Self Check : Deteksi Ego yang Bermasalah & Solusinya

Sebelumnya, saya membahas tentang keinginan untuk pamer di social media sebagai sarana pemuas ego. Artikel ini adalah lanjutan dari postingan tersebut. Terinspirasi dari beberapa kajiannya Nouman Ali Khan.

Kenapa judulnya self check?
Masing-masing orang memiliki kapasitas untuk mengevaluasi niat dan maksud di balik perilakunya sendiri. Kurang tepat jika kita menghakimi satu sama lain. Karena kita hanya melihat potongan perilaku, bukan gambaran penuh yang melatarbelakangi perilaku tersebut. #ngomongsamakaca


Bagi sebagian orang, pujian dan penilaian baik membuatnya makin delusional.

"Oh, banyak yang memujiku. Berarti aku memang terpuji."

Sikap tersebut akhirnya memupuk keyakinan bahwa dirinya selalu benar. Karena itu dia seringkali menjatuhkan atau meremehkan orang yang menurutnya tidak lebih baik dibanding dirinya.

Banyak hal yang dapat menjadi sarana untuk menunjukkan superioritas. Di antaranya adalah ilmu, kekayaan, tampilan fisik, status sosial, latar belakang keluarga, bahkan agama.

Agama? Contohnya?

Salah satunya adalah fenomena berhijrah. Saat mengalami pengalaman spiritual, dalam diri sebagian orang muncul keinginan yang kuat untuk menunjukkan bahwa aku lebih baik dibanding orang yang belum berhijrah. Pengetahuan agama dan amal ibadahku lebih banyak dibanding orang lain.

Ironis, karena agama turun untuk membuat kita menjadi pribadi yang rendah hati, namun malah digunakan untuk menyombongkan diri.

Ada pula oknum terpelajar dan berpendidikan tinggi, namun senang membuat orang lain merasa bodoh. Padahal orang yang beneran berilmu itu seperti padi. Semakin berisi, semakin merunduk.

***

Tanda-tanda ego bermasalah...

1 | Arogan
Ego yang bermasalah bermula dari penilaian diri yang terlalu tinggi. Oleh karenanya, timbul kecenderungan untuk mengagungkan diri sendiri dan merendahkan orang lain.

2 | Sulit bertenggang rasa
Orang-orang dengan ego yang bermasalah memiliki pendirian yang kaku dan keras terhadap apa yang menurutnya benar. Tak jarang konflik terjadi karena dia frustrasi dengan orang-orang yang ada di sekitarnya.

3 | Sulit untuk introspeksi diri
...karena hanya fokus pada kelebihan dirinya.

-

Keburukan orang-orang dengan ego yang bermasalah seringkali tidak tampak karena merasuk dalam hatinya.

Ada sebagian orang yang memakai topeng dalam kehidupan sehari-hari. Tampilan luarnya sangat baik. Mereka terlihat santun, beradab, terpelajar, terhormat, dan relijius. Orang-orang yang melihat pun akan berkomentar, "Wah ini orang bener-bener deh, luar biasa banget."

Meskipun kemasannya sangat baik, ada dorongan yang kuat untuk menunjukkan kelebihan dirinya dan merendahkan orang lain secara langsung dan tidak langsung.

Aku lebih baik dari dia.
Aku yang lebih pantas melakukan itu.
Kenapa malah dia yang dipilih? Kenapa bukan aku?
Untung ada aku.
Kalau bukan karena aku, orang-orang ini ngga bisa ngapa-ngapain.
Mereka tahu apa?
Aku ngga butuh nasehat ini.
Aku udah tau apa yang mau kamu bilang.
Sok-sok nasehatin orang. Urus diri sendiri aja belum tentu bisa.

Ada masalah yang serius jika hal-hal tersebut sering terbesit dalam hati dan pikiran kita. Kenyataannya, ego yang bermasalah ini sangat halus. Mengakar dan tumbuh tanpa disadari. Saat kita memandang rendah orang lain -apapun keadaannya, itu adalah wujud kesombongan dalam hati :)

***


Tips Mendeteksi Ego yang Bermasalah

1 | Respon terhadap kritik
Cara untuk mengetahui ego yang bermasalah sangat mudah. Cek saja reaksi yang pertama kali muncul saat kita dikritik atau dikoreksi.

Jika kita merasa sangat tersinggung, sampai-sampai berpikir, "Bisa-bisanya dia ngomong kayak gitu? Memangnya dia siapa?", maka bisa dipastikan ego kita bermasalah.

Orang-orang yang dewasa secara emosional berusaha menerima dan menyaring sisi baik dari kritik yang tidak pantas sekalipun.

"Mungkin, melalui komentar yang keras ini ada sesuatu yang harus saya perhatikan. Mungkin, ada kebenaran di dalamnya walau tidak 100%. Meski kebenarannya hanya 70% atau bahkan hanya 0,5%, saya harus tetap mencermati dan menerimanya."

2 | Dorongan untuk memotong pembicaraan
...dan merasa sangat tersinggung jika pendapat dan sarannya tidak dipertimbangkan.

3 | Cenderung menyalahkan dan menjatuhkan orang lain 
Versi halus yang dapat diamati adalah saat kita menyikapi reminder atau kutipan yang jlebb...

"Harus posting ini nih, biar dia tersindir."

Ehm. Kitalah yang perlu merenungkannya dalam-dalam sebelum menyampaikan pada orang lain.

***


Solusinya

1 | Optimis
Hati yang mengeras bisa lembut kembali. Selalu ada harapan selama kita mau introspeksi. Karena seseorang tidak akan berubah jika dia merasa tidak ada yang salah dalam dirinya.

2 | Introspeksi diri
Evaluasi niat dan maksud kita. Sekecil-kecilnya seperti pemilihan kata, gestur, raut wajah, keinginan untuk melakukan indirect bragging (pamer terselubung, merendah untuk meninggi), dan seterusnya.

Bangun kesadaran dalam berperilaku. Kira-kira apa dampaknya pada orang lain dan diri sendiri.

3 | Kondisikan lingkungan menjadi lebih positif
Sadar ngga sadar, kita diracuni pesan-pesan egosentris secara terus menerus. Jadi, cermati hal-hal yang mengisi keseharian kita (film, akun social media, buku, lagu, dan lainya). Selain itu, perhatikan pula dengan siapa kita intens bergaul.

What you watch, what you read, and what you hear influence your thought and character. So choose wisely.

4 | Belajar menahan diri
Carilah jalan yang paling baik untuk berpendapat dan menasehati orang lain.

Apakah kata-kata saya justru makin membuatnya semakin keras dan defensif?
Apakah penyampaian seperti ini malah menyakiti orang lain?

Jadi, saat kita menasehati orang lain dan tidak didengarkan, jangan keburu menyalahkan orang lain. Mungkin penyampaian kita yang kurang tepat. Mungkin kita bisa mengatakannya dengan cara yang lebih baik.

5 | Belajar untuk tidak nyaman saat dipuji
Kadang kita dinilai baik, karena orang-orang hanya melihat tampilan luarnya saja.

Bagi muslim, tentunya kita familiar dengan ucapan "Alhamdulillah" saat dipuji atau melakukan kebaikan. Kalau rasa bangga mulai menyusup, tegur diri sendiri. Kata @ludinugro, "Kemana Alhamdulillah yang terucap? Bahwa segala puji hanya milik Allah."

Berbuat baiklah, tanpa merasa jadi orang yang baik.

***

Akhir kata...

Memperbaiki diri bukan proses semalam jadi. Pun ada kalanya kita bakal terpeleset lagi. Yang penting tetap semangat dan berusaha untuk mawas diri.

Eniwei, ada kisah menarik dari Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri hafidzahullah (disadur dari akun instagram husnaazm). Reminder yang bagus untuk meredam ego kita ^^

Kemarin, ketika saya berjumpa dengan Syaikh Abdurrazaq Al Abbad di kota Surabaya, beliau bercerita tentang seorang lelaki yang datang padanya dan mengabarkan ada seseorang yang menjelek-jelekkan beliau.

Subhanallah, saya kira beliau akan membela diri. Paling kurang diam termenung atau mungkin membalas.

Beliau menjawab, "Dengarlah, orang-orang yang menjelek-jelekkan saya itu sejatinya belum kenal saya."

Kemudian beliau melanjutkan perkataannya kepada penyampai berita tersebut, "Andai dia benar-benar kenal saya, niscaya kejelekan saya yang dia sebutkan akan lebih banyak. Alhamdulillah, kejelekan saya yang Allah tutupi darinya masih terlalu banyak."

Demikianlah orang yang tahu dirinya sendiri, sehingga senantiasa menerima nasehat, introspeksi diri, dan terus memohon ampunan kepada Allah atas segala kekurangan dirinya.

#notetomyself #edisijelangRamadhan ^^;
Mohon maaf jika ada penyampaian yang kurang berkenan.

Semoga bermanfaat.
Thanks for reading and have a nice day.

Blogging since 2011 // Twenty-something, but not quite grown up // Over-thinker // Acne-proner // Minguk admirer // Addicted to mineral water // Contact : haihanitisblog@gmail.com

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

16 komentar

Write komentar
13 April 2016 17.02 delete

Waaa bener kalau nggak rajin self check emang bahaya :((

Reply
avatar
13 April 2016 19.23 delete

Orang yang egonya bermasalah, kalau membaca yang sepeti ini biasanya merasa bukan dirinya yang sedang dibahas :)

Saya kenal dekat dengan orang yang egonya bermasalah. Disalah2in ... sering sekali saya alami. Bahkan saat saya sama sekali tak melakukan kesalahan. Kenyanglah pokoknya hehehe. Dan kalau ada tausiyah yang sebenarnya bisa mengena ke dirinya, dia tidak merasa itu untuk dirinya.

Yaah .. mudah2an kita tidak termasuk orang yang egonya bermasalah.

Reply
avatar
13 April 2016 19.55 delete

Haloo Erny T.T iyaa...

Reply
avatar
13 April 2016 20.13 delete

Kalo di psikologi istilahnya proyeksi, Bu :) Mekanisme pertahanan ego tsb ada untuk "melindungi" diri dari kecemasan/ketegangan. Jenis dan intensitasnya yg berbeda untuk masing-masing orang.

T.T Aamiin aamiin aamiin. Terima kasih sudah berbagi di sini Bu Mugniar ^_^

Reply
avatar
14 April 2016 05.30 delete

Kalau aku malah terlalu introspektif, jadi ujung-ujungnya malah suka menyalahkan diri sendiri, gak puas kalau gak memenuhi standar, sering penuh penyesalan, haha. Dulu lebih parah, sekarang makin dewasa kayaknya udah gak terlalu.

Itu kenapa ya? Kayaknya dari kecil begitu, itu masuk gangguan atau variasi kepribadian aja? Soalnya kadang bikin stress sendiri *malahkonsul :p

Reply
avatar
14 April 2016 11.49 delete

Dikatakan patologis kalo udh merugikan diri sendiri dan ganggu org lain juga. Misalnya introyeksi dari korban bullying yg malah menganggap dirinya dibully krn memang pantas diperlakukan seperti itu (padahal apapun alasannya, bullying itu salah) atau ada yg marah sama org lain tapi mukul-mukul dirinya sendiri.

Inner critic masih diperlukan untuk memperbaiki perilaku, tapi kalo sangat intens dan berlebihan biasanya bikin org jd ga pede, rendah diri, malu, ga berharga.

Kalo ditelusur, inner critic asalnya dari kecemasan juga. Banyak penyebabnya. Memang dimulai dari masa kecil, krn saat itu kita mulai mengenal baik buruknya dunia dari omongan orang lain. Yg paling dekat adalah org tua. Semakin sering org tua ngomong negatif, itu akan tertanam dlm diri anak (omongan negatif diadopsi, kemudian balik ngomong negatif ke diri sendiri). Bisa juga krn pernah menyaksikan orang lain atau mengalami sendiri kejadian yg ga enak. Jadi ada kecederungan untuk menghindari perilaku, konsekuensi, atau situasi tertentu yg "menakutkan" buat diri kita. Makin dewasa udh ngga terlalu karena makin kesini udah bisa menilai situasi lebih realistis.

-___- (tetiba kangen masa kuliah haha)

Reply
avatar
14 April 2016 20.00 delete

euh, bullying ya? TT

Apa jangan-jangan dimulai dari kejadian itu ya? >> korban bullying masa SD-SMP yang baru 'sembuh' setelah sekian lama (kayaknya sih 'sembuh'. Kayaknya. Lol)

Adikku juga anak psikologi, jadi suka konsul ala-ala juga sama dia haha. (Kadang jadi klien percobaan dia di kampus, :p)
Apa yg dijelasin, kurang lebih mirip dgn yg hanitis bilang. Emang ya, pengalaman buruk masa kecil bisa terbawa-bawa sampai dewasa, malah lukanya sulit hilang juga.

Beruntung aku gak ikut jadi pembully (kan katanya korban bullying cenderung mewariskan bullying jg ke orang lain. Cmiiw). Malah suka jijik dan mual (beneran mual), kalau lihat haters membully orang di socmed dengan komentar2 yg gak pantas. :(

Reply
avatar
14 April 2016 21.38 delete

Iya, sependek pengetahuanku, introyeksi jadi respon yg umum dialami korban dan penyintas bullying. Dampak jangka panjangnya mirip dengan penyintas kekerasan pada anak (psikosomatis, depresi, kecemasan, dll). Efek posttraumatic bullying (yg dialami sebagian org) di masa dewasa terlihat ketika dia mesti berinteraksi dgn figur otoritas.

Sebagian korban ada yg jd pembully, krn punya ide balas dendam dlm level yg ga wajar. Atau dengan membully, dia ngerasa punya power untuk menguatkan citra dirinya (kompensasi inferioritasnya). Komplekslah :'| kebetulan tau dikit krn skripsiku dulu ttg bullying haha.

Huum mba. Makanya deh, arus informasi sederas ini, kalo isinya diwarnai dgn bullying takutnya malah dianggap "normal" krn kitanya sudah "terbiasa". Di negara lain udah ada call center khusus bullying ^^; herannya di Indonesia malah ada yg bangga kalo udh ngebully org.

Asik doong, ikut tes-tes gitu ya? =D Aku dulu ngga ngerasa kuliah, tapi rawat jalan -___-

Reply
avatar
15 April 2016 12.30 delete

He-eh. Betul tuh, yg ada malah bangga ngebully orang. Anehh. Padahal, yg membullyku gak jadi apa-apa juga sekarang. --" (aku jahat sih, kadang kepoin orang-orang yang pernah tega banget sama gw nasibnya kayak gimana sekarang. lol).

Psikologi tuh seruu yaa. Aku sampe bilang sama adikku, ih tau gini masuk jurusan psikologi aja, biar sekalian berobatt... :D

Reply
avatar
15 April 2016 18.45 delete

Hahaha yaa kuliah jurusan apa juga pasti ada suka dukanya T.T Aku lagi suka baca buku-buku psikologi populer belakangan ini. Mba Mizha udah baca Pemulihan Jiwa? Itu recommended bgt lho :D sekarang udh sampe jilid 6. Yg jilid 1 bahasanya ringan tapi bikin adem hehe.

Reply
avatar
24 April 2016 20.02 delete

Hmm, postingan yg berbeda dari biasanya :3 me gusta!
kalo aku kebalikanya, cenderung rendah diri.. hiks. /masuk kolong/

suika-lovers.blogspot.co.id

Reply
avatar
25 April 2016 00.26 delete

^_^ iya, alhamdulillah #edisijelangRamadhan. Mungkin kedepannya juga bakal sering posting ginian, insya Allah. Semangat Anna :)

Reply
avatar
25 April 2016 10.52 delete

memperbaiki diri emang tergantung dengan diri kita masing-masing. jika kita bisa kontrol diri kita menjadi lebih baik. maka kita pun juga akan menjadi lebih baik.

Reply
avatar
16 Oktober 2016 23.36 delete

Great posting. Maaf baru baca, biar telat baca yang penting nambah2 ilmu buat introspeksi diri.

Reply
avatar
17 Oktober 2016 19.33 delete

Alhamdulillah kalo bermanfaat. Makasih kunjungannya... :)

Reply
avatar

Bisa juga kirim email ke haihanitisblog@gmail.com atau direct message instagram @haihanitis. EmoticonEmoticon