Skin Care Talk // Personal Thought // Blogging Experience

Kejarlah Ampunan di Bulan Ramadhan

Senin, 05 Juni 2017
Sebelum lanjut, baca juga post sebelumnya ya... :D

Ramadhan series
---

Oke, gue banyak dosa. Trus gimana? Allah bakal ampunin ngga? :(

Di satu kajian, Ustadz Nuzul Dzikri kurang lebih pernah ditanya begitu sama seseorang yang dulu hidup di dunia gelap (anonim). 

Jawabannya, PASTI diampuni. Hanya saja effort yang dilakukan untuk tobat dari dosa besar jelas harus lebih-lebih-lebih serius dibanding yang lain.

Ustadz Nouman Ali Khan juga berpesan, jangan pernah meragukan "Allah bakal ampuni saya atau tidak". Allah itu Maha Pengampun. Yang jadi pertanyaan justru diri kita sendiri...
Ini saya tulus ngga ya minta ampun ke Allah? Apa taubat saya dusta?


Ramadhan

Alhamdulillah, kita sampai di bulan Ramadhan. Banyak banget dalil yang menjelaskan keutamaan bulan Ramadhan. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam juga sering banget memotivasi kalau di bulan Ramadhan ini pahala dilipatgandakan dan dosa-dosa diampuni.

Mungkin kita udah bebal dengerin "bulan Ramadhan itu waktunya menahan hawa nafsu", tapi ngga bener-bener dihayati.

Secara praktis, apa sih maksudnya?

Ustadz Nouman Ali Khan menjelaskan manusia perlu berlatih agar bisa menguasai keterampilan tertentu, khususnya latihan yang melibatkan fisik. Awalnya sulit, tapi lambat laun tubuh kita bisa beradaptasi.

Segala sesuatu dalam program latihan dibuat mudah. Misal pemadam kebakaran berlatih memadamkan api. Namun, apinya adalah api yang terkontrol, bukan api yang melalap bangunan beneran.

Setelah terbiasa, barulah mereka ditugaskan ke kondisi yang sesusungguhnya (real life situation).

Hal yang sama juga berlaku saat kita berpuasa di bulan Ramadhan. Kita melatih hati untuk mengendalikan tubuh kita.

Kondisi di bulan Ramadhan juga dibuat lebih mudah dibanding bulan lainnya. Salah satunya dengan syaitan yang dibelenggu. Perhatikan juga energi dan semangat kita untuk beribadah di bulan Ramadhan lebih besar dibanding bulan lainnya.

Menahan hawa nafsu itu ngga cuma tentang lapar dan haus saja. 

Selama Ramadhan, bukan hanya tenggorokan dan perut yang kita latih, tapi juga lisan, pandangan, pendengaran, kemaluan, dan lainnya.

Nah, kalau kita puasa, tapi seharian nonton film, masih keranjingan gosip, lebih suka dengerin musik daripada Al Quran, bermudah-mudah interaksi dengan lawan jenis yang bukan mahram...

Atau buka puasa bersama, tapi ngelewatin sholat maghrib-isya-tarawih... itu kita cuma dapet laper dan hausnya aja. Hati kita masih kalah dengan godaan T.T

Tujuan puasa adalah agar kita meraih taqwa (ref. QS. Al Baqarah, ayat 183). Taqwa terletak di dalam hati (ref. QS Al Hajj, ayat 32). Orang yang bertaqwa akan mematuhi perintah Allah 'Azza wa Jalla dan menjauhi laranganNya.

Kalau puasa kita benar, tubuh kita memang melemah, tapi hati kita akan menguat.

Karena itulah setelah bulan Ramadhan selesai, idealnya hati kita sudah siap untuk mengendalikan dan melawan nafsu tubuh. Semua "latihan" kita akan terasa manfaatnya.

Kalau kita puasa cuma sekedar nahan makan dan minum, yaa hasilnya biasa aja. Ngga ada perubahan berarti setelah Ramadhan...
Siapa yang bersungguh-sungguh menaati Allah -sebagaimana orang yang bersungguh-sungguh menaati Allah pada bulan Ramadhan, maka sungguh Allah akan menjadikan akhiratnya laksana hari raya orang-orang setelah melewati (puasa) Ramadhan. (Syaikh Sulaiman Ar Ruhaily)
---

Akhir kata...

Guys, bukan kebetulan lho kita bisa bertemu bulan Ramadhan lagi. Ini tanda Allah 'Azza wa Jalla masih menginginkan kebaikan untuk kita. Memangnya siapa yang bisa jamin besok kita masih hidup?

Belum tentu kita bisa bertemu Ramadhan tahun depan, peluangnya 50:50.

Jadi, manfaatkan bulan Ramadhan dengan sebaik-baiknya. Banyak-banyak istighfar. Karena orang yang menjumpai Ramadhan namun tidak sukses mendapatkan ampunan Allah itu sangat keterlaluan lalainya dan akan Allah tambah adzabnya.
Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Sesungguhnya Jibril menemuiku lalu berkata: 'Barangsiapa berjumpa dengan bulan Ramadhan namun tidak diampuni dosa-dosanya, sehingga ia masuk neraka, maka Allah akan jauhkan lagi ia (ditambah adzabnya), katakanlah 'Amiin'. Maka akupun berkata: Amiin." (HR. Ibnu Hibban no. 907, dishahikan Al Albani dal-am Shahih Al Jami' no. 75) [1]

Wallahu a'lam.
My posts don't make me pious.
This is a reminder to myself first and foremost.

Semoga bermanfaat.
Thanks for reading and have a nice day.
Post Comment
Posting Komentar

Selain melalui kotak komentar, bisa juga kirim email ke haihanitisblog@gmail.com. Also, please kindly check "Frequently Asked Questions" (FAQ tab on menu bar) before asking. Thank you! ^^