Belajar Memaafkan

Kamis, 24 Desember 2015
Memaafkan adalah kata yang familiar dalam kehidupan bermasyarakat. TAPI, apakah kita sudah memahami konsep memaafkan (forgiveness) dengan benar?

Artikel ini adalah lanjutan dari Cara Balas Dendam yang Sehat.

Dendam (keinginan untuk membalas) adalah respon yang alami. Misal, saat dipukul dengan balok kayu, bawaannya pengen mukul balik hehehehe.

Ketika kita memaafkan, maka secara sadar kita melepaskan keinginan untuk balik menyakiti atau sekedar memberi "pelajaran".

Dendam juga merusak diri kita pelan-pelan.

Dendam dapat menjadi stressor dan memicu hormon stress cortisol yang ngga baik untuk kesehatan fisik dan mental kita.

Sebaliknya, banyak sekali manfaat yang dapat kita peroleh dengan memaafkan.

Di antaranya adalah risiko depresi dan kecemasan yang rendah, kualitas tidur dan daya tahan tubuh yang lebih baik, kesehatan jantung yang meningkat, self esteem yang tinggi, kemampuan berempati lebih terasah, dan tentu saja secara psikis lebih bahagia.

Jadi, sebenarnya memaafkan itu untuk kebaikan diri kita sendiri :D


Noted!

Ada kalanya pelaku salah kaprah. Mereka mengira (setelah dimaafkan), pihak yang disakiti menerima dan mengizinkan perilaku tersebut untuk terulang kembali.

Memaafkan bukan berarti kita membenarkan perilaku yang menyakitkan. Salah ya salah.

Memaafkan bukan berarti lemah, naif, atau bodoh.
Pada kenyataannya, semakin sehat mental seseorang, semakin mudah baginya untuk memaafkan.
Memaafkan berbeda dengan melupakan dan memendam rasa sakit hati.

Memiliki peran sebagai pemberi maaf bukan berarti kita berhak untuk "menghantui" pelaku dengan terus menyebut kesalahannya, agar dia merasa malu dan bersalah.

Memaafkan dapat dilakukan (dan diusahakan) dengan atau tanpa permohonan maaf dari orang lain. Jadi, kita juga bisa memaafkan seseorang yang tidak pernah kita jumpai lagi, yang telah meninggal, atau bahkan yang tidak merasa bersalah.

Dinamika Memaafkan

Banyak banget teori tentang memaafkan (forgiveness), tapi menurut saya model teori dari Ryan Howes, Ph.d [1] yang paling mudah untuk dipahami dan dipraktekkan (thank you so much!).

Baca juga : Four Elements of Forgiveness

Beliau menjabarkan forgiveness dalam elemen-elemen (A, B, C, 4), karena pada hakikatnya memaafkan bukanlah proses dengan fase yang runtut.

Kita perlu melewati elemen A, B, dan C (secara berurutan ataupun acak). Barulah kemudian kita masuk ke elemen 4: mengikhlaskan.

A. Mengekspresikan emosi

Seseorang yang berniat untuk memaafkan harus mengekspresikan dan merasakan emosi negatif yang dia alami sedalam-dalamnya. Tentunya dengan cara yang tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Yang perlu kita pahami, cara orang mengekspresikan emosinya itu berbeda. Ada yang tenang, tapi ada pula yang luapan emosinya menggebu-gebu sehingga harus dikeluarkan.

Beberapa cara yang bisa dilakukan antara lain menumpahkan emosi negatif dalam tulisan, berteriak di dalam mobil yang tertutup, atau berbicara di depan cermin dan kursi kosong (menganggap kursi tersebut adalah pelaku) dapat membantu.

Meski tidak semua emosi dapat diekspresikan, tapi cara-cara tersebut dapat mempermudah kita untuk fokus pada elemen yang lain.

B. Memahami

Otak selalu mencari penjelasan yang masuk akal sampai pikiran kita terpuaskan (mengenai latar belakang perilaku yang menyakitkan, kenapa kita yang disakiti, dst).

Pada situasi tertentu, berhenti berasumsi dan menerima kenyataan apa adanya cukup untuk memuaskan rasa penasaran kita (nrimo).

C. Membangun rasa aman

Sebelum memberikan maaf, kita butuh jaminan bahwa perilaku serupa tidak akan terjadi lagi.

Entah itu berupa permohonan maaf yang tulus dan bertanggung jawab dari pelaku, pertahanan diri yang lebih kuat, atau dengan menghilangkan pengaruh dari pelaku dalam hidup kita.

4. Mengikhlaskan

Elemen ini merupakan keputusan yang sangat sulit.

Mengikhlaskan berarti kita berjanji pada diri sendiri untuk tidak menyimpan dendam dan tidak mengungkit kejadian tersebut di percakapan atau konflik yang akan datang.

Jika mengikhlaskan terasa mustahil, kemungkinan besar karena elemen A, B, atau C belum tuntas (perlu diulang hingga kita terpuaskan).

Karena itulah, bagi sebagian orang, butuh waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun hingga benar-benar mampu memaafkan.

---

Perhatian!

Untuk masalah yang berat dan kompleks, carilah pendampingan dari orang yang kompeten, seperti psikolog atau pemuka agama yang ilmunya mumpuni.

Batasi juga interaksi dengan orang-orang yang suka provokasi atau manas-manasin.

---

Review

Pada kenyataannya, belajar memaafkan itu butuh waktu yang... yah lumayan lama.

Sebelumnya saya tipe orang yang gampang kepikiran dan sulit mengekspresikan rasa sakit. Jadi kadang bisa stuck di elemen A dan B.

Tapi setelah melewati itu semua, bener deh... kita jadi lebih mudah mengikhlaskan. Jadi mikir, oh, yaudahlah...
Sudah kejadian. Sekarang waktunya menata diri dan hidup.
Selama proses ini, kita pun belajar untuk lebih memahami diri sendiri, seperti reaksi kita terhadap situasi tertentu, pikiran dan emosi yang muncul, dst.

---

Dih! Memaafkan, tapi kok ngga mau ketemu?

Komentar ini sering kali kita jumpai haha.

Meskipun berkaitan, tapi memaafkan bukan berarti kita wajib mengakrabkan diri, makan bareng, berpelukan, haha hihi, atau cipika cipiki dengan orang yang menyakiti kita.

Dalam psikologi, memaafkan adalah proses internal, sedangkan berbaikan adalah proses interpersonal sehingga membutuhkan keterlibatan dari kedua belah pihak.

Kita bebas untuk memutuskan apakah ingin kembali menjalin hubungan, bertahan, membatasi interaksi, atau meninggalkan orang yang pernah menyakiti kita (berkaitan dengan elemen C).

Berbaikan dan mengakrabkan diri itu berat bagi korban yang mengalami trauma, misalnya korban kekerasan (fisik maupun psikis), penganiayaan, pelecehan, dst.

Jadi, kalau ada yang memilih untuk menjauh, jangan menyimpulkan atau menuduh kalau orang tersebut belum memaafkan.

---

Akhir kata...
Let it go, not just for a better future, but also because you're a good person. And a good person isn't angry most of the time. Instead he sees beauty in the world and strives for positive life, in which others around him can be inspired too. Choose to let go of your anger, so you can be that person. Alden Tan.
Baca juga : Cara Agar Mampu Memaafkan & Info Lainnya

Wallahu a'lam.
Semoga bermanfaat.
Thanks for reading and have a nice day.
8 komentar on "Belajar Memaafkan"
  1. RT deh hehe ditunggu yang lainnya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah mau menunggu hehe :D

      Hapus
  2. Aku termasuk orang yang pemaaf, tapi ada 2 orang yang seumur hidupku gak bisa kumaafkan. Mungkin aku harus mencoret daftar pemaaf dari sifatku kali ya hahaha...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha gapapa mbaa :D memaafkan kan proses. Bukan all or nothing hehe.

      Hapus
  3. Halo ini aku lagi yg sebelumnya komen di post cara balas dendam yg sehat :D

    Setelah baca teori memaafkan yg km post ini ternyata bener juga kira2 prosesnya ya ky gitu.. ak beberapa kali harus ngulang proses A B C sampai akhirnya bisa beneran let it go..berbulan bulan, well lebih dr 1th malah hehe..

    Bahagiakan diri kita sendiri dg memaafkan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halooo :D

      Sama, aku pun juga pernah stuck di 2 poin, jadi butuh waktu yg lama haha.
      Terima kasih sudah berkenan sharing di sini ^_^ nice quote!

      Hapus

Selain melalui kotak komentar, bisa juga kirim email ke haihanitisblog@gmail.com. Also, please kindly check "Frequently Asked Questions" (FAQ tab on menu bar) before asking. Thank you! ^^