Skin Care Talk // Personal Thought // Blogging Experience

Beberapa Pertanyaan Seputar Skin Care (2016)

Jumat, 30 Desember 2016

#1 Kenapa ya sabun pembersih membuat kulit saya bermasalah?

Baca : Apakah Sabun Menyebabkan Purging?

---

#2 Produk xyz aman ngga?

Baca : Produk Skin Care ini Aman Ngga ya?

---

#3 Siisss, aku purging karena produk skin care :(

Baca : Reaksi Kulit terhadap Produk Skin Care = Purging?

---

#4 Pake bedak apa sis?

Saya sudah lama ngga bedakan ^^; Kulit saya dehidrasi dan mudah muncul dry patch. Paling banter cuma pake bb cream saja. Kalau wajah mulai kilap, tinggal diblot dengan kertas minyak.

Baca juga : Kertas Minyak Acnes, Clean & Clear, Ovale, & Oxy

---

#5 Kapan kita memutuskan untuk mengobati kulit di dokter?

Saat jerawat sudah menahun dan tidak dapat sembuh hanya dengan produk over the counter. Kalaupun sembuh, sewaktu-waktu balik jerawatan parah lagi. Atau saat mengalami masalah kulit yang tidak wajar, seperti perubahan warna, gatal/ruam yang tak kunjung reda, penanganan bekas luka, dan lainnya.

---

#6 Dokter mana yang bagus?

Mana aja insya Allah bagus sis. Cuman tetep ya... cari dokter yang reputasinya oke dan sreg di hati hehe. Setelah sharing dengan temen-temen reader lain (yang juga berobat ke dokter), sebenernya obat buat mengatasi masalah kulit (bruntusan, jerawat, flek), muter itu-itu aja. Yang paling penting kitanya mesti disiplin, rutin kontrol dan konsultasi.

Baca juga : Pengalaman Mengatasi Bruntusan Alergi

---

#7 Bagaimana mempercepat purging?

Purging tidak bisa dikira-kira. Tergantung seberapa serius masalah kulitnya dan seberapa cepat kulit kita merespon obatnya. Kulit yang mengalami jerawat parah dan nyebar, jelas lebih lama sembuhnya. Jadi ya tunggu seselesainya saja.

Cuman, dari pengalaman saya dan teman-teman lain, kita bisa bantu mempercepat proses pemulihan kulit dengan mengurangi penggunaan produk kecantikan (terutama yang berisiko menyumbat pori), jaga makanan, memperbaiki gaya hidup, dan meningkatkan kualitas tidur.
---

#8 Saya sedang berobat. Minder banget nih keluar rumah, jerawat pada mateng semua.

Ini salah satu produk andalan orang yang sedang purging...


Kalau ada yang tanya kenapa, bilang saja lagi masa pengobatan. Mungkin bakal ada yang komen, "Ih ngobatin jerawat kok malah jadi parah gitu?" Sabar aja. Emangnya jerawat parah bisa sembuh kayak di iklan-iklan. Yang sekali pake obat, besokannya langsung kinclong xD

Mengobati jerawat di dokter jelas bakal dituntasin.... dan ngga instan ya. Kadang butuh waktu berbulan-bulan.

---

#9 Apa yang jadi pertimbangan untuk memilih skin care dokter dan skin care over the counter?

Skin care dokter

Pro
Praktis. Kita tidak perlu pusing-pusing pilih formula, ngecek ingredients, dan lain sebagainya. Sudah tinggal terima beres. Kalau ada masalah, bisa langsung konsultasi ke dokternya.

Kontra
Paketan krim dan treatmentnya relatif mahal. Sebagian orang juga mengalami efek rebound setelah lepas dari skin care dokter atau klinik kecantikan.

Catatan
Krim dokter insya Allah aman lho ya, karena penggunaannya di bawah pengawasan dokter. Yang penting kitanya disiplin, rutin kontrol dan konsultasi. Ikuti anjuran pakai. Jangan ujug-ujug mendadak lepas.

Baca juga : Tentang "Krim Dokter" (Pengakuan Dosa, lol)

Skin care over the counter

Pro
Banyak pilihan. Saking banyaknya bikin bingung hahaha.
Anggaran skin care bisa disesuaikan dengan budget.
Ngga gitu khawatir dengan yang namanya efek rebound.

Kontra
Butuh waktu dan trial-error hingga akhirnya bisa ketemu produk yang bener-bener cocok.
Kadang hasilnya tidak sekinclong dan "sebening" krim dokter.

Catatan
Biasanya, orang-orang yang memilih produk over the counter juga ngeboost kualitas kulitnya dengan suplemen dan treatment bulanan di dokter/klinik kecantikan (face spa, chemical peeling, dst). Bagi yang tight budget bisa diakali dengan rutin minum air putih sekitar 2 liter per hari, minum smoothies, ngejus, nyeduh teh hijau tanpa gula, olahraga, dan lainnya.

---

#10 Kapan kita butuh suplemen kulit?

Saat asupan gizi kita tidak seimbang dan butuh booster untuk kesehatan kulit. Ingat, yang digarisbawahi adalah kesehatan kulit, bukan semata-mata untuk memutihkan. Mencari suplemen kulit itu harus hati-hati. Ngga cuma sekedar, "Oh ini bikin putih, berarti bagus".

Saya dulu pernah jerawatan karena minum suplemen vitamin E 250 IU. Kalau dipikir itu standar banget ya. Tapi kata dokter, orang yang kulitnya seperti saya lebih cocok minum suplemen omega 3 (minyak ikan). Vitamin E kadar segitu bagusnya untuk orang yang kulitnya kering.

Baca juga : Obsesi Kulit Putih Sebagian Orang Asia

---

#11 Kenapa sista ngga pake krim pagi-krim malam saja yang praktis?

Saat ini kulit saya lebih cocok kalau regimennya dibagi per fokus perawatannya, bukan dengan krim pagi-malam atau melayer beberapa produk skin care sekaligus.

Contoh...
Pagi fokus di moisturizing/hydrating -- Hada Labo
Siang fokus di proteksi dari sinar matahari -- sunblock
Malam fokus di mencerahkan dan memudarkan noda -- Glycore

Please note, saya ngga bilang cara saya ini yang paling benar ya.

---

#12 Sis kamu peeling/scrubbing pake apa dan berapa kali dalam seminggu?

Sebelum menggunakan Glycore, saya scrubbing 2-3 kali dalam seminggu. TAPI, karena Glycore itu sendiri sudah 8-10% AHA glycolic acid, jadi saya skip eksfoliasi sel kulit mati dengan menggunakan produk seperti peeling atau srubbing. Khawatir jadi overpeeled kulitnya :D

---

#13 Susah dapetin sunblock yang cocok :(

Sampai sekarang saya belum buat postingan khusus yang membahas tentang tabir surya (sunscreen/sunblock). Bagi sebagian orang, ingredient yang dapat melindungi kulit dari bahaya sinar UV justru memicu reaksi alergi.

Ternyata lebih rumit kan dibanding "cocok-cocokan" cari pelembab. Jadi, cek ingredient produk tabir surya sebelum membeli dan kalau perlu konsultasikan ke dokter saat kulit kita mengalami alergi.

Tanda alergi produk tabir surya, yaitu kulit jadi memerah, ruam, dan gatal. Chemical absorber seperti mexoryl, avobenzone, oxybenzone, dan PABA yang paling sering menyebabkan iritasi dan alergi. Namun, physical blocker seperti zinc oxide dan titanium dioxide juga dapat memicu break out jika konsentrasinya sangat tinggi. [1]

Di samping ingredient tersebut, seperti biasa zat pewangi dan pengawet pada produk tabir surya juga bisa menjadi dalang kulit yang bermasalah.


Ngomong-ngomong, menurut pengalaman saya, BB Cream bertabir surya tidak bisa memberi perlindungan yang maksimal. Terlebih jika BB cream tersebut digunakan dari pagi, karena efektivitas tabir surya hanya sekitar 2-3 jam saja.

Baca juga : Skin Aqua BB Cream

---

#14 Pori-poriku lebar, bagaimana ya mengecilkannya?

Pori yang sudah terlanjur melebar tidak dapat dikecilkan kembali hanya dengan produk skin care. Yang paling efektif untuk mengecilkan pori itu microneedling dan laser (cmiiw). Produk skin care hanya mampu membersihkan pori, mengencangkan kulit, sehingga pori tampak lebih samar.

---

#15 Setelah selesai berobat, saya harus pakai skin care apa?

Sebagian besar orang yang kelar berobat tentu bakal hati-hati menetapkan regimen skin care yang baru. Biasanya pada pake produk-produk basic saja seperti pembersih-pelembab-sunblock.

Merk yang masih jadi favorit adalah Viva Cosmetics, Himalaya Herbals, Acnes, Hada Labo, Sebamed, Cetaphil, The Body Shop, Paula's Choice, atau produk-produk asal Korea Selatan yang mahsyur dengan formula dan teksturnya yang ringan.

Selebihnya pada banting setir menggunakan skin care organik (minyak, balm, diy mask, dst). Cuman yaa, rata-rata skin care organik itu dari home industry atau produk luar negeri, jadi akses belinya susah.

Iya, tapi saya bagusnya pake produk yang mana?

Ngga tau haha :D

Ini pertanyaan yang paling membingungkan. Produk buat diri sendiri aja masih perlu trial and error dulu, apalagi buat pilihkan orang lain.

---

#16 Produk-produk skin care yang saya gunakan sudah ngga ngefek.

Umumnya, hal tersebut disebabkan karena tipe dan kondisi kulit yang berubah. Jadi, bukan salah produknya.

Tipe dan kondisi kulit kita memang bisa berubah seiring berjalannya waktu. Entah karena faktor penuaan, sun damage, polusi, perubahan iklim, penggunaan obat-obatan tertentu, dan lainnya.

Ada kalanya kita memang harus mengganti total regimen skin care harian. TAPI kadang kita hanya perlu mengganti 1-2 produk saja (misal pembersih dan pelembab). Cari yang tekstur dan formulanya sesuai dengan tipe dan kondisi kulit terkini.

Baca juga : Tipe dan Kondisi Kulit

---

#17 Memutihkan kulit atau Merawat Pori?

Contoh...
Kulit kusam, sangat berminyak, dan banyak noda bekas jerawatnya.

Idealnya, kita menggunakan produk yang fokus di perawatan pori, agar porinya bersih, minyak di wajah lumayan terkontrol, sehingga risiko kemunculan jerawat bisa ditekan. Sedangkan untuk noda jerawat, bisa ditotol tipis dengan produk spot treatment.

TAPI, biasanya kita justru memilih produk-produk pencerah kulit, karena fokus di kusamnya, bukan penyebab kusamnya.

Baca juga : 5 Langkah Dasar Memulai Perawatan Wajah

Ingat! Pemilihan produk yang tepat dapat meningkatkan kualitas kulit. Kulit yang sehat akan glowing dengan sendirinya.


---

#18 Oil Cleansing Method/minyak pembersih bikin jerawatan :(

Pembersih berbasis minyak memang dapat mengangkat kotoran, sebum berlebih, hingga make up waterproof. Hanya saja, kita mesti menemukan jenis minyak, kombinasi minyak (evoo+castor oil atau lainnya), dan takaran perbandingan yang cocok untuk kulit kita.

Kalau nyerah, coba cari produk pembersih lain yang teksturnya lebih sesuai dan gentle untuk kulit kita. Misal cleansing water, cream, balm, dst.

---

#19 Produknya bagus, di kulit juga enak. Tapi kenapa jadi muncul bruntus/jerawat/bumps?

(1) Baiknya produk yang mengandung AHA, BHA, atau retinol tidak langsung digunakan 2 kali sehari di awal pemakaian. Coba dimasukkan pelan-pelan dalam regimen kita, misal awal pakai cukup 2 malam sekali saja. Kalau tidak ada reaksi negatif, baru kemudian ditambah frekuensinya jadi tiap malam pakai, dst.

Baca juga : Apakah Kamu Berlebihan Merawat Kulit Wajah?

(2) Contoh kulit bermasalah karena layer produk (dari pengalaman teman saya).

Produk yang dilayer : Garnier micellar water, SK II FTE, Wardah Renew You serum. Saat mulai regimen baru, tiga-tiganya dilayer sekaligus. Eh malah muncul bumps, padahal produk-produknya enak di kulit.

What should we do?

Saat kulit bermasalah, segera hentikan pemakaian produk-produk baru. Setelah kulit diistirahatkan, amati kondisinya membaik atau tidak.

Jika sudah membaik, coba satu-satu dulu, misal FTE atau serum Wardah saja. Kalau kulit tidak bermasalah saat pemakaiannya dipisah, berarti memang bentrok kalau dilayer.

Trus?

Tinggal atur frekuensi pakainya saja. Misal FTE pagi, serumnya setiap malam. Atau FTE pagi-malam, serumnya dua malam sekali (tanpa dilayer dengan FTE).

Sebaliknya, jika kulit tetap bermasalah meski hanya menggunakan salah satunya, berarti dasarnya memang ngga cocok.

Kalau khawatir mengalami kejadian seperti ini, baiknya gunakan skin care yang satu seri dari merk yang sama.

---

#20 Maskeran itu perlu ngga sih?

Seingat saya, dulu ada dokter kulit yang bilang, "Maskeran itu useless." Statement tersebut bikin saya syok, karena masker yang saya gunakan ngefek kok.

"Ahh, mungkin dokternya ngga update. Kan sekarang banyak masker-masker yang bagus, sudah di-infuse dengan essence segala macam." Begitulah pemikiran saya sebelumnya.

Makin kesini, saya jadi sadar. Saat produk skin care utama yang kita gunakan sudah benar-benar klop dengan kebutuhan kulit, kita ngga gitu butuh masker lagi. Karena ya sesuai fungsinya, masker itu hanya perawatan pendamping (hanya digunakan 1-3 kali dalam seminggu), bukan perawatan utama.

Wajar kalau dokternya bilang begitu, karena skin care dari dokter punya efek meremajakan kulit yang lebih unggul dibanding sebagian besar produk yang beredar di pasaran. Jadi, pake masker atau tidak, kulit pasiennya tetep kinclong gitu lho :D

---

Lainnya insya Allah akan saya buat postingan sendiri, karena ternyata lumayan panjang kalau mau digabung semua di sini.

Wallahu a'lam.
Semoga bermanfaat.
Thanks for reading and have a nice day.

Sharing Seputar Scalp Care & Shampoo Reviews

Rabu, 21 Desember 2016
Saya tidak begitu memperhatikan kesehatan kulit kepala. Baru deh sekitar tahun lalu, kulit bagian belakang kepala saya terasa tidak nyaman. Pas dicek, bukan ketombe, tapi seperti endapan daki gitu.

Saya coba browsing, ternyata itu yang disebut sebagai build up di kulit kepala. Inilah salah satu penyebab kulit kepala jadi ngga sehat, sehingga rambut mudah kusam, patah, dan rontok. Cirinya putih kekuningan dan jika diusap dengan jari rada waxy. Biasanya karena menggunakan produk rambut secara berlebihan dan/atau pembersihan yang tidak efektif.

Dry shampoo, wax (styling product), conditioner dan hair mask juga bisa meninggalkan build up. FYI, conditioner hanya digunakan di batang rambut. Baiknya diperhatikan pemakaiannya agar tidak mengenai kulit kepala :( terutama jika tipe kulit kepala kita berminyak.

Ngomong-ngomong, kulit kepala yang berminyak biasanya mesti 2 kali shampooan saat keramas. Shampooan pertama busanya sedikit, karena foamnya menyerap sebum di kulit kepala. Pas shampooan yang kedua kali baru deh busanya banyak. Saya baru tahu dari beauty show Korea hehe.


No Poo Method (No Shampoo)

No Poo Method (membersihkan rambut tanpa shampoo) adalah yang paling sering direkomendasikan untuk mengatasi problem build up. Orang yang sukses dengan No Poo Method punya kulit kepala yang bersih dari build up dan rambut yang berkilau.

No Poo Method mampu menormalkan produksi sebum di kulit kepala. Teorinya sama dengan kulit wajah. Jika sebumnya diangkat dengan formula shampoo yang harsh, produksi minyaknya akan semakin melonjak, sehingga build up-nya semakin menumpuk.

Caranya mudah, keramas dengan air saja sebanyak 1-3 kali dalam seminggu. Cara lainnya bisa dengan menggunakan baking soda dan apple cider vinegar. Cuman ya kalo dipikir-pikir baking soda kan terlalu basa buat kulit, saya khawatir kalo kondisi kulit kepala saya nantinya malah tambah kacau.

Baca juga : Baking Soda untuk Kulit?

Baru minggu pertama, saya sudah menyerah. Kulit kepala jadi luar biasa gatal dan bau langu (yaiyalah). Rambut di dekat kulit kepala jadi lepek. Katanya sih itu normal(?) karena lagi masa transisi. Biasanya orang-orang butuh 1 bulan hingga kulit kepalanya bisa beradaptasi dan produksi sebumnya terkontrol. 

No Poo Method mungkin ngga cocok ya buat diterapkan di Indonesia yang iklimnya tropis. Kalau di Eropa atau US sih emang bisa-bisa aja. Waktu itu saya coba karena penasaran -_-

---

NATUR

Ternyata ada alternatif lain kalau kita ngga cocok dengan No Poo Method. Bisa dengan sabun homemade organik (seperti yang dicontohkan Eunice dari Wishtrend) atau dengan shampoo organik.

Hanya saja, shampoo organik harganya mahal untuk ukuran budget saya. Tetiba jadi ingat, Momzhak (dulu Cantiknya Qonita, sekarang Hala Bea) pernah review tentang shampoo Natur. Kemasannya terlihat menjanjikan ya, karena ada label Jamu dan Halal.


Natur membuat kulit kepala saya terasa enteng. Wangi shampoo-nya juga enak, antara bau jamu dan bensin(?). Masalahnya, di bulan-bulan awal pemakaian, rambut saya jadi gesrek kayak ijuk. Tapi karena targetnya buat menyehatkan kulit kepala, jadi disabar-sabarin. Kalau ngga salah ingat ya, baru sekitar 2-3 bulan rambut saya menjinak selama menggunakan Natur.

Nah, tau-tau... Natur ganti kemasan dan formula. Kurang lebih, formulanya jadi mirip shampoo lain yang beredar di pasaran.



Efek formula baru dan lama beda tipis sih, begitu pula dengan masing-masing varian. Cuman gimana gitu rasanya... Jadi yasudah, saya putuskan untuk coba shampoo-shampoo lain hehe. Pasrah aja, karena memang rambut saya mau diapain juga udah macam rambutnya Hong Seol.

---

Kracie Ichikami

Informasi mengenai produk tertulis dalam bahasa Jepang (yang saya ngga ngerti haha). Hanya cara pemakaian, peringatan, ingredient, dan keterangan produsen dan distributornya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.



---

Rudy Hadisuwarno Hair Loss Defense

Diformulasikan dengan kombinasi ekstrak Ginseng dan Active HL Defense Complex untuk membantu mengurangi kerontokan dengan menutrisi akar rambut sehingga rambut tetap kuat dan sehat berkilau.

Gunakan secara teratur rangkaian lengkap Hair Loss Defense untuk hasil terbaik.

Step 1 : Daily shampoo
Step 2 : Hair mask
Step 3 : Conditioner
Step 4 : Hair tonic


Saya coba produk ini karena sering direkomendasikan untuk rambut rontok. Sayangnya saya ngga cocok. Malah tumbuh jerawat. Awalnya ngga yakin (masa iya jadi jerawat?). Tapi setelah cek selang seling selama beberapa hari dengan shampoo yang lain, hanya setelah menggunakan shampoo Rudy Hadisuwarno jerawat muncul di hair line. Ngga parah sih, cuma 1 biji gitu. Dan ini ngga bisa digeneralisir ke orang lain ya. Karena banyak kok yang baik-baik saja memakai shampoo ini.

---

Herbal Essences Hello Hydration

Replenish your beautiful yet dry hair with my(?) formula fused with essential moisturizers, orhid and coconut milk. It leaves hair silky and supple. Use me : lather up, soak your head, rinse, and repeat.


---

TRESemme Total Salon Repair

Dengan teknologi terkini dan pengalaman di dunia salon, TRESemme didukung oleh para hair stylist profesional untuk menghasilkan rangkaian produk perawatan rambut profesional berkualitas salon. Dengan Nourishing Power Ionic Complex, merawat kerusakan rambut dengan cepat dan mencegah rambut rontok.


Kayaknya saya bakal bias mengulas produk TRESemme, lol. Karena shampoo dan conditionernya TRESemme yang paling lama saya gunakan. Yang saya review kali ini adalah varian baru TRESemme : Total Salon Repair. Setelah beberapa kali pakai, memang shampoo ini top banget (menurut saya hahaha).

Baca juga : Review Produk TRESemme, Lucido L, & Neril

---

Reviews

Ini berdasarkan pengalaman pribadi.
Hasilnya bisa berbeda untuk masing-masing orang.
Saya mencantumkan merknya saja, tidak dengan judul varian.
Supaya ngetiknya ngga kepanjangan ^^;

Wangi

(1) Kracie Ichikami - (2) Herbal Essences - (3) TRESemme

Wanginya Ichikami yang paling enak (Sakura flower scent). Cuman, karena wanginya lembut banget, jadi kurang tahan lama. Herbal Essences wanginya paling segar (fruity-floral) dan tahan lama. Sedangkan TRESemme? Mungkin karena saya sudah lama pake, jadi lebih familiar aja.

Tekstur
Dari yang paling encer ke yang kental.

(1) Kracie Ichikami < (2) Natur < (3) TRESemme < (4) Herbal Essences & Rudy Hadisuwarno


Paling Enak di Kulit Kepala
Ini berkaitan juga dengan poin sebelumnya. Tekstur shampoo yang encer dan ringan bantu meringankan problem sebum/product build up di kulit kepala saya.

(1) Kracie Ichikami
(2) Natur
(3) TRESemme
(4) Herbal Essences
(5) Rudy Hadisuwarno

Bagus, meski tanpa conditioner

(1) TRESemme
(2) Herbal Essences
(3) Kracie Ichikami
(4) Natur
(5) Rudy Hadisuwarno

TRESemme, Herbal Essences, dan Kracie Ichikami membuat rambut jadi halus dan tidak musah kusut.

---

Akhir kata

Dulu saya sempat telaten keramas dengan air hangat. Tapi karena saya rasa bedanya tidak terlalu signifikan, jadi saya skip saja. Lagian males juga kudu manasin air dulu sebelum keramas huhu. Padahal air hangat itulah yang ampuh buat meluruhkan sebum dan ampas shampoo/conditioner. Air dingin baru kita gunakan untuk bilasan terakhir.

Sebenarnya inti dari scalp care adalah menggunakan produk seringan dan sesedikit mungkin. Karena itu orang-orang yang menjalani No Poo Method berusaha mengatasi problem rambutnya justru dengan tidak menggunakan produk apapun, kecuali air, bahan-bahan alami (tea tree oil, madu, clay, apple cider vinegar), dan hair brush.

Cara untuk mengatasi build up yang belum saya coba adalah detox kulit kepala dengan menggunakan bentonite clay dan appel cider vinegar. Cara ini bisa mengatasi problem ketombe, build up, dan gatal. Sebagian besar reviewnya positif, lebih lanjut bisa browsing sendiri yaa :D

Wallahu a'lam.
Semoga bermanfaat.
Thanks for reading and have a nice day.

NIVEA Make Up Clear Cleansing Water

Sabtu, 17 Desember 2016
Sekitar tiga bulan lalu, saya cerita kalau sudah tidak memakai sabun wajah. Kulit saya lebih kalem jika dibersihkan dengan cleansing water (pembersih bertekstur air). Apalagi kondisinya masih suka naik turun. Kadang bebal, kadang reaktif. Karena itu penting banget untuk menggunakan pembersih yang ringan dan ngga memperparah kulit yang bermasalah hehe.

Baca juga : Hada Labo Tamagohada Face Wash


Deskripsi produk

NIVEA Make Up Clear Cleansing Water
Untuk kulit normal atau berminyak

Formula inovatif yang dapat membersihkan make up di wajah dan bahkan di area mata tanpa meninggalkan rasa berminyak. Membersihkan secara menyeluruh, melembabkan, dan menyegarkan kulit dengan formula pembersih yang efektif dan ringan, serta tidak meninggalkan sisa-sisa make up.

Tidak mengandung pewarna, parfum, alkohol, paraben, dan silikon. Telah diuji secara dermatologi dan optalmologi cocok untuk kulit.

Cara pemakaian
Gunakan dengan kapas, pijat wajah dengan perlahan dan lembut.



Review

Botolnya minimalis, tapi cakep deh pilihan warnanya, kelihatan fresh. Ukurannya juga pas 200 ml. Kadang ya ukuran 100 ml terasa cepat banget habisnya. Sedangkan yang gedebokan juga bikin gregetan sendiri, kok produknya kayak ngga abis-abis... padahal udah bosen pengen coba yang lain haha.


Daya bersihnya standar. Baiknya tetap didobel dengan pembersih seperti cleansing oil. Kita butuh 3-4 kapas untuk membersihkan make up ringan (bb cream-lipstik). Kurang lebih sama dengan Pixy Cleansing Express. Hanya saja, karena dia no parfum-dkk jadi lebih tenang pakenya.

Baca juga : Pixy Cleansing Express Anti Acne


Produk ini aman digunakan saat kulit saya berjerawat (pms -,-). Nivea Cleansing Water ngga bikin kulit jadi pedih dan memerah. Poin ini sih yang paling penting buat saya yang acne proner. Biasanya kan obat jerawat rada cekit-cekit ya kalo produk pembersih yang kita pake too harsh.

Jadii... Secara keseluruhan, produk ini bagus. Tidak meninggalkan rasa lengket dan berminyak. Sangat ringan untuk pemakaian sehari-hari. Setelah menggunakan produk ini, tanpa pelembab pun kulit tetap supel, ngga berasa kering kerontang. Cocok buat kulit saya yang kombinasi-dehidrasi.

Updated! 18 Desember 2016
Awalnya, saya pikir Nivea Cleansing Water itu produk yang berbeda dengan Nivea Micellar Water yang saya lihat di pinterest. Secara label dan tulisannya beda. Setelah dikasih tahu Sherly, saya cek ke situs Nivea Indonesia. Botol kemasan dan warnanya persis, tapi tulisannya bukan cleansing water, melainkan micellar water (lah gimana?). Kalau dilihat dari ingredientsnya sama sih hehehe, my bad.

Tertarik?
Bisa dibeli di drugstore seperti Guardian. Terakhir cek belum masuk supermarket. Harganya sekitar Rp 50.000an.

Semoga bermanfaat.
Thanks for reading and have a nice day.

Memanfaatkan Rasa Iri Untuk Pengembangan Diri

Selasa, 13 Desember 2016
Iri hati adalah perasaan yang bisa muncul saat membandingkan hidup kita dengan orang lain. Perasaan ini bisa berbahaya, jika kita meyakini bahwa orang tersebut tidak layak bahagia dan berharap hal-hal tertentu hilang darinya.

Sebenarnya, iri hati bisa disikapi dengan cara yang lebih baik, yaitu dimanfaatkan sebagai reminder untuk memperbaiki diri. Rasa iri pada dasarnya adalah proyeksi dari insecurity. Jadi, iri bukan tentang apa yang dimiliki orang lain, tapi tentang masalah yang ada pada diri kita sendiri.


Bagaimana mendeteksi penyakit iri?

Iri membuat kita "susah saat orang lain senang dan senang saat orang lain ditimpa kemalangan". Kita jadi sulit mengapresiasi ide, kreativitas, ambisi, kecerdasan, keberhasilan, dan keunggulan orang lain.

Orang terdekat pun sebenarnya bisa mengamati saat kita iri. Misalnya saja kita jadi alergi jika membahas kebaikan seseorang dan cenderung meredupkan "lilin" orang lain.

Ketika ada yang bertanya, "Si A orangnya gimana?", coba cek deh respon kita. Jika seperti ini... "Baik sih orangnya, TAPI..." Itu sudah cukup jadi warning. Karena kalau orangnya beneran baik, sebut saja semua kebaikannya yang kita ketahui. 

--

Penyebab dan dampaknya

Ketidakpuasan terhadap diri sendiri merupakan penyebab utama iri hati. Ketidakpuasan tersebut membuat kita rendah diri dan silau dengan kelebihan orang lain.

Iri hati adalah perasaan yang manusiawi. Akan tetapi jika dibiarkan, perasaan itu akan menggerogoti hati dengan kebencian yang tidak beralasan, menganggu pikiran, dan menghabiskan energi.

Rasa iri juga berpotensi untuk membuat kita menyalahkan diri sendiri, orang lain, dan situasi. Akhirnya kita pun memandang bahwa hidup tidak adil. Padahal keadilan itu subjektif sekali.

---

What should we do?

#1 Akui dan terima

Iri adalah cerminan dari cela, kelemahan, kekurangan yang tidak kita akui dan tutup-tutupi. Ibarat reminder mengenai kesuksesan yang tidak dapat kita raih, pengalaman yang tidak kita alami, hubungan yang tidak kita miliki, dst.

Mengatasi rasa iri dimulai dengan pengakuan dan penerimaan. Latih diri kita untuk jujur mengakui bahwa kita iri. Ya memang begitu, mau gimana lagi. Semakin disangkal, perasaan negatif justru semakin kuat dan intens.

Awalnya sulit, karena yang namanya pemulihan memang menimbulkan perasaan tidak nyaman. Kemudian sadari bahwa rasa iri memiliki pesan yang penting untuk kita. 

#2 Identifikasi

Kadang apa yang kita inginkan itu terbalut oleh kemasan lain [1]. (Contoh) mungkin kita tidak iri dengan kecantikan seseorang, tapi kita kurang merasa diperhatikan dan ingin dipuji.

Jadi, tanyakan pada diri sendiri, apa yang sebenarnya membuat kita iri?
Popularitas atau keinginan untuk diistimewakan dan dianggap special?
Mobil atau kemampuan membeli barang mewah?
Status sosial atau keinginan untuk dihormati?
Pekerjaan dan jabatan bergengsi atau kesempatan untuk aktualisasi diri?
Prestasi atau pengakuan dari orang lain?

#3 Eksplorasi

Setelah mengetahui hal yang membuat kita iri, rasakan sensasi ketidaknyamanan sepenuhnya [2]. Ketidaknyamanan akan terasa lebih ringan jika diekspresikan. Kalau bisa, eksplorasi rasa iri dituliskan di jurnal (buku harian), bicara depan cermin, disampaikan ke orang yang bersangkutan (jika akrab dan memungkinkan), atau curhat ke orang yang bisa kita percaya.

Gali pesan melalui journaling...

Tulis kita ingin menjadi orang yang seperti apa, kesuksesan seperti apa yang ingin kita raih, kebahagiaan seperti apa yang kita inginkan, apa hal-hal yang tidak bisa kita miliki tapi dapat diupayakan.

Dari situ kita list lagi, apa saja yang bisa dilakukan untuk mencapai goal tersebut dan apa saja halangannya. Apa karena kita kurang pintar atau kurang terampil. Apakah memang ada keterbatasan atau malah kita yang menahan diri sendiri untuk berkembang.

Penting!

(1) Pelajari kelebihan dan kekurangan yang kita miliki. Setiap orang punya kepribadian dan kecenderungan yang berbeda. Cari tahu peluang apa yang bisa kita kembangkan dan bagaimana mengatasi kelemahan dengan cara yang tepat.

(2) Buat target-target yang realistis dan progresnya dapat diukur. Misalnya dengan detail rencana perbaikan diri, menulis bagan Present Me vs Future Me (diri ideal yang ingin kita usahakan 1-2 tahun yang akan datang), membuat future map atau vision board. Dan berusaha komit untuk menjalaninya.

(3) Ubah yang bisa diusahakan, terima yang tidak bisa kita ubah. Kenyataan bahwa hal tersebut bisa dicapai orang lain, kemungkinan juga bisa kita raih. Tapi yang perlu disadari, ada hal-hal yang terjadi di luar kendali kita.

Baca juga : Kintsugi : Berdamai dengan Pengalaman

(4) Lawan dorongan untuk membandingkan diri dengan orang lain.

(5) Batasi penggunaan social media.


#4 Berdoa

Diceritakan oleh Ustadz Adi Hidayat, ada salah satu sahabat radhiyallahu 'anhu yang secara zahir amal ibadahnya biasa saja, tapi Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam menyebutnya sebagai penghuni surga.

Ternyata, setiap malam dia berdoa, "Yaa Allah hilangkan rasa iri terhadap nikmat yang melekat pada orang lain dalam hati saya dan saya memaafkan kesalahan yang pernah dilakukan orang lain ke saya." Boleh tuh dipraktekin :D

Baca juga : Bahaya Hasad

#5 Sending Love

Saya meminjam istilahnya mba Irma Rahayu dari buku Emotional Healing Therapy. Islam mengajarkan cara untuk menyembuhkan iri hati, yaitu dengan banyak-banyak mendoakan kebaikan pada orang yang kita iri.

Doakan agar orang tersebut bertambah nikmatnya dan nikmat tersebut diberkahi. Kan ada tuh nikmat yang ngga berkah, misal kasur empuk, tapi tidurnya ngga nyenyak. Makanan mahal, tapi nelennya ngga enak atau malah ngga mengenyangkan.

Berat? Ya memang harus dilawan. Cara ini bisa menetralisir dan menyembuhkan penyakit hati tersebut.

---

Lesson Learned

#1 Fokus memperbaiki diri

Kita tidak akan mudah iri, jika kita sibuk memperbaiki diri. Fokuslah dengan apa yang sedang kita kejar dan miliki. Terlebih memperbaiki diri juga bukan sesuatu yang instan, tapi butuh waktu. Dengan demikian, tidak akan ada ruang di hati kita untuk merasa iri pada orang lain.

---

#2 Sulitnya bersyukur

Kebersyukuran adalah hal yang mudah diucap namun sulit dipraktekkan. Apalagi saat kita sedang berada di masa-masa sulit. Banyak sekali nikmat yang luput disyukuri hanya karena kita sibuk menghitung nikmat yang dimiliki orang lain. Padahal tiap orang diberkati dengan cara yang berbeda-beda.

Untuk melatih kebersyukuran, gratitude journal yang paling sering direkomendasikan. Caranya dengan menulis 5 hal yang membuat kita bersyukur di setiap harinya. Setelah catatannya terkumpul (mis. sekitar 1-2 bulan), coba deh baca ulang :D bisa bikin senyum-senyum sendiri. Mood booster bangetlah pokoknya.


---

#3 Setiap orang punya cerita

Sekarang banyak kisah-kisah inspiratif mengenai kesuksesan yang bisa kita simak. Di antaranya tentang pengalaman orang-orang yang bangkit dari keterpurukan. Secara tidak langsung, kita belajar menempatkan diri dari sudut pandang orang tersebut.

Setiap orang punya cerita dan perjuangannya masing-masing. Kita bisa saja iri dengan kekayaan, mobil mewah, rumah besar yang dimiliki orang lain. Tapi anehnya, kita tidak iri dengan pengorbanan, masa-masa penuh tekanan, dan waktu yang dia habiskan untuk mencapai semua itu :D

---

#4 Social media bisa jadi ladang hasad

Social media membuat kita mudah mengamati hidup dan pencapaian orang lain. Akhirnya kita malah menyandingkan hidup orang lain sebagai parameter untuk mengkritisi kekurangan dan kegagalan dalam hidup kita.

Setiap orang cenderung menampilkan sisi terbaik dari dirinya di social media. Misalnya dengan posting momen-momen bahagia, hal-hal yang menarik, kutipan yang menginspirasi, dan lainnya.

TAPI itu bukan berarti dia ingin orang lain mengira hidupnya sempurna. Kita tidak melihat gambaran yang lebih besar dari hidup seseorang hanya berdasarkan postingannya di social media.

---

#5 Apa yang sebenarnya terjadi tidak seperti yang terlihat

Satu waktu saya mendengar ada orang yang roman-romannya iri dengan pencapaian teman saya. Saya cuma senyum-senyum saja, karena mereka tidak tahu seperti apa hidup teman saya yang sebenarnya. Mungkin karena pembawaannya tenang dan kalau ngumpul kelihatannya ceria, jadi orang-orang mengira hidupnya lancar-lancar saja.

Poin ini seperti fenomena gunung es. Kesan pertama, kita hanya melihat bagian kecil dari orang tersebut [3]. Semakin sering berinteraksi, semakin lama kenal, kita pun jadi sadar bahwa hidup masing-masing orang ada sisi positif dan negatifnya. Banyak yang masalahnya lebih berat, hanya saja mereka bisa kontrol diri untuk tidak mengeluh.


--

#6 Hidup di dunia itu sebentar

Hidup di dunia ini hanya sementara, termasuk apa-apa yang kita miliki. Tidak ada yang kekal. Kemewahan hanya bisa dinikmati sementara, yang cantik bakal keriput, yang cerdas akan pikun, mobil dan hape yang dulunya ngetren lama-lama out of date juga.

Jangan menilai hal-hal yang sifatnya duniawi secara berlebihan, karena yang konstan dalam hidup ini adalah perubahan [4].

Baca juga : Karena Hidup itu Pilihan

---

Akhir kata

Waspadalah saat kita merasa lebih pantas untuk mendapat apa yang diperoleh dan dimiliki orang lain. Jangan pula menjadikan hidup orang lain sebagai tolok ukur keberhargaan hidup yang kita tempuh. Ingat-ingat setiap orang punya porsi rezeki dan alur kisah yang berbeda.

Selain itu, saat kita fokus memperbaiki dan meningkatkan kualitas diri, akan lebih mudah bagi kita untuk melalui naik turunnya kehidupan, tanpa sibuk "menoleh ke kanan dan ke kiri" :D

Wallahu a'lam.
Semoga bermanfaat.
Thanks for reading and have a nice day.