Tertipu Dunia

Rabu, 31 Mei 2017
Sebelum lanjut, baca juga post sebelumnya ya... :D

Ramadhan series

Disclaimer!
My posts don't make me pious. This is a reminder to myself first and foremost. Saya pun suka memperturutkan hawa nafsu huhu, jadi harus diingatkan berkali-kali.

---

Pain and pleasure

Sebagai pengantar, saya mau bahas singkat tentang dua hal yang mengarahkan insting manusia, yaitu pain (sakit) dan pleasure (kesenangan). Orang-orang psikologi, komunikasi, dan marketing pasti udah paham ya...

Secara naluriah, kita akan menjauh dari hal-hal yang menyakitkan dan mendekat ke hal-hal yang menyenangkan.

Contoh... untuk memasarkan produk, ngga jarang kan kita menyaksikan iklan yang menjelekkan produk lain. Tinggal keluarkan isu yang menakutkan, misal produk kompetitornya itu bahaya. Selesai sudah.

Dan supaya menarik, sesuatu harus dikemas sedemikian rupa sehingga terlihat fun (orang di iklannya pada ketawa-ketawa), happy, nyaman, mengagumkan, instan, seductive, dan seterusnya.


Allah 'Azza wa Jalla sudah sering kasih clue (baik dalam Al Quran maupun hadits), supaya kita tidak tertipu dunia. Salah satunya di hadits yang famous banget... tentang Jibril 'alayhissalam yang diutus ke surga dan neraka.

Jibril 'alayhissalam melihat surga dikelilingi perkara yang dibenci jiwa, sedangkan neraka dikelilingi perkara yang disukai syahwat.

Akhirnya Jibril 'alayhissalam berkata, "Demi kemuliaanMu, aku khawatir tidak ada seorang pun dari hambaMu yang bisa selamat dari siksaan neraka." (HR. Tirmidzi)


---

Trus hubungannya apa?
Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui. (QS. Al 'Ankabut, ayat 64)
Kalau kita jeli, rasa sakit dan kekecewaan yang berulang kali kita alami (karena cinta dunia) adalah wake up call dari Allah 'Azza wa Jalla. 

Itu tanda bahwa Allah masih sayang dan peduli. Kita ngga dibiarin meleng dari jalan yang lurus. Kelekatan kita dipatahkan. Kita pun ditegur dan dihentak dengan cobaan... supaya kita sadar kalau dunia ini menipu dan kesenangannya itu palsu. 
Wahai manusia! Sungguh, janji Allah itu benar, maka janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan janganlah (setan) yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah. (QS. Fathir, ayat 5)

Nah, kembali ke konsep pain and pleasure... 

Kalau sudah sering sakit kayak gitu, mestinya (secara naluriah) kita belajar menahan, membatasi, dan menjauh. Sebisa mungkin kontrol kelekatan hati kita dan banyak-banyak ingat Allah supaya tenang.

---

Akhir kata...

Sebagai penutup, ini ada kutipan surat untuk Umar bin Abdul Aziz rahimahullah dari Al Hasan Al Bashri rahimahullah (dalam buku Untaian Nasihat Hasan Bashri/Mawa'izh al-Imam al Hasan al Bashri, karya Shalih Ahmad Asy-Syami).

"Pandanglah dunia dengan pandangan orang zuhud dan meninggalkan dunia. Jangan memandangnya dengan pandangan orang yang cinta dan terpesona.

Orang berakal merasakan perikehidupan sebagai kesulitan. Ia terancam oleh nikmat, waspada terhadap bala', dan yakin terhadap kematian.

Dunia sama sekali tak berharga di sisi Allah dan sama sekali tak bernilai.

Buruknya negeri dunia ini telah ditunjukkan oleh kenyataan bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala menjauhkannya dari para nabi dan para kekasihNya sebagai bentuk ujian. Lalu dia mudahkan dunia bagi selain para nabi dan kekasih sebagai pelajaran dan tipu daya."

Bersambung ke Ramadhan Series part 5 : Semua Kesalahan ada Konsekuensinya

Wallahu a'lam.
Semoga bermanfaat.
Thanks for reading and have a nice day.
Post Comment
Posting Komentar

Selain melalui kotak komentar, bisa juga kirim email ke haihanitisblog@gmail.com. Also, please kindly check "Frequently Asked Questions" (FAQ tab on menu bar) before asking. Thank you! ^^