13 Pelajaran Pribadi dari Ramadhan 1437 H / 2016

Kalau keluarga dan teman-teman saya baca artikel ini mungkin bakal nyaut dari jauh: HALAH! (wkwkwk, you know me-lah... ^^;). Yaa memang karena ini pembelajaran pribadi. Saya share mumpung setannya masih dibelenggu hehehe #benerin mukenah. Mudah-mudahan bermanfaat juga buat yang lain.

Konten artikel ini...
(Klik untuk langsung membaca bagian spesifik)

#1 Miliki Hijab Syar'i seperlunya
#2 Cara menilai diri sendiri
#3 Menyikapi pujian dan apresiasi
#4 Menundukkan pandangan
#5 Jaga lisan dan tulisan

#6 Ehm. Gossip T.T
#7 Bahaya menyakiti dan menghina orang lain
#8 Kurang ilmu
#9 Ramadhan dan Al Quran
#10 Fokus membaca atau menghafal?

#11 "Urus saja dirimu sendiri."
#12 Orang yang memberi nasihat tidaklah ma'shum
#13 Kebiasaan buruk yang kembali selepas Ramadhan


#1 Miliki Hijab Syar'i seperlunya.

Berikut reminder yang mengena bagi saya dari @gerai_ummuraihanah (via instagram).

Hijabnya memang syar'i, tapi mahalnya ngga ketulungan. Wanita muslimah pun menabung sedikit-sedikit untuk beli hijab syar'i dan melupakan tabungan ke tanah suci. Lupa menabung untuk qurban, bahkan mudah menabung untuk beli baju baru daripada keluar untuk sedekah.

Ketika hijab syar'i yang baru dibeli ada sedikit cacatnya, pikirannya resah penuh kecewa. Syaitan telah membuatnya lupa dengan cacat sholatnya, cacat sedekahnya, dan cacat bacaan Quran. Jika hijab syar'i yang dimilikinya memiliki keindahan sempurna, ia tidak siap menyedekahkannya. 

Hatinya telah menikah dengan dunia dan menjauh dari Rabb-Nya.

Jika sudah demikian, masihkah punya keinginan mengoleksinya?
Miliki hijab syar'i seperlunya. Sederhanakanlah penampilan.



#2 Cara menilai diri sendiri.

Doa yang kita panjatkan kepada Allah dapat menceritakan karakter dan prioritas kita. Idealnya, 2/3 dari doa muslim ditujukan untuk kehidupan di akhirat. Kebaikan dunia di dalam doa yang kita minta pun mesti diarahkan untuk kebaikan akhirat, yaitu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang halal, dan amal yang diterima.

Lengkapnya bisa tonton ceramah Shaykh Omar Suleiman : Guidance from Surah Yusuf - Singapore 2015.


Baca juga : Self Check : Deteksi Ego yang Bermasalah & Solusinya

#3 Menyikapi pujian dan apresiasi.

Sejatinya, pujian itu memupuk ego (bibit sombong dan bangga diri) jika kita salah menyikapinya. Kalau ada yang memuji, segera tujukan pujian itu ke Allah dengan mengucapkan Masya Allah (inilah kehendak Allah) dan/atau Tabarakallah (Allah yang memberkahi, cmiiw). Karena pada hakikatnya segala puji hanya milik Allah (Alhamdulillah).

Berikut doa Abu Bakar radhiyallahu anhu saat dipuji...

"Ya Allah, Engkau lebih mengetahui keadaan diriku daripada diriku sendiri dan aku lebih mengetahui keadaan diriku daripada mereka yang memujiku. Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku, dan janganlah menyiksaku dengan perkataan mereka." (Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 4: 228, no.4876. Lihat Jaami’ul Ahadits, Jalaluddin As Suyuthi, 25: 145, Asy Syamilah)

Baca juga : Rumaysho.com : Doa Ketika Dipuji Orang Lain

#4 Menundukkan pandangan.

Yang saya maksud bukan hanya menundukkan pandangan dari Song Joongki oppa, tapi juga dari kesalahan dan aib orang lain. Karena hal yang lebih mudah dibanding membalikkan telapak tangan adalah nyari kesalahan orang, lol ^^;

Mungkin ada yang salah dalam diri kita (oke, terutama saya) jika lebih mudah melihat kesalahan dan kekurangan orang lain dibanding kebaikan dan kelebihannya. Sudut pandang kita ya mencerminkan mental state kita sendiri. Jadi, hati-hati... Bisa jadi, itu hanya proyeksi dari hal-hal yang membuat kita (iya, saya) insecure.

Lagipula, menemukan aib dan kesalahan orang lain bukan prestasi (konteksnya bukan tindak kriminal ya ^^;), karena manusia memang ladangnya salah.

#5 Jaga lisan dan tulisan.

Menurut Ustadz Nouman Ali Khan, penggunaan kata-kata kotor dan kasar bukan hanya karena kebiasaan, tapi juga indikasi masalah spiritual.

When someone isn’t smart enough to express their frustration, they use dirty words. Those are words that describe a lack of intelligence. Smart people don’t use those kind of dirty words, because they find it an insult to their intelligence. Nouman Ali Khan.


Imam Nawawi berkata di dalam Al-Adzkar: ”Ketahuilah bahwasanya ghibah itu sebagaimana diharamkan bagi orang yang mengghibahi, diharamkan juga bagi orang yang mendengarkan dan menyetujuinya. Maka wajib bagi siapa saja yang mendengar seseorang mulai mengghibahi (saudaranya yang lain) untuk melarang orang itu, kalau dia tidak takut kepada mudhorot yang jelas. Dan jika dia takut kepada orang yang sedang mengghibah, maka wajib baginya untuk mengingkari dengan hati dan meninggalkan majelis tempat ghibah tersebut jika hal itu memungkinkan.

Jika dia mampu untuk mengingkari dengan lisannya atau dengan memotong pembicaraan ghibah tadi dengan pembicaraan yang lain, maka wajib baginya untuk melakukannya. Jika dia tidak melakukannya berarti dia telah bermaksiat.

Jika dia berkata dengan lisannya: ”Diamlah”, namun hatinya ingin pembicaraan ghibah tersebut dilanjutkan, maka hal itu adalah kemunafikan yang tidak bisa membebaskan dia dari dosa. Dia harus membenci ghibah tersebut dengan hatinya (agar bisa bebas dari dosa-pent).


Yang mendengarkan harus mengingkari dengan lisan atau hatinya, bukan malah nimbrung dan nambah-nambahin. Kalau bisa, potong atau tinggalkan pembicaraan T.T Baiknya, kita menceritakan kebaikan dan banyak-banyak memohonkan ampun untuk orang yang pernah kita ghibahi.

Lebih lanjut baca juga di situs Al Manhaj...
Bahaya menggunjing
Hukum mendengarkan ghibah, bertaubat dari ghibah, dan ghibah yang dibolehkan

Talking badly about someone else while they aren't there to defend themselves says more about you than the person you're talking about. Unknown.

#7 Bahaya menyakiti dan menghina orang lain.

Kita bisa mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan (sindiran, sarkasme, pertanyaan yang tidak perlu dilontarkan, dst), kemudian lepas tangan.

"Aku ngga ngomong apa-apa kok, dia kali yang terlalu sensitif."
"Lah aku cuma nanya doang..."

Terlebih, menyakiti dan menghina orang lain lebih sering diekspresikan melalui raut wajah dan gestur. Iya, kita bisa mengelabui manusia, tapi kita tidak akan bisa mengelabui Allah :)

Allah memberitahu kita, "Jangan mengolok-olok orang lain, bisa jadi dia lebih baik daripada kamu." (ref: QS. Al Hujurat, ayat 11).

Pfftt... Lebih baik dari aku?
Lihat tampangnya.
Lihat bajunya.
Lihat rumahnya.
Lihat pekerjaannya.
Kayak gitu lebih baik dari aku?

Fun Fact! ^^;
Tidak ada dari itu semua yang membuat kita lebih baik daripada orang lain. Karena yang membuat manusia lebih baik dari manusia lainnya adalah taqwa. Dan hanya Allah yang mengetahui siapa di antara kita yang paling bertaqwa.

Lebih lanjut nonton di sini...
Do Not Insult People/Jangan Menghina Orang Lain oleh Ustadz Nouman Ali Khan.


Yang penting untuk diperhatikan, jangan sampai kita menyakiti dan merendahkan kekasihNya Allah 'Azza wa Jalla (orang-orang shalih yang lebih dikasihi Allah dibanding orang kebanyakan, cmiiw). Apalagi kita tidak tahu dengan pasti siapa saja kekasih-kekasih tersebut. FYI, kalau kita menyakiti mereka, otomatis kita jadi musuhNya Allah. Jadi, hati-hati. Amannya, baik-baik sama semua orang T.T #notetomyself.

Ini kutipan dari Ustadz Salim A. Fillah (lengkapnya baca di laman Facebok beliau) yang bagus jadi renungan. Tentang Kekasih Tersembunyi...

Orang-orang yang menetapi kewajiban kepada Allah dan menjauhi laranganNya sungguh istimewa. Merekalah orang bertaqwa, merekalah kekasihNya. Tapi kekasih Allah pun berderajat-derajat tingkatannya. Dan termasuk tingkatan yang tertinggi di antara mereka, seperti kata Sayyidina ‘Umar, adalah yang tak mudah dikenali oleh mata manusia.

Merekalah Atqiya’ul Akhfiya’, orang-orang yang bertaqwa lagi tersembunyi. Mereka terkenal di langit meski diabaikan di bumi. Mereka dirindukan surga meski dikucilkan dunia.

Inilah catatan penting kita, bahwa orang-orang shalih yang menjadi kekasih Allah sama sekali bukanlah orang yang menonjolkan diri. Mungkin memang ada di antara mereka yang menonjol, tapi bukan sebab keinginan dirinya. Dan sungguh hati mereka juga tak pernah menyukai keterkenalan itu. Allah hanya hendak membebani mereka dengan ujian yang lebih berat berupa kemasyhuran.

“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla mencintai hamba-hamba yang diciptakanNya”, begitu kalimat Nabi ﷺ dalam riwayat Muslim,

“Yang terpilih, yang suka menyembunyikan ‘amal, yang bajik, yang kusut rambutnya, yang berdebu mukanya, dan yang kelaparan perutnya. Jika mereka meminta izin kepada Amir untuk menghadap, maka mereka tak diizinkan. Jika memberi anjuran, maka kata-kata mereka tak dianggap. Jika melamar, maka mereka tidak dinikahkan. Jika tak hadir, maka mereka tak dicari. Jika muncul, kedatangan mereka tak disambut. Jika sakit, mereka tidak dijenguk. Jika mati, mereka tidak dipersaksikan.”

Sungguh kita tertuntut untuk tak meremehkan seorangpun di antara hamba Allah yang shalih seisi bumi, sebab boleh jadi mereka adalah para kekasihNya yang jauh lebih terkasih dibanding kita. 

Maka mari meniti jalan zuhud seperti yang diungkap cirinya oleh Hasan Al Bashri. “Sang zahid adalah dia yang jika berjumpa orang lain selalu berkata pada dirinya, ‘Beliau lebih utama daripada aku.’”

#8 Kurang ilmu.

Alhamdulillah, jaman sekarang akses belajar sudah banyak. Jadi, ngga ada alasan buat ngga menyimak kajian. Penting banget, karena kadang ada ayat yang dicomot dan ditafsirkan sembarangan (bahkan oleh muslim sendiri ^^;). Padahal kita harus paham ayat tersebut sejarah turunnya kenapa dan konteksnya gimana. #notetomyself

Saya suka mengikuti ceramahnya Ustadz Nouman Ali Khan, Shaykh Omar Suleiman, Mufti Ismail Menk, Ustadz Bilal Assad, dan ustadz lain yang cuma saya tahu suaranya (karena di video tidak ditampilkan sosoknya). Kalau dari Indonesia, saya mantengin channelnya Ustadz Khalid Basalamah.

Ngomong-ngomong, saya lebih sering dengerin ustadz luar, karena awal mula tertarik nonton itu ya berkat streaming di youtube ^^; Kajiannya mudah dipahami orang awam seperti saya. Penyampaiannya juga adem kayak ubin masjid, karena ngga pake teriak-teriak hehe.

Baca juga : Ramadhan 1436 H (2015) : Channel Youtube, Akun Instagram, & Situs Favorit


Ramadhan menjadi spesial karena Al Quran turun di dalamnya. Jadi, sangat dianjurkan untuk membaca dan menghafal ayat-ayat Al Quran selama Ramadhan. Saat kita menghafal, kan ayatnya dibaca berulang... Jadi, pahala bacanya dapet, pas lepas Ramadhan hapalannya juga nambah ^^;


Lebih baik menyeimbangkan keduanya, karena sunnahnya adalah dibaca-dipahami-dihafal #notetomyself. Lagipula, menghafal ayat-ayat Quran juga memuliakan orangtua kita dengan mahkkota kelak di akhirat. Jadi, sebisa mungkin tambah hafalan kita walau hanya beberapa ayat.

Ps.
Jangan pikir saya jago ngaji dan banyak hafalannya, tajwid aja masih celamitan. Ngga ada apa-apanya dibanding adek-adek hafidz yang di tipi-tipi itu :|

Berikut reminder tentang Al Quran dari adek kecil...

Ada tiga hal yang mesti tertanam dalam pikiranmu.

Kita tidak akan selamat dari kematian.
Tidak pernah ada istirahat di dunia.
Tidak ada yang selamat dari ucapan (negatif) orang-orang.

Seorang shalih berkata, "Jika dunia terasa sempit di hadapanku, aku pun membaca beberapa lembar Al Quran. Lalu, tak sampai beberapa hari, Allah membukakan untukku apa yang tidak aku sangka-sangka, berupa rezeki, ilmu, dan pemahaman."

"Thohaa. Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah." (QS. Thohaa, ayat 1-2). Al Quran merupakan jalan kebahagiaan dan menjauhkan kita dari kesusahan. "...dan barangsiapa berpaling dari peringatanKu, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit." (QS. Thohaa, ayat 124)

Di antara penyebab utama kesulitan, kesempitan, serta kesedihan adalah jauh dari Al Quran dan jarang mengingatNya.

Yaa Allah, jadikanlah Al Quran penyejuk hati kami, cahaya yang menyinari dada kami, pelipur duka kami, penghapus kesedihan kami.

Orang yang hidup bersama Al Quran (dengan membaca dan menghafalnya) mendapat kekhususan yang indah. Setiap kali digoda dunia, Quran menarik mereka dengan lembut, lalu mereka pun kembali bertaubat.

Setiap saat kita berada dalam ujian. Mungkin sudah saatnya lembaranmu ditarik dan terhentilah waktu yang telah Allah tentukan untukmu. Jadi, perhatikanlah dengan cermat lembaranmu, tinggalkan lembaran orang lain.

Isilah kuburmu dengan tiga perabotan terindah, yaitu sholat, sedekah, Al Quran.
Segerakan amal baik sebelum Anda meninggal.


Lengkapnya bisa tonton di sini...



Sering banget kita ketemu komen "Ngga usah nyinyir deh, urusan agama itu masing-masing," di social media. Yang jadi admin akun dakwah (via instagram) juga serba salah ya, nasihatin dan menyampaikan ilmu dengan santun sekalipun malah diserang sana-sini ^^; Di sisi lain, menyembunyikan ilmu juga masuk dosa besar, cmiiw.

Alergi nasihat, apalagi sampai membenci orang yang menasihati termasuk penyakit hati. Ini renungan yang bagus buat kita yang keras dan sulit menerima nasihat...

"Dan sesungguhnya termasuk dosa yang paling besar di sisi Allah adalah saat seseorang berkata pada rekannya (mengingatkan), "Bertaqwalah kepada Allah", lalu dijawab: "Urus saja dirimu sendiri".
[Diriwayatkan oleh Ath-Thabaraaniy, Al-Baihaqiy, Hanaad bin As-Sariy dalam Az-Zuhd, dll. Hadits itu dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albaaniy dalam Silsilah Ash-Shahiihah 6/188.]

dari Ustadz Dony Arif (via muslim.or.id)


"Diri sendiri aja belum bener, mau sok-sok nasehatin hidup orang!"

Ya namanya juga manusia. Kalau tunggu sempurna dulu, ngga bakal ada yang saling mengingatkan dan menasihati. Takutnya, kita membiarkan pergeseran nilai di masyarakat. Yang pada hakikatnya salah dan tidak patut, malah jadi hal yang wajar.

Mohon doanya juga supaya hati saya dilembutkan dan dilapangkan untuk menerima nasihat ^^;

Baca juga : Orang yang memberi nasihat tidaklah ma'shum

Orang bijak kalau dinasihati akan memperbaiki diri, sedang orang jahil (bodoh) biasanya cenderung mendebat dan melakukan pembenaran, bukan mencari kebenaran. Dan biasanya orang jahil menganggap yang bicara paling akhir itulah pemenangnya. Padahal semua orang meninggalkannya karena tak tahan dengan kebodohannya. Kutipan Sunnah.


Ini yang menjadi kekhawatiran banyak orang. Saat puasa bisa mengendalikan temperamen, lepas Ramadhan balik meledak-ledak lagi. Yang rajin banget tarawih, lepas Ramadhan kembali menunda-nunda sholat. Yang khatam baca Quran, lepas Ramadhan Al Qurannya berdebu lagi.

Allah 'Azza wa Jalla mengajarkan kita doa untuk menjaga hati agar tetap lurus, yaitu...

"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami pada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisiMu. Sungguh Engkau Maha Pemberi." (QS. Ali Imran, ayat 8)


Rangkumannya bisa baca di sini...

Akhir kata...

Sekian artikel #edisiRamadhan kali ini.
Mohon maaf jika ada penyampaian yang kurang berkenan.
Semoga amal ibadah kita selama bulan Ramadhan diterima ^^v


Semoga bermanfaat.
Thanks for reading and have a nice day.

Blogging since 2011 // Twenty-something, but not quite grown up // Over-thinker // Acne-proner // Minguk admirer // Addicted to mineral water // Contact : haihanitisblog@gmail.com

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

2 komentar

Write komentar
5 Juli 2016 04.34 delete

reminder banget buat akuuu mbak hanii :((
hemmmmm

Reply
avatar

Bisa juga kirim email ke haihanitisblog@gmail.com atau direct message instagram @haihanitis. EmoticonEmoticon