Bersahaja itu Mengagumkan

Jumat, 06 Oktober 2017
Postingan ini tertahan lumayan lama di draft karena rada sensitif. Tapi insyaAllah akan berlanjut supaya nampak benang merahnya... Ke depannya juga ada postingan tentang kebahagiaan, kenapa kita mesti aware dengan hal-hal yang kita tonjolkan, apa maksud prasangka kita, dst.

InsyaAllah, semoga dimudahkan, aamiin.

Noted. Semua orang berpotensi salah, termasuk saya. Ini juga reminder dan pembelajaran buat saya pribadi.


Jaman sekarang, memamerkan apa-apa yang kita miliki menjadi suatu kelaziman. Respon yang datang membuat sebagian orang jadi ketagihan untuk menonjolkan diri lagi, lagi, dan lagi.

Ya, pujian dari orang lain kadang bisa memabukkan. Sampai-sampai kita tidak sadar kalau sedang pamer.

Seperti yang kita tahu, pamer tidak ada faedahnya. It's a lose-lose game, karena...

#1 Belum tentu dia atau mereka terkesan.

Berbangga-bangga tentang "siapa saya" justru membuat kita terlihat (maaf) konyol.

Contoh...

Kadang, sebagian orang pintar bukan paranormal ya maksudnya juga bisa kepleset.

Dia pikir pemakaian istilah yang kelewat ilmiah, bikin orang-orang berdecak kagum. Padahal orang-orang malah risih pas ngobrol dengan dia.

Baca juga : Pamer di Social Media

---

#2 Setinggi-tingginya gunung, masih lebih tinggi langit.

Kalau kita perhatikan, orang-orang yang lebih kaya, lebih cakep, lebih pintar, dst biasanya malah pada humble. Diem-diem aja, karena bagi mereka itu hal yang biasa.

Ada pengalaman menarik yang dishare di salah satu situs Q&A... Tentang seorang pria yang menyembunyikan kekayaannya.

Dia suka nongkrong di cafe pinggir jalan dan mengamati orang-orang.

Tidak ada yang menyangka kalau dia kaya raya, karena penampilannya biasa saja. Mobilnya ngga mewah, baju pun seadanya.

Barang mahal yang dia gunakan cuma jam tangan dan ponsel. Itu juga mungkin ngga ada yang perhatiin...

Dia ngerasa lucu lihat orang yang baru bawa mobil sport(?) aja sombongnya kek apa.

Hmmm... Kebayang ngga sih kalau kita pamer di hadapan orang yang sebenarnya lebih daripada kita? Subhanallah, itu ibarat mempermalukan diri sendiri tanpa sadar :(
You may be better than someone, but there will always be someone better than you. (via @acceptingqadr)
---

#3 Mengundang 'ain (evil eye).

Okelah, ada yang kagum. Tapi poin ketiga ini lebih bahaya...

Salah satu tanda kena 'ain, biasanya ada hal-hal buruk tidak menyenangkan yang terjadi setelah kita sharing sesuatu.

Guys, walau bibirnya manis memuji, tapi hati orang siapa yang tahu. Karena itulah kita dianjurkan meminta perlindungan dari hasadnya orang yang hasad (ref. QS Al Falaq, ayat 5).

Jadi, kalau lagi hepi banget, usahakan kontrol dan jangan sampai overexpose kehidupan pribadi kita.

Baca juga : Jangan Pamer, 'Ain itu Nyata

---

Ingat, segala puji HANYA milik ALLAH.

Bahasan tentang pujian juga bisa ditinjau dari sisi yang lain.

Jika memuji dan menerima pujian, tujukan pujian itu ke Allah Subhanahu wa Ta'ala. Contoh, alhamdulillah, maasyaaAllah, dst.

Ini juga jadi reminder buat kita dan lawan bicara kita... kalau segala hal terjadi atas izin-Nya Allah, bukan karena kehebatan orang tertentu.

Selain itu, kita mesti hati-hati saat memuji. Mungkin dia lebih butuh didoakan keberkahan, ketimbang dipuji berlebihan.

Atau lebih baik kita memuliakan dan membela nama baiknya tanpa sepengetahuan dia.

Bukan berarti kita ngga boleh mengapresiasi orang lain secara langsung, tapi ungkapkan dengan sewajarnya di situasi yang tepat.

Soalnya, tidak semua orang bisa menghadapi pujian dengan sehat. Ada yang malah kecanduan, trus jadi merasa berhak untuk dipuji, dan tersinggung kalau tidak diistimewakan.

Iya, iya... itu bukan kamu kok.

Lagipula kamu juga ngga mau kan jadi orang yang seperti itu? :')

---

Akhir kata

Tanyakan pada diri sendiri jika muncul hasrat untuk pamer...

(1) Siapa... yang nanya?
(2) Biar dikata apa?
(3) Terus kenapa?

Pertanyaan-pertanyaan simpel seperti itu bisa jadi rem... atau minimal kita bisa menilai dan meluruskan niat kita... Apakah beneran mau sharing atau hanya sekedar show off.

Kalau memang niatnya mau sharing, output-nya akan bersih dari... "Ini lho, AKU. Kekayaan-KU. kecakepan-KU, keistimewaan-KU. kegaulan-KU, dst." Allahul musta'an.
Kita tidak akan terhina jika kita bukan siapa-siapa. Akan tetapi, kita akan ditertawakan jika berlakon seolah kita "siapa". Percayalah, akan selalu ada yang tulus menerima kita apa adanya. Bersahaja itu mengagumkan. (via @echisofwan)
Wallahu a'lam.
Mohon maaf jika ada penyampaian yang tidak berkenan T.T
Lots of love and have a nice day (hug hug hug).
8 komentar on "Bersahaja itu Mengagumkan"
  1. Hhaa maksih lho mbak sharingnya :)

    BalasHapus
  2. Aq suka membaca blog mba.
    Jujur tulisan di atas akhir2 ini sering aq pikirin, menyikapi fenomena riya berbalut sharing di medsos.
    Sy pun kdg membagikan hal2 absurd meski jarang. Dan saat sy menyadarinya, setiap kali membuka medsos akan mempertnyakan apa motivasi saya dalam memposting hal tersebut..
    Memang benar, bersahaja itu mengagumkan. Hidup pun terasa lebih damai, dan mngurangi mata2 jahat yg hobi menilai

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah kalo bermanfaat. Iya, semoga kita dimudahkan untuk menjaga niat dan perilaku huhu, aamiin. Thanks for sharing, Nurul Husna :D

      Hapus
  3. Halo mbaaak~ :o
    Postingannya as always inspiring! *sok english hihi maapkeun
    Nah yang kayak gini sering juga mbak jadi bahan obrolan ama temen yang udah sama2 gak suka main sosmed . Banyak unfaedahnya dan rata2 lebih ke pencitraan yang tidak sesuai. Mana takut nambah dosa juga yang udah bagai buih di lautan huhu
    Eh tapi masih demen main line wa buat chat doang sama pinterest sih :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo juga Melo, alhamdulillah kalo bermanfaat.

      Bdw, aku masih pake instagram. Tapi cuma buat browsing, belanja (bandingin harga sih tepatnya, belanja seringnya di toped/shopee), dan dapetin daily reminder.

      Pinterest mah kayak kliping virtual :D aku juga pake buat cari-cari tips dan infografis hehehe.

      Intinya, kalau benar-benar nge-cut blas aku juga masih sulit, krn ada info-info penting yg lebih cepat muncul dari instagram. Jadi aku batasi aja (dengan bikin akun lain dan kontrol akun mana yg aku follow).

      Hapus
    2. Sempet pengen main tumblr lagi tapi berasa berat (?) dibanding pinterest. Pinterest fave beud lah pokoknyah :)

      Sempet juga mau main ig buat konsumsi pribadi (dasar gak punya pendirian haha) tapi keseringan ditanya 'punya akun ig gak? nanti follow akuh ya' dan males kalo harus ngeles jadinya malah eneg duluan dan lebih prefer pinterest yg hampir gak pernah ditanya punya apa gak :D

      Hapus
    3. Alhamdulillah aku ngga ditanya hahaha :D iyaaa pinterest top bgt laaahh.

      Hapus

Selain melalui kotak komentar, bisa juga kirim email ke haihanitisblog@gmail.com. Also, please kindly check "Frequently Asked Questions" (FAQ tab on menu bar) before asking. Thank you! ^^