Bahagia Tanpa Sadar

Selasa, 12 September 2017
Judulnya aneh ya hahaha. Saya juga rada asal sih ketik judulnya. Memangnya ada gitu bahagia yang tidak disadari?

Tapi mungkin kamu sudah bisa menebak apa isi artikel ini :D
Disclaimer! This is a reminder to myself too.

Karena nila setitik, rusak susu sebelanga.

Coba kita merenung sejenak dan menilai "settingan default" hidup kita secara objektif.

Kalau kita jujur sama diri sendiri, kita akan menyadari bahwa kejadian baik mengisi sebagian besar waktu kita.

Hanya saja, tak jarang sekian menit pengalaman negatif dapat merusak mood kita sepanjang hari (atau mungkin berhari-hari?).

Contoh… Setelah ngobrol, chatting, atau presentasi, ingatan mengenai apa yang telah kita ucapkan biasanya terus terulang, "Aduh, harusnya aku ngga ngomong kayak gini." …dan hal sepele seperti itu membuat kita stuck. Rasa-rasa pengen lari dan teriak, tapi sudah kejadian hahaha.

Padahal di hari itu lebih banyak hal positif yang terjadi, seperti lingkungan yang aman, melihat kutipan inspiratif atau meme yang lucu, bertemu dengan orang-orang yang ramah dan fun, kita tiba di tujuan dengan selamat, dst.

Inilah yang dikenal sebagai bias negativitas [1].

Pengccualian untuk orang-orang yang mengalami gangguan seperti depresi dan kecemasan, atau sedang berada di masa-masa sulit (bullying, kdrt, perang, dst).

---

Hey, emosi positif ini mungkin sering kamu alami...

Kita menyangka emosi positif bisa dijelaskan dengan satu kata saja, yaitu bahagia. Kata "bahagia" tidak bisa mewakili emosi positif dengan tepat, karena ada beragam emosi positif.

Dr. Barbara Fredrickson [2] menjelaskan 10 emosi positif [3][4] dalam bukunya Positivity [5]. Teori beliau dapat membantu kita untuk mengidentifikasi emosi-emosi positif yang muncul...

#1 Joy - Kegembiraan.

#2 Gratitude - Kebersyukuran. Biasanya disertai dengan dorongan untuk membalas budi.

#3 Serenity - Ketenangan/Ketentraman.

#4 Interest - Ketertarikan. Ditandai dengan rasa ingin tahu dan keinginan untuk mengeksplor.

#5 Hope - Harapan. Emosi positif yang muncul di situasi buruk; mengetahui bahwa pengalaman buruk pasti berlalu. Kita yakin kesabaran dan perjuangan akan berbuah manis.

#6 Pride - Rasa bangga. Dialami saat kita meraih pencapaian yang diakui secara sosial. Emosi ini membangun kepercayaan diri untuk meraih sesuatu yang lebih besar dari pencapaian sebelumnya.

#7 Amusement - Terhibur. Misalnya saat kita tertawa setelah melihat hal-hal lucu.

#8 Inspiration - Inspirasi muncul ketika kita menyaksikan keunggulan dan kelebihan orang lain, sehingga terpicu untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas diri.

#9 Awe - Kagum. Misal saat kita melihat fenomena alam seperti matahari terbit, berada di puncak gunung, dan hal lainnya yang membuat kita terpesona dan merasa "kecil".

#10 Love - Cinta (hahaay~). Saat mengalami emosi cinta, tubuh kita memproduksi hormon yang dapat meredakan stres. Emosi ini ngga melulu tentang romansa lho ya, tapi juga cinta keluarga dan kelekatan personal lainnya.

---

Masalahnya?

Sifat emosi positif tidak seintens emosi negatif. Biasanya, perubahan yang dirasakan tubuh, dorongan berperilaku, dan raut wajah yang dihasilkan masing-masing emosi positif tidak sejelas emosi negatif (mis. jijik, sedih, marah).

Selain itu, otak kita lebih mudah mengenali dan merekam hal-hal negatif yang terjadi. Informasi negatif tersebut diperlukan untuk mengantisipasi bahaya dan situasi yang tidak menyenangkan.

Hal ini dapat menjelaskan kenapa waktu kita tersita untuk memikirkan hal-hal negatif dan mengesampingkan informasi positif.

Seperti yang sudah disinggung di awal... sebenarnya kita punya banyak kesempatan untuk merasakan emosi positif dibanding emosi negatif. Namun, menerjemahkan pengalaman positif menjadi emosi positif adalah "pilihan".

Pengalaman positif sulit kita rasakan dalam-dalam, karena seringkali dianggap sebagai sesuatu yang netral (atau bukan apa-apa).

Misal, menurut kita... tinggal di rumah yang nyaman, air lancar, bisa makan 3 kali sehari, browsing tentang hobi baru, bercanda dengan teman, ngegoler di kasur empuk adalah sesuatu yang biasa dan tidak istimewa.

Akhirnya, kita melewatkan kesempatan untuk menghayati emosi-emosi positif lebih lama.

---

Oke, trus gimana?

Emosi yang kita alami saat ini akan berpengaruh pada emosi di momen berikutnya.

Maka biasakan diri dengan pengalaman positif. Kemudian kenali dan rasakan dalam-dalam emosi positif yang muncul.

Bisa dimulai dengan mengondisikan dan membangun rutinitas tertentu. Misal membaca buku (atau pin di pinterest hehe), follow akun-akun yang inspiratif, unfollow akun yang... yah toxic, olahraga rutin, bergabung jadi volunteer kegiatan sosial, menulis gratitude journal, dst.

Ekspresikan pula apresiasi pada kejadian atau hal-hal sederhana yang sebelumnya luput kita syukuri.

Lambat laun pikiran kita terlatih jadi lebih positif dan hal-hal baik akan menjadi bagian dari diri kita, insyaAllah :D
Hati yang baik seperti magnet yang menarik berjuta kebaikan. Bila Anda ingin mengarungi hidup ini dengan penuh kebaikan, mulailah dengan membenahi dan menata hati. (A. Rinanda via @actalgharantaly)
---

Akhir kata...

Saya harap artikel ini bisa memberi gambaran... ada kalanya hari-hari yang kita lalui tidak seburuk yang kita pikirkan.

And maybe... the happiness is already there.

Baca juga : Gratitude Journal

Wallahu a'lam.
Semoga bermanfaat.
Thanks for reading and have a nice day.
Post Comment
Posting Komentar

Selain melalui kotak komentar, bisa juga kirim email ke haihanitisblog@gmail.com. Also, please kindly check "Frequently Asked Questions" (FAQ tab on menu bar) before asking. Thank you! ^^