Cara Agar Mampu Memaafkan & Info Lainnya

Memaafkan, pada hakikatnya adalah hadiah untuk diri kita sendiri. Memang tidak selalu mudah dan kadang butuh waktu yang lama. Namun, prosesnya dapat dimulai dengan satu pertanyaan sederhana...

Apakah kamu mau memaafkan?

***

Sabar = Memendam?

Dalam model teori Forgiveness A-B-C-4 oleh Ryan Howes, Ph.D (yang saya cantumkan di artikel Belajar Memaafkan), dapat disimpulkan bahwa jika mengikhlaskan terasa mustahil, berarti ada salah satu dari poin (A) mengekspresikan emosi, (B) memahami, (C) membangun rasa aman yang tidak tuntas.

Saya bahas mengekspresikan emosi karena kalo poin ini ngga tuntas, proses memaafkan jadi lebih sulit dan efeknya bisa merembet kemana-mana. Jangan berpikir hambatan ini hanya dialami orang yang pendiam. Orang yang keliatannya cengengesan bisa-bisa aja kesulitan mengekspresikan amarah dan kesedihannya.

Ngga mau ah, kan kita harus sabar :'(
Sabar beda lho dengan mendam perasaan.

Sabr is not remaining quiet and allowing anger to build up inside you. Sabr is to talk about what's bothering you without losing control of your emotions. Nouman Ali Khan.

Jika kita memendam amarah dan dendam, maka emosi negatif tersebut akan terinternalisasi dalam diri kita. Kemarahan yang terinternalisasi ditandai dengan inner critic (kritik terhadap diri sendiri) yang tajam, keras, dan menyakitkan. Tentunya inner critic akan menghambat kita untuk berkembang. Kalau kejadiannya seperti ini, kita harus mulai dengan memaafkan diri sendiri dulu :D

Selain inner critic, amarah yang dipendam juga dapat memicu depresi, hambatan dalam menjalin hubungan dengan orang lain, gangguan fungsi jantung, tekanan darah tinggi, sakit kepala, gangguan pencernaan, dan lainnya.

Yang perlu dipahami, mengekspresikan emosi tidak berarti kita jadi hilang kendali dan tidak selalu harus disampaikan langsung ke orang tersebut. Kita dapat menggantinya dengan cara-cara yang tak kalah efektif untuk mengekspresikan dan meredakan emosi negatif.

***

What should I do?

1 | Ryan Howes, Ph.D dan Patrick Allan [1] menyarankan, kalo pengen teriak, teriak aja di bantal atau di dalam mobil. Kalau sedih, menangislah. Dengan kata lain, identifikasi, kemudian ekspresikan emosi negatifmu. Awali dengan mengakui bahwa rasa sakit itu nyata. Jujur sama diri sendiri. It's okay to admit you're not okay. You're only human.

2 | Journaling atau menulis buku harian dapat membantu kita untuk mengenali emosi dan mengintrospeksi diri. Journaling juga merekam perkembangan kita sehingga evaluasi diri jadi lebih mudah dilakukan. Misal, apa saja pencapaian yang kita raih, kejadian yang patut disyukuri, hal-hal apa yang harus ditingkatkan dan diterima apa adanya.


3 | Menulis surat (tanpa dikirim ke orang yang bersangkutan) dikenal sebagai sarana yang paling baik untuk berdamai dengan rasa sakit dalam diri kita. Dalam surat, kita menulis nama orang tersebut, konflik yang terjadi, dan bagaimana perasaan kita. Tidak pasti berapa lama surat akan selesai, bisa berbulan-bulan, berminggu-minggu, atau hanya sehari. Menurut Eva Kor [2], surat dikatakan selesai ketika akhirnya kita dapat menulis “aku memaafkanmu” dengan tulus.

Eniwei, ada video yang memberi gambaran mengenai surat dan kaitannya dengan memaafkan. Surat tersebut malah dianjurkan untuk dibaca di depan cermin lho :D



4 | Belajar manajemen stres juga sangat dianjurkan. Karena kalau mood kita enak, pikiran jadi jernih, perasaan juga lebih tenang.

5 | Sibukkan diri atau cari kegiatan yang menuntut dan melatih otak untuk fokus pada masa kini (here and now), seperti membaca buku, mengaji, memasang puzzle, menulis, jadi volunteer/relawan, dan lainnya.

6 | Sharing dengan orang yang netral dan logis. Beruntung kalo punya teman begini ^^ karena dapat memberi penilaian yang objektif atas apa yang kita alami.

7 | Belajar berbaik sangka dan melihat masalah dari sudut pandang yang berbeda. ^^; Bukan berarti kita membenarkan perilaku yang salah dan merugikan, tapi berusaha memahami perilaku, situasi dan latar belakang lingkungan orang tersebut.

Misalnya, apa perilaku tersebut tidak disengaja, ataukah dia sedang melalui masa-masa penuh tekanan? Apakah itu bawaan pergaulan/lingkungannya? Jika perilakunya keterlaluan, apakah ada faktor-faktor di luar kendali mereka, seperti masalah psikologis dan kepribadian? dst.

…unless someone is sociopath, they are rarely without feeling. And if they’re hurt another person, even if their ego prevents them from admitting it, odds are they feel remorse on some level. No one is purely bad, and everyone carries their own pain which influences the decisions they make. This doesn’t condone their thoughtless, insensitive, or selfish decision, but it makes them easier to understand. Lori Deschene. [3]

8 | Saat kita merasa sudah mampu mengikhlaskan, lisankan (bukan cuma diucapkan dalam hati). Contoh, sebelum tidur... "Hari ini saya telah memaafkan orang yang menyakitiku, mengghibahiku, dan mempermalukanku." Akhiri dengan senyum lebar :D

Jika di kemudian hari momen-momen traumatis teringat kembali, ingat bahwa kita telah memaafkan dan berusaha komit atas keputusan tersebut.

***

Memaafkan = Melupakan?

Kelihatannya emang sepaket, tapi memaafkan bukan melupakan blas. Ngomong-ngomong, saya pernah dapet nasehat (yang sebelumnya ngga masuk di akal saya haha),
Kamu sudah benar-benar sembuh, ketika mampu "menertawakan" masa lalumu yang menyakitkan.
Nasehat tersebut pada akhirnya menyadarkan saya bahwa yang dimaksud "lupa" bukanlah melupakan kejadian, tapi melupakan sensasi perihnya. Kejadian menyakitkan sedikit banyak memang mengubah diri kita, tapi ingatan mengenai rasa sakit bisa memudar seiring berjalannya waktu.

Dengan demikian, kita lebih mampu melihat gambaran yang lebih besar dan mengambil pelajaran dari pengalaman tersebut.
Forgiveness doesn't erase the bitter past. A healed memory is not a deleted memory. Instead, forgiving what we cannot forget creates a new way to remember. We change the memory of our past into a hope for our future. Lewis B. Smedes. 

***
Akhir kata...

Proses memaafkan dapat menuntun kita menuju pemahaman yang mendalam mengenai diri sendiri. Sekecil apapun hal yang pernah kita alami, itulah yang membentuk diri kita saat ini.

Mengikhlaskan akan lebih mudah dicapai jika kita memutuskan untuk fokus pada masa kini (here and now). Jadi, ketika pikiran-pikiran negatif menyerang, sadari bahwa senyata apapun rasa sakitnya, kita sudah tidak hidup di masa lalu.

Ada satu titik dimana kita harus berhenti mengkasihani diri sendiri. Jangan egosentris. Tidak ada manusia yang sempurna. Kita juga pernah (sengaja maupun tidak) menyakiti dan menyinggung orang lain.

Waktu terus berputar. Perjalanan masih panjang. Baiknya kita belajar untuk berdamai dengan pengalaman pahit, keluar dari perangkap emosi negatif, bangkit, dan fokus mengerjakan hal-hal yang bikin happy :D

Semoga kita senantiasa diberi ketenangan hati dan pikiran, serta kemudahan untuk memaafkan. Aamiin.

Thanks for reading and have a nice day.

Blogging since 2011 // Twenty-something, but not quite grown up // Over-thinker // Acne-proner // Minguk admirer // Addicted to mineral water // Contact : haihanitisblog@gmail.com

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Bisa juga kirim email ke haihanitisblog@gmail.com atau direct message instagram @haihanitis. EmoticonEmoticon