Rasa Cinta dan Fitrah Hati

Selasa, 30 Mei 2017
Saya harap kamu sudah baca postingan sebelumnya, agar lebih mudah memahami bahasan kali ini. Artikel "Rasa Cinta dan Fitrah Hati" juga masih terinpirasi dari podcastnya sister Yasmin Mogahed dan ceramahnya Syaikh Utsaimin rahimahullah tentang bahaya cinta dunia. 

Kemarin kita membahas tentang hal-hal yang (ternyata) lebih kita cintai sebanding atau bahkan melebihi Allah 'Azza wa Jalla.

Baca juga : Ramadhan series part 1 : Semua karena Cinta

Kita pun bertanya-tanya, kenapa rasa cinta kepada selain Allah terasa menyakitkan dan hanya mengundang kekecewaan?

Jawabannya sederhana sekali...

Karena hati kita diciptakan oleh dan untuk Allah.

“Dan di antara manusia, ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah. Mereka mencintai (tandingan-tandingan) itu sebagaimana mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amatlah dalam cintanya kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah, ayat 165)

Allah sering membahas tentang azab dan jahannam, sedangkan kita dengan santainya mempersepsikan dua hal itu sebagai sesuatu yang sangat jauh di akhirat. Kita ngga sadar bahwa menuhankan hal-hal selain Allah atau mencintai sesuatu melebihi Allah, juga ada azabnya di dunia.

Entah itu pasangan, anak, keluarga, status, uang, penilaian orang terhadap kita, image kita di hadapan orang lain... apapun yang kita cintai selain Allah akan menjadi penyebab penderitaan dan siksaan.

Allah merancang hati kita dengan kebutuhan yang sangat spesifik. Ketika kita mengubah dan melawan design yang menjadi fitrah hati, maka kita akan merasa sakit.

Laa ilaha illa Allah (tiada Tuhan selain Allah).

Kalimat tauhid tersebut bukan hanya sekedar pernyataan. Ini juga berarti tidak ada yang paling pantas untuk menjadi fokus kehidupan kita, selain Allah 'Azza wa Jalla.

Tidak ada yang lebih penting untuk menyita pikiran kita saat sholat, maupun sepanjang hari, selain Allah. Begitu pula hal yang pertama kali kita ingat setelah bangun tidur.

Saat kita melawan fitrah tauhid yang Allah tanamkan dalam hati kita, (contoh) menjadikan uang sebagai Tuhan, bisa dipastikan kita akan menderita.

Atau jika kita mencintai pasangan dengan cinta yang seharusnya ditujukan kepada Allah 'Azza wa Jalla, kita akan tersiksa sendiri.

Kamu pun bisa merasakannya kan? Rasa sakit dan sesak karena melawan fitrah hati.

Allah 'Azza wa Jalla menasehati kita...
"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram” (QS. Ar Ra’du, ayat 28).
Allah merancang hati manusia sedemikian rupa yang hanya dengan mengingatNya, hati itu pun menjadi tentram. Ketika kita mengisi hati dengan hal-hal selain Allah, hati kita akan pecah, patah, dan hancur.

Sebagai analogi... Saat ke pom bensin, tau-tau kita memutuskan untuk mengisi tanki mobil pake jus jeruk. Cerdas banget. Cuman jangan harap mobil kita bisa jalan. Salah-salah malah rusak kan kalo diisi yang aneh-aneh.

Hati kita juga sama. Sebenarnya bisa diisi dengan apa pun. Namun jika kita mengisinya dengan dunia, yaa siap-siap patah aja.

Allah 'Azza wa Jalla juga udah wanti-wanti...
Katakanlah, "Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya, serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (QS. At Taubah, ayat 24)
Ustadz Nuzul Dzikri menjelaskan, saat kita "jatuh cinta", kontrol. Jangan kebablasan dan jangan overdosis.

Ahh... kayaknya gue ngga kenapa-kenapa tuh.

Hati-hati, bisa jadi itu istidraj. Saat kita bikin salah, Allah memang ngga langsung kirim azab atau apa. Tapi diulur sama Allah. Dibiarkan menikmati beberapa saat, lalu bakal dihempas dengan tiba-tiba. Dalam istilah kita, "Kalau udah gitu mah, tinggal tunggu aja tanggal mainnya."

Syaikh Utsaimin rahimahullah juga berpesan, "Saat cinta dunia sudah masuk ke dalam hati, yang ada hanyalah musibah."

---

Akhir kata...

Sebagai manusia, kita tidak mampu mengatasi kekosongan. Kekosongan dalam jiwa harus diisi secepatnya. Jika tidak, dada kita terasa sempit dan sesak seketika. Ngga nyaman banget deh pokoknya.

Sayangnya, kita sering salah langkah. Kita mengisi hati dengan dunia. Kita berpikir ketenangan batin dapat dibayar dengan hal-hal selain Allah 'Azza wa Jalla.

Iya, kita puas dan tenang sesaat. Namun, bisa dipastikan hati yang terisi hal-hal selain Allah akan mengalami rasa sakit yang paling pahit.

Ada amalan yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam untuk menghilangkan kegalauan...

"Jika salah seorang di antara kalian ditimpa perasaan gundah dan susah, maka bacalah...

الله، الله ربي لا أشرك به شيئا
Allah, Allahu Robbi, Laa usyriku bihi syai-an.

Artinya : "Allah, Allah adalah Rabbku, aku tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun." (As Silsilah Ash Shahihah : 6/593, Syaikh Al-Albani)

Amalan ini semakin menegaskan bahwa tauhid adalah obat segala penyakit di hati [1].

Bersambung ke Ramadhan Series part 3 : Dunia dalam Genggaman

Wallahu a'lam.
My posts don't make me pious.

Semoga bermanfaat.
Thanks for reading and have a nice day.
Post Comment
Posting Komentar

Selain melalui kotak komentar, bisa juga kirim email ke haihanitisblog@gmail.com. Also, please kindly check "Frequently Asked Questions" (FAQ tab on menu bar) before asking. Thank you! ^^