Skin Care Talk // Personal Thought // Blogging Experience

Tren Operasi Plastik di Korea Selatan

Rabu, 31 Agustus 2016
"Going under the knife" adalah istilah yang menakutkan bagi sebagian besar orang (termasuk saya). Meski demikian, operasi plastik sangat populer di Korea Selatan. Saking lumrahnya, bikin double eyelid sudah tidak dianggap sebagai plastic surgery, melainkan cosmetics procedure.

Beberapa hari yang lalu, saya nonton video Al Jazeera 101 East : The Cost of Beauty (2014). Rasanya campur aduk begitu baca subtitle berikut...

Let's be honest, everyone likes pretty girls.


Memang ada sebagian orang yang menginginkan hasil before-after yang ekstrim (dengan referensi wajah selebriti tertentu) hingga akhirnya menjalani pemotongan tulang pipi dan tulang rahang (agar wajah jadi V-shape). TAPI, "perbaikan" yang ditawarkan klinik kecantikan umumnya "sederhana", seperti bikin double eyelid, facial liposuction, hair transplant, botox, filler, lip augmentation, atau laser untuk menghilangkan noda di kulit.

Totally safe and harmless?

Dimana-mana orang kalo "jualan" bakal bilang barang atau jasanya aman. Tentu calon pasien harus jeli memilih klinik kecantikan, yaitu dengan mempertimbangkan reputasi dokter, jaminan pasca operasi, kompensasi jika terjadi malpraktik, dan lainnya.

Berdasarkan keterangan dari Shin Hyun Ho (medical malpractice lawyer), operasi plastik di klinik kecantikan tertentu berisiko tinggi, karena anestesi (pembiusan) tidak dilakukan oleh ahlinya. Selain itu, banyak juga klinik kecantikan yang pake calo. Jadi, calonya bisa dapat gratis oplas sekali jika bisa mengumpulkan 10 orang. Para calo pun tidak mewanti-wanti apakah klinik kecantikan tersebut aman atau tidak. Jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, mereka lepas tangan.

Dari sisi psikologis...

Walaupun banyak yang lebih percaya diri dan bahagia setelah operasi plastik, TAPI ada juga orang-orang yang kecewa. Orang yang sebelumnya memang sudah memiliki problem self esteem yang serius, umumnya tidak puas dengan hasil operasi yang dijalaninya. Ini bisa berujung pada "ketagihan" untuk mengoreksi bagian tubuh yang dinilai kurang estetik. Dengan kata lain, masalah yang ada di "dalam" tidak bisa semerta-merta teratasi dengan operasi plastik.

Baca juga : Body Dismorphic Disorder

Promosi dan Tren

Saya sering banget melihat iklan klinik kecantikan Korea Selatan di website Indonesia. Bahkan kliniknya menyediakan paket full sponsor. Rupanya, Korea Selatan memang lagi promosi medical tourism. Tanpa turis dari luar negeri, banyak klinik kecantikan yang tidak akan bisa bertahan.


"Tren" operasi plastik adalah masalah yang kompleks. 

Nilai-nilai yang ada pada masyarakat Korea Selatan berbeda dengan masyarakat kita. Tampilan fisik yang menarik dipandang sebagai jaminan kehidupan yang lebih baik. Oleh karena itu, operasi plastik dianggap sebagai jalan pintasnya.

Prof. Yang Yoon menyimpulkan akar masalahnya dimulai dari membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Orang Korea umumnya ingin tampil lebih baik dibanding teman-teman sebayanya. Mereka juga punya dorongan yang kuat untuk mengikuti apa yang sedang populer di media.

Ngomong-ngomong, videonya bisa ditonton di sini...


Berkat video ini, saya jadi tertarik (lagi) untuk baca-baca tentang body image, persepsi cantik ideal, dan rutinitas kecantikan di kebudayaan lain. Semoga ada kesempatan dan kemampuan untuk nyusun artikelnya :D Sebagai penutup, ada kata-kata yang bagus dari Prof. Yang Yoon untuk dijadikan renungan...

Our outer appearance don't wholly define our lives. If people were neglect the growth of their abilities and other important factors because they solely focus on their appearance, they would be nothing more than good looking people.

Semoga bermanfaat.
Thanks for reading and have a nice day.

Perlu Toner Atau Tidak?

Kamis, 18 Agustus 2016
Sekitar setahun lalu, secara khusus saya mulai memasukkan toner dalam regimen skin care. Kulit saya benar-benar menunjukkan perbedaan yang nyata saat menggunakan toner untuk "mengeringkan" dan menyiapkan wajah ke step berikutnya :D Pokoknya, saat ini toner jadi salah satu barang wajib buat saya untuk mengatasi kulit dehidrasi.

Baca juga : "Mengeringkan" Kulit Wajah

Ngomong-ngomong (meskipun banyak yang puas), ternyata penggunaan toner masih "diperdebatkan" perlu atau tidaknya. Hmmm...


Beda Pendapat

#1 "Memastikan kulit benar-benar bersih?"

Klaim tersebut seringkali dicemooh, karena kalau kita masih perlu toner untuk memastikan ada ampas pembersihan yang tertinggal, berarti produk pembersih yang kita gunakan tidak bekerja sesuai fungsinya.

Untuk pendapat ini, saya pilih 50-50.

Membersihkan wajah dari debu, sebum, kotoran biasa memang cukup dengan satu produk. Apalagi sekarang sudah ada cleansing water (satu produk pembersih yang memiliki fungsi toning).

TAPI untuk membersihkan make up, saya masuk tim double cleansing :p Setelah menggunakan cleansing oil, toner adalah produk yang cukup gentle untuk memastikan kulit benar-benar bersih, tanpa khawatir merusak skin barrier.

#2 "pH kulit dapat pulih dengan sendirinya"

Saya baru tahu kalo setelah cuci muka, pH kulit bisa pulih dengan sendirinya setelah 15-30 menit. Jadi, menurut mereka tidak perlu menggunakan produk dengan fungsi yang sebenarnya sudah mampu dilakukan kulit kita.

Yang ini juga saya 50-50.

Kulit normal dan berminyak emang ngga masalah kalau skip toner. Tapi, pada kondisi tertentu, kulit yang kering dan dehidrasi butuh rangkaian produk khusus supaya tidak gersang/kaku/tegang.

#3 Kulit Kaukasian & Kulit Asia

Beauty expert Barat umumnya berpendapat bahwa sebagian besar toner tidak memberi efek signifikan untuk kulit.

Wajar-wajar saja mereka mengeluarkan statement seperti itu, karena audiencenya adalah masyarakat Barat yang rata-rata Kaukasian.

Yang perlu kita pahami, kulit Kaukasian itu berbeda dengan kulit Asia. Kulit Asia punya lapisan dermis yang lebih tebal, tapi epidermisnya lebih tipis dibanding kulit Kaukasian.


Ini berarti, meskipun kulit orang Asia lebih awet muda (resistant to aging), skin barrier kulit Asia lebih lemah, lebih sensitif, lebih mudah muncul noda bekas jerawat atau luka, lebih mudah kehilangan kadar air di kulit, dan lebih lambat menyerap produk (sehingga perlu disiapkan untuk masuk ke step berikutnya).

Intinya... Dengan karakteristik kulit yang berbeda, tentu pendekatan perawatannya tidak sama persis. Ngga heran kalau produk toner sangat berkembang di Asia, karena memang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan tipikal kulit Asia pada umumnya.

---

Jenis Toner

Secara umum, toner bisa kita bagi menjadi tiga, yaitu toner biasa, toner yang sebaiknya dihindari, dan toner yang bagus (lol).

#1 Toner biasa

Toner biasa tidak memberi perubahan yang signifikan untuk kulit. Formulanya standar. Cocok digunakan untuk remaja, kulit normal, atau kulit yang tidak butuh perawatan intens.

Baca juga : Viva Spirulina Toner

#2 Toner beralkohol (astringent)

Astringent umumnya masuk dalam varian produk anti acne dan ditujukan untuk tipe kulit berminyak - acne prone. Cirinya, kandungan alkohol tinggi (ada di urutan kedua ingredient list) dan terasa pedih jika diaplikasikan di kulit.

Masalahnya, kulit yang dipaksa kering (dengan alkohol) justru memicu produksi sebum berlebih. Jadi kayak lingkaran setan gitulah.
Noted!
Tipe kulit kering, sensitif, dan dehidrasi wajib menghindari toner yang mengandung alkohol. Salah-salah malah iritasi.

Solusinya?
Untuk mengatasi komedo atau mencegah pori tersumbat, baiknya menggunakan toner non-alcohol yang mengandung salicylic acid. Salicylic acid dapat masuk ke dalam pori untuk membersihkan kotoran dan sebum. Selain itu, salicylic acid juga membantu mengontrol produksi minyak di kulit.

#3 Toner bagus

Toner yang recommended memiliki fungsi spesifik, seperti hydrating, anti aging, exfoliating, dst. Kadang dikemas dengan label lotion (Jepang), pre-essence, facial treatment essence, booster, atau skin balancer.

Produk seperti ini recommended untuk orang-orang yang beraktivitas di lingkungan berpolusi, stressful, sering terpapar terik matahari, dan memiliki konsen perawatan anti aging/rejuvenating.

Kontroversinya?
Beauty expert Barat pun setuju kalau toner yang bagus itu worth to try, TAPI lebih baik langsung menggunakan serum yang konsentratnya tinggi, karena tidak ada perbedaan yang berarti meskipun tonernya diskip. Cari saja serum dengan ingredient yang kita butuhkan (mis. salycilic acid, hyaluronic acid, vitamin C dan antioksidan lain). Dengan begitu penetapan regimen juga jadi lebih efisien dari segi budget.

---

Cara tahu kulit butuh toner atau tidak?

Skip penggunaan toner sekitar 3-7 hari. Biasanya di awal sudah kerasa sih bedanya. Tapi kalau ragu, coba berhenti selama seminggu dan amati perbedaannya. Kalau kulit terasa lebih baik dengan toner, berarti kulit kita memang butuh ditoning sebelum menggunakan serum atau pelembab.

Bagi yang belum pernah memakai toner, bisa coba toner biasa dulu. Kalaupun mau pake toner yang bagus, untuk pertama kali amannya cari yang satu seri dengan serum atau pelembab yang sedang kita gunakan.

---

Kesimpulan

Ada kulit yang butuh toner, ada juga yang tidak.

Dalam memilih jenis toner, kita perlu mempertimbangkan tipe, kondisi, dan kebutuhan kulit kita sendiri. Apa yang cocok buat orang lain, belum tentu cocok di kita. Begitu pula sebaliknya.

Produk toner bisa diskip dari regimen skin care, jika (1) kulit kita tidak butuh skin care berlayer-layer, (2) sudah ada serum berkonsentrat tinggi dengan formula spesifik (tonernya jadi rada useless atau khawatir overdoing), dan (3) anggaran skin care terbatas.

Baca juga : Apakah kamu berlebihan merawat wajah?

Artikel lain tentang toner bisa baca di sini...

Tentang Produk Perawatan Wajah
Toner, Mineral Oil, dan Stress
Toner, Facial Spray, dan Face Mist

Semoga bermanfaat.
Thanks for reading and have a nice day.

Obsesi Kulit Putih Sebagian Orang Asia

Minggu, 14 Agustus 2016
Produk pemutih/pencerah merupakan salah satu bisnis yang menjanjikan di Asia. Bahkan beberapa tahun belakangan, industri kosmetika juga mentargetkan kaum pria dengan mempromosikan standar yang sama, bahwa kulit putih membuat kita lebih rupawan.

Beragam produk pemutih beredar di masyarakat, di antaranya krim, masker, suplemen pemutih, hingga treatment di klinik kecantikan. Pokoknya, kalau mau laku, pake embel-embel whitening aja :D


Di Cina, kulit putih dikatakan mampu menutupi seratus kejelekan. Sedangkan di Jepang, jauh sebelum masuknya pengaruh Eropa dan Amerika, ada istilah "kulit putih menutup tujuh cela". Yang berarti, wanita berkulit putih akan terlihat cantik, meski wajahnya tidak menarik.

Setidaknya ada empat alasan kenapa kulit putih digandrungi sebagian orang Asia, yaitu...

Kelas Sosial yang Tinggi

Jaman dulu, kulit putih mencerminkan kelas dan status sosial yang tinggi (ningrat). Sebenarnya tidak hanya di Asia ya. Orang-orang Eropa (yang notabene Kaukasian) juga menyukai kulit putih pucat.

Di sana ada istilah angelic aura atau angel of the house, karena wanita dengan kelas sosial tinggi umumnya terjaga di dalam rumah kastil. Kurang lebih sama lah pandangannya... orang kaya atau bangsawan kulitnya terawat karena ngga panas-panasan ^^;

Ngomong-ngomong, usaha mereka untuk tampil putih juga luar biasa. Ada yang dicat (red: film era Ratu Elizabeth atau Marie Antoinette), bedakan pake kapur, hingga menggunakan logam berat (lead, mercury, dst). Tapi orang Barat jaman sekarang agaknya lebih suka dengan tanned skin yang glowing.

Kecantikan Klasik Asia

Kunci kecantikan klasik Asia adalah peningkatan kontras warna wajah (clear contrast). Orang Asia umumnya memiliki rambut hitam, kulit kuning, dengan struktur tulang wajah yang kurang tegas. Itulah kenapa berbagai resep homemade skin care dari nenek moyang berkisar di pencerah kulit, penghitam rambut, dan gincu.

Berbeda dengan kita, meskipun berambut cokelat atau pirang, orang Kaukasian punya "kontras" yang lain, yaitu kontur tulang wajah yang tegas dan tajam.

Perempuan Harus(?) Lebih Putih dari Laki-laki

Umumnya di Asia, laki-laki menyukai perempuan berkulit putih dan bening (kayak botol aqua?). Selain itu, cewe yang putih (katanya) tampak lebih feminin. Stigma ini yang membuat kebanyakan perempuan berpikir kalau ngga putih, berarti ngga cantik.

Konsep "Cantik" Bentukan Media

Media jelas punya pengaruh yang luar biasa besar dalam membentuk persepsi "cantik ideal". Banyak iklan yang menunjukkan bahwa seolah-olah kulit putih adalah solusi dari segala problem yang ada.

---

Imho...
"Putih" Indonesia berbeda.

Warna kulit saya light medium dengan undertone yang ngga jelas warm atau olive (cek pergelangan tangan ada pembuluh darah hijau dan biru). Kulit saya tidak seputih cewe-cewe Asia Timur, tapi buat orang Indonesia kebanyakan masih masuk kategori "putih" :/

Kadang di email juga suka ngga nyambung dengan reader hehe, saya kira putih yang dimaksud itu ala Kaukasian, tapi yang mereka maksud itu ya.. hmm... cerah (not literally "white"). Dari situ saya menyadari kalau kata "kulit putih" mulai mengalami pergeseran makna. Ngga sedangkal seperti apa yang saya pahami sebelumnya.

Baca juga : Kulit Putih = Cantik?

"Kulit putih" di Indonesia tidak selalu berarti putih porselen. Tapi bisa juga berarti kulit yang cerah, sehat, atau bersih. Lain halnya di negara-negara Asia Timur, kulit putih idealnya ya seperti Fan Bingbing.

Perlu ngga sih pake produk Pemutih?

Produk pemutih biasa (whitening, lightening, brightening) hanya bisa mencerakan sementok-mentoknya seperti warna lengan atas bagian dalam kulit kita (area yang tidak terekspos sinar matahari/warna alami kulit). Jadi, jangan mudah percaya testimoni yang menunjukkan perubahan warna kulit yang drastis secara instan.

Saya sendiri memerlukan produk "pemutih" untuk maintain kulit, supaya warnanya rata dan tidak mudah kusam. Belum lagi kalo ada blemishes ^^; ya mau ngga mau pake pemutih (bayclin? rinso? lol) untuk memudarkan nodanya. TAPI, saya menghindari produk dengan agen pencerah saat kulit sedang bermasalah.

Intinya, menurut saya fine-fine saja memakai produk pemutih. Yang jadi masalah adalah jika obsesi "memutihkan" kulit tidak diimbangi dengan pengetahuan mengenai produk dan treatment yang aman.

Baca juga : Tren Operasi Plastik di Korea Selatan

Updated! (September 2016)

Kadang kita penasaran ya, sudah pake produk skin care dari dokter kulit atau serum hasilnya cuma cerah, tidak seglowing krim abal-abal. Sebatas pengetahuan saya, krim abal-abal (yang mengandung logam berat seperti merkuri) menggerus lapisan atas kulit. Kelihatannya jadi putih, tapi justru itu efek negatifnya.

Ada orang yang tubuhnya responsif banget dengan krim abal-abal (langsung muncul reaksi penolakan). Ada juga yang tidak, makanya pada ngerasa biasa saja, dan keukeuh bertahan. Dampak buruknya baru muncul belakangan, seperti kulit jadi menggelap (menghitam, ada juga yang abu-abu), jerawat pasir, bruntusan ngga sembuh-sembuh, dst.

Wallahu a'lam.
Semoga bermanfaat.
Thanks for reading and have a nice day :D

Susahnya Membangun Kebiasaan

Kamis, 11 Agustus 2016
Saya pengen seperti anak sehat jaman sekarang yang minum smoothies, diet mayo, pilates, dst. TAPI kenyataannya... hoaaahhh.... Susah banget untuk konsisten dan komitmen pada hal-hal yang ngga pernah kita (iya, saya haha) lakukan.

Ada sih yang bertahan sampe sekarang :p itupun mesti bangun "fondasi" dari 1,5-2 tahun sebelumnya. 


Dua tahun belakangan ini, (walau gaya hidup berantakan) saya jadi lebih errr... health conscious (bener ngga bahasa Inggrisnya? Hehe). Hal-hal yang sehat (seperti jaga makan, banyak minum, kurangin stres, dst) saya rasakan manfaatnya saat menerapkan anjuran dokter dulu (pas ngatasin alergi dan kulit yang bermasalah). Kepepet sih waktu itu, jadi mau ngga mau kudu dilakuin. Setelah sembuh, balik lagi ke kebiasaan lama *sigh -__-

Cuman ya, terasa lho bedanya saat kita jaga gaya hidup (termasuk manajemen stres dan jam tidur), banyak makan yang berserat, atau rajin olahraga. Badan lebih sehat, lebih hepi, pas pms ngga uring-uringan, kulit ngga gitu reaktif, dan.. apa yah, berasa "I do something right".

Saya pikir, "Oke, kenapa ngga diteruskan saja?" (harusnya dari dulu woy).

Akhirnya saya mulai download-download video pilates (untuk beginner tentunya), jaga makan, jaga jam tidur, dan seterusnya. Sayang sebagian besar sulit untuk dilanjutkan.

Dan kemarin, saya ketemu pic ini (credit to ig @songtripletsmeme)

Spontan langsung ngakak parah :')) Saya forward ke temen yang (katanya) pengen diet. Eh, dianya juga ternyata udah ngga minum Herb*lif* dan minyak zaitun lagii. Yaaahh :))

Jujur, saya jadi makin salut sama orang yang bener-bener komitmen dengan raw food dan vegan dietnya, atau yang telaten yoga sampe badannya jadi fit-lentur-melingker-lingker. Karena untuk memulai suatu kebiasaan (terutama mengubah gaya hidup secara total) itu butuh dedikasi yang luar biasa.

Dari pengalaman ini, saya belajar kalau bangun kebiasaan itu baiknya dimulai dengan hal-hal kecil, pelan-pelan, dikit-dikit, satu-satu. Berat memang, tapi prosesnya harus dinikmati (tsah). Saat sudah bisa konsisten, baru kemudian tambah kebiasaan baru. Kalau semuanya mau dilakukan dalam waktu bersamaan, hasilnya, tsk, failed! T.T 

Eniwei, buat yang mau bangun habit, aplikasi Goal Tracker sangat membantu. Tapi kadang remindernya terasa annoying banget kalo kita lagi males atau udah terlanjur skip sekian hari ^^;

Salam sehat 2016, lol.
Thanks for reading (artikel random inii) and have a nice day :D