Skin Care Talk // Personal Thought // Blogging Experience

Semua Karena Cinta

Senin, 29 Mei 2017
Alhamdulillah, bertemu lagi dengan Ramadhan! Ngga tau kenapa ya, hawa-hawa bulan Ramadhan itu menenangkan. Semoga amal ibadah kita diterima, aamiin aamiin aamiin.

Mumpung setannya lagi dibelenggu, insya Allah saya mau bikin Ramadhan Series. Isinya tentang insight-insight gitu deh. Rasanya sayang kalau disimpan sendiri. Semoga Allah mudahkan, aamiin.

Disclaimer!
My posts don't make me pious. I'm only human. Lemah dan banyak dosa huhu. This is a reminder to myself first and foremost :(

Untuk seri pertama, kita bahas topik yang ringan(?) dulu, yaitu -ehm, Cinta ❤ (lol)

Terinspirasi dari podcastnya sister Yasmin Mogahed, author buku Reclaim Your Heart : Personal Insights on Breaking Free from Life's Shackles.  Konsep tentang cinta dan kelekatan baru saya pahami sekitar 2 tahunan lalu, pas lagi down dan stres berat.


Cinta Dunia

Loh? Cinta dunia?
Ahh... gue mah ngga cinta dunia. Biasa aja shay...


Asumsi ini juga pernah dialami sister Yasmin Mogahed. Saya juga sih haha.

"Setelah bertahun-tahun jatuh dalam pola kekecewaan dan patah hati yang sama, akhirnya saya mulai menyadari sesuatu yang penting.

Dulu saya beranggapan bahwa cinta dunia identik dengan hal-hal seperti uang, status sosial, dan jabatan. Saya melekatkan hati saya pada manusia, momen, dan emosi. Jadi, saya pikir konsep cinta dunia tidak berlaku untuk saya. 

Padahal manusia, momen, dan emosi adalah bagian dari dunia. Barulah saya menyadari bahwa semua rasa sakit yang pernah saya alami, penyebab utamanya memang karena cinta dunia."

Jadi, coba tanyakan pada diri sendiri.

Apa hal yang paling aku cintai?

Mungkin lisan kita berkata, Allah. Tapi hati dan tindakan kita berkata lain.

Sekarang, tanyakan lagi...

Saat kamu lagi penat, down parah, hati hancur sehancur-hancurnya, kemana kamu pergi?

Saat kamu ketakutan, kemana kamu mengadu?

Apa yang kamu khawatirkan sebelum tidur?

Siapa dan apa yang membuatmu menangis?

Apakah berdiri di hadapanNya kelak yang membuatmu menangis?

Apa yang kamu pikirkan saat sholat?

Apa benar Allah yang paling sering kita pikirkan?

Mungkin tidak.

Yang seringkali menyita pikiran adalah orang-orang yang pergi meninggalkan kita, uang yang kurang, karir yang kita kejar, penilaian orang lain terhadap kita, dan lainnya.

Saat dihadapkan dengan pilihan, apa yang kamu lakukan?

Saat Allah memerintahkan untuk berpakaian dan berperilaku dengan cara tertentu, sedangkan masyarakat berkata sebaliknya. Mana yang kamu pilih?

Saat Allah berkata bahwa riba itu haram, tapi ambisi finansialmu berkata sebaliknya. Serta standar masyarakat untuk ukuran rumah dan merk mobil... berkata sebaliknya. Apa yang kamu pilih?
Allah 'Azza wa Jalla berfirman, "Apakah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahannya? Allah sesatkan dia, dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya, serta meletakkan tutup atas penglihatannya. Maka siapakah yang mampu memberikan petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat)? Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?" (QS. Al Jaatsiyah, ayat 23) 
---

Akhir kata...

Banyak orang yang berpikir kita bisa hidup semaunya. Kemudian saat kematian datang tiba-tiba, dengan mudah kita melafadzkan, "Laa ilaha illa Allah."

Masalahnya... saat sakaratul maut, lidah kita hanya akan mengucapkan apa yang diperintahkan hati. Apapun yang ada di hati kita, itulah yang keluar.

Jika hati kita tidak terisi dengan Allah semasa hidup, bagaimana mungkin bisa dipenuhi kecintaan terhadap Allah saat sakaratul maut?

Jika semasa hidup kita menjalani syarat dan konsekuensi dari "Laa ilaha illa Allah, MuhammadarRasulullah", maka dengan izinNya, lidah kita akan dimudahkan untuk melafadzkan kalimat tauhid di akhir hayat.

Bersambung ke Ramadhan Series part 2 : Rasa Cinta dan Fitrah Hati

Wallahu a'lam.
Semoga bermanfaat.
Thanks for reading and have a nice day.
2 komentar on "Semua Karena Cinta"
  1. Dulu aku pernah baca ada yg sakaratul maut ngomongnya Harta2 yg dia miliki. Ibuku bilang kalau lagi diam mending dzikir, selain menjaga diri kita bisa membuatnya jadi kebiasaan yang positif. Thx for sharing yaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hu'm Fii, dibiasakan... thanks masukannya.

      Hapus

Selain melalui kotak komentar, bisa juga kirim email ke haihanitisblog@gmail.com. Also, please kindly check "Frequently Asked Questions" (FAQ tab on menu bar) before asking. Thank you! ^^