Skin Care Talk // Personal Thought // Blogging Experience

Pamer di Social Media

Kamis, 04 Februari 2016
Social Media. Media online tempat kita menjalin silaturahim dan ukhuwah. Berbagi informasi mengenai minat dan kegiatan, dalam bentuk kata-kata, foto, hingga video.

Fungsi lainnya adalah sebagai lapak ngebully dan ajang pamer.

Dulu, orang yang suka pamer itu dibenci, dijauhi, dimusuhi. Tapi sekarang, orang yang suka pamer itu diapresiasi, dijempoli, difollow, dan disanjung-sanjung. Kesederhanaan tak laku lagi. Budaya kaya beneran ataupun pura-pura kaya jadi pemandangan sehari-hari. Mencukupkan diri dengan "kalangan terbatas", tak tampak lagi. Sadar ataupun tidak, kita kerap memamerkan apa yang kita miliki dengan dalih rasa syukur. (@novie_ch14 via instagram)
Nyaris semua orang punya kecenderungan untuk pamer, hanya saja kadarnya beda-beda. Jadi, respon kita, baiknya bukan, "Wah, bener, aku kenal orang yang begitu. Malesin banget."

Coba deh dibalikin ke diri sendiri. Rasanya sulit untuk menilai dan menjaga niat kita saat share atau posting sesuatu.

---

Sadarkah kamu?

Hal yang terus menerus kita banggakan, entah itu kegantengan/kecantikan, gaya hidup, status sosial, latar belakang pendidikan, popularitas, kekayaan, pekerjaan, cara berpakaian, pemikiran, kecerdasan, ibadah, dst itulah yang menjadi ego booster kita. Sarana untuk menunjukkan superioritas dibanding orang lain.

Penting untuk dijadikan bahan introspeksi, karena yang paling tau niat di balik perilaku kita ya diri kita sendiri. Beneran sharing atau mau show off.

Seberapa penting pengakuan dan penilaian orang lain bagi diri kita?

Dengan mengetahui apa yang sering kita tonjolkan di social media atau saat berinteraksi dengan orang lain, kita jadi lebih mudah memahami hal-hal yang memupuk ego dan membuat kita insecure.

Semakin rajin introspeksi, semakin besar pula kesadaran kita dalam berperilaku.

Oh ya, biasanya hal yang sering kita "pamerkan" itu juga yang (sadar ngga sadar) pertama kali kita nilai pada orang lain :)

---

Pamer "kebahagiaan"

Kenyataannya, memang lebih susah menyembunyikan kebahagiaan daripada kesedihan. Tapi, kalau overexpose tanyakan ke diri sendiri, apa sih yang mau dicari?

Dih. Hidup-hidup guwee...

Setidaknya kita belajar untuk melihat dampak perilaku kita terhadap orang lain, termasuk di social media. Namanya juga hidup bermasyarakat, ngga hanya tentang diri kita sendiri.

Ada kutipan yang saya sukai (sering beredar di instagram/path), tapi sumber aslinya ngga jelas dari mana huhuhu...

"Tahu, mengapa kita tak boleh terlalu senang berlebihan saat dikaruniai kenikmatan?
Agar kita menjaga yang lain untuk tetap bersyukur.
Karena, tak semestinya kita menjadi perantara orang untuk kufur nikmat.

Yang hamil, menjaga perasaan orang yang belum hamil.
Yang sudah menikah, menjaga perasaan orang yang belum menikah.
Yang kaya, menjaga perasaan orang yang miskin.
Yang sempurna fisiknya, menjaga perasaan orang yang memiliki kekurangan fisik.

Indah.

Kita menjaga diri bukan lantaran orang-orang di sekitar kita iri.
Kita menjaga diri bukan berarti kita tidak berhak mengekspresikan rasa senang dan syukur kita.
Kita menjaga diri karena kita ingin sama-sama bersyukur dengan mereka yang belum mendapati nikmat yang sudah kita dapati.

Karena menjadi perantara syukur bagi orang lain adalah kenikmatan dan kebahagiaan yang sesungguhnya."

Baca juga : Jangan Pamer : 'Ain itu Nyata

(Updated-2017)
Wallahu a'lam.
Semoga bermanfaat.
Thanks for reading and have a nice day.
12 komentar on "Pamer di Social Media"
  1. semoga aku dikasih bimbingan biar bisa jadi perantara syukur orang lain... amiin ya rabbal alamin :D

    BalasHapus
  2. ah ini ngena banget :')
    semoga bisa lebih mature lagi buat pake socmed...

    BalasHapus
  3. Bener banget kak, bermanfaat :)
    karena efek dari syukur dan pamer itu beda sekalipun pamernya dikemas dlm bntuk kemasan yg baik.
    Sering bgt ngelihat orang padahal hanya melihat, tanpa orang tsb banyak berkata-kata, tapi tiba2 mengingtkan qt kpd Tuhan, kpd orngTua, dan tiba2 qt berucap syukur lalu merenungi diri...
    begitulah karena tujuan yg baik selalu berakibat baik seklipun tidak ada like atau lope dlm sebuah apiklasi yg maya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju, beda di berkahnya. Terima kasih sudah berkenan sharing di sini ^_^

      Hapus
  4. Balasan
    1. ^_^ semoga kita jadi pribadi yg lebih baik ya, aamiin.

      Hapus

Selain melalui kotak komentar, bisa juga kirim email ke haihanitisblog@gmail.com. Also, please kindly check "Frequently Asked Questions" (FAQ tab on menu bar) before asking. Thank you! ^^