Skin Care Talk // Personal Thought // Blogging Experience

Jangan Su'udzon kepada Allah (untuk Muslim)

Selasa, 31 Januari 2017
Postingan ini berisi rangkuman kajian Ustadz Nuzul Dzikri di Rumah Ilmu Al Hilya Cinere. Sayang banget videonya di youtube sudah tidak ada. Padahal bagus lho kajiannya.

---

Bismillah...

Kita sepakat kalau manusia itu "kolektor dosa", baik disengaja maupun tidak. Dalam sehari ini saja, ada ngga dari kita yang hanya melakukan tiga kesalahan? Kenyataannya, mungkin lebih dari itu.

Boros air dan tidak menyempurnakan gerakan wudhu. Menunda-nunda sholat, udah gitu sholatnya terburu-buru dan ngga khusyu. Bikin jengkel orang tua. Gosip. Meremehkan, menyinggung, atau menyakiti orang lain. Pamer, ujub, iri dengan nikmat orang lain, dan sebagainya.

Dengan manusia yang sama-sama banyak salahnya aja kita ngga boleh buruk sangka [1]. Apalagi kepada Allah? :(

---

Saat Takdir seolah tidak berpihak padamu

Saat kita berhadapan dengan takdir Allah, berupa musibah, penyakit, dan lainnya... Jangan su’udzon.

Hati-hati, berprasangka buruk kepada Allah hanya akan mendatangkan azab (ref. QS Al Fath ayat 6). Tidak ada alasan bagi kita untuk berburuk sangka pada Allah, karena…

(1) Setiap dosa ada konsekuensinya.

Banyak orang yang marah pada Allah ketika diberi musibah. Padahal Allah sudah wanti-wanti...
“Dan musibah apapun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura, ayat 30)
Musibah, pahit, dan getir yang kita alami itu disebabkan kesalahan-kesalahan kita sendiri. Itupun sudah didiskon sama Allah, ngga semuanya. Misal hari ini kita ngelakuin 200 dosa, besoknya kita diuji atau dapat musibah karena 100 dosa saja. Yang 100 lainnya dimaafin sama Allah.

Jadi, aneh kalau kita yang salah, kita juga yang marah-marah ke Allah (iya, ini ngetik sambil kegampar haha).

(2) Karena Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menyampaikan, kira-kira seorang ibu tega ngga melemparkan bayinya ke kobaran api? Ngga kan? Allah lebih sayang sama kita, daripada kasih sayang ibu ke anaknya. Tidak mungkin Allah memberi takdir yang menghancurkan kita. Sebagaimana firman Allah...
“Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (QS. Al Ahzab, ayat 43)
Allah tahu perjalanan kita masih panjang. Masih ada alam kubur, masih ada hari Kiamat yang begitu mengerikan dan lamanya luar biasa. Allah tidak mau kita gagal di sana. Adapun dunia itu ngga ada harganya di sisi Allah.

Kalau kita melakukan kesalahan yang bisa merusak kehidupan kita di alam kubur dan akhirat, Allah tegur dengan musibah dan takdir yang tidak menyenangkan. Supaya kita terhentak, sadar, dan memperbaiki diri. Bukankah banyak orang yang baru mengenal dan kembali pada Allah setelah ditimpa musibah?

Selain itu, musibah meninggikan derajat dan pahala sabar pun ditetapkan tanpa batas. Jika kita tidak menangkap hikmah ini, salah-salah kita berpikir bahwa Allah sedang menyengsarakan kita.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila Allah menginginkan kebaikan kepada hamba-Nya, Allah akan segerakan sanksi untuknya di dunia. Dan apabila Allah menginginkan keburukan kepada hamba-Nya, Allah akan menahan adzab baginya akibat dosanya (di dunia), sampai Allah membalasnya (dengan sempurna) pada hari Kiamat.” (HR. At-Tirmidzi dan Al Hakim dari Anas bin Malik)
Lebih lanjut baca juga : Orang yang Diinginkan Kebaikan oleh Allah


(3) Karena apa yang kita alami, itulah yang terbaik.

...asal disikapi dengan tepat. Kuncinya syukur saat diberi kesenangan dan sabar saat menghadapi kesulitan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Sungguh menakjubkan urusan orang yang beriman, semua urusannya adalah baik. Tidaklah hal itu didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila dia tertimpa kesenangan maka bersyukur. Maka itu baik baginya. Dan apabila dia tertimpa kesulitan maka dia pun bersabar. Maka itu pun baik baginya.” (HR. Muslim)
Baca juga : Hakikat Sabar

Contoh sederhananya... Saat kena macet kita ngedumel. Bisa jadi kemacetan itulah yang menyelamatkan kita dari bahaya. Mending kena macet 1 jam, daripada diserempet kendaraan yang ugal-ugalan di jalan lain.

Hikmah kejadian biasanya tidak langsung diberikan. Mungkin kita baru menyadari sebagian hikmahnya setahun atau bahkan bertahun-tahun kemudian. “Oh, begini hikmahnya. Ternyata seperti ini alurnya…” Dan setelah tahu, kita tidak menyesal dengan apa yang kita alami.


---

Buruk sangka dengan syariat Allah

Terkadang keluar dari lisan kita statement yang mengarah ke buruk sangka. “Duh, pake jilbab ribet banget sih. Udah ribet, panas, pengap, keringetan.” Seakan-akan kita menuduh Allah hendak menyusahkan dan memberatkan hidup kita.

Ada juga yang nyeletuk, “Ribet banget sih sholat 5 waktu. Akhirnya kan shopping kita di mol jadi terganggu. Harus cari tempat buat sholat maghrib lah. Udah gitu musholla-nya di basement, tempat parkir. Sumpek, gerah.”

Kita anggap ucapan-ucapan seperti itu sepele, padahal fatal menurut Allah. Kita tidak boleh buruk sangka saat berhadapan dengan perintah dan laranganNya, karena...

(1) Allah tahu, manusia kalau ngga diatur itu "liar".

Ada beberapa contoh dalam keseharian kita agar mudah memahami hal tersebut.

(a) Coba kalau kita punya anak, “Mah aku mau pergi yaa, pulangnya jam 2 malam.” Kira-kira diizinkan ngga? Biasanya bakal dilarang karena itu kemalaman. Pada hakikatnya, larangan diterapkan untuk melindungi si anak.

(b) Tanpa lampu merah, jalanan akan kacau. Kalau semuanya pengen jalan ya bakal stuck, deadlock di pertigaan atau perempatan. Tidak masalah berhenti 1 menit, yang penting jalanan ke depannya lancar dan semuanya selamat sampai tujuan.

(c) Sebuah perusahaan saja harus ada aturannya supaya bisa sukses. Kita pun mendaftarkan anak ke sekolah yang penerapan aturan dan disiplinnya bagus kan?

Dengan kata lain, kita tahu kalau manusia butuh diatur. Tapi yang jadi masalah, banyak orang Islam yang ngga mau diatur sama Allah, Tuhannya sendiri. Maunya semua halal. Kalau ustadznya bilang haram, malah ngeles, “Ustadznya ngga bener nih, aliran keras.”
Allah menghalalkan segala yang baik dan mengharamkan segala yang buruk (ref. QS. Al A’raf, ayat 157). 
Salah satu cara Allah menunjukkan kasih sayangNya adalah dengan mengatur dan melarang kita. Jadi, saat Allah bilang kita ngga boleh begini, ngga boleh begitu... itu bentuk kasih sayangNya Allah. Terlepas kita tahu hikmah dan side effectnya atau tidak.

Hal-hal yang Allah larang sejatinya akan menghancurkan kita, baik itu berkaitan dengan makanan, minuman, penampilan, gaya hidup, tutur kata, dan lainnya. Ini yang tidak ditangkap dengan jeli oleh sebagian orang. Akhirnya mereka merasa dibelenggu oleh aturan agama. Merasa dipersulit sama Allah.

(2) Peraturan Allah itu mudah. 
"Allah menginginkan kemudahan untukmu dan tidak menginginkan kesukaran untukmu." (QS. Al Baqarah, ayat 185)
Menariknya, statement ini Allah sebutkan dalam ayat tentang puasa. Padahal puasa identik dengan lapar, haus, “tersiksa”.

Kalau kita merasa berat (meskipun mampu), jangan salahkan syariatnya. Allah sudah bilang syariatnya mudah. Jangan-jangan karena hati kita yang lagi sakit. Namanya hati berpenyakit, sesuatu yang mudah jadi terkesan berat. Nabi sholat tahajjud baca Al Baqarah ngga ngeluh. Kita yang sholat baca Tri Qul (Al Ikhlas, Al Falq, An Naas) ngeluhnya banyak banget.

---


Sekali lagi... 
Yang terbaik adalah apa yang Allah pilihkan untuk kita.

Sayangnya karena ilmu kita terbatas, jadi komplain melulu. Kebanyakan sok tahu dan menyimpulkan sendiri T.T Akhirnya gampang sakit hati dan sering berburuk sangka sama Allah Subhanahu wa Ta'ala. 

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam berpesan bahwa semua yang kita alami itu yang terbaik. Rasulullah tidak pernah bohong lho, dan beliau tidak pernah berbicara dengan hawa nafsunya, namun dari wahyu yang sampai pada beliau.

Terakhir, yang perlu kita pahami... Allah sengaja tidak mengungkapkan seluruh hikmah kejadian dengan segera. Dirahasiakannya hikmah kan juga ujian buat kita :D

Wallahu a'lam.
Semoga bermanfaat.

My posts don't make me pious.
Yang posting justru lebih butuh reminder ini.
Thanks for reading and have a nice day.
8 komentar on "Jangan Su'udzon kepada Allah (untuk Muslim)"
  1. setuju han, aku pun merasa ini reminder banget
    duh senang mengenal blogmu jadi kalau mampir bisa sekalian ngingetin diri sendiri :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masya Allah tabarakallah :D sama-sama Nin, senang juga baca-baca blog kamu.

      Hapus
  2. #3 aku masih belajar Han, masih nanya kenapa begini kenapa begitu. Alhamdulilah udah ngerasain untungnya bersyukur dan nerima. Doain biar bisa berprasangka baik sama Allah lebih cepet ya ><

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama Fii. Alhamdulillah :D aamiin aamiin aamiin.

      Hapus
  3. Hani, tulisan yang menyentuh. Aku dulu sering menggugat, tapi alhamdulillah lambat laun, bisa menerima setiap qadarNya. Meskipun nggak mudah, tapi selalu ada kemudahan di balik kesulitannya. Dan aku hitung, ternyata banyak sampai habis jari untuk ngitung :) sejak itu deh, aku yakin dibalik keinginanku, ada jalan yang lebih baik disiapkan olehNya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masya Allah, tabarakallah... Aku cuma nulis ulang apa kata ustadznya, Erny. Alhamdulillah, iyaa bener :D kalo kata orang shalih "gelapnya malam tidak akan mampu meredupkan kuatnya cahaya di pagi hari". Allahul musta'an.

      Hapus

  4. adem deh hati habis bc tulisanmu han :) stuju banget sm 'peraturan Allah dibuat untuk memudahkan bkn utk mnyulitkan' tp y namany manusia y pasti ada aja yg mikir yg mudah itu kliatanny kyk berat pdhl kan maksudnya Allah memberi kemudahan T.T

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halooo Anne :D Iyaa masya Allah, tabarakallah.

      Hapus

Selain melalui kotak komentar, bisa juga kirim email ke haihanitisblog@gmail.com atau direct message instagram @haihanitis. Also, please kindly check "Frequently Asked Questions" (FAQ tab on menu bar) before asking. Thank you! ^^