Ngga Baik Bangga Diri

Selasa, 10 Mei 2016
Ada empat pria berbicara tentang amal ibadah mereka dan kesuksesan yang didapat.

Pria 1
Alhamdulillah sejak sering sholat Dhuha, rezeki menjadi lancar. Bisnis sukses. Sebentar lagi anak saya lulus SMA, rencananya akan kuliah ke luar negeri.

Pria 2
Bukan main hebat sekali. Sejak naik haji, ibadahku semakin rajin. Alhamdulillah anak juga sukses, rumah harganya miliaran, aset bertambah. Orang tua sangat bangga berkat doa saya.

Pria 3
Masyaa Allah, sungguh nikmat tak terkira. Sejak rajin puasa dan bersedekah, rezeki bagaikan sungai mengalir, tidak ada putus-putusnya. Anak baru selesai kuliah di luar negeri dan menjadi staf menteri.

Ketiga pria tersebut kemudian melirik pria ke-4 yang sejak tadi hanya terdiam. Salah satu dari mereka bertanya kepada pria ke-4.

Bagaimana dirimu kawan? Mengapa engkau diam saja?

Pria 4
Saya tidak sehebat kalian. Jangankan kesuksesan, bahkan saya tidak tahu apakah ibadah yang saya lakukan diterima Allah Subhanahu wa Ta'ala atau tidak.

Saya akan tahu ibadah diterima dan sukses setelah saya meninggal nanti. Jadi, saya merasa belum bisa menceritakan ibadah yang saya lakukan dan balasan yang Allah berikan kepada saya.

-----------

Jangan bersandar kepada amal

Sikap bersandar kepada amal secara berlebih melahirkan kepuasan, kebanggaan, dan akhlak buruk kepada Allah Ta'ala.

Orang yang melakukan amal ibadah tidak tahu apakah amalnya diterima atau tidak.

Kita tidak tahu betapa besar dosa dan maksiat kita, juga tidak tahu apakah amal kita bernilai keikhlasan atau tidak. Oleh karena itu, kita dianjurkan untuk meminta rahmat Allah, memohon agar amal ibadah diterima, dan selalu beristighfar.


Artikel #edisijelangRamadhan kali ini dikutip dari akun @indadari. Jangan lupa untuk follow instagramnya ya untuk dapat daily reminder yang bermanfaat ^^

#notetomyself.
Thanks for reading and have a nice day.

Blog yang Sempurna?


Dulu, lingkar readership blog Hai Hanitis masih sangat kecil. Jadi, penyampaiannya pun suka-suka. Ejaan tidak sesuai EYD, alur penuturan lompat-lompat, dan istilah yang digunakan hanya dipahami oleh saya sendiri. *hmm... kayaknya masih sampai sekarang, lol.

Saya pun membenahi artikel-artikel lama di blog Hai Hanitis. Dari situ, saya sadar bahwa meningkatkan kualitas blog tidak dapat dipaksakan. Berkembangnya blog benar-benar proses yang alami. Terjadi dengan sendirinya jika kita konsisten posting.

Kadang kita silau dengan kesuksesan blogger lain. Seolah-olah blog harus "sempurna" dulu jika ingin mengundang banyak pengunjung. Lupa bahwa sebagian besar blog populer juga diawali dengan artikel yang biasa-biasa saja, foto yang kurang jelas, dan sepi pengunjung.

Tips dan tutorial blogging yang beredar di internet pada dasarnya membantu konten dan tampilan blog kita menjadi lebih baik dari sebelumnya. Bukan mendikte agar blog kita jadi sempurna.

Lagipula penilaian tentang blog itu subjektif sekali. Blog yang menurut saya bagus, menurut orang lain biasa saja. Begitu pula sebaliknya.

Akhir kata...
Blog yang populer bukanlah blog yang sempurna, melainkan blog yang menarik untuk dibaca. Entah karena kontennya informatif, kepribadian bloggernya menarik, gaya menulisnya mengalir, selera humornya renyah, tulisannya menyentuh, dan sebagainya.

Ngomong-ngomong, foto di bawah ini bagus jadi penyemangat :D

beautyholicsanonymous.com

Salam super.
Thanks for reading and have a nice day.