Skin Care Talk // Personal Thought // Blogging Experience

Kulit Putih = Cantik (?)

Sabtu, 18 Agustus 2012
Banyak cewek yang nelangsa karena statement itu. Kulit putih = cantik. Saking pengennya punya kulit putih, segala skin care whitening tanpa mempedulikan keamanan produk pun dicoba. Dari yang efeknya lama, sampe ke "perubahan dapat terlihat dalam 7 hari", bahkan ada juga yang "perubahan dapat dilihat hanya dalam satu kali pemakaian".

Media dan masyarakat ngebentuk opini bahwa yang putih itu cantik, yang coklat-sawo matang itu dekil. Liat aja iklan di tipi-tipi, cewe yang kulitnya coklat ngga dilirik, tapi setelah make produk tertentu (secara ajaib) langsung ditaksir sama cowo-cowo. 


Banyak orang yang mencoba produk skin care tertentu, tapi berhenti dengan alasan ga bikin putih (uhuuukk, aku juga dulu gitu kok haha). Kalo warna kulit aslinya ngga putih, kenapa ngotot pengen putih? :'(


Nah... obsesi pengen kulit putih dengan cepat itu menjadi berbahaya ketika segala cara dilakoni, misalnya dengan menggunakan skin care berbahaya. Akhir-akhir ini, marak krim pemutih bermerkuri. Dijual mulai harga 10ribuan sampe 800ribuan. Gila kan?

Krim-krim pemutih yang ngga jelas dan ditengarai berbahaya itu dikenal dengan sebutan krim kiloan, krim walet, krim 99, krim racikan, krim dokter palsu/abal-abal/bohongan, krim tabita, dll dll (sumber dari sini)

Oke, kulit emang bisa kinclong, putih, mengkilap. Dalam seminggu muka udah keliatan beda banget. Yayalah, nemplokin merkuri gitu bikin kulit tergerus, dan keliatan putih.... tapi ngga sehat.

Baca juga : Obsesi Kulit Putih Sebagian Orang Asia

Ciri-ciri krim yang bahaya gimana?
1. Nomor BPOM palsu atau malah ngga ada
2. Ingredient ngga jelas (whitening, tapi ngga ada whitening agent-nya)
3. Efeknya instan banget >.<
4. Warna krim mencolok (putih pearly-mengkilap, kuning gonjreng, ijo, oranye)
5. Wangi menyengat
6. Produsennya ngga jelas
7. Krim biasanya lengket
8. Krim tidak homogen, kadang ada lapisan minyaknya.

Apa sih bahaya krim bermerkuri?
Merkuri (Hg/raksa) yang dioleskan pada kulit akan bereaksi dengan sinar ultraviolet, sehingga menyebabkan iritasi, pigmentasi, dan penuaan kulit dini. Karena struktur kulit dan produksi melanin terganggu, maka kulit rentan terkena kanker. Merkuri juga dapat merusak secara permanen organ saraf, ginjal, liver (hati), dan lain-lain. Jika pengguna dalam keadaan hamil, janin dapat mengalami gangguan berupa kerusakan otak dan kecacatan lainnya. (sumber dari sini)

Krim bermerkuri juga dapat diidentifikasi dari gejala keracunan metabolisme tubuh, yaitu:
1. Pusing,
2. Disorientasi ruang,
3. Mual-mual,
4. Tremor (gemetar),
5. Susah Tidur,
6. Gangguan Penglihatan,
7. Gangguan Emosi,
8. Depresi,
9. Serta Lupa (pikun)

Tuuh.. Masih mau pake krim berbahaya? T.T Hiks. Ngolesin krim bermerkuri di muka sama aja dengan nyiksa kulit dan diri kita sendiri. Jadi, teman-teman, sodara-sodara, ibu-ibu, tante-tante.... Muka kita cuma satu ini, jadi harus aware dengan apa aja yang kita pakai. Jangan sampe bikin cantik, tapi berbahaya. Masih banyak produk skin care yang aman, udah dikenal bagus, dan yang penting terdaftar BPOM. Sebut saja L'OREAL, Biokos, Olay, Ponds, Garnier, Wardah, Clinique, SK-II, Oriflame, The Body Shop, daaaan lain-lain.

Oh iya, rata-rata produk dengan judul whitening pun ngga serta merta memutihkan kulit jadi seperti artis-artis korea guys (kecuali dasarnya kulit kamu emang putih) :D Untuk warna kulit khas orang Indonesia (kuning langsat dan sawo matang), efeknya lebih ke mencerahkan dan meratakan warna wajah. 

Ngga ada skin care yang bisa membuat kulit wajah nyaris sempurna hanya dalam sekali-dua kali pemakaian. Semuanya butuh proses dan ngga instan. Ngurus wajah itu mesti sabar dan telaten. Mesti rutin eksfoliasi, maskeran, massage, dan sebagainya biar kulit tetep sehat dan ngga kusam. Kulit yang cantik itu ngga semata-mata tentang putih. Kalo kulit udah bersih dan sehat, bakal keliatan glowing dengan sendirinya :D
Daripada pusing-pusing pengen putih, mending mupuk rasa cinta ke fisik kita *duileee* Karena kalo kita udah cinta, kita jadi lebih care dengan keamanan produk yang kita gunakan. So, love your skin, and your skin will love you back #halah.

Maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan :D
Thanks for reading and have a nice day.

Respon dan Pengelolaan Stres

Jumat, 03 Agustus 2012
Pada postingan sebelumnya telah dipaparkan apa sih stress itu. Nah, kali ini yang akan dibahas adalah sudut pandang terhadap hubungan stress dan penyakit, kenapa respon tiap orang pada stress itu bisa berbeda, dan pengelolaan stress.



Respon terhadap Stres
Seperti yang telah kita ketahui, dalam situasi yang sama-sama menekan, respon tiap orang bakal berbeda-beda. Ada yang biasa aja, ada yang panik, ada yang ngga tau mesti ngapain, ada yang nangis, dan lain-lain. Reaksi terhadap stress bervariasi antara orang satu dengan orang yang lain dan dari waktu ke waktu pada orang yang sama. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yang dapat merubah dampak stressor bagi individu, antara lain :
  • Variabel dalam kondisi individu: umur, tahap kehidupan, jenis kelamin, temperamen, faktor genetik, inteligensi, tingkat pendidikan, suku, kebudayaan, status ekonomi, serta kondisi fisik.
  • Karateristik kepribadian: introvert-ekstrovert, stabilitas emosi, kekebalan, ketahanan psikologis. 
  • Variabel sosial-kognitif: dukungan sosial dan jaringan sosial yang dirasakan. 
  • Strategi coping yang dilakukan 

Berdasarkan beberapa sudut pandang atau pendekatan mengenai stress dan hubungannya dengan penyakit adalah........
  1. Sudut Pandang Psikodinamik. Terdapat asumsi bahwa gangguan tersebut muncul sebagai akibat dari emosi-emosi yang direpress. Hal-hal yang direpress akan menentukan organ tubuh mana yang terkena penyakit, contohnya apabila seseorang merepress kemarahan maka berdasarkan pandangan ini kondisi tersebut dapat memunculkan essential hypertension. 
  2. Sudut Pandang Biologis. Salah satu sudut pandang biologis adalah somatic-weaknes model yang memiliki asumsi bahwa hubungan antara stress dan gangguan psikofisiologis terkait dengan lemahnya organ tubuh individu. Faktor biologis seperti genetik atau penyakit yang sebelumnya pernah diderita membuat suatu organ tertentu menjadi lebih lemah daripada organ lainnya hingga akhirnya rentan dan mudah mengalami kerusakan ketika individu tersebut dalam kondisi tertekan dan tidak fit. 
  3. Sudut Pandang Kognitif dan Perilaku. Sudut pandang kognitif menekankan pada bagaimana individu mempersepsi dan bereaksi terhadap ancaman dari luar. Seluruh persepsi individu dapat merangsang aktivitas sistem simpatetik dan pengeluaran hormon stress, munculnya emosi yang negatif seperti perasaan cemas, kecewa, dan sebagainya. Akhirnya dapat membuat sistem ini tidak berjalan dengan lancar dan pada suatu titik tertentu akhirnya memunculkan penyakit.

--------------

Pengelolaan Stres
Secara umum, stress dapat diatasi dengan melakukan transaksi dengan lingkungan di mana hubungan transaksi ini merupakan suatu proses yang dinamis. Berikut cara-cara yang dapat digunakan dalam proses pengelolaan stress:

A. Model-model coping
Coping merupakan suatu proses dimana individu mencoba untuk mengelola jarak yang ada antara tuntutan-tuntutan (baik itu tuntutan yang berasal dari individu maupun lingkungan) dengan sumber-sumber daya yang mereka gunakan dalam menghadapi situasi yang penuh stress.

Secara umum coping dibagi menjadi dua, yaitu :

1 | Coping berpusat pada emosi (emotion-focused coping)
Merupakan usaha untuk mengurangi dampak dari sumber stress, seperti menolak sumber stress atau menarik diri dari situasi (dengan mekanisme pertahanan diri). Contoh : ketika sakit, seseorang akan menangis. 

Penolakan adalah cara yang paling utama dalam melakukan coping terhadap penyakit. Bentuk-bentuk penolakan antara lain :
a. kegagalan mengenali keparahan penyakit,
b. mengurangi beban emosional yang disebabkan oleh penyakit,
c. menghubungkan secara keliru gejala penyakit dengan sebab-sebab lain,
d. mengabaikan informasi yang negatif tentang penyakit.

Bentuk lain coping yang berpusat pada emosi adalah penghindaran. Seperti halnya penolakan, penghindaran juga berdampak buruk bagi kesehatan. Bentuk lain lagi adalah penggunaan fantasi untuk pemenuhan harapan. Dalam bentuk ini, orang berfantasi bahwa penyakit itu sebenarnya tidak ada. Jenis coping ini pada dasarnya tidak mengurangi masalah, tetapi hanya membantu seseorang untuk mengatur stressnya.

2 | Coping Berpusat pada Masalah
Coping ini merupakan strategi untuk menghadapi sumber stress, seperti mencari informasi tentang penyakit dengan belajar sendiri atau konsultasi dengan ahli medis. Individu menghadapi sumber stressnya dan melakukan sesuatu yang dapat mengubah situasi tress atau mengubah cara untuk mengurangi sumber-sumber stress yang merusak. Misal, ketika sakit, ya pergi ke dokter. Coping ini akan membantu seseorang untuk mengembangkan kerangka berpikir yang optimis.


B. Harapan akan Self-Efficacy
Harapan ini berkaitan dengan harapan kita terhadap kemampuan diri dalam mengatasi tantangan yang kita hadapi, harapan terhadap kemampuan diri untuk dapat menampilkan tingkah laku terampil, dan harapan terhadap kemampuan diri untuk dapat menghasilkan perubahan hidup yang positif. Kita mungkin dapat mengelola stress dengan lebih baik, termasuk stress karena penyakit, apabila kita percaya diri dan yakin bahwa kita mampu mengatasi stress (memiliki harapan yang tinggi).

C. Ketahanan Psikologis
Ketahanan psikologi merupakan sekumpulan trait individu yang dapat membantu dalam mengelola stress yang dialami. Secara psikologis, orang yang ketahanan psikologisnya tinggi cenderung lebih efektif dalam mengatasi stress dengan menggunakan pendekatan coping yang berfokus pada masalah secara aktif. 

D. Optimisme

E. Dukungan Sosial
Memiliki kontak sosial yang luas membantu melindungi sistem kekebalan tubuh terhadap stress. Dengan adanya orang-orang di sekitar akan membantu orang tersebut menemukan alternatif cara dalam menghadapi stressor atau sekedar memberi dukungan emosional yang dibutuhkan selama masa-masa sulit.

F. Identitas Etnik Individu
Berkaitan dengan etnis dan budaya yang mempengaruhi kepribadian seseorang.

Postingan ini dari makalah psikologi abnormalku dulu.
Berikut daftar pustakanya, bagi yang membutuhkan....

Fauziah, Fitri. 2007. Psikologi Abnormal Klinis Dewasa. Jakarta: UI Press. Nevid, Jeffrey S., dkk. 2005. Psikologi Abnormal. Edisi lima. Jilid1. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Semoga bermanfaat.
Thanks for reading and have a nice day.