Tentang Produk Perawatan Wajah

Rabu, 19 Maret 2014
Hmmm... Ada yang bilang supaya dapet hasil maksimal, kita harus pake produk berlayer-layer. Mulai dari toner, booster, ampoule, hingga moisturizer. 

Istilah-istilah produk skin care memang kadang membingungkan.

Baca juga : Apakah Kamu Berlebihan Merawat Kulit Wajah?


Di postingan ini, saya ingin sharing pengetahuan dasar tentang sebagian jenis kosmetik yang beredar. Bukan berarti saya lebih tahu ya. Kalo ada yang mau koreksi atau menambahkan hayuk-hayuk ajaa :D


Toner

Toner biasa juga disebut lotion (di Jepang, contohnya Hada Labo), balancer/balancing water (contohnya Sulwhasoo), skin hydration, dst.

Kalo di Jepang atau Korea, "toner" umumnya diratakan di telapak tangan, kemudian ditepuk-tepuk lembut di wajah. 

Fungsinya untuk mempersiapkan kulit wajah ke step perawatan berikutnya. Biasanya juga dipake buat CSM-an (Chizu Saeki Methode atau dengan compressed mask).

Sedangkan di negara-negara western dan juga Indonesia, istilah toner dikenal sebagai produk yang berfungsi untuk meringkas pori dan memastikan ampas cleanser sebelumnya bener-bener terangkat (bersih). 

Caranya dengan dituang ke cotton pad (kapas), trus dilap lembut di kulit wajah.


Yang perlu diperhatikan, toner dengan kadar alkohol tinggi (ditandai dengan sensasi cekit-cekit/perih ketarik, cepat kering) itu umumnya tidak dianjurkan untuk tipe kulit kering, kombinasi, sensitif, rosacea, karena bisa bikin kulit makin kering.
Ingat prinsip perawatan wajah: usahakan kulit kita ngga kering. 
Harus ada keseimbangan antara air dan minyak di kulit untuk menjaga skin barrier. Karena itulah toner beralkohol atau toner dengan fitur pembersih tidak bisa dijadikan masker.

Baca juga : Perlu Toner atau Tidak?



Selain itu, ada juga yang namanya facial spray.

Facial spray terbagi dua. Pertama, facial spray yang mengandung air mineral atau thermal water, seperti thermal spring water (merk yang populer adalah Avene), mineral spray, deep sea water, beauty water, dan sebagainya. Fungsinya menghidrasi dan menyeimbangkan pH kulit.

Baca juga : Evian Natural Mineral Water Facial Spray

Kedua, facial spray (atau toning mist) yang mengandung ingredient tambahan seperti minyak esensial, ekstrak tumbuh-tumbuhan, atau glycerin yang berfungsi untuk mengunci kelembaban kulit.

Baca juga : Mineral Botanica Fresh Face Mist





Booster

Booster mungkin kurang begitu populer di Indonesia cmiiw. Booster digunakan setelah toner dan sebelum serum/essence untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi rangkaian produk skin care yang kita gunakan. 

Kadang fungsinya suka rancu gitu sama toner/balancer.

---

Essence, Serum, Ampoule.


Essence adalah produk yang mengandung fitur dan konsentrat spesifik. Umumnya punya tekstur yang agak encer dan ringan.

Contoh fitur essence di antaranya...

(1) whitening essence untuk mencerahkan dan meratakan warna kulit, 
(2) pore tightening buat mengencangkan pori, 
(3) skin repairing untuk memperbaiki tekstur dan meningkatkan vitalitas kulit, dan sebagainya. 


Serum pun mengandung konsentrat spesifik, tapi lebih tinggi kadarnya dibanding essence. Tekstur serum ringan dan umumnya lebih cepet meresap dibanding essence.

Serum juga banyak banget macemnya. Ada yang khusus buat anti aging, brightening, anti melanin spot, dan lain-lain.


Ampoule yang konsentratnya paling tinggi di antara essence dan serum. Ngga heran kalo produk ampoule mahal-mahal hehehe. 

Tekturnya encer banget, biasanya persis seperti air. Formulanya juga meresap lebih cepat dan progresnya sudah terlihat dalam jangka waktu yang lebih singkat.

Singkat di sini maksudnya tetep ada proses ya, bukan berarti instan dipake semalam-dua malam, paginya langsung mulus kayak Song Hye Kyo.

"Ampoule" dulunya dikemas dalam wadah kaca kecil mungil yang kedap udara. Tujuannya untuk menghindari teroksidasinya zat atau kandungan yang sangat reaktif (malah ngga ngefek ntar).

Jadi, ditinjau dari sisi konsentrat dan efektivitas produk, kurang lebih seperti ini...

Essence < Serum < Ampoule

---

Moisturizer

Tekstur pelembab wajah bermacam-macam. Yang paling sering beredar adalah krim, emulsi, gel, oil, dan balm.

Emulsion atau biasa dikenal dengan tekstur milk/lotion umumnya digunakan untuk tipe kulit kombinasi. Tidak meninggalkan kesan berminyak, karena umumnya water-based. 

Emulsi ampuh melembabkan , walau teksturnya ringan dan dioles tipis.

Gel mengandung humectant (bahan untuk menahan kelembaban kulit) seperti silicone (tapi lebih ringan) untuk kulit berminyak. Disukai karena ada efek semriwing yang bikin fresh dan biasanya tidak membuat kulit semakin berminyak.

Tekstur krim adalah yang paling sering kita temui. Kandungan minyak atau agen pelembabnya lebih kaya dibanding emulsi dan gel. 

Umumnya, tekstur krim ditujukan untuk tipe kulit kering, atau untuk orang yang sepanjang hari beraktivitas di ruangan ber-AC (cuaca dingin/udara kering).

Jenis dan konsistensi krim dan lotion juga banyak. Ada yang rada kering, agak basah, yang agak berminyak pun ada. Karena tekstur produk disesuaikan dengan kebutuhan kulit yang spesifik (di kulit berminyak ngga greasy, di kulit kering tetep bisa melembabkan, dll).


Produk yang teksturnya oily biasanya minyak esensial gitu gaes. 

Ngga perlu parno dengan minyak (asal bukan minyak yang menyumbat pori/comedogenic), karena kulit juga tetep butuh diminyakin (makanya kita punya kelenjar minyak hehe).

FYI, karena itulah produk-produk kecantikan yang oke (untuk kulit berminyak/kombinasi) banyak yang judulnya oil controlling, bukan oil removing. 

Pada kondisi kulit tertentu, justru pelembab dan pembersih berbasis minyak itu malah bantu mengontrol produksi minyak di wajah. 

Produk minyak yang lagi beken adalah argan oil, jojoba oil, macadamia oil, rose hip oil, dan lain-lain.

Balm teksturnya lebih padat (solid) kalo dibandingkan dengan krim. Biasanya dianjurkan buat kulit yang kering banget. 

Ngomong-ngomong, ada juga produk skin care bertekstur balm, tapi bukan sebagai pelembab. Ada yang buat ditotol-totol di jerawat atau dioles di hidung untuk melunakkan komedo (ada fitur self-heatingnya, bikin komedo gampang dikeluarin). 

Kalo produk lokal Indonesia kayaknya jarang, banyakan produk dari negara 4 musim gitu.


Baca juga...

1) Tipe dan Kondisi Kulit (+++ Info Lainnya)
2) Tips Belanja Produk Skin Care


Wallahu a'lam.
Semoga bermanfaat.
Thanks for reading and have a nice day.

DIY Facial Mask : Activated Carbon/Charcoal (Untuk Komedo)

Minggu, 09 Maret 2014
Tutorial diy mask ini saya temukan saat berkelana di rimba youtube. Selain itu, di makeupalley, activated charcoal sebagai diy mask juga punya rating lumayan (4,1 dari skala 5).

Noted!

Tidak semua orang cocok menggunakan DIY Activated Charcoal Mask.


---

Activated carbon/charcoal emang lagi hip banget ya dalam dunia kosmetik. Mulai dari face wash, konjac sponge, sampe masker ada kandungan charcoalnya.

Padahal eh padahal activated carbon/charcoal sebelumnya lebih dikenal sebagai obat keracunan makanan, perut kembung, dan diare.

Tapi oke juga ternyata untuk memutihkan gigi, pertolongan pertama setelah digigit ular (nyerap bisa, moga-moga kita ga ngalamin yang kayak gini yaa), dan kulit (terutama yang acne prone) karena dapat menyerap toksin. 

Kalo mau baca-baca penjelasan ilmiahnya bisa googling lebih lanjut.

Apa aja sih yang diperlukan?

(1) Activated carbon/charcoal (ini bukan arang kayu biasa lho, beda). Bisa beli di apotik atau minimarket. Ada yang serbuk, ada yang pil. Yang gampang didapet itu norit :)) 

(2) Paling sering disandingkan dengan lidah buaya atau aloe vera gel.


Karena activated carbon/charcoal sifatnya mengeringkan, untuk dijadikan masker sewajah baiknya dicampur dengan bahan-bahan lain yang sifatnya menghidrasi atau melembabkan.

Opsi lain (belum saya coba semua), yaitu...
  • Oatmeal
  • Madu
  • Yoghurt
  • Air kelapa, dll.

Cara Pemakaian...
  • Dioles dan diratakan di area kulit yang berkomedo atau T-zone.
  • Ditotol di jerawat.
  • Cukup 1-2 kali seminggu untuk kulit kering dan sensitif.
  • Pemakaian 2-3 kali seminggu untuk tipe kulit berminyak.
  • Maskeran pake charcoal mesti ati-ati banget. Gausah pake baju bagus-bagus pas maskeran, biar ngga nyesek kalo kena noda item.

Takarannya dicoba dikit-dikit aja dulu, trus diaduk sampai konsistensinya pas. Supaya bisa nempel di kulit wajah dan mudah dibersihkan saat dibasuh air.


Meski sudah dicampur dengan bahan yang melembabkan (air kelapa, madu, yoghurt, dll), tapi saya tidak menganjurkan masker ini untuk pemakaian sewajah (hanya untuk area yang memang butuh).

Kecuali dengan perbandingan 1 (tablet charcoal) : 10-ke-atas (bahan-bahan lain yang melembabkan). Soalnya, masker ini bikin kulit kering.
Setelah maskeran, kulit wajah mesti langsung dilembabkan supaya barriernya tidak terganggu.
Biasanya saya pake 2 tablet, untuk area hidung, pipi, dan dahi. Sedangkan untuk area hidung, 1 tablet sudah lebih dari cukup.

DIY activated charcoal mask ini saya gunakan sesekali saja sebagai pengganti clay mask (ditotol di spot yang berkomedo). 

Durasi maskeran

Ada yang menganjurkan 20 menit (standar durasi maskeran), ada pula yang berpendapat cukup 10-15 menitan. Kalo saya sih kadang nunggu sampe maskernya kering aja haha.

Kemaren pas foto-foto ini malah dengan dodolnya ketiduran, tapi alhamdulillah ngga kenapa-kenapa :))


Pengalaman pake DIY Charcoal Mask

Kalo ngga mau berantakan, bersihinnya pake lap basah. Kalo mau langsung bilas, mesti ati-ati biar ngga ngotorin baju.

Kurang lebih hasilnya sama dengan pemakaian rutin menggunakan masker clay atau masker lumpur laut mati. Jadi banyak komedo kering mateng setelah maskeran kurang lebih 20 menit, rutin selama beberapa hari (bukan sekali-dua kali pake).

Setelah itu saya sadar kenapa banyak yang menyebut diy activated carbon/charcoal mask sebagai black/whitehead buster.

Komedo jadi gampang dikeluarin karena mateng berjamaah (gatau ini pros atau contranya hahaha). PR banget buat ngeluarin (ekstraksi) satu-satu. Pengennya sih sekali pake, pas bilas wajah, komedonya ikut keangkat semua| #ngimpi.



Intinya, efek setelah maskeran?

(1) Biasa aja.
(2) Ngga mencerahkan (yayalah), ngga bikin halus juga :D
(3) Pemakaian rutin bikin komedo cepet mateng dan jadi gampang dikeluarin.
(4) Kalo ditotol di jerawat, jadi cepat kering.

---

DIY charcoal mask ini lumayan sering direview untuk mengatasi komedo dan jerawat 1-2 biji (bukan break out sewajah).

Coba cek-cek review di youtube juga ya, soalnya banyak alternatif penggunaannya.

Ada juga yang ngga suka dengan diy charcoal mask ini, karena menyisakan item-item di wajah mereka. Btw, pori-poriku gede-gede sih, tapi ngga ngalamin yang namanya ampas masker masih sisa di muka.


Sekali lagi, masker ini membuat kulit jadi kering.

Kalo kamu (terutama pemilik tipe kulit kering dan sensitif) merasa masker ini memicu reaksi ngga wajar di kulit, langsung bilas aja dan ngga usah ditelateni. Bisa jadi emang ngga cocok buat kulit kamu.

Karena itulah rata-rata menyarankan durasi maskerannya 10-15 menit aja, yang penting rutin, gitu. Ngga berasa sih emang kalo bentaran doang, tapi ternyata lumayan ngefek kok.

Yang punya tipe kulit berminyak, jangan keburu hepi tau masker ini bikin kulit rada-rada "matte".

Ingat, saat kulit kering, kelenjar minyak makin kerangsang untuk memproduksi minyak berlebih. Jadi, setelah maskeran atau bersihin muka, mesti buru-buru dilembabkan :D

Baca juga : INDO' LOGO : Lulur Hitam Tradisional yang Bisa Di-Peel-Off

Wallahu a'lam.
Semoga bermanfaat
Thanks for reading and have a nice day.