Jangan Pamer : 'Ain itu Nyata

Jumat, 20 Januari 2017

Dulu saya sama sekali tidak tahu apa itu 'ain (evil eye). Pertama kali kenal dengan istilah 'ain adalah saat melihat foto bayi yang diblur. Kalau foto perempuan yang diblur wajar ya, supaya bantu cowo-cowo menjaga pandangannya. Tapi kalo bayi?

"Takut kena 'Ain", jawab ibunya.

Saat itu saya tidak ngeh dengan bahaya 'ain. Jadi ya info tersebut saya anggap sebagai angin lalu saja. Baru setelah beberapa lama, saya dengar kajian tentang 'ain, dan itu bukan sesuatu yang bisa dianggap remeh.
‘Ain diambil dari kata ‘ana-Ya’inu (bahasa Arab) artinya "apabila ia menatap dengan matanya". Asalnya dari kekaguman orang yang melihat sesuatu dan diikuti oleh jiwanya yang keji. Kemudian orang tersebut menggunakan tatapan mata untuk menyampaikan racun jiwanya. (Nurfitri Hadi, Konsultasi Syar'iah)

Lebih lanjut bisa baca Hakikat 'Ain (Konsultasi Syar'iah)

Intinya, 'ain adalah "pandangan mata berbahaya" yang muncul karena kedengkian orang yang memandang atau kagum. Saat orang yang dengki mengagumi sesuatu dari diri kita, tanpa mendoakan keberkahan (Masya Allah, Tabaarakar-Rahmaan, Barakallah, -semoga Allah memberkahi, dan semisalnya [1]), maka pandangan matanya bisa merusak.

'Ain tidak hanya dapat terkena pada anak (biasa kan ada ibu-ibu yang membangga-banggakan kepintaran dan paras rupa anaknya), tetapi juga orang dewasa, barang, bahkan pernikahan pun bisa pecah. Rencana kita juga bisa batal lho karena 'ain.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Bantulah kesuksesan hajat-hajat kalian dengan merahasiakannya, karena setiap orang yang memiliki nikmat itu akan menjadi sasaran hasad orang lain." (Ath Thobarani dan Al 'Uqalli, dishahihkan oleh Syekh Albani dalam silsilah al ahadits ash shahihah no 1453)
Dih, apaan sih udah 2017 masih percaya gituan.

Memang ngga semua kejadian buruk berasal dari 'ain :D Tapi sebagai orang beriman kita harus percaya dengan semua yang dikabarkan RasulNya Shallallahu 'alaihi wasallam.
Dari Ibnu Abbas bahwasanya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pengaruh ‘ain itu benar-benar ada, seandainya ada sesuatu yang bisa mendahului takdir, ‘ainlah yang dapat melakukannya.” (HR. Muslim)

Tapi kan aku juga susah :( ngga ada yang bisa di-iri-in.

Kita bisa bilang begitu karena kita tidak menilai diri dari persepsi orang lain. Justru orang yang sudah dengki akut, malah makin seneng kalau tau kita ada masalah dan ditimpa kemalangan.

Trus harus gimana?
Kunci utama agar terjauhkan dari ‘ain adalah mendekatkan diri pada Allah dengan tawakkal pada-Nya, juga selalu rutinkan dzikir setiap harinya. Hanya kepada Allah tempat berlindung sebagaimana disebutkan dalam surat Al Falaq, kita berlindung dari kejelekan orang yang hasad ketika ia hasad. (Muhammad Abduh Tuasikal, Rumaysho.com)
---

Akhir kata

Kebahagiaan, kebanggaan, dan kemewahaan memang selalu menggoda untuk dipamerkan. Tapi kita harus hati-hati dengan yang namanya 'ain. Orang yang hidupnya sederhana dan ngga pamer aja masih bisa jadi sasaran hasad orang lain. Jadi, jangan overexposed kehidupan pribadi kita. Pilah mana yang bisa dishare, mana yang tidak.
Don't show off and then blame the evil eye. You show off everything you own, then cry about evil eye. Nobody is saying don't own nice things, but why rub it in people's faces? We should be considerate of others. Don't talk about your wealth next to the poor. Don't talk about children next to those who can't have kids, etc. (@alidawah via instagram)

Baca  juga : Pamer di Social Media

Allahul musta'an.
Semoga bermanfaat.
Thanks for reading and have a nice day.
12 komentar on "Jangan Pamer : 'Ain itu Nyata"
  1. Hani, aku awalnya nggak ngerti ain ain ini apaan, tapi pas baca di link-linknya jadi faham.
    Hmmm... berarti harus makin2 selektif ya posting di socmed, soalnya pengaruh iri dengki sebegitunya. Ngeri.
    Apalagi di timeline aku han, buibu temen2 aku seneng banget uplaod anaknya bisa ini bisa itulah, dan kadang kan ga semua org suka gitu. Aku bisa blg gini, soalnya aku pernah ngalamin masa2 nggak suka liat kehidupan org lain yg imo kaya fairytale yg menurut aku serba perfecto han. Apalagi sosmed path, akhirnya aku uninstal karena jd stress sendiri saat itu.
    Alhamdulilah, sekarang udh ngga, karena belajar terus biar legowo dan cukup ga diambil pusing hehe
    Yg aku tangkep, jadi yg aman itu emang post foto hobby motret yg ala-ala uploadkompakan dan akun sejenis ya, yg ngga nampakin bagian tubuh kecuali tangan aja. Iya ngga sih? hehe
    btw ini komennya panyang sekali, keliatan korban spongebobnya hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Samaaa, awalnya ngga paham. "Yaelah, diirin doang" (astaghfirullah). Padahaal... saking bahayanya, kita diperintahkan meminta perlindungan dari hasadnya org yg hasad. Ustadz Khalid Basalamah pernah cerita, macam mobil bagus kena 'ain bisa tabrakan T.T Allahul musta'an.

      Waaah follow uploadkompakan juga kah?? Tapi aku ngga ikutan posting. Seneng aja liat fotonya pada kece-kece masya Allah. Iya, tau tentang "motret aman" (cuma keliatan tangan) dari uploadkompakan. Awalnya karena udah lama follow mba Echisofwan, jadi kebawa :D Cuman wallahu a'lam sih. Soalnya yang menurut sebagian orang "biasa aja", ternyata bisa bikin iri orang lain ^^;

      Hahaha kenapa malah jadi korbannya spongebob? xD

      Hapus
  2. ibuku jg sealu ingetin aku untuk berdoa dijauhin sama orang yg iri dengki salah satunya karena faktor 'ain' ini. Tapi susah juga kalau foto tempat wisata di IG ada yg nyinyir, tiket masuknya 10ribu kok diirin :/ padahal yg nyinyir perginya ke Starbucks -_- /ehcurcol

    suika-lovers.blogspot.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yah kadang yang diiriin bukan tempat wisatanya :D mungkin krn kebersamaannya, kesempatan buat jalan-jalan, yaa who knows. Wallahu a'lam.

      Hapus
  3. aku tahu ain ini dari lama karena itu jarang sih potoh2 :)

    BalasHapus
  4. Balasan
    1. Assalamu'alaykum warahmatullah wabarokatuh xD kyaaaa Ocaaa

      Hapus
  5. Makasi hani, baru tahu saya malah.. suka dengan postingan kayak gini. Mengingatkan dan nambah ilmu

    Tentang kebahagiaan dasarnya manusia ingin yang lain tahu/ikut merasakan, bgitu juga sama kesedihan.. masi belum terlalu paham tentang ini karena niat seseorang bermacam macam. Ada yang niatnya ingin berbagi, kasi informasi, ada yang ingin menyombong..dll.. wallahualam

    Jaman sosial media dan serba transparan nimbulin mindset umum "orang orang pada ngelakuin, kok aku nggak?" Atau perkataan dari sekitar "eh elo kok ga posting foto yg gini gini, di post dong, ga asik deh.. orang orang aja pada gitu masa elo nggak?"

    Jadi inget kata kata emma watson, sekarang banyak orang yang lebih peduli dengan apa yang "terlihat" untuk orang lain, bukan apa yang sebenarnya dirasakannya..

    Bless you hani

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha toss dulu buat kita yang baru tau T.T

      Eniwei, ttg posting-posting di socmed, jadi inget pesannya ust Khalid Basalamah, coba tanya ke diri sendiri, "Kalau tidak saya lakukan kenapa?" Ya gapapa sih sebenernya :))

      Iya, "social media" seakan-akan menuntut orang untuk jadi sempurna(?). Akhirnya kita berasa perlu "memoles" apa yang kita tampilkan :( I've been there,

      Bless you too :* thanks for sharing.

      Hapus
  6. I do enjoy reading your blog and every content of it. Barakallahu fiyk.. :)

    -Niena

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masya Allah tabarakallah :D alhamdulillah kalo bermanfaat. Wa fiika barakallah ukhti Niena :D

      Hapus

Selain melalui kotak komentar, bisa juga kirim email ke haihanitisblog@gmail.com atau direct message instagram @haihanitis. Also, please kindly check "Frequently Asked Questions" (FAQ tab on menu bar) before asking. Thank you! ^^