Perlukah Pre-School Untuk Anak Usia 2-3 Tahun?

"Jeng, anakku udah jago bahasa Inggris lho"
"Wah, anakku baru ngerti menulis dan membaca doang ni."
Demikian percakapan dua orang ibu dengan anak usia 2 tahun :|


Setiap orangtua jelas menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Ada pula yang tidak merasa keberatan mengeluarkan biaya mahal untuk pre-school dengan kualitas terbaik katanya. Akan tetapi, haruskah anak usia 2-3 tahun disekolahkan di pre-school?

---

Ada beberapa pertimbangan untuk memutuskan apakah anak perlu didaftarkan ke pre-school atau tidak, di antaranya:
  • Orangtua harus mengetahui dan memahami program dan sistem yang dilaksanakan oleh sekolah tersebut. 
  • Apakah anak siap masuk sekolah? 
  • Apakah kurikulum yang dilaksanakan menyenangkan atau malah membebani anak? 
  • Apakah anak menikmati atau justru merasa tertekan? 
  • Bagaimana kesiapan finansial orangtua?

Hal-hal tersebut perlu dicermati orangtua untuk membuat keputusan yang tepat.

Apakah pemanfaatan golden age hanya dapat dilakukan di pre-school?
Jawabannya tidak. Orangtua juga bisa meningkatkan kemampuan anak di rumah. Orangtua dapat membuat permainan yang sederhana dan edukatif.

Apa yang dapat dilakukan orangtua agar anak dapat berkembang secara optimal?
  • Pengenalan warna dapat merangsang aspek memori anak. 
  • Bermain dengan mengelompokkan benda berdasarkan bentuk dan ukuran dapat merangsang aspek kognisi anak. 
  • Membacakan dongeng atau cerita rakyat pada anak dapat merangsang aspek emosi. 
  • Mengajak anak ke acara keluarga dapat melatih keterampilan sosial. 
  • Belajar bahasa asing juga dapat dilakukan di rumah, asal dilakukan secara konsisten. Hindari mencampur dua bahasa yang berbeda karena dapat mengganggu perkembangan bahasa dan membingungkan anak, misalnya "do you want jeruk?". 
  • Mengajari bahasa asing pada anak akan lebih efektif jika menggunakan bahasa sederhana yang langsung diterjemahkan ke dalam dua bahasa, misalnya "this is orange, ini jeruk." 
  • Hindari penggunaan kata tidak dan jangan karena dapat menghambat kreativitas anak. 
  • Lakukan secara menarik dan menyenangkan.

Semoga bermanfaat.
Thanks for reading and have a nice day.

Blogging since 2011 // Twenty-something, but not quite grown up // Over-thinker // Acne-proner // Minguk admirer // Addicted to mineral water // Contact : haihanitisblog@gmail.com

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

2 komentar

Write komentar
6 Oktober 2013 11.16 delete

Oohh..i like this post! Betul sekali, sebenarnya anak bisa kita latih sendiri di rumah dengan media yg ada. Rencana buat anak sih nanti begitu. Sepertinya pendapat ini banyak bertentangan sama ibu2 sebaya masa kini hehehe.. Apalagi yg pengen masukin playgroup bilingual. Tp itu hak mereka ding, kalo aku pgn kenalkan bahasa indonesia (dan sedikit kosakata jawa halus) supaya dia tau akar silsilahnya. Wehh.. Maap nyerocoss..blognya bagussss. Hanitis pasti ntar jd Istri dan Ibu yang baiiikkk, amin ;)

Reply
avatar
6 Oktober 2013 21.23 delete

Iyaaa :D Sekarang juga udah banyak buku-buku atau ebook parenting yang membantu banget ortu muda. Kalo punya anak ntar, aku pengen banget ngasah kepekaan dan keterampilan sosialnya, emosi, dst. Ngeri liat perkembangan anak jaman sekarang ^^;

Makasih :D semoga bermanfaat yaa.
Amin amin amiiiiiiinn, sama-sama mbaaa :*

Reply
avatar

Bisa juga kirim email ke haihanitisblog@gmail.com atau direct message instagram @haihanitis. EmoticonEmoticon