Benarkah Produk Skin Care "Alami" Pasti Lebih Baik?

Sabtu, 29 Juli 2017
Saat sharing dengan pengunjung, banyak yang bilang selesai ngobatin jerawat mau pake skin care alami saja, karena sudah pasti aman dan gentle di kulit.

Hmmm... saya juga dulu begitu haha.

Masalahnya, "alami" tidak selalu berarti lebih baik. Terlebih, kadang klaim alami dan organik hanya digunakan sebagai strategi marketing.

Disclaimer!

Postingan ini bukan untuk menentang penggunaan produk-produk "alami" lho yaa... Saya hanya ingin meluruskan asumsi produk alami pasti lebih bagus dari produk berbahan sintetik.

Sebelum membahas lebih lanjut, kita coba pahami dulu istilah Natural, Organic, dan Vegan.


Natural

Bahan alami diambil dari sumber daya yang sudah tersedia di alam. Umumnya diekstrak dari tumbuh-tumbuhan yang terdiri dari akar, bunga, dan minyak esensial. Sedangkan bahan yang sumbernya dari hewan di antaranya adalah beeswax, susu, madu, collagen, dst.

Untuk membuat produk, ingredients tersebut nantinya juga dikombinasikan dengan agen carrier, pengawet, surfactant, humectant, dan emulsifier [1].

Oleh karena itu... Meski bahannya bukan sintetik, tapi sebagian besar produk "alami" yang beredar masih harus diformulasikan di laboratorium dan dikemas di pabrik.

Baca juga : Lucas' Papaw Remedies Ointment

Dilansir dari Paula's Choice [2], berikut bahan alami yang efeknya positif jika diformulasikan dengan baik.


Loh, Hyaluronic acid kok alami?

Memang alami kok. Hyaluronic acid bisa diekstrak dari jengger ayam atau dibuat dari fermentasi bakteri.

---

Organic

Produsen skin care (yang beneran) organik berusaha menjawab tuntutan konsumen akan transparansi dan keamanan produk.

Sumber bahan-bahannya tidak menggunakan pestisida, GMO, radiasi, dan lainnya. Sedangkan dalam formulanya, produk skin care organik biasanya tidak mengandung zat-zat seperti paraben, pewangi, DEA/MEA/TEA, propylene/butylene glycol, dst.

Sebagian orang menyukai produk organik karena formulanya lebih simpel (less chemical ingredients). Tapi bukan berarti produk organik ngga punya kelemahan. Produk yang bebas pengawet lebih rentan terkontaminasi dan kualitasnya pun lebih cepat menurun.

Produk organik impor biasanya mencantumkan logo Cosmebio, Ecocert, NSF, atau USDA. Nah, yang paling ketat di antara itu adalah USDA organic, karena standar produknya harus mengandung setidaknya 95% bahan organik.

Kok 95% sih? Kenapa ngga 100% aja sekalian?

Penjelasannya bisa baca di Cek Arti Simbol/Logo Kosmetika

---

Vegan

Belakangan ini, produk vegan muncul sebagai sektor baru ngga baru-baru juga sih di dunia kosmetika (skin care dan make up). Tren produk vegan pada dasarnya dipengaruhi oleh berkembangnya gaya hidup vegan dan raw diet.

Produk vegan hanya dibuat dari ekstrak tumbuhan, mineral, dan zat sintetis yang aman [3]. Jadi, produk vegan tidak mengandung zat hewani seperti...

- Collagen
- Keratin
- Squalene
- Lanolin
- Madu
- Hyaluronic acid
- dst

Karena terbuat dari tumbuh-tumbuhan, produk vegan identik dengan label cruelty free.

Padahal... walau produknya tidak diuji di binatang, tidak menutup kemungkinan bahan yang digunakan adalah bahan yang diteliti dan dikembangkan melalui animal testing.

Jadi, kalau kamu bener-bener concern dengan produk vegan yang cruelty free, idealnya kamu mesti memprioritaskan keduanya, yaitu (1) tidak mengandung zat hewani, (2) bahan dan produknya tidak diuji di binatang.

Sayangnya, mencari produk dengan kriteria-kriteria tersebut di Indonesia susah, karena pilihannya sangat terbatas.

Eniwei, list merk produk yang cruelty free bisa dicek di situsnya PETA. Penjelasan singkat tentang cruelty free juga ada di artikel Cek Arti Simbol/Logo Kosmetika.



Lesson learned

#1 Istilah untuk pemasaran


Jangan heran kalau melihat produk "alami", tapi formulanya lebih banyak menggunakan bahan sintetik.

Di Indonesia belum ada badan resmi yang mengatur label "natural" dan "organik". Artinya, tidak ada yang melarang produsen untuk memasarkan produk berbahan sintetik dengan klaim alami.

#2 Area abu-abu

Kalau kamu baca-baca pendapat para pakar (dermatologist, esthetician, chemist, dst), diskusi mengenai "produk skin care alami dan sintetik" masuk dalam area abu-abu [4].

Kenapa?

Karena tubuh kita tidak bisa membedakan mana molekul yang alami dan mana yang sintetik. Contoh, molekul vitamin C yang diperoleh dari jeruk tampak identik dengan molekul vitamin C yang dibuat di lab.

Baca juga : Vitamin C dalam Produk Kosmetika

Selain itu, sebagian besar bahan-bahan alami diekstrak melalui proses kimia.

Kata Louise Hidinger, tak jarang ekstraknya tercampur dengan senyawa lain dan zat yang digunakan untuk mengekstrak. Ini berarti, kita sulit memperoleh ingredient yang bener-bener pure [5].

Di sisi lain, ingredients yang diproduksi secara sintetik dapat dibuat mendekati murni, karena potensi paparan alergen atau senyawa kimia lain yang dapat mengiritasi kulit bisa dikontrol.

#3 Tidak selamanya zat sintetik itu buruk

Seperti yang kita tahu, bahan alami diproduksi tanpa campur tangan manusia. Sedangkan bahan sintetik dibuat oleh manusia dengan metode yang berbeda dengan alam, atau bisa juga dari turunan bahan-bahan yang sudah tersedia di alam.

Oleh karenanya, produksi ingredient sintetik dapat menekan panen berlebih (dari sumber daya alam) yang mungkin membahayakan keberlangsungan hidup spesis tertentu.

Oh iya, menurut Nicki Zevola Benvenuti (via Futurederm), regulasi ingredient alami tidak seketat ingredient sintetik. Ingredient sintetik dibatasi pada konsentrasi tertentu untuk meminimalisir potensi iritasi, inflamasi, dan reaksi alergi di kulit [6].

Jadi, kalau mau hati-hati, ya hati-hati dengan keduanya. Karena bahan alami juga punya potensi alergi dan regulasinya tidak seketat ingredient sintetik (cmiiw).

---

Akhir kata...

Jangan terlalu parno dengan bahan sintetik dalam produk kosmetika.

Masing-masing produk (alami/organik/sintetik) ada yang baik dan ada yang buruk. Di samping itu, sebagus apapun formula produk, biasanya tetap ada someone out there yang ngga cocok kan?

Maka kurang bijak jika kita mengatakan produk "alami"-lah yang terbaik, karena ada juga bahan alami yang berisiko mengiritasi kulit hehe.

Jadi, ketimbang "pokoknya harus yang alami, saya ngga mau break out lagi", mungkin lebih tepat kalau kita bilang, "Saya mencari produk yang gentle dan menghindari ingredient yang harsh untuk kulit." :D

Baca juga : DIY Skin Care Belum Tentu Baik untuk Kulitmu

Wallahu a'lam.
Semoga bermanfaat.
Thanks for reading and have a nice day.
2 komentar on "Benarkah Produk Skin Care "Alami" Pasti Lebih Baik?"
  1. Iya yaa jangan keburu2 percaya bgt natural atau organik klo belum tau sertifikasinya dari mana. setahuku hani, sertifikasi buat natural atau organic itu aku taunya ecocert aja hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh iyaaa, ngga cuma USDA aja, ada Ecocert, Cosmebio, dst. Makasih udah diingatkan Destyy hehehe :D

      Hapus

Selain melalui kotak komentar, bisa juga kirim email ke haihanitisblog@gmail.com. Also, please kindly check "Frequently Asked Questions" (FAQ tab on menu bar) before asking. Thank you! ^^