Skin Care Talk // Personal Thought // Blogging Experience

Apakah Kamu Berlebihan Merawat Kulit Wajah?

Senin, 28 Desember 2015
Hayoo ngakuuu... siapa yang suka berlebihan merawat wajah?
*ngacung sambil ngaca hahahaha.

Topik ini sebenarnya sudah sering dibahas (tiap sharing pengalaman) :)) tapi belum pernah saya uraikan secara khusus di blog. Hanya sepintas di artikel Jangan Merawat Wajah dengan Cara "Alami" ini, bagian overwashing.


Sebagai gambaran, perilaku overdoing yang sering dibahas dalam sharing melalui email atau sesi komentar, antara lain...

(1) Memilih produk dan menekuni regimen perawatan yang tidak sesuai dengan kebutuhan kulit. Meski sekarang tren produk skin care ada booster, pre essence, sealer, segala macam... Tapi, ngga semua kulit butuh produk skin care berlayer-layer.

(2) Penggunaan rangkaian produk skin care yang tidak fokus pada problem spesifik kulit. Pake produk anti acne, anti aging, brightening dalam waktu bersamaan.

(3) Menggunakan bermacam-macam produk anti acne dalam satu waktu. Misal lagi ngobatin kulit pake tretinoin, trus pake toner yang ngandung salycilic acid.

(4) Ngolesin produk tebel-tebel.

(5) Keseringan gonta-ganti produk skin care.

(6) Berlebihan dalam membersihkan wajah dan eksfoliasi (scrubbing, peeling, dll).

(7) Hampir setiap hari menggunakan masker dengan fitur deep pore cleanse/gentle exfoliation.

...dst :D

Dampaknya...


Kering, Dehidrasi, dan Mengelupas

Pernah ngga ngalamin jerawat, tapi kulit malah kering?

Dehidrasi bisa terjadi jika kita berlebihan menangani jerawat dan kulit berminyak. Menggunakan sabun atau pembersih yang ngga pH balanced juga menimbulkan sensasi kulit kering, kaku, dan ketarik.

Kondisi kulit kering mengelupas juga umum terjadi jika kita berlebihan menggunakan eksfoliator seperti scrub, serta produk yang mengandung alpha hydroxy acid (AHA), salycilic acid (BHA), dan retinoid.

FYI, retinoid mempercepat regenerasi kulit. Jadi, ngga perlu keseringan scrubbing kalo udah pake produk yang ngandung retinoid/retinol.

Sebenernya ya, kita hanya perlu scrubbing/eksfoliasi sel kulit mati 1x dalam seminggu. Sedangkan untuk tipe kulit berminyak, sel kulit matinya lebih tebal sehingga dianjurkan 2x dalam seminggu jika perlu.

Solusinya? 

Mengurangi frekuensi penggunaan produk.

---

Iritasi (kemerahan, meradang, atau melepuh)

Penggunaan produk yang tidak sesuai dengan kondisi/kebutuhan kulit dapat menyebabkan iritasi. Glycolic acid, malic acid, lactic acid (AHA), salicylic acid (BHA), dan retinoid juga bisa mengiritasi kulit jika digunakan terlalu sering atau jika kadarnya terlalu tinggi.

Solusinya?

(1) Ikuti anjuran pemakaian.

Misal petunjuknya hanya untuk malam hari, jangan dipake pagi-siang-malam.

(2) Kurangi frekuensi.

Contoh : Dari 2x sehari, jadi 1x sehari. Atau sehari sekali jadi dua hari sekali.

(3) Hentikan pemakaian produk.

Kalau kamu ngga yakin, produk mana yang bikin kulit jadi iritasi, lakukan tes sederhana. Hentikan pemakaian salah satu produk selama 2 minggu dan amati apakah kualitas kulit meningkat atau menurun.

Baca juga : 5 Langkah Dasar Memulai Perawatan Wajah

---

Makin Sering Mengalami Break Out

Break out yang dimaksud adalah membludaknya komedo (whitehead-blackhead) dan munculnya jerawat meradang. Dampak ini biasanya diawali dengan kulit yang semakin berminyak. Biasanya disebabkan karena menggunakan produk yang kandungan dan teksturnya terlalu berat atau terlalu rich untuk kulit kita.

Yang paling parah adalah jika kita mengalami jerawat pasir, karena itu tanda lapisan kulit terluar sudah rusak. Umumnya disebabkan oleh pemakaian skin care berbahaya, terlalu sering gonta-ganti produk skin care, mengkombinasikan/melayer produk skin care yang tidak sejalan, atau pengobatan kulit dengan cara yang tidak tepat.

Solusinya?

(1) Perhatikan tekstur dan ingredient produk yang kita gunakan.

Baca juga : Tipe dan Kondisi Kulit (+++ Tips & Info Lainnya)

(2) Atur frekuensi pemakaian produk.

(3) Kurangi penggunaan produk yang dapat menyumbat pori.

Khusus untuk tipe kulit berminyak dan kombinasi...

Jika memungkinkan, hindari produk yang mengandung mineral oil. Sudah aku bahas di post #NTMS Mineral oil. Mineral oil tidak menyumbat pori, dia tetap stay di atas permukaan kulit.

TAPI yang jadi masalah adalah jika dalam formula produk tersebut ada zat yang sifatnya comedogenic. Nah, mineral oil akan menyebabkan zat itu terperangkap dan menyumbat pori-pori kita.

(4) Kalau kondisi kulit makin parah, mending berobat aja ke dokter.

---

Dandanan Ngga Smooth

Sebelum tau kondisi kulit saya ternyata mudah dehidrasi, saya sering menyalahkan kualitas alas bedak kalau hasilnya ndemblog atau tidak "menyatu" di kulit. Padahal, itu terjadi karena kulit menyerap kandungan air dalam foundation/bb/cc cream untuk mengatasi kekeringan.

Solusinya?

Menyehatkan kulit. Menjaga keseimbangan kadar minyak dan kelembaban kulit.

---

Ada juga yang saat menggunakan foundation, goresan kuas dan kerut halus tampak jelas. Fungsi silicone dan turunannya dalam produk make up adalah untuk "mengisi" pori dan kerut halus.

Tapi kalo produk tersebut sudah tidak berfungsi sebagaimana mestinya, kemungkinan karena kita udah kebanyakan pake produk yang mengandung silicone (numpuk jadi build up di permukaan kulit, cmiiw).

Solusinya?

(1) Jika bisa, kurangi produk (skin care dan make up) yang mengandung silicone dan turunannya.

(2) Kalau ngga bisa, pake produknya tipis-tipis aja, gausah tebel-tebel.

(3) Yang paling penting, bersihkan wajah dengan benar (tapi bukan berarti overcleansing lho).

---

Mah Curhat, dong
Iya, dong


Kebiasaan buruk saya adalah berlebihan mengamati kulit muka sendiri. Tiap ngaca, saya risih melihat titik-titik hitam di hidung, pori-pori yang lebar, atau kulit yang mengelupas --"

Itulah kenapa sebelumnya saya berlebihan merawat wajah.

Jadi, kalo ada yang sharing udah rajin bahkan lebay merawat kulit, tapi ngga ada progres yang berarti, ya saya ngga heran.... karena saya juga pernah ngalamin hahaha.

Kesalahan saya yang lain adalah terlalu intens merawat kulit saat pms. Padahal berlebihan merawat wajah saat hormon lagi ngga seimbang justru makin menstimulasi kulit.

Perubahan hormon menyebabkan kulit jadi rentan meradang (inflamasi) dan mudah bengep (swelling). Kondisi tersebut akan diperparah dengan penggunaan eksfoliator atau skin care yang mengandung AHA, BHA, dan retinoid secara berlebihan.

Karena itulah, sejak 4 bulanan terakhir, saya sudah ngga gitu panik saat pms (ngga overtreated). Ternyata kulit saya bisa pulih dengan sendirinya. Kalaupun ada jerawat yang muncul, tinggal oles obat jerawat, selesai perkara.

Baca juga : Kulit Rentan Bermasalah? Yuk, Puasa Produk Kosmetika.

---

Akhir kata...

Telaten, bukan berarti kita berlebihan dalam merawat wajah. Titik hitam di hidung, jerawat PMS, kerut halus, kulit yang kusam karena faktor A, B, C, dst adalah hal yang MANUSIAWI.

Mengenai treatment seperti facial, terapi segala macem, menurut saya bukan hal yang berlebihan jika memang dibutuhkan (bukan karena napsu). Pastikan juga treatment tersebut mengikuti prosedur yang aman dan di bawah pengawasan orang yang kompeten, seperti dokter spKk atau dokter estetik.

#notetomyselftoo
sumber : Futurederm & The Dermatology Clinic

Wallahu a'lam.
Semoga bermanfaat.
Thanks for reading and have a nice day *salim :D

Belajar Memaafkan

Kamis, 24 Desember 2015
Memaafkan adalah kata yang familiar dalam kehidupan bermasyarakat. TAPI, apakah kita sudah memahami konsep memaafkan (forgiveness) dengan benar?

Artikel ini adalah lanjutan dari Cara Balas Dendam yang Sehat.

Dendam (keinginan untuk membalas) adalah respon yang alami. Misal, saat dipukul dengan balok kayu, bawaannya pengen mukul balik hehehehe.

Ketika kita memaafkan, maka secara sadar kita melepaskan keinginan untuk balik menyakiti atau sekedar memberi "pelajaran".

Dendam juga merusak diri kita pelan-pelan. Menyimpan dendam akan menjadi stressor dan memicu hormon stress cortisol yang ngga baik untuk kesehatan fisik dan mental kita.

Sebaliknya, banyak sekali manfaat yang dapat kita peroleh dengan memaafkan, di antaranya adalah risiko depresi dan kecemasan yang rendah, kualitas tidur dan daya tahan tubuh yang lebih baik, kesehatan jantung yang meningkat, self esteem yang tinggi, kemampuan berempati lebih terasah, dan tentu saja secara psikis lebih bahagia.

Jadi, memaafkan adalah untuk kebaikan diri kita sendiri :D


Noted!

Memaafkan bukan berarti kita mengkerdilkan kesalahan orang lain atau membenarkan perilaku yang menyakitkan. Salah ya salah.

Ada kalanya pelaku salah kaprah. Mereka mengira bahwa dengan memaafkan, kita menerima perilaku tersebut untuk terulang kembali ^^; Memaafkan bukan berarti kita mengizinkan perilaku tersebut berlanjut atau menempatkan diri untuk kembali diinjak-injak.

Memaafkan bukan berarti lemah, naif, atau bodoh. Pada kenyataannya, semakin sehat mental seseorang, semakin mudah baginya untuk memaafkan.

Memaafkan berbeda dengan melupakan dan memendam rasa sakit hati.

Memiliki peran sebagai pemberi maaf bukan berarti setelah "memaafkan" kita berhak untuk menghantui pelaku dengan perasaan malu dan bersalah.

Memaafkan dapat dilakukan (dan diusahakan) dengan atau tanpa permohonan maaf dari orang lain. Jadi, kita juga bisa memaafkan seseorang yang tidak pernah kita jumpai lagi, yang telah meninggal, atau bahkan yang tidak merasa bersalah.

Dinamika Memaafkan

Banyak banget teori tentang memaafkan (forgiveness), tapi menurut saya model teori dari Ryan Howes, Ph.d [1] yang paling mudah untuk dipahami dan dipraktekkan.

Beliau menjabarkan forgiveness dalam elemen-elemen (A, B, C, 4), karena pada hakikatnya memaafkan bukanlah proses dengan fase yang runtut.

Kita perlu melewati elemen A, B, dan C (secara berurutan ataupun acak). Barulah kemudian kita masuk ke elemen 4: mengikhlaskan (letting go) *cmiiw ya kalo padanan katanya kurang tepat.

A. Mengekspresikan emosi (express the emotion)

Seseorang yang berniat untuk memaafkan harus mengekspresikan emosi negatif yang dia alami sepenuhnya. Amarah, kesedihan, dan rasa sakit perlu dirasakan sedalam-dalamnya dan diekspresikan. Tentunya dengan cara yang tidak menyakiti diri sendiri maupun orang lain.

Yang perlu kita pahami, cara orang mengekspresikan emosinya itu berbeda. Ada yang tenang, tapi ada pula yang luapan emosinya menggebu-gebu sehingga harus dikeluarkan.

Beberapa cara yang bisa dilakukan antara lain menumpahkan emosi negatif dalam tulisan, berteriak di dalam mobil yang tertutup, atau berbicara di depan cermin dan kursi kosong (personifikasi, menganggap kursi tersebut adalah pelaku) dapat membantu.

Meski tidak semua emosi dapat diekspresikan, tapi cara-cara tersebut dapat mempermudah kita untuk fokus pada elemen yang lain.

B. Memahami (understand why)

Otak selalu mencari penjelasan yang masuk akal sampai pikiran kita terpuaskan (mengenai latar belakang perilaku yang menyakitkan, kenapa kita yang disakiti, dst).

Pada situasi tertentu, berhenti berasumsi dan menerima kenyataan apa adanya cukup untuk memuaskan rasa penasaran kita (acceptance).

C. Membangun rasa aman (rebuilt safety)

Sebelum memberikan maaf, kita butuh jaminan bahwa perilaku serupa tidak akan terjadi lagi.

Entah itu berupa permohonan maaf yang tulus dan bertanggung jawab dari pelaku, pertahanan diri yang lebih kuat, atau dengan menghilangkan pengaruh dari pelaku dalam hidup kita.

4. Mengikhlaskan (let go)

Elemen ini merupakan keputusan yang sangat sulit. Letting go berarti kita berjanji pada diri sendiri untuk tidak menyimpan dendam dan tidak mengungkit kejadian tersebut di percakapan atau konflik yang akan datang.

Jika mengikhlaskan terasa mustahil, kemungkinan besar karena elemen A, B, atau C belum tuntas (perlu diulang hingga kita terpuaskan).

Karena itulah, bagi sebagian orang, butuh waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun hingga benar-benar mampu memaafkan.

---

Contoh sederhana *bukan kejadian sebenarnya

X meminjam buku saya. Saat dikembalikan, bukunya rusak.

Saya izinkan diri saya bernyesek-nyesek ria, kemudian menyampaikan kekecewaan saya (elemen A).

"Aku syok banget. Ini buku baruku. Huhuhu... T.T Kamu tau kan? Aku nabung berbulan-bulan. Jauh-jauh hari udah pre-order supaya bisa dapet tanda tangan penulisnya. Aku percaya buat minjemin, karena kamu janji bakal hati-hati. Sakit rasanyaaa... Huwaaa..."

Saya tanya kenapa dia menyalahi janji (elemen B).

"Boleh tau ngga kenapa sampulnya jadi kisut gini? Trus ini kok bau kuah bakso... Ada halaman yang robek pula."

Sekarang saya perlu membangun rasa aman (elemen C).

"Hmmm... Ngga usah diganti, karena rasanya bakal beda. Yaudah, kalo gitu lain kali aku ngga mau minjemin kamu buku baruku lagi ya..." :'(

Akhirnya, saya memutuskan untuk mengikhlaskan dan tidak mengungkit-ungkit masalah ini (elemen 4).

Perhatian!

Tentunya banyak masalah yang lebih berat dan kompleks. Jika perlu, carilah pendampingan dari orang yang kompeten, seperti psikolog atau pemuka agama yang ilmunya mumpuni.

Batasi juga interaksi dengan orang-orang yang suka kompor/manas-manasin.

---

Dih! Memaafkan, tapi kok ngga mau ketemu?

Meskipun berkaitan, tapi memaafkan bukan berarti kita wajib mengakrabkan diri, makan bareng, berpelukan, haha hihi, atau cipika cipiki dengan orang yang menyakiti kita.

Memaafkan (forgiveness) adalah proses internal, sedangkan berbaikan (reconciliation) adalah proses interpersonal sehingga membutuhkan keterlibatan dari kedua belah pihak.

Kita bebas untuk memutuskan apakah ingin kembali menjalin hubungan, bertahan, membatasi interaksi, atau meninggalkan orang tersebut (berkaitan dengan elemen C).

Reconciliation itu berat bagi korban yang mengalami trauma, misalnya korban kekerasan (fisik maupun psikis), penganiayaan, pelecehan, dst.

Jadi, kalau ada yang memilih untuk menjauh, jangan menyimpulkan/menuduh kalo orang tersebut belum memaafkan.

---

Akhir kata...
Let it go, not just for a better future, but also because you're a good person. And a good person isn't angry most of the time. Instead he sees beauty in the world and strives for positive life, in which others around him can be inspired too. Choose to let go of your anger, so you can be that person. Alden Tan.
Baca juga : Cara Agar Mampu Memaafkan & Info Lainnya
(termasuk hal-hal yang memudahkan kita untuk memaafkan)

Wallahu a'lam.
Semoga bermanfaat.
Thanks for reading and have a nice day.

Lebih Bagus Produk Lokal atau Produk Impor?

Rabu, 09 Desember 2015
Produk Kosmetika asal Korea Selatan saat ini digemari karena teksturnya yang ringan dan bersahabat untuk kulit yang sensitif sekalipun. Terlebih, brand ambassador produk-produk tersebut adalah selebritis yang berwajah mulus.

Saya sempat termakan pencitraan bahwa dandanan aktris yang kinclong tentulah menggunakan produk asal Korea Selatan. Tetapi, berkat youtube(?), saya jadi tahu, hal tersebut tidak sepenuhnya benar.

Berikut beberapa produk yang digunakan make up artist Korea Selatan dalam cuplikan video tutorial.

Beautymeets All about Lee Yubi's Beauty
Beautymeets Han Ji Min's Make Up Look from the K-drama Hyde, Jekyll, Me.
Pony's Beauty Diary (InsiteTv) Facial Cleansing & Skin Care Special
Jadi, Impor Pasti Lebih Bagus?

Sebelumnya saya berasumsi demikian. Mungkin produk kosmetika yang bagus hanya diproduksi oleh negara tertentu saja.

Tapi, setelah browsing sana-sini, saya jadi sadar. Embel-embel impor bukan jaminan kalo secara kualitas produk tersebut lebih unggul dibanding produk lokal.

Sudah tau kan tentang harmonisasi kosmetika ASEAN? Ini berarti Cara Pembuatan Kosmetika yang Baik (CPKB) di wilayah ASEAN sudah distandarkan.

Teknologi industri kecantikan Indonesia saat ini lebih maju dibanding 10-20 tahun lalu. Apalagi makin kesini konsumen semakin cerdas.

Jadi, produsen kosmetik lokal dituntut untuk mengembangkan banyak inovasi dan mengeluarkan produk-produk yang ringan, ngga greasy, aman di kulit sensitif, berbahan organik, dst.

Walau kosmetik (make up/skin care) gajebo dan abal-abal masih marak di pasaran, tapi merk lokal yang bisa bersaing dengan produk impor juga makin banyak lho :D

Harga?

Bicara tentang produk impor, tentulah berkaitan dengan harga yang biasanya lebih tinggi dibanding produk lokal. Memang, produk-produk yang unggul secara kualitas umumnya dibandrol dengan harga yang fantastis.

Namun, kalau jeli, kita juga bisa mendapatkan hasil yang sama dengan menggunakan produk dengan harga yang lebih terjangkau. Asal rajin-rajin browsing hehe.

Banyak lho produk-produk yang ingredientnya biasa aja, tapi karena menang merk dan strategi marketingnya oke, harganya jadi mahal. Kayak gini kan rada nyess nyess gimana gitu, kalau ternyata hasilnya ngga seperti yang kita harapkan.

Intinya...

Di tiap negara, selalu ada produk yang bagus dan produk yang kurang bagus.

Ngga selamanya produk impor lebih bagus dari produk lokal. Begitu juga sebaliknya, belum tentu kualitas produk lokal di bawah produk impor.

Eniwei, wajar kalau produk berkualitas harganya mahal. Tapi, hati-hati dengan produk overpriced alias produk yang harganya ngga sesuai dengan fitur yang ditawarkan.

Merk bisa jadi pertimbangan untuk melihat reputasi produsen, tapi pertimbangkan juga fitur dan formulanya. Karena merk dan harga yang tinggi bukan jaminan produk kosmetika tersebut (make up maupun skin care) sesuai dengan kebutuhan dan kondisi kulit kita.

Wallahu a'lam.
Semoga bermanfaat
Thanks for reading and have a nice day.