Dunia dalam Genggaman

Rabu, 31 Mei 2017
Menurut sebagian orang, kata-kata "dunia dalam genggaman" berarti punya banyak harta, kedudukan, dan status sosial yang tinggi. Misalnya pas lagi foya-foya, ada kan yang mengeluarkan statement, "Duh, rasanya seperti menggenggam dunia~"

Hmmm... Benarkah demikian?

Bdw, sebelum lanjut, baca juga post sebelumnya ya... :D

Ramadhan series
---

Cinta dan Kelekatan Hati

Saat kita mencintai, sadar ngga sadar kita melekatkan hati pada subjek/objek tersebut. Lapis demi lapis kita rekatkan, sampai-sampai tidak ada ruang lagi untuk Allah 'Azza wa Jalla. Akhirnya dalam kehidupan sehari-hari, kita memanjakan jasad, namun membiarkan hati ini membatu dan mati.

Kita jadi sering waswas, ngga tenang, insecure, suka ketakutan tanpa alasan yang jelas, dan emosi negatif lain pun mulai menggerogoti jiwa kita.

Kalau sudah begitu, Allah 'Azza wa Jalla akan melepas dan mematahkan kelekatan hati yang tidak "sehat", sebelum kelekatan itu menghancurkan kita.

Sebagai gambaran... Kira-kira kalau ada anak yang kecanduan main game, orang tuanya bakal gimana? Hape-nya bakal disita, kan?

Atau misal ada anak bayi, nangis-nangis mau makan ketoprak, orang tuanya bakal kasih ngga? Ya ngga... ntar bayinya malah kesedak, trus muntah.

Jadi, mau kita merengek-rengek gimana pun, kalau Allah tahu itu ngga baik untuk dunia, agama, dan akhirat kita, yaa Allah ngga bakal kasih. Cuman karena kita ngerasa lebih tau dari Allah, jadi suka su'udzon sendiri.

Baca juga : Jangan Su'udzon kepada Allah

---

Apa itu Zuhud?

Bahasan kelekatan hati sering disandingkan dengan zuhud. Makna zuhud yang paling simpel dan mudah dipahami adalah yang dijelaskan oleh Al Hasan Al Bashri rahimahullah...
"Zuhud itu engkau menjadikan dunia di tanganmu, bukan di hatimu."
Syaikh Dr. Utsman Al Khamis [1] menjelaskan maksudnya...

Jika dunia datang kepadaku, aku biasa saja.
Jika dunia pergi pun aku tidak bersedih.
Dunia jauh dari hatiku.

Hatiku hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Hatiku selalu bergantung kepada Allah,
sehingga dunia tidak masuk ke dalam hatiku.

Kalau dunia datang kepadaku, aku gunakan seperlunya untuk dimanfaatkan.


Bisa jadi orang kaya pun zuhud. Contohnya Sufyan Ats Tsauri rahimahullah. Ketika beliau ditanya, "Wahai Abu Abdillah, Anda adalah Imam dalam zuhud, akan tetapi Anda punya banyak harta?"
Sufyan Ats Tsauri rahimahullah menjawab, "Agar aku tidak memakai tisu untuk mengemis kepada Raja."
Aku punya harta yang mencukupiku, agar aku tidak butuh bantuan orang lain yang membuatku melanggar agama dan prinsipku demi mendapatkan sesuatu. Alhamdulillah, aku punya dunia, tapi tidak masuk ke dalam hatiku.

Masya Allah, keren ya... Emang beda level orang-orang yang imannya sudah kokoh sama yang masih ecek-ecek ((ngacaa hehehe))

Di antara bentuk zuhud terhadap dunia adalah saat seseorang memahami bahwa pujian dan celaan manusia adalah sama saja.

Dia tahu betul, yang namanya pujian manusia tidak akan mengangkat derajatnya sedikit pun, jika dia ternyata hina menurut Allah. Di samping itu, dia pun paham kalau tidak ada yang bisa selamat dari lisan manusia (digunjing, dicela, difitnah, dan lainnya).

Yang selalu dia khawatirkan adalah penilaian dari Allah 'Azza wa Jalla.

---

Akhir kata...

Sebagai penutup, berikut terjemahan bebas dari kutipan sister Yasmin Mogahed yang mengena buat saya...

Sebisa mungkin, taruhlah dunia dalam genggamanmu, bukan di hatimu.

Ini berarti, ketika seseorang menghinamu, janganlah memasukkannya ke dalam hati, agar kamu tidak menjadi gundah dan defensif.

Ketika seseorang memujimu, jangan pula memasukkannya ke dalam hati, agar kamu tidak menjadi sombong dan besar kepala.

Ketika kamu mengalami kesulitan dan stres, jangan hanyut, agar kamu tidak berputus asa dan kewalahan.

Taruhlah itu semua dalam genggamanmu dan sadari bahwa segala sesuatu (di dunia ini) hanya sementara.

Saat kamu diberi "bingkisan" oleh Allah (pasangan, keturunan, kekayaan, jabatan, status sosial, dll), jangan taruh di hatimu. Pegang dalam genggamanmu, agar kamu tidak mencintai bingkisan tersebut melebihi Allah.

Dengan begitu, saat hal-hal yang kita miliki diambil olehNya, kita benar-benar mampu untuk menyatakan, "inna lillahi wa inna ilayhi roji'un". Sungguh, kita semua milik Allah, dan hanya kepadaNya-lah kita kembali.

Bersambung ke Ramadhan Series part 4 : Tertipu Dunia

Wallahu a'lam.
My posts don't make me pious.

Semoga bermanfaat.
Thanks for reading and have a nice day.
Post Comment
Posting Komentar

Selain melalui kotak komentar, bisa juga kirim email ke haihanitisblog@gmail.com. Also, please kindly check "Frequently Asked Questions" (FAQ tab on menu bar) before asking. Thank you! ^^