Memanfaatkan Rasa Iri Untuk Pengembangan Diri

Selasa, 13 Desember 2016
Iri hati adalah perasaan yang bisa muncul saat membandingkan hidup kita dengan orang lain. Perasaan ini berbahaya, jika kita meyakini bahwa orang tersebut tidak layak bahagia dan berharap hal-hal tertentu hilang darinya.

Rasa iri adalah proyeksi dari insecurity. Dengan kata lain, ini bukan tentang apa yang dimiliki orang lain, tapi tentang masalah yang ada pada diri kita sendiri.

Meski demikian, kita bisa menyikapi rasa iri dengan cara yang lebih baik, yaitu dimanfaatkan sebagai reminder untuk memperbaiki diri.


Bagaimana mendeteksi penyakit iri?

Iri membuat kita "susah saat orang lain senang dan senang saat orang lain ditimpa kemalangan". Kita jadi sulit mengapresiasi ide, kreativitas, ambisi, kecerdasan, keberhasilan, dan keunggulan orang lain.

Orang terdekat pun sebenarnya bisa mengamati saat kita iri. Misalnya saja kita jadi alergi jika membahas kebaikan seseorang dan cenderung meredupkan "lilin" orang lain.

Ketika ada yang bertanya, "Si A orangnya gimana?", coba cek deh respon kita. Jika seperti ini... "Baik sih orangnya, TAPI..." Itu sudah cukup jadi warning. Karena kalau orangnya beneran baik, sebut saja semua kebaikannya yang kita ketahui. 

Penyebab dan dampaknya

Ketidakpuasan terhadap diri sendiri merupakan penyebab utama iri hati. Ketidakpuasan tersebut membuat kita rendah diri dan silau dengan kelebihan orang lain.

Iri hati adalah perasaan yang manusiawi. Akan tetapi jika dibiarkan, perasaan itu akan menggerogoti hati dengan kebencian yang tidak beralasan, menganggu pikiran, dan menghabiskan energi.

Rasa iri juga berpotensi untuk membuat kita menyalahkan diri sendiri, orang lain, dan situasi. Ujung-ujungnya kita beranggapan bahwa hidup tidak adil. Padahal keadilan itu subjektif sekali.

---

What should we do?

#1 Akui dan terima

Iri adalah cerminan dari cela, kelemahan, kekurangan yang tidak kita akui dan tutup-tutupi. Ibarat reminder mengenai kesuksesan yang tidak dapat kita raih, pengalaman yang tidak kita alami, hubungan yang tidak kita miliki, dst.

Mengatasi rasa iri dimulai dengan pengakuan dan penerimaan. Latih diri kita untuk jujur mengakui bahwa kita iri. Ya memang begitu, mau gimana lagi. Semakin disangkal, perasaan negatif justru semakin kuat dan intens.

Awalnya sulit, karena yang namanya pemulihan memang menimbulkan perasaan tidak nyaman. Kemudian sadari bahwa rasa iri memiliki pesan yang penting untuk kita. 

#2 Identifikasi

Kadang apa yang kita inginkan itu terbalut oleh kemasan lain [1]. (Contoh) mungkin kita tidak iri dengan kecantikan seseorang, tapi kita kurang merasa diperhatikan dan ingin dipuji.

Jadi, tanyakan pada diri sendiri, apa yang sebenarnya membuat kita iri?

Popularitas atau keinginan untuk diistimewakan dan dianggap special?
Mobil atau kemampuan membeli barang mewah?
Status sosial atau keinginan untuk dihormati?
Pekerjaan dan jabatan bergengsi atau kesempatan untuk aktualisasi diri?
Prestasi atau pengakuan dari orang lain?



#3 Eksplorasi

Setelah mengetahui hal yang membuat kita iri, rasakan sensasi ketidaknyamanan sepenuhnya [2]. Ketidaknyamanan akan terasa lebih ringan jika diekspresikan.

Kalau bisa, eksplorasi rasa iri dituliskan di jurnal (buku harian), bicara depan cermin, disampaikan ke orang yang bersangkutan (jika akrab dan memungkinkan), atau curhat ke orang yang bisa kita percaya.

Gali pesan melalui journaling...

Tulis kita ingin menjadi orang yang seperti apa, kesuksesan seperti apa yang ingin kita raih, kebahagiaan seperti apa yang kita inginkan, apa hal-hal yang tidak bisa kita miliki tapi dapat diupayakan.

Dari situ kita list lagi, apa saja yang bisa dilakukan untuk mencapai goal tersebut dan apa saja halangannya. Apa karena kita kurang pintar atau kurang terampil. Apakah memang ada keterbatasan atau malah kita yang menahan diri sendiri untuk berkembang.

Penting!

(1) Pelajari kelebihan dan kekurangan yang kita miliki. Setiap orang punya kepribadian dan kecenderungan yang berbeda. Cari tahu peluang apa yang bisa kita kembangkan dan bagaimana mengatasi kelemahan dengan cara yang tepat.

(2) Buat target-target yang realistis dan progresnya dapat diukur. Misalnya dengan detail rencana perbaikan diri, menulis bagan Present Me vs Future Me (diri ideal yang ingin kita usahakan 1-2 tahun yang akan datang), membuat future map atau vision board. Dan berusaha komit untuk menjalaninya.

(3) Ubah yang bisa diusahakan, terima yang tidak bisa kita ubah. Kenyataan bahwa hal tersebut bisa dicapai orang lain, kemungkinan juga bisa kita raih. Tapi yang perlu disadari, ada hal-hal yang terjadi di luar kendali kita.

Baca juga : Kintsugi : Berdamai dengan Pengalaman

(4) Lawan dorongan untuk membandingkan diri dengan orang lain.

(5) Batasi penggunaan social media.


#4 Berdoa

Ada salah satu sahabat radhiyallahu 'anhu yang secara zahir amal ibadahnya biasa saja, tapi Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam menyebutnya sebagai penghuni surga.

Ternyata, setiap malam dia berdoa, "Yaa Allah hilangkan rasa iri terhadap nikmat yang melekat pada orang lain dalam hati saya dan saya memaafkan kesalahan yang pernah dilakukan orang lain ke saya." Boleh tuh dipraktekin :D

Baca juga : Bahaya Hasad

#5 Sending Love

Saya meminjam istilahnya mba Irma Rahayu dari buku Emotional Healing Therapy. Islam mengajarkan cara untuk menyembuhkan iri hati, yaitu dengan banyak-banyak mendoakan kebaikan pada orang yang kita iri.

Doakan agar orang tersebut bertambah nikmatnya dan nikmat tersebut diberkahi. Kan ada tuh nikmat yang ngga berkah, misal kasur empuk, tapi tidurnya ngga nyenyak. Makanan mahal, tapi nelennya ngga enak atau malah ngga mengenyangkan.

Berat? Ya memang harus dilawan. Cara ini bisa menetralisir dan menyembuhkan penyakit hati tersebut.

Lesson Learned

#1 Fokus memperbaiki diri

Kita tidak akan mudah iri, jika kita sibuk memperbaiki diri.

Fokuslah dengan apa yang sedang kita kejar dan miliki. Terlebih memperbaiki diri juga bukan sesuatu yang instan, tapi butuh waktu.

Dengan demikian, tidak akan ada ruang di hati kita untuk merasa iri pada orang lain.

#2 Sulitnya bersyukur

Kebersyukuran adalah hal yang mudah diucap namun sulit dipraktekkan. Apalagi saat kita sedang berada di masa-masa sulit.

Banyak sekali nikmat yang luput disyukuri hanya karena kita sibuk menghitung nikmat yang dimiliki orang lain. Padahal tiap orang diberkati dengan cara yang berbeda-beda.

Untuk melatih kebersyukuran, gratitude journal yang paling sering direkomendasikan. Caranya dengan menulis 5 hal yang membuat kita bersyukur di setiap harinya.

Setelah catatannya terkumpul (mis. sekitar 1-2 bulan), coba deh baca ulang :D bisa bikin senyum-senyum sendiri. Mood booster bangetlah pokoknya.


#3 Setiap orang punya cerita

Kita bisa saja iri dengan kekayaan, mobil mewah, rumah besar yang dimiliki orang lain. Tapi anehnya, kita tidak iri dengan pengorbanan, masa-masa penuh tekanan, dan waktu yang dia habiskan untuk mencapai semua itu :D

Sekarang banyak kisah-kisah inspiratif mengenai kesuksesan yang bisa kita simak. Di antaranya tentang pengalaman orang-orang yang bangkit dari keterpurukan. Secara tidak langsung, kita belajar menempatkan diri dari sudut pandang orang tersebut.

#4 Social media bisa jadi ladang hasad

Social media membuat kita mudah mengamati hidup dan pencapaian orang lain. Akhirnya kita malah menyandingkan hidup orang lain sebagai parameter untuk mengkritisi kekurangan dan kegagalan dalam hidup kita.

Setiap orang cenderung menampilkan sisi terbaik dari dirinya di social media. Misalnya dengan posting momen-momen bahagia, hal-hal yang menarik, kutipan yang menginspirasi, dan lainnya.

TAPI itu bukan berarti dia ingin orang lain mengira hidupnya sempurna. Kita tidak melihat gambaran yang lebih besar dari hidup seseorang hanya berdasarkan postingannya di social media.

#5 Apa yang sebenarnya terjadi tidak seperti yang terlihat

Satu waktu saya mendengar ada orang yang roman-romannya iri dengan pencapaian teman saya. Saya cuma senyum-senyum saja, karena mereka tidak tahu seperti apa hidup dia yang sebenarnya.

Mungkin karena pembawaannya tenang dan kalau ngumpul kelihatannya ceria, jadi orang-orang mengira hidupnya lancar-lancar saja.

Poin ini seperti fenomena gunung es.

Kesan pertama, kita hanya melihat bagian kecil dari orang tersebut [3]. Semakin sering berinteraksi, semakin lama kenal, kita pun jadi sadar bahwa hidup masing-masing orang ada sisi positif dan negatifnya.

Banyak yang masalahnya lebih berat, hanya saja mereka bisa kontrol diri untuk tidak mengeluh.


#6 Hidup di dunia itu sebentar

Hidup di dunia ini hanya sementara, termasuk apa-apa yang kita miliki.

Tidak ada yang kekal. Kemewahan hanya bisa dinikmati sementara, yang cantik bakal keriput, yang cerdas akan pikun, mobil dan hape yang dulunya ngetren lama-lama out of date juga.

Jangan menilai hal-hal yang sifatnya duniawi secara berlebihan, karena yang konstan dalam hidup ini adalah perubahan [4].

---

Akhir kata

Waspadalah saat kita merasa lebih pantas untuk mendapat apa yang diperoleh dan dimiliki orang lain.

Jangan pula menjadikan hidup orang lain sebagai tolok ukur keberhargaan hidup yang kita tempuh. Ingat-ingat setiap orang punya porsi rezeki dan alur kisah yang berbeda.

Selain itu, saat kita fokus memperbaiki dan meningkatkan kualitas diri, akan lebih mudah bagi kita untuk melalui naik turunnya kehidupan, tanpa sibuk "menoleh ke kanan dan ke kiri" :D

Baca juga : Lucu ya... Aku Iri sama Kamu, Kamu Iri sama Aku.

Wallahu a'lam.
Semoga bermanfaat.
Thanks for reading and have a nice day.
4 komentar on "Memanfaatkan Rasa Iri Untuk Pengembangan Diri"
  1. I love journaling dan berusaha sesering mungkin melakukannya hani :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa Nin :D journaling bagus buat personal growth hehe.

      Hapus
  2. hai hani

    Thx for sharing yaa ❤

    BalasHapus

Selain melalui kotak komentar, bisa juga kirim email ke haihanitisblog@gmail.com. Also, please kindly check "Frequently Asked Questions" (FAQ tab on menu bar) before asking. Thank you! ^^