Belajar Memaafkan

Memaafkan adalah kata yang familiar dalam kehidupan bermasyarakat. TAPI, apakah kita sudah memahami konsep memaafkan (forgiveness) dengan benar?

Artikel ini adalah lanjutan dari Cara Balas Dendam yang Sehat.

Dendam (keinginan untuk membalas) adalah respon yang alami. Misal, saat dipukul dengan balok kayu, bawaannya pengen mukul balik hehehehe. Ketika kita memaafkan, maka secara sadar kita melepaskan keinginan untuk balik menyakiti atau sekedar memberi "pelajaran".

Dendam juga merusak diri kita pelan-pelan. Menyimpan dendam akan menjadi stressor dan memicu hormon stress cortisol yang ngga baik untuk kesehatan fisik dan mental kita.

Sebaliknya, banyak sekali manfaat yang dapat kita peroleh dengan memaafkan, di antaranya adalah risiko depresi dan kecemasan yang rendah, kualitas tidur dan daya tahan tubuh yang lebih baik, kesehatan jantung yang meningkat, self esteem yang tinggi, kemampuan berempati lebih terasah, dan tentu saja secara psikis lebih bahagia.

Jadi, memaafkan adalah untuk kebaikan diri kita sendiri :D


Noted!
Memaafkan bukan berarti kita mengkerdilkan kesalahan orang lain atau membenarkan perilaku yang menyakitkan. Salah ya salah.

Ada kalanya pelaku salah kaprah. Mereka mengira bahwa dengan memaafkan, kita menerima perilaku tersebut untuk terulang kembali ^^; Memaafkan bukan berarti kita mengizinkan perilaku tersebut berlanjut atau menempatkan diri untuk kembali diinjak-injak.

Memaafkan bukan berarti lemah, naif, atau bodoh. Pada kenyataannya, semakin sehat mental seseorang, semakin mudah baginya untuk memaafkan.

Memaafkan berbeda dengan melupakan dan memendam rasa sakit hati.

Memiliki peran sebagai pemberi maaf bukan berarti setelah "memaafkan" kita berhak untuk menghantui pelaku dengan perasaan malu dan bersalah.

Memaafkan dapat dilakukan (dan diusahakan) dengan atau tanpa permohonan maaf dari orang lain. Jadi, kita juga bisa memaafkan seseorang yang tidak pernah kita jumpai lagi, yang telah meninggal, atau bahkan yang tidak merasa bersalah.

Dinamika Memaafkan

Banyak banget teori tentang memaafkan (forgiveness), tapi menurut saya model teori dari Ryan Howes, Ph.d [1] yang paling mudah untuk dipahami dan dipraktekkan. Beliau menjabarkan forgiveness dalam elemen-elemen (A, B, C, 4), karena pada hakikatnya memaafkan bukanlah proses dengan fase yang runtut.

Kita perlu melewati elemen A, B, dan C (secara berurutan ataupun acak). Barulah kemudian kita masuk ke elemen 4: mengikhlaskan (letting go) *cmiiw ya kalo padanan katanya kurang tepat.

A. Mengekspresikan emosi (express the emotion)
Seseorang yang berniat untuk memaafkan harus mengekspresikan emosi negatif yang dia alami sepenuhnya. Amarah, kesedihan, dan rasa sakit perlu dirasakan sedalam-dalamnya dan diekspresikan. Tentunya dengan cara yang tidak menyakiti diri sendiri maupun orang lain.

Jika rasa sakit dan amarah dapat disampaikan langsung ke pelaku, bagus! Namun jika tidak, menumpahkan emosi negatif dalam tulisan, berteriak di dalam mobil yang tertutup, atau berbicara di depan cermin dan kursi kosong (personifikasi, menganggap kursi tersebut adalah pelaku) dapat membantu. Meski tidak semua emosi dapat diekspresikan, tapi cara-cara tersebut dapat mempermudah kita untuk fokus pada elemen yang lain.

B. Memahami (understand why)
Otak selalu mencari penjelasan yang masuk akal sampai pikiran kita terpuaskan (mengenai latar belakang perilaku yang menyakitkan, kenapa kita yang disakiti, dst). Pada situasi tertentu, berhenti berasumsi dan menerima kenyataan apa adanya cukup untuk memuaskan rasa penasaran kita (acceptance).

C. Membangun rasa aman (rebuilt safety)
Sebelum memberikan maaf, kita butuh jaminan bahwa perilaku serupa tidak akan terjadi lagi. Entah itu berupa permohonan maaf yang tulus dan bertanggung jawab dari pelaku, pertahanan diri yang lebih kuat, atau dengan menghilangkan pengaruh dari pelaku dalam hidup kita.

4. Mengikhlaskan (let go)
Elemen ini merupakan keputusan yang sangat sulit. Letting go berarti kita berjanji pada diri sendiri untuk tidak menyimpan dendam dan tidak mengungkit kejadian tersebut di percakapan atau konflik yang akan datang.

Jika mengikhlaskan terasa mustahil, kemungkinan besar karena elemen A, B, atau C belum tuntas (perlu diulang hingga kita terpuaskan). Karena itulah, bagi sebagian orang, butuh waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun hingga benar-benar mampu memaafkan.


Contoh sederhana *bukan kejadian sebenarnya
X meminjam buku saya. Saat dikembalikan, bukunya rusak.

Saya izinkan diri saya bernyesek-nyesek ria, kemudian menyampaikan kekecewaan saya (elemen A). "Aku syok banget. Ini buku baruku. Huhuhu... T.T Kamu tau kan? Aku nabung berbulan-bulan. Jauh-jauh hari udah pre-order supaya bisa dapet tanda tangan penulisnya. Aku percaya buat minjemin, karena kamu janji bakal hati-hati. Sakit rasanyaaa... Huwaaa..."

Saya tanya kenapa dia menyalahi janji (elemen B). "Boleh tau ngga kenapa sampulnya jadi kisut gini? Trus ini kok bau kuah bakso... Ada halaman yang robek pula."

Sekarang saya perlu membangun rasa aman (elemen C). "Hmmm... Ngga usah diganti, karena rasanya bakal beda. Yaudah, kalo gitu lain kali aku ngga mau minjemin kamu buku baruku lagi ya..." :'(

Akhirnya, saya memutuskan untuk mengikhlaskan dan tidak mengungkit-ungkit masalah ini (elemen 4).

Perhatian!
Tentunya banyak masalah yang lebih berat dan kompleks. Jika perlu, carilah pendampingan dari orang yang kompeten, seperti psikolog atau pemuka agama yang ilmunya mumpuni (bukan yang ngedosa-dosain orang). Batasi juga interaksi dengan orang-orang yang suka kompor/manas-manasin.

Dih! Memaafkan, tapi kok ngga mau ketemu?

Meskipun berkaitan, tapi memaafkan bukan berarti kita wajib mengakrabkan diri, makan bareng, berpelukan, haha hihi, atau cipika cipiki dengan orang yang menyakiti kita.

Memaafkan (forgiveness) adalah proses internal, sedangkan berbaikan (reconciliation) adalah proses interpersonal sehingga membutuhkan keterlibatan dari kedua belah pihak. Kita bebas untuk memutuskan apakah ingin kembali menjalin hubungan, bertahan, membatasi interaksi, atau meninggalkan orang tersebut (berkaitan dengan elemen C).

Reconciliation itu berat bagi korban yang mengalami trauma, misalnya korban kekerasan (fisik maupun psikis), penganiayaan, pelecehan, orang yang hubungan/rumah tangganya pernah diobrak-abrik, dst. Jadi, kalau ada yang memilih untuk menjauh, jangan menyimpulkan/menuduh kalo orang tersebut belum memaafkan.

***

Akhir kata...

Let it go, not just for a better future, but also because you're a good person. And a good person isn't angry most of the time. Instead he sees beauty in the world and strives for positive life, in which others around him can be inspired too. Choose to let go of your anger, so you can be that person. Alden Tan.

Baca juga : Artikel "Akhirnya, Memaafkan..."
(termasuk hal-hal yang memudahkan kita untuk memaafkan)

Semoga bermanfaat.
Thanks for reading and have a nice day.

Blogging since 2011 // Twenty-something, but not quite grown up // Over-thinker // Acne-proner // Minguk admirer // Addicted to mineral water // Contact : haihanitisblog@gmail.com

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

8 komentar

Write komentar
25 Desember 2015 11.49 delete

RT deh hehe ditunggu yang lainnya :D

Reply
avatar
25 Desember 2015 13.10 delete

Terima kasih sudah mau menunggu hehe :D

Reply
avatar
21 Januari 2016 16.23 delete

Aku termasuk orang yang pemaaf, tapi ada 2 orang yang seumur hidupku gak bisa kumaafkan. Mungkin aku harus mencoret daftar pemaaf dari sifatku kali ya hahaha...

Reply
avatar
21 Januari 2016 17.29 delete

Hahaha gapapa mbaa :D memaafkan kan proses. Bukan all or nothing hehe.

Reply
avatar
29 Januari 2016 12.59 delete

Halo ini aku lagi yg sebelumnya komen di post cara balas dendam yg sehat :D

Setelah baca teori memaafkan yg km post ini ternyata bener juga kira2 prosesnya ya ky gitu.. ak beberapa kali harus ngulang proses A B C sampai akhirnya bisa beneran let it go..berbulan bulan, well lebih dr 1th malah hehe..

Bahagiakan diri kita sendiri dg memaafkan :)

Reply
avatar
30 Januari 2016 04.31 delete

Halooo :D

Sama, aku pun juga pernah stuck di 2 poin, jadi butuh waktu yg lama haha.
Terima kasih sudah berkenan sharing di sini ^_^ nice quote!

Reply
avatar

Bisa juga kirim email ke haihanitisblog@gmail.com atau direct message instagram @haihanitis. EmoticonEmoticon