahkan rambut saya mulai menipis."

"IQ-mu tinggi?"

Saya jawab, "Tidak. Saya melupakan kejadian-kejadian kecil begitu cepat dan saya juga kesulitan untuk mengingat arah kanan-kiri jalan."

"Apa kamu bisa mengikat tali sepatu?"

Saya malu dan menjawab, "Tidak, tapi saya berlatih dengan menonton video di Youtube."

Dia pun berkata, "Shovan, maaf ya. Kedengarannya aneh. Mungkin kamu bukan orang yang bahagia."

Saya balas, "Tidak. Saya benar-benar bahagia. Saya menerima diri saya. Saya menikmati setiap momen dalam hidup... dengan keterbatasan yang ada.

Kebahagiaan tidak tergantung berapa banyak negara yang kita kunjungi, tampilan fisik, properti, mobil, pekerjaan bergengsi, ataupun kekasih.

Kebahagiaan tergantung dirimu sendiri.

Saya menjalani hidup yang sederhana, bekerja dengan giat, mencintai orangtua saya, menghabiskan waktu berkualitas bersama keluarga dan teman-teman, menjelajah negeri saya, membantu orang lain, berlari, mengejar passion, dan mengerjakan hal yang saya sukai."

Baca juga : Gratitude Journal

---

Kadang kita sibuk mengejar "kebahagiaan", tanpa menyadari bahwa kebahagiaan adalah kondisi mental... Bukan sesuatu yang ada di luar diri kita.

Kita masih bisa menikmati hidup dengan apa yang sudah kita miliki, karena kebahagiaan ada pada kebersyukuran dan merasa cukup.
Be happy. Not because everything is good, but because you can see the good in everything. (Unknown)
Baca juga : Bahagia yang Bersyarat

Wallahu a'lam.
Semoga bermanfaat.
Thanks for reading and have a nice day.
4 komentar on "Bahagia itu Sederhana"
  1. kalo standar kebahagiaan kita tinggi susah bahagianya. Kalo udah bersyukur bahagia jadi lebih gampang, aku masih latihan buat bersyukur susah sih.. tapi emang hidup lebih santai jadinya ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. MaasyaaAllah, iya Fii... bersyukur membuat langkah jadi terasa ringan *tsaahh.

      Hapus
  2. Makasih Titis tulisannya. Setuju banget!

    Standar kebahagiaan duniawi menyebabkan orang punya banyak target untuk dicapai. Ketika tidak tercapai, akhirnya justru kecewa, sedih, iri pada orang lain yg lebih "bahagia".

    Padahal mensyukuri hidup & semua yg sudah dimiliki adalah kunci kebahagiaan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah. Sama-samaa Lintang :D maap baru balas.

      Wekekekek... baru aja posting tentang kelanjutan postingan ini. Pas bgt dengan yg kamu bilang, "Ketika tidak tercapai, akhirnya justru kecewa, sedih, iri pada orang lain yg lebih 'bahagia'" ^^

      Hapus

Selain melalui kotak komentar, bisa juga kirim email ke haihanitisblog@gmail.com. Also, please kindly check "Frequently Asked Questions" (FAQ tab on menu bar) before asking. Thank you! ^^