Body Dismorphic Disorder

Kamis, 29 November 2012

Body Dismorphic Disorder/BDD (gangguan dismorfik tubuh) adalah suatu gangguan dimana seseorang sangat terpaku pada kerusakan fisik (dalam konteks penampilan) yang dibayangkan atau dibesar-besarkan.

Orang-orang dengan BDD dapat menghabiskan waktu berjam-jam untuk becermin, mengambil tindakan yang ekstrem untuk memperbaiki penampilan, bahkan menjalani operasi plastik yang tidak dibutuhkan.

Ada pula yang membuang cermin agar tidak teringat dengan "kecacatan" penampilan mereka.


Orang yang mengalami BDD meyakini bahwa orang lain memandang mereka jelek. Mereka menganggap penampilan yang tidak menarik dapat membuat orang lain berpikir negatif tentang karakter dan harga diri mereka sebagai manusia.

Sebagian besar orang dengan BDD merahasiakan gejala gangguan yang mereka alami. 

Mereka sering menunjukkan pola berdandan atau menata rambut secara kompulsif untuk mengoreksi kerusakan yang mereka persepsikan.

Berikut contoh kasus yang mungkin dapat memberikan pandangan yang lebih jelas mengenai BDD.

A merasa wajahnya terlalu rata. Dia selalu membayangkan apa yang orang lain pikirkan tentang dirinya. A sulit merasa bahagia, karena baginya untuk mencapai kesuksesan diperlukan kecantikan.

Saat rambut A tampak tidak bagus, dia merasa sangat jelek. Hampir setiap saat dia memeriksa diri di depan cermin untuk memperbaiki rambutnya.

Kadang dia memotong sendiri rambutnya karena tidak tahan melihat helaian yang menurutnya tidak seimbang. Dia memandang bagian tersebut sebagai suatu "kesalahan".

Dengan gaji yang standar, orang-orang tidak mengerti mengapa dia menghabiskan ratusan dollar hanya untuk memotong rambut.

Penanganannya?

Penanganan BDD biasanya menggunakan teknik kognitif-behavioral. Dilakukan pemaparan kerusakan fisik yang dipersepsikan atau dibayangkan, bukan dengan menutupinya dengan make-up atau pakaian.

Pencegahan respon berfokus pada pemutusan ritual kompulsif seperti terus-menerus memeriksa diri di depan cermin dan atau berdandan berlebihan.

Terapis akan menantang keyakinan yang terdistorsi mengenai penampilan fisik klien dengan cara menyemangati mereka untuk mengevaluasi keyakinan tersebut dengan bukti yang jelas dan nyata (tidak sekedar apa yang dibayangkan atau dipersepsikan klien).

Sumber: Nevid, Jeffrey S., dkk. 2005. Psikologi Abnormal. Edisi lima. Jilid 1. Jakarta: Penerbit Erlangga.

---

Kesimpulan

Yang perlu dipahami adalah orang dengan BDD bisa bercermin selama berjam-jam untuk memeriksa kekurangan fisik yang dia bayangkan/persepsikan.

Umumnya mereka tidak mau keluar rumah sebelum "sempurna" (make up, model rambut, dll) sebagai bentuk dari keyakinan atau pikiran yang terdistorsi. 

Bukan berarti semua yang dandan atau memperhatikan penampilan mengalami BDD. Yang jadi ciri khas adalah penampilan fisik mereka sebenarnya tidak bermasalah, hanya saja orang dengan BDD mempersepsikan secara berlebihan "kekurangan fisik" yang dia alami.

Baca juga : Tren Operasi Plastik di Korea Selatan

Wallahu a'lam.
Semoga bermanfaat.
Thanks for reading and have a nice day.
2 komentar on "Body Dismorphic Disorder"
  1. Baru tau Kalo ada yang gitu mbak. Tapi Kalo rata rata sih temanku begitu, keluar Kalo penampilan sudah yakin Ok banget. Wanna looks perfect,wasnt it Ok?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hmm kalo BDD ini sifatnya udah patologis. Ngga hanya sekedar pengen good looking, tapi sudah mengganggu keberfungsian dia sehari-hari ^^; wallahu a'lam.

      Hapus

Selain melalui kotak komentar, bisa juga kirim email ke haihanitisblog@gmail.com. Also, please kindly check "Frequently Asked Questions" (FAQ tab on menu bar) before asking. Thank you! ^^