Skin Care Talk // Personal Thought // Blogging Experience

Cara Balas Dendam yang Sehat

Kamis, 19 November 2015

Loh maksudnya gimana, "cara balas dendam yang sehat"? Sambil jogging gitu?? :| kriuk.

---

Setiap orang memiliki pengalaman menyakitkan yang berbeda-beda. Ada yang pernah dihina, dipermalukan, difitnah, dikhianati, ditindas, dikucilkan, ditelantarkan, dan sebagainya. Berpikir tentang membalas dendam adalah respon manusiawi yang muncul ketika kita disakiti dan tidak diperlakukan dengan adil.

Salah satu studi eksperimen mengenai amarah dan hukuman menunjukkan hasil yang bagus untuk direnungkan [1]. Terdapat dua kelompok dalam eksperimen tersebut. Masing-masing kelompok memiliki anggapan yang sama, bahwa balas dendam itu baik untuk melepaskan emosi negatif.

Kelompok pertama diberi kesempatan untuk membalas dan menghukum oknum yang berlaku tidak adil. Yang menarik, setelah menghukum oknum tersebut, mereka melaporkan bahwa perasaan mereka malah jadi ngga enak.

Kelompok kedua berpikir mungkin mereka akan merasa lebih baik jika diberi kesempatan juga untuk menghukum. Padahal, hasil self report menunjukkan bahwa kelompok kedua (yang tidak diperkenankan untuk membalas) justru lebih bahagia dibanding kelompok pertama.

If revenge doesn't make us feel any better, why do we seek it?

Kebutuhan untuk membalas dendam sangat bisa dipahami, namun para ahli di bidang psikologi sepakat bahwa hal tersebut sama sekali tidak sehat. Karena~ pada dasarnya balas dendam tidak berkaitan dengan proses pemulihan luka batin kita. Camkan itu kisanak.

Sadarkah kamu?

Media memiliki andil karena mengangkat beragam tema mengenai amarah dan balas dendam. Apa yang kita tonton dan dengar membentuk persepsi bahwa perasaan negatif yang kita alami akan hilang sepenuhnya jika membalas dendam atau membuat orang tersebut menderita.

Sayangnya, meski kita punya power dan kondisi pun mendukung untuk membalas, ngga ada gunanya. Kepuasannya semu, hatimu akan tetap kosong. Kita hanya akan menyakiti diri sendiri. Kata Ali bin Abi Thalib r.a, ibarat meminum racun, tapi pengen orang lain yang mati.

Cara "balas dendam" yang sehat untuk mental kita adalah dengan memaafkan.

Pengalaman menyakitkan memang sulit dilupakan. Pun memaafkan adalah proses yang sebaiknya diusahakan terus menerus. Lagipula, kita juga punya banyak salah, sadar ngga sadar pernah menyakiti, menyinggung orang lain, dan melakukan hal-hal bodoh.

Tau kan pepatah "what goes around, comes around."
Semua perbuatan baik dan buruk yang kita lakukan, sekecil apapun akan kembali ke kita.

Ngga percaya?

Nih saya sedang ngalamin, makanya bikin postingan ini :D
Saya pernah ngomong apa, balik ke diri saya sendiri. Bahkan, yang cuma sekelebat pemikiran seperti prasangka buruk, judgement, dst juga berbalik ke saya. Bentuknya ngga selalu sama, tapi entah kenapa saya tau ini berkat perilaku dan pemikiran saya yang ini dan itu *apasih bahasanya hahaha.

Jadi, buat apa menyimpan dendam dan memikirkan orang yang menyakiti kita, karena cepat atau lambat setiap orang akan kepentok dengan perilakunya sendiri.

Memaafkan memang sulit banget, terutama jika kita memiliki luka psikologis yang dalam. Namun, belajar memaafkan, membuat langkah kita jadi lebih ringan :"""


Baca juga : Forgiveness -- Belajar Memaafkan.

Semoga bermanfaat :D
Thanks for reading and have a nice day.
12 komentar on "Cara Balas Dendam yang Sehat"
  1. Waaah super banget nih postingan ini.. Sukak..
    Aku juga pernah ngerasain dan emang meninggalkan luka psikologis yang dalem.. Tapi yah emang gak ada gunanya dendam. Karna dendam gak akan membuat keadaan kita jadi lebih baik. Jadi pas di posisi ini, aku selalu mikirin kata kakak aku "Kalau kita dilempar orang dengan batu, kita bales dengan ngelempar kapas", mencoba ikhlas dan berdamai dengan diri sendiri. Alhamdulillah bisa lega..
    Tapi, yg namanya luka pasti ada bekasnya.. Yah walopun gak dendam, imbasnya aku jadi trauma ketemu sama orang yang jahat itu. Dan kejadian buruk saat dikhianati itu gak pernah ilang..masih jelas banget kalo ketemu orang itu.. Hehehe...

    Thanks ya tulisan inspiratif hari ini, jadi ikutan curcol juga :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waa... Terima kasih juga udah sharing dan ngasih masukan di sini :"""" iya yg namanya trauma emang ngga enak banget. Semoga jiwa kita makin lapang dan tentram hiks *peluk dari jauh.

      Hapus
  2. adem banget bacanya... thanks for sharing and reminding

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama :) Alhamdulillah kalo bermanfaat...

      Hapus
  3. Aku kok fokusnya malah ke produk Enemy's Tears ahaha =D.

    Kalau sudah memaafkan harusnya langsung dilupakan. Tapi gimana yha, kadang mau mup on dari sesuatu tuh susahnya kayak ngilangin permen karet yang nempel di baju :(

    Aku tunggu artikel kelanjutannya mbak :-bd

    BalasHapus
    Balasan
    1. 100% pain concentrated =D

      Insya Allah ntar dibahas juga tentang melupakan :D kalo susah, coba direndem pake minyak kelapa(?)

      Okee :-bd tapi lagi nyusun tentang bpom dulu hahaha

      Hapus
  4. Daaaan kayanya susah banget tuuuh memaafkan. masih keinget mulu. ok! I'm waiting 4 ur next post :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waa makasih udah mau nunggu ^_^ berarti aku mesti lebih prepare bikin post tentang forgiveness haha

      Hapus
  5. Forgiven not forgotten (lagunya the corrs hehe)
    Pernah banget sakit hati, trauma sampe skr hiks..
    Mengalami perasaan dendam kesumat 7 turunan sampe akirnya capek sendiri krn toh yg didendami ga paham ttg kesalahannya, akhirnya belajar memaafkan dan alhamdulillah bisa plong banget.. tp ya itu blum bisa lupa, jadi ky belum 100% bahagia gitu.. masih trauma hiks

    Makasih udah bikin postingan bagus ky gini.. jd reminder bgt dan very inspiring :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah kalo bermanfaat ^_^ terima kasih juga udah sharing pengalamanmu di sini *hug hug hug*

      Anyway aku sedang nyusun ttg forgiveness, semoga bisa ngasih gambaran ttg apa aja yg bisa kita usahakan agar mampu melepaskan rasa sakit hati hehe.

      Hapus
  6. Kak izin share di mading kampus, pake sumber kok, tapi katakatanya agak di campur sama bahasa aku gak apa apa yah? Hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya boleh, asal tidak mengubah esensi yang disampaikan ^^

      Hapus

Selain melalui kotak komentar, bisa juga kirim email ke haihanitisblog@gmail.com atau direct message instagram @haihanitis. Also, please kindly check "Frequently Asked Questions" (FAQ tab on menu bar) before asking. Thank you! ^^