Kaminomoto Hair Growth Accelerator

Jumat, 21 November 2014
Karena hampir tiap hari menggunakan ciput, rambutku (terutama di ubun-ubun dan tepi dahi) jadi keliatan tipis kepepes(?). Berikut aku ceritain pengalamanku menggunakan Kaminomoto Hair Growth Accelerator :D


Kaminomoto dikenal karena khasiatnya untuk mengatasi kerontokan dan kebotakan dengan menggunakan bahan alami (ekstrak tumbuh-tumbuhan) sejak tahun 1908 (wow) dan hingga sekarang Kaminomoto terus melakukan riset agar selalu up to date memberikan solusi untuk permasalahan rambut.

Produk Jepang ini akhirnya resmi masuk ke Indonesia dan didistribusikan oleh PT Best Brilliant Indonesia. Selain Hair Growth Accelerator, ada 3 produk andalan lain dari Kaminomoto, yaitu Kaminomoto Hair Growth Tonic, Medicated Shampoo, dan Medicated Conditioner. 



Kaminomoto Hair Growth Accelerator's Main ingredients

Sophora radix (Kujin-extract), Isodonis Japanicus (Enmeiso-extract), Glycyrrhetinic Acid (Kanzo-extract), Roremary extract, Hinokitiol (Hinoku extract), Neo-Takanal, Capsicum Frutescens, Allantoin, Panthenol, Pyridoxine HCI.


Fungsi dari ingredients yang terkandung dalam produk ini, antara lain:
  • Mempercepat pertumbuhan rambut dengan meningkatkan sirkulasi darah dan fungsi sel di kulit kepala dan akar rambut.
  • Melindungi kulit kepala dari ketombe dan gatal karena memiliki fungsi antiseptik.
  • Meredakan inflamasi di kulit kepala.
  • Mengontrol sekresi kelenjar minyak di kulit kepala.
---

Bedanya Kaminomoto Hair Growth Accelerator dan Hair Growth Tonic?


---

FYI, aku cuma pake di area dekat dahi. Rambutku di sekitar hairline emang keliatan lebih tipis karena sering kepepes ciput hehe. Minggu-minggu awal, belum ada perubahan yang berarti.

Setelah sebulan pemakaian, rambut tepi dahi yang biasanya gampang lepek jadi lebih bervolume dan akarnya kerasa lebih kuat. Kira-kira setelah 1,5 bulan pemakaian, anak rambut yang sebelumnya rada lama tumbuhnya, jadi ngejingkrak dengan panjang sekitar 4 cm.

Keliatan banget, soalnya aku emang ngga pake poni :D

Soal ketombe dan gatal pada kulit kepala, di aku sih malah biasa aja hasilnya.

Selain dikirimin hair growth accelerator, aku juga dapet sampel Kaminomoto Medicated Scalp Care Shampoo.

Taglinenya membersihkan kulit kepala untuk memperoleh rambut yang lebat dan bervolume. Klaim produk dapat mencegah ketombe, gatal, bau ngga sedap, dan menjaga agar kulit kepala dan rambut tetap fresh.


Shampoo ini enaaakk banget. Wanginya juga herbal-herbal oriental gitu. Setelah keramas, kulit kepala kerasa bersih, semriwing, rambut pun lemes.

---

Kesimpulannya…

Kaminomoto Hair Growth Accelerator produk yang recommended buat kamu-kamu yang pengen menyehatkan kulit kepala, menguatkan akar rambut, dan butuh perawatan untuk kerontokan rambut yang ngga wajar.

Harganya pun reasonable mengingat kandungannya yang wow. Tapi, hasil pemakaian produk ini ngga instan, tetep butuh waktu. Hasil terbaik dapat diperoleh dengan pemakaian produk Kaminomoto lain seperti shampoo dan conditioner.

Oh iya, sebaiknya hair growth accelerator ini digunakan rutin di malam hari sebelum tidur supaya produknya bekerja dengan optimal.


Kaminomoto dikemas dalam dus kertas kayak gini. Oh iya, yang asli ada stiker hologram di plastik pembungkus dosnya, tapi ngga kefoto karena plastiknya udah kebuang heuheu.

Produk-produk ini dapat diperoleh di Century dan Guardian seluruh Indonesia. Kalo mau beli online, produk Kaminomoto juga tersedia di lazada.com dan perfectbeauty.com.

Kalo kamu tertarik dan pengen dapetin info yang lebih lengkap tentang produk-produk Kaminomoto, bisa cek langsung ke... 


Wallahu a'lam.
Semoga bermanfaat.
Thank for reading and have a nice day.

Catatan Pribadi Tentang Rangkaian Perawatan Kulit Wajah

Kamis, 13 November 2014

Karena lumayan sering dibahas di kotak komentar dan email, aku putuskan untuk membuat artikel tentang hal-hal yang menjadi pertimbanganku sebelum memilih rangkaian skin care :D

Noted!
Kalo kulit break out jerawatan itu bukan dirawat, tapi mending fokus ngobatin aja dulu.

---

Tentang Kulit Wajah Kita

#1 Sesuaikan Skin Care dengan Kondisi dan Kebutuhan Kulit Wajah
Hanya karena produk XYZ dipuji banyak orang, belum tentu sesuai untuk kulit kita. Menemukan skin care yang cocok adalah "eksperimen" pribadi. Bisa jadi melalui trial and error berkali-kali.

Seaman apapun suatu produk, sebagus apapun ingredient yang ditawarkan, pasti ada aja orang-orang yang ngga cocok. Bukan salah produknya, tapi memang ada yang ngga match antara formula produk dan kebutuhan kulit.
Jadi, kalo sudah cocok sama skin care A, ga perlu latah menggunakan skin care B.
Ngga ada jaminan kulit bakal jauh lebih baik kalo kita ganti skin care. Boleh ganti skin care, asal disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan.

Baca juga : Tipe dan Kondisi Kulit (+++ Tips & Info Lainnya)

#2 Cari Tau Zat-zat yang Ngga Cocok di Kulit Kita

Ingredient yang sering dihindari pemilik kulit acne prone adalah yang bersifat comedogenic, silicone, dll (supaya ngga nyumbat pori/komedoan/jerawatan).

Selain itu, ada pula kandungan-kandungan tertentu yang memicu reaksi alergi atau iritasi bagi sebagian orang misalnya zat pewangi, zat pewarna, ethanol, pengawet tertentu, dll.

#3 Progres Skin Care (biasanya) Ngga Seheboh yang Diiklankan

Abaikan iklan-iklan yang mempromosikan "hasil tampak dalam 1x pemakaian" atau "rasakan perubahan hanya dalam sekian hari".

Kenyataannya, produk skin care menunjukkan hasil yang signifikan setelah digunakan berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan.

Walau dalam 1-2 bulan progres produk-nya biasa aja, selama ngga ada reaksi reject atau ngga bikin break out, biasanya tetap aku telatenin. Kulitku akan tampak dan terasa membaik (entah itu dari segi tekstur atau tingkat kecerahan kulit) sekitar 4-6 bulan pemakaian.

#4 Purging, Reactive Skin, Break Out

Banyak yang salah kaprah dengan istilah ini. Untuk lebih mudahnya...

Purging hanya terjadi dalam proses penyembuhan jerawat dan/atau pori tersumbat. Dipicu oleh ingredient seperti AHA (glycolic acid, lactic acid, dst), BHA (salycilic acid), tretinoin, dan zat-zat lain yang dapat mengatasi pori tersumbat ("dipaksa" mateng dan keluar, makanya purging).

Reactive Skin biasa ditandai dengan komedo, jerawat, kulit kemerahan, dll sebagai bentuk reaksi kulit terhadap skin care, make up, atau treatment baru.

Tapiii... ini tuh ngga parah, ngga gitu ganggu, dan biasanya cepet kelar (bisa 2-3 hari). Kemudian udah, kita ngga ngalamin lagi karena kulit udah bisa mentolerir "kehadiran" produk baru di kulit.

Biasanya penggunaan skin care baru tersebut diakalin dengan cara diselang-seling (sehari pake, sehari ngga). Kalo ragu cocok atau ngga, mending stop aja.

Break out karena ngga cocok dengan skin care itu perubahannya langsung jebret ngga wajar, mesti buru-buru distop. Mis. awalnya jerawatan di pipi trus tau-tau nyebar makin banyak, jadi bruntusan atau banyak brindil-brindil (hehe), kulit makin kering, dll.





    Tentang Produk dan Treatment Lainnya

    #5 Utamakan : Pembersih, Pelembab, & Tabir Surya

    Kadang kita terlalu ribet mikirin mesti pake serum apa, essence apa, masker apa, tapi malah mengabaikan 3 hal penting itu.

    Percuma menggunakan produk mahal, kalau cara membersihkan wajahya kurang tepat. Yang ada malah produk tersebut ngga bisa bekerja dengan optimal, karena kulit ngga bener-bener bersih.

    Tabir surya juga salah satu produk yang sering disepelekan. Padahal hampir 80% (cmiiw) masalah kulit itu berasal dari sinar uv lho.

    Banyak yang ngga pake tabir surya karena merasa repot (mesti apply at least 2-3 jam sekali), bikin muka keliatan kusam dan berminyak. Mungkin belum nemu produk yang cocok kali ya :0

    #6 Produk Lokal atau Luar Negeri?

    Beberapa waktu lalu, aku sempat skeptis dengan produk dalam negeri maupun produk over the counter biasa yang dijual di supermarket lokal. Menurutku produk-produk tersebut ngga bersahabat buat kulit yang rentan bermasalah.

    Lain halnya dengan produk-produk luar (mis. Korea Selatan :p) yang teksturnya ringan dan cocok banget buat kulitku yang rewel (nyaris tanpa keluhan deh kalo pake produk dari sono lol).

    Tapi, setelah aku kelar ngobatin kulit dan mulai browsing-browsing lagi, ternyata banyak banget produk lokal yang dari segi kualitas maupun ingredientnya bisa bersaing dengan produk luar (berdasarkan pengamatan di kulitku lho).

    Kemaren-kemaren aku kurang telaten kali ya berburunya hehehe.


    Intinya, ngga ada jaminan bahwa produk impor yang mahal pasti menunjukkan progres seheboh yang digembar-gemborkan orang-orang.

    Karena balik lagi ke prinsip awal perawatan kulit, masing-masing orang punya kondisi kulit yang berbeda (unik dan spesifik), jadi produk skin care pun cocok-cocokan.

    Cocok ya syukur, ngga cocok yaudah kita balik mencari produk yang sesuai buat kulit kita :D

    #7 Skin Care Berlayer-layer

    Kalau emang kulitnya lagi butuh, ya kenapa ngga. Misalnya nih, kulit jadi kusam, menggelap karena abis ospek, outbond, dst. Karena dengan perawatan yang biasa (pelembab) kurang nampol, ya ngga apa-apa kalo mau pake brightening essence/serum sebelum pelembab untuk mencerahkan.

    Pelembab, essence/serumnya (rangkaian skin care yang digunakan) mesti semerk atau satu seri ngga sih?

    Sebenernya anjuran untuk menggunakan rangkaian skin care dalam seri yang sama (layer toner, preessence, essence/serum, pelembab) itu agar active ingredient seri skin care tersebut lebih efektif dalam merawat dan mengatasi problem di kulit.

    Kalopun mau pake beda merk (combine toner merk A, serum merk B, dan pelembab merk C), selama emang sesuai dengan kebutuhan kulit (ngga sekedar napsu, tergiur cerita orang) dan produknya aman, ya ngga masalah.

    Oia, alhamdulillah kulitku belum pernah mengalami break out karena pelembab dan essence/serumnya beda merk :D

    #8 Kurangi Rangkaian Produk Perawatan Wajah

    Kebalikan poin sebelumnya. Jika kulit kita rentan dan sedang bermasalah, baiknya kurangi produk skin care yang kita gunakan. Tujuannya supaya kulit ngga kaget dan lebih cepat sehat kembali.

    Misal sebelumnya tiap malam pake lengkap pre essence, essence, pelembab, baiknya dikurangi jadi tinggal pelembab aja.


    Keuntungan lain, kita jadi lebih tau efek dan progres masing-masing produk di kulit. Dengan begitu, kita lebih teliti dan hati-hati dalam menata/menyusun kembali step-step rangkaian perawatan yang bakal kita telateni.

    #9 Perawatan Pendamping (Harian - Mingguan - Bulanan)

    Perawatan pendamping harian misalnya maskeran dengan mask sheet yang menyegarkan, pake nano-nanoan, dipijet-pijet lembut, dll. Pastikan perawatan pendamping tersebut aman dipakai setiap hari, sesuai kebutuhan, dan ngga memperparah kondisi kulit kita.

    Buat kulitku yang rentan komedo dan jerawat, perlu banget menggunakan masker clay (at least seminggu sekali) dan scrubbing/peeling 2-3 hari sekali.

    Ada juga orang yang kulit wajahnya perlu difacial/chemical peeling, terapi ozon, dst 1-2 bulan sekali.

    Yaa... pastikan perawatan pendamping yang kita jalanin, emang sesuai dan diperlukan kulit ^^

    #10 Anggaran Khusus Skin Care

    Sapa sih yang ngga tergoda dengan rangkaian skin care premium? x)) Bagus di kulit, tapi bahaya buat dompet.

    Kalo aku, awal belinya mungkin sanggup, tapi kontinuitasnya itu lhoo. Padahal kan masih banyak kebutuhan lain. Aku bukan orang yang nganggep produk skin care seharga 400ribu hingga jutaan rupiah itu "terjangkau".

    Jadi, sebelum beli skin care, sebagus apapun, ketersediaan dana untuk repurchase menjadi salah satu pertimbangan utamaku :D

    #11 Kemudahan Akses untuk Repurchase

    Sekarang aku lebih milih skin care pokok (pelembab, pembersih, tabir surya) yang beredar di pasaran Indonesia (produk lokal yang dijual di supermarket dll) ketimbang beli online.

    Alasan pertama, karena belum tentu pas kita lagi bener-bener butuh, produknya ready stock (dan ngerestocknya kapan juga wallohu a'lam).

    Alasan kedua, repot kalo produknya udah discontinue atau emang udah ngga dijual lagi sama seller di Indonesia. Ujung-ujungnya mesti beli langsung dari negara asalnya =,=


    #12 Pemakaian Jangka Panjang dan Keamanan Produk

    Ini ada kaitannya dengan keamanan zat-zat yang tergantung dalam produk.

    Bagus ngga sih, skin care A kalo dipake bertahun-tahun? Ada efek sampingnya ngga? dst dst dst.

    Karena awareness mengenai chemical ingredients di skin care makin marak, jadi makin banyak pula yang beralih menggunakan DIY dan vegan skin care :D

    Kalo udah segitu strictnya dengan chemical ingredient dalam skin care, baiknya diimbangi juga dengan rutin olahraga dan makan-makanan yang sehat (no junk food, msg berlebihan, dll... kalo masih, ya sama aja boong dong hehe).

    Sekarang banyak banget skin care gajebo yang beredar dan menawarkan hasil yang instan. Mirisnya, ngga jarang ada yang punya pikiran, "yang penting kinclong dulu, kalo udah putihan, ganti pake skin care biasa buat maintain".

    Iya kalo kinclong, kalo malah break out parah?

    Dengan banyaknya informasi dan testimoni yang beredar, kita juga harus jeli ngeliat produk-produk yang kesannya too good to be true (biasanya merk antah berantah), mengatasi semua masalah kulit hanya dengan satu produk misalnya (ya, namanya juga orang jualan).

    Produsen kosmetik internasional besar kayak L'OREAL, Amore Pacific, Kiehls, Shiseido, Estee Lauder, dst (yah sebut semua merk gede) punya dana dan fasilitas yang mumpuni buat riset.

    Meskipun begitu, mereka menawarkan skin care dengan seri terpisah (mis. khusus buat aging, brightening, pore care, dst), karena emang perawatan wajah yang tepat ya fokus di problem kulit spesifik dan progresnya pun tetep butuh waktu :D

    Mungkin masih ada temen-temen yang belum tau ya. Sekarang izin registrasi BPOM itu dipermudah, makanya ngga heran makin kesini makin banyak merk skin care baru yang beredar.

    BPOM memberi nomor registrasi, kemudian produk diedarkan, dan BPOM melakukan pengawasan post market.

    Jadi, kalo ternyata ada hal-hal yang ngga diinginkan (entah dari hasil pengecekan sampel secara acak setelah produk diedarkan atau melalui laporan/keluhan masyarakat), baru deh BPOM menarik produk dari peredaran.

    Dengan kata lain, produk yang dipasarkan itu sepenuhnya tanggung jawab produsen/perusahaan (cmiiw yaa).






    Tentang Mind Set

    #13 Jangan Membandingkan Kondisi Kulit Wajah Sendiri dengan Orang Lain

    Memang ada orang-orang yang secara genetik kulitnya bagus, meski pola makan dan tidurnya berantakan, minum alkohol, atau ngga telaten merawat muka.

    Ada juga orang-orang yang resiliensi kulitnya bagus, misal kulitnya lebih cepat pulih setelah mengalami break out, menunjukkan progres yang lebih cepat dan memuaskan dibanding kita (padahal menggunakan skin care yang sama).

    Kalo ketemu orang-orang tersebut, ngga perlu membanding-bandingkan, ngga bakal ada habisnya. Yang ada ntar malah makin ngga sabar ngerawat kulit, ngeluh kesana-kemari, trus malah nyiksa kulit dengan gonta-ganti produk skin care dalam jangka waktu pendek karena ngga puas.

    Mending evaluasi rangkaian perawatan yang kita jalani, apa yang perlu ditambah (mis. maskeran) atau dikurangi (mis. keseringan scrubbing)? Apa perlu atur pola makan lagi, apa karena ngga rutin pake sunblock, kurang minum air putih, dst dst dst.

    #14 Realistis

    Buat aku yang bolak-balik break out, jangankan punya kulit cerah bersinar kayak lampu neon, punya kulit yang ngga bermasalah dan ngga gitu reaktif aja udah syukur alhamdulillah.

    Belajar dari pengalaman, makin kesini aku jadi lebih tau kulitku kalo lagi bagus, sebagus apa. Dengan begitu, aku jadi ngga ketinggian masang ekspektasi selama merawat kulit wajah.


    Ada juga keluhan yang ngga realistis (aku pun juga ngalamin hehe). Misal ngerasa "item" banget, padahal biasa aja, malah kulitnya glowing tanned keren gitu.

    Heboh, kelabakan karena lagi jerawatan parah, eh pas diliat fotonya ternyata cuma jerawat pms 2-3 biji doang.

    Sadar ngga sadar, kadang kita mempersepsikan masalah secara berlebihan, akibatnya susah nemuin skin care yang cocok.

    Ah, masa cuma pake gini doang? Ngga mempan ah," ---> udah ngomong kayak gitu setelah dapet saran dan resep yang biasa aja, padahal dicoba aja belom.

    Keluhan lain yang sering aku dengar adalah, "produk A putihnya lama, produk B cepet mutihin".

    Gini, produk pencerah atau pemutih pada hakikatnya berfungsi untuk meratakan warna kulit wajah, mengurangi kusam, sehingga kulit tampak lebih cerah (bukan mengganti skin tone asli kita).

    Jadi, jangan ngarep punya kulit putih khas kaukasian kalau kulit kita aslinya kuning langsat/sawo matang khas Indonesia. Hasilnya cepat atau lambat pun tergantung kondisi kulit masing-masing orang.

    "Poriku kok ngga kecilan yah? Produk A boong nih!"

    Hmmm... sependek pengetahuanku, produk perawatan pori umumnya emang buat clarifying dan mengencangkan (pore tightening). Jadi, pori terlihat samar.

    Kalo untuk mengecilkan biasanya pake laser (mengembalikan ke ukuran semula cmiiw). Kalo secara genetis pori-pori kita udah gede ya ngga gitu signifikan perubahannya.

    Selain itu, yang jadi pertimbangan adalah biaya yang mahal dan perawatan pasca treatmentnya yang ribet (pori bisa melebar lagi karena aging, sinar uv, dll).

    Ingat, fokus merawat kulit adalah untuk menyehatkan. Kulit yang sehat bakal keliatan cantik dan glowing dengan sendirinya. Kalo fokusnya menyehatkan, kita juga bakal lebih hati-hati nemplokin ini itu ke kulit kita.

    ---

    Huwaaa catatan yang panjang.

    Ngga apa-apa deh ya, daripada bolak balik dibahas di email dan komen hehehe.

    Jadi, apa pertimbanganmu dalam memilih dan menggunakan skin care? Yuk share di mari :D

    Wallahu a'lam.
    Semoga bermanfaat.
    Thanks for reading and have a nice day.