Monetisasi Blog


Beberapa waktu terakhir, monetisasi blog menjadi topik yang sensitif untuk dibahas ^^; Saking sensitifnya, aku rada maju-mundur buat posting artikel ini haha.

---

Dari pengalaman blogger-blogger lain, setidaknya perlu 3-12 bulan untuk mengamati apakah blog kita potensial menarik pembaca atau tidak. Noted ya, menarik untuk dibaca. Monetisasi (umumnya) baru dipertimbangkan belakangan ketika blog sudah punya traffic yang cukup tinggi.

Dengan kata lain, blogging bukan cara instan untuk mendapatkan uang, karena mengembangkan blog butuh waktu yang relatif lama.

Blogger-blogger senior (baik lokal maupun interlokal) sering membahas tips tentang monetisasi dan manajemen link afiliasi. Karena yang namanya tawaran kerja sama (insya Allah) memang datang seiring berkembangnya blog kita.

Monetisasi tidak hanya berkisar di iklan adsense dan paid review, tapi juga menjual jasa (mis. desain template, logo, optimasi situs, jasa pre-order, jasa tulis, jasa make up) atau produk (mis. merchandise, ebook, kosmetika).

***

Paid Review

Ngetik-ngetik doang kok dibayar?
Udah dikasih produk gratis juga.

Banyak cara untuk memonetisasi blog. Tapi sepengamatanku, paid review yang sering kena komentar miring. Seolah-olah blogger yang menarik fee itu mata duitan (meski rate-nya masih masuk akal). Berikut beberapa hal yang melatarbelakangi paid review...

1 | Traffic blog yang tinggi
Sebagaimana titik-titik yang padat lalu lintas dipasangi spanduk atau baliho, begitu pula industri periklanan memanfaatkan traffic dan popularitas figur di internet.

Saat ini internet menjadi bagian dari keseharian kita. Traffic website/weblog yang tinggi dinilai menguntungkan untuk meningkatkan penjualan produk dan jasa. Atau sekurang-kurangnya bisa bantu membangun awareness, branding, dan sounding event.

2 | Mengikat kedua belah pihak dengan kontrak yang jelas
Produk kiriman sedikit banyak memberi beban moril bagi sebagian blogger. Terutama yang asalnya dari online shop, bukan produsen.

Saat kita menyertakan link ke online shop tertentu, secara tidak langsung kita bertanggung jawab jika ke depannya ada hal-hal yang tidak diinginkan (baca: penipuan). Bisa saja kredibilitas blog kita kena imbasnya.

Jadi, selain kontak dan identitas yang jelas dari kedua belah pihak, fee tersebut juga dihitung sebagai uang jaminan.

3 | Ongkos lelah
Kita juga mesti mempertimbangkan kesibukan blogger di dunia nyata. Tidak semua blogger adalah full time blogger. Dengan adanya produk kiriman, mereka harus menyisihkan waktu khusus untuk mengulas produk di tengah kesibukan dan kepenatan mereka. Ya untuk memotret, ngedit foto, membuat draft review, dan promosi artikel di social media. Belum lagi kalau dikasih tenggat waktu/deadline oleh pihak sponsor.

Katanya hobi. Lagian gitu doang sih, ngga berat.
Sayangnya, kita ngga bisa memposisikan semua orang sama seperti kita. Ngga semua orang leluasa meluangkan waktunya untuk hobi, apalagi kalau sudah berkeluarga, hectic dengan profesi utama, dan lainnya.

4 | Jaminan konten yang berkualitas
Blogger yang pandai memotret tentunya memiliki nilai lebih. Belum lagi kalo punya keterampilan copywriting yang handal. Wuih. Wajarlah kalo narik fee :|

Selain itu, foto-foto produk sponsor juga bisa jadi katalog eksklusif untuk olshop yang bersangkutan. Secara ya, fotonya terlihat lebih estetik karena menggunakan kamera DSLR dengan lensa yang mahal.

Dih. Perhitungan banget jadi orang :\
Mending ada kesepakatan yang jelas seperti itu. Daripada mengambil foto tanpa izin, menimpali watermarknya, dan mencatut foto tersebut sebagai testimoni produk lain :(

5 | Dibayar tanpa diminta
Karena bayarannya memang sudah dianggarkan oleh pihak sponsor dan online shop.

6 | Menghindari tawaran kerja sama yang berat sebelah
Traffic blog adalah bargaining point yang kita punya. Kalau mau berhitung tentang untung-rugi, kadang nilai produk yang diterima tidak sebanding dengan nilai traffic kita. Jadi, tidak perlu sungkan untuk menolak tawaran yang merugikan.

Untuk poin ini, aku ngerasa sebagian besar blogger Indonesia tuh baik banget. Jika dihadapkan dengan tawaran yang ngga fair mikirnya, "Udahlah, niatnya emang mau bantu kok." Kalau di luar negeri, tawaran berat sebelah umumnya langsung ditolak mentah-mentah :')

7 | Biaya pengelolaan blog
Blog juga butuh ongkos pengelolaan. Misalnya untuk biaya internet, bayar domain, bayar hosting, belanja produk, dan lainnya. Di samping itu, blogger juga perlu mengantisipasi alat-alat blogging yang mengalami penyusutan seperti laptop, kamera, dan lensa.

---

Mungkin ada kekhawatiran jika paid review itu tidak jujur. Namun sepengamatanku, banyak kok blogger yang tetap objektif saat mengulas produk kiriman.

Eniwei, saat ini aku ngga narik fee untuk review produk :| Beberapa pertimbangan tersebut aku ketahui karena pernah dishare di forum-forum dan akun blacklist/curhat olshop.

Tentunya masih banyak alasan yang tidak kita ketahui, karena monetisasi adalah hal yang personal banget. Jadi, baiknya jangan terburu-buru ngejudge blogger lain ^^;

Mohon maaf jika ada penyampaian dan kesotoyan yang kurang berkenan.
Thanks for reading and have a nice day.

Blogging since 2011 // Twenty-something, but not quite grown up // Over-thinker // Acne-proner // Minguk admirer // Addicted to mineral water // Contact : haihanitisblog@gmail.com

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

16 komentar

Write komentar
21 April 2016 01.53 delete

hemmm aku baru ngeh mengapa monetisasi bisa jadi hal sensitif sih mbak
kalau aku soalnya sih ya serah yang punya blog hihi... pendapat yang kontra atau yang pro, ya silakan namanya juga manusia
beda kepala beda mikirnya :)

Reply
avatar
21 April 2016 11.03 delete

Iya Nin :D terserah pemilik blognya.

Reply
avatar
21 April 2016 13.24 delete

Halo mbak Hani. Cakep banget blognya, minimalis. Dan simple.
Iya, pada akhirnya emang balik lagi ke blogger nya.
Dibilang terlalu natre, lah emang bikin tulisan 300 kata Dan nyari potonya kaga pake waktu Dan kuota inet?!
Huahahaha.
Makasih kunjungannya ya mbak

Reply
avatar
21 April 2016 18.30 delete

Alhamdulillah ^^; iya, menulis dengan tenggat waktu juga nguras otak dan tenaga hehe. Terima kasih kunjungan baliknya juga mba Ratu.

Reply
avatar
23 April 2016 04.58 delete

Setuju tis, belum ditambah resiko kalau produk tersebut belum tentu cocok di kulit wajah kita.

Sedikit beban juga kalau ternyata postingan kita engga terlalu berdampak sama pihak yang ngasih produk sama kita.

Tapi yang paling penting, walaupun sponsor reviewnya tetap jujur ya.

Btw, aku juga sama tis. Aku masih belum narik fee xD

Tapi blog mu udah keren tis menurutku, gambarnya oke, tulisannya juga oke banget >.<

Reply
avatar
23 April 2016 08.35 delete

Hehehe risiko tanggung sendiri ya Ca :D mana ngatasin kulit yg bermasalah tuh ribet.

Iya, udah bayar, eh ternyata olshopnya ngga balik modal. Hmmm. Tapi kalo dipikir-pikir, paid review di blog itu kayak investasi untuk jangka panjang(?). Dampaknya mungkin ngga gitu instan seperti endorsement selebgram (follower langsung nambah). Tapi, postingan di blog ngga bakal kelelep krn sistem di blog kan bukan feed seperti instagram. Artikelnya bakal muncul terus di related post dan terindeks di mesin pencari seperti Google. Ditambah lagi traffic blog yang terurus makin lama makin meningkat. Jadi memang ada plus minusnya untuk masing2 media.

Alhamdulillah ^^ blogmu juga menjanjikan kok Ca, rapi dan stylenya personal banget.

Reply
avatar
25 April 2016 23.28 delete

Btw, aku dapet saran Dari temen blogger. Kalo abis lomba trus ga menang, postnya diturunin jadi draft. Masuk akal juga sih menurutku, karena semakin lama dipajang berarti kita mempromosikan brand itu di inet padahal itu cuma lomba, yg artinya ada yg menang ada yg kalah. Kalo kalah kan ga dapet imbalan apa2. Eh gitu bukan?
Itu sih menurutku aja loh mbak, ga maksa kepikiran :D

Reply
avatar
26 April 2016 08.20 delete

Tujuan lomba blog emang gitu. Makin banyak yang berpartisipasi, makin ngedongkrak kata kunci brand-nya di mesin pencari.

Yah masing-masing orang punya pandangannya sendiri. Cuman kalo semua blogger megang prinsip "turunin draft karena ngga dapat imbalan apa-apa", berarti sebagian besar book/beauty/food blogger yang paling rugi hahaha. Udahlah beli produk pake duit sendiri, secara ngga langsung bantu promosi, ngga dibayar pula :D

Sebenernya tanpa diturunkan, itu juga ada manfaatnya buat kita. Konten blog jadi bertambah. Dengan kata lain, "pintu masuk" ke blog kita melalui search engine juga bertambah. Kalo secara keseluruhan blog kita menarik, biasanya pengunjung bakal baca-baca artikel lainnya. Ni pengalamanku sih yg memposisikan diri sebagai pembaca artikel lomba blog.

Ngomong-ngomong, konten lomba atau review produk juga bisa dimanfaatkan sebagai "portofolio" yang memudahkan pihak sponsor untuk melihat track record kita dalam mengulas sesuatu. #justmytwocents

Reply
avatar
30 April 2016 11.32 delete

Haniii, aku senang kaw buat tulisan ini.

Jadi aku kan pernah cerita2 sama temen blogger. Dia itu kerjasama dengan satu brand kosmetik. Bener-bener yang intens kerjasamanya, wong kayak hampir semua produk dikasih ke dia, hampir setiap bulan ada post tentang itu, hampir setiap tutorial pakai brand tersebut. Nah, brand tersebut itu sebelumnya menghubungi aku untuk kerjasama, tapi nggak cocok harga. Jadi nggak jadi. Dan nggak papa, aku seneng brandnya juga nggak PHP, bilang nggak jadi karena belum masuk budget.

Nah, temenku tanya kenapa dulu nggak jadi? Aku jawab dengan polos, "nggak ada kecocokan harga". Terus temenku tersebut kaget. Soalnya dia nggak tau kalau blogger boleh minta fee untuk gituan. Dia bilang: "memangnya etis ya, Rum, brand itu kan udah susah2 ngirimin produk yang nggak sedikit. Masa masih minta di bayar juga?"

Disitu saya sedih. Banyak yang nggak paham ya kalau harga sebuah promosi itu mahal :(. Bloggernya sendiri nggak paham. Bukan masalah nggak dibayarnya, itu mah pilihan. Cuma nggak pahamnya itu loh. Kalau olshop nggak paham mah banyak, aku sering dapet tanggapan nggak enak dari olshop ketika aku bilang kalau endorse pakai fee. Tapi nggak begitu bikin sedih, nggak sesedih kalau temen blogger sendiri yg bilang itu nggak etis.

Sekian ah. Cuma numang curhat #baper,

Reply
avatar
30 April 2016 14.22 delete

Hellaaaw mba Arum ^_^ semangat yaaa...

Betul mba, balik lagi sih ke bloggernya :D mau narik fee atau ngga. Tapi setidaknya kita sendiri mesti paham kalau paid review pada dasarnya bukan hal yang tabu ^^;

Topik ini (paid review) juga pernah diangkat oleh beauty blogger Singapura. Setelah bertahun-tahun ngga narik fee, akhirnya dia bikin statement : "No more blogging for free". Dia sadar kalau blognya dipandang sebagai free gateaway untuk meningkatkan pendapatan brand tertentu (secara blog dia tuh berpengaruh di dunia beauty blog internasional). Dengan tegas dia sampaikan, "mau gimana pun kita ngga bisa menyangkal kalau produk kiriman itu tujuannya agar produk mereka dikenal, membangun kepercayaan konsumen, dan tentunya ngeboost penjualan" ^^;

Yah begitulah... Di satu sisi masih banyak blogger yang memandang monetisasi (terutama paid review) sebagai hal yang ngga etis, sedangkan di sisi lain kita ngga bisa menutup mata kalau ada pihak-pihak yang memanfaatkan ketidaktahuan blogger atas nilai trafficnya ^^;

Reply
avatar
7 Mei 2016 16.39 delete

Emang serba salah nih kalo ngomongin paid review, suka adaaa aja yang sensi,..
Nolak tawaran karena merasa gak cocok sama produk atau fee-nya dibilang sok jual mahal,...
Ngambil sembarangan asal ada fee dibilangnya murahan, hehehe...

Beraaaat!

Yah, pokoknya kita lah yang paling tahu apa yang terbaik buat blog kita dan pembaca kita sih,....semangat terus yah, mudah2an dapet banyak tawatan job review yang sesuai di hati hehehe...

Reply
avatar
8 Mei 2016 06.31 delete

Iya serba salah hehe. Semangat juga buat mba Erii :D

Reply
avatar
9 Mei 2016 14.51 delete

Nice Info, Hani..
sebelum baca ini, ga pernah kepikiran soal monetblog. Blognya masih baru juga hihihi tapi kalau sekedar free produk, voucher buat makan atau beli mainan sih tetap terima walau fee berupa uang sih nggak atau belum kali ya..blog aq juga masih jauh lah dari kata bagus. Tapi aq menghargai banget para blogger yang sudah suhu dan viewernya banyak, mereka semua layak untuk dapat fee untuk setiap tulisannya. Kalau aq sih saat ini masih menikmati saja menulis tanpa perlu memikirkan fee dari kota seberang Singapura ini ^^

Reply
avatar
9 Mei 2016 18.22 delete

Jauh ya Bun *dadah dadah dari pulau Sulawesi :D Memang lebih enjoy jika kita menulis tanpa beban atau tekanan deadline. Eniwei, blog Bunda bagus lho (serius), postingannya terasa bernyawa karena ditulis dari hati ^_^

Reply
avatar
9 November 2016 00.06 delete

Oh gitu ya mbak .. Aku baru ngeh soal monetisasi ini adalah hal yang sensitif. Habis, kemarin bw banyak bahas monetisasi gitu. Kalo aku nih apalah, masih newbie. Cuma mendengarkan dan liat sana sini aja. Btw, ini tampilan baru ya mbak, perasaan kemaren2 tampilan nggak kayak gini #perasaankuajakah? Tapi cakep kok, ringan mudah n cepat loadingnya

Reply
avatar
9 November 2016 12.28 delete

Ngga ganti kok. Cuman pas sinyal internet lemah, kalo dari hp otomatis tampilannya pake versi googleweblight, dan itu beda dengan tampilan aslinya.

Reply
avatar

Bisa juga kirim email ke haihanitisblog@gmail.com atau direct message instagram @haihanitis. EmoticonEmoticon