Perlu Toner Atau Tidak?

Sekitar setahun lalu, secara khusus saya mulai memasukkan toner dalam regimen skin care. Kulit saya benar-benar menunjukkan perbedaan yang nyata saat menggunakan toner untuk "mengeringkan" dan menyiapkan wajah ke step berikutnya :D Pokoknya, saat ini toner jadi salah satu barang wajib buat saya untuk mengatasi kulit dehidrasi.

Baca juga : "Mengeringkan" Kulit Wajah

Ngomong-ngomong (meskipun banyak yang puas), ternyata penggunaan toner masih "diperdebatkan" perlu atau tidaknya. Hmmm...


Beda Pendapat

#1 Memastikan kulit benar-benar bersih?

Klaim tersebut seringkali dicemooh, karena kalau kita masih perlu toner untuk memastikan ada ampas pembersihan yang tertinggal, berarti produk pembersih yang kita gunakan tidak bekerja sesuai fungsinya.

Untuk pendapat ini, saya pilih 50-50.

Membersihkan wajah dari debu, sebum, kotoran biasa memang cukup dengan satu produk. Apalagi sekarang sudah ada cleansing water (satu produk pembersih yang memiliki fungsi toning).

TAPI untuk membersihkan make up, saya masuk tim double cleansing :p Setelah menggunakan cleansing oil, toner adalah produk yang cukup gentle untuk memastikan kulit benar-benar bersih, tanpa khawatir merusak skin barrier.

#2 pH kulit dapat pulih dengan sendirinya

Saya baru tahu kalo setelah cuci muka, pH kulit bisa pulih dengan sendirinya setelah 15-30 menit. Jadi, menurut mereka tidak perlu menggunakan produk dengan fungsi yang sebenarnya sudah mampu dilakukan kulit kita.

Yang ini juga saya 50-50.

Kulit normal dan berminyak emang ngga masalah kalau skip toner. Tapi, pada kondisi tertentu, kulit yang kering dan dehidrasi butuh rangkaian produk khusus supaya tidak gersang/kaku/tegang.

#3 Kulit Kaukasian & Kulit Asia

Beauty expert Barat umumnya berpendapat bahwa sebagian besar toner tidak memberi efek signifikan untuk kulit.

Wajar-wajar saja mereka mengeluarkan statement seperti itu, karena audiencenya adalah masyarakat Barat yang rata-rata Kaukasian.

Yang perlu kita pahami, kulit Kaukasian itu berbeda dengan kulit Asia. Kulit Asia punya lapisan dermis yang lebih tebal, tapi epidermisnya lebih tipis dibanding kulit Kaukasian.


Ini berarti, meskipun kulit orang Asia lebih awet muda (resistant to aging), skin barrier kulit Asia lebih lemah, lebih sensitif, lebih mudah muncul noda bekas jerawat atau luka, lebih mudah kehilangan kadar air di kulit, dan lebih lambat menyerap produk (sehingga perlu disiapkan untuk masuk ke step berikutnya).

Intinya... Dengan karakteristik kulit yang berbeda, tentu pendekatan perawatannya tidak sama persis. Ngga heran kalau produk toner sangat berkembang di Asia, karena memang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan tipikal kulit Asia pada umumnya.

---

Jenis Toner

Secara umum, toner bisa kita bagi menjadi tiga, yaitu toner biasa, toner yang sebaiknya dihindari, dan toner yang bagus (lol).

#1 Toner biasa

Toner biasa tidak memberi perubahan yang signifikan untuk kulit. Formulanya standar. Cocok digunakan untuk remaja, kulit normal, atau kulit yang tidak butuh perawatan intens.

Baca juga : Viva Spirulina Toner

#2 Toner beralkohol (astringent)

Astringent umumnya masuk dalam varian produk anti acne dan ditujukan untuk tipe kulit berminyak - acne prone. Cirinya, kandungan alkohol tinggi (ada di urutan kedua ingredient list) dan terasa pedih jika diaplikasikan di kulit.

Masalahnya, kulit yang dipaksa kering (dengan alkohol) justru memicu produksi sebum berlebih. Jadi kayak lingkaran setan gitulah.
Noted!
Tipe kulit kering, sensitif, dan dehidrasi wajib menghindari toner yang mengandung alkohol. Salah-salah malah iritasi.

Solusinya?
Untuk mengatasi komedo atau mencegah pori tersumbat, baiknya menggunakan toner non-alcohol yang mengandung salicylic acid. Salicylic acid dapat masuk ke dalam pori untuk membersihkan kotoran dan sebum. Selain itu, salicylic acid juga membantu mengontrol produksi minyak di kulit.

#3 Toner bagus

Toner yang recommended memiliki fungsi spesifik, seperti hydrating, anti aging, exfoliating, dst. Kadang dikemas dengan label lotion (Jepang), pre-essence, facial treatment essence, booster, atau skin balancer.

Produk seperti ini recommended untuk orang-orang yang beraktivitas di lingkungan berpolusi, stressful, sering terpapar terik matahari, dan memiliki konsen perawatan anti aging/rejuvenating.

Kontroversinya?
Beauty expert Barat pun setuju kalau toner yang bagus itu worth to try, TAPI lebih baik langsung menggunakan serum yang konsentratnya tinggi, karena tidak ada perbedaan yang berarti meskipun tonernya diskip. Cari saja serum dengan ingredient yang kita butuhkan (mis. salycilic acid, hyaluronic acid, vitamin C dan antioksidan lain). Dengan begitu penetapan regimen juga jadi lebih efisien dari segi budget.

---

Cara tahu kulit butuh toner atau tidak?

Skip penggunaan toner sekitar 3-7 hari. Biasanya di awal sudah kerasa sih bedanya. Tapi kalau ragu, coba berhenti selama seminggu dan amati perbedaannya. Kalau kulit terasa lebih baik dengan toner, berarti kulit kita memang butuh ditoning sebelum menggunakan serum atau pelembab.

Bagi yang belum pernah memakai toner, bisa coba toner biasa dulu. Kalaupun mau pake toner yang bagus, untuk pertama kali amannya cari yang satu seri dengan serum atau pelembab yang sedang kita gunakan.

---

Kesimpulan

Ada kulit yang butuh toner, ada juga yang tidak.

Dalam memilih jenis toner, kita perlu mempertimbangkan tipe, kondisi, dan kebutuhan kulit kita sendiri. Apa yang cocok buat orang lain, belum tentu cocok di kita. Begitu pula sebaliknya.

Produk toner bisa diskip dari regimen skin care, jika (1) kulit kita tidak butuh skin care berlayer-layer, (2) sudah ada serum berkonsentrat tinggi dengan formula spesifik (tonernya jadi rada useless atau khawatir overdoing), dan (3) anggaran skin care terbatas.

Baca juga : Apakah kamu berlebihan merawat wajah?

Artikel lain tentang toner bisa baca di sini...

Tentang Produk Perawatan Wajah
Toner, Mineral Oil, dan Stress
Toner, Facial Spray, dan Face Mist

Semoga bermanfaat.
Thanks for reading and have a nice day.

Obsesi Kulit Putih Sebagian Orang Asia

Produk pemutih/pencerah merupakan salah satu bisnis yang menjanjikan di Asia. Bahkan beberapa tahun belakangan, industri kosmetika juga mentargetkan kaum pria dengan mempromosikan standar yang sama, bahwa kulit putih membuat kita lebih rupawan.

Beragam produk pemutih beredar di masyarakat, di antaranya krim, masker, suplemen pemutih, hingga treatment di klinik kecantikan. Pokoknya, kalau mau laku, pake embel-embel whitening aja :D


Di Cina, kulit putih dikatakan mampu menutupi seratus kejelekan. Sedangkan di Jepang, jauh sebelum masuknya pengaruh Eropa dan Amerika, ada istilah "kulit putih menutup tujuh cela". Yang berarti, wanita berkulit putih akan terlihat cantik, meski wajahnya tidak menarik.

Setidaknya ada empat alasan kenapa kulit putih digandrungi sebagian orang Asia, yaitu...

Kelas Sosial yang Tinggi

Jaman dulu, kulit putih mencerminkan kelas dan status sosial yang tinggi (ningrat). Sebenarnya tidak hanya di Asia ya. Orang-orang Eropa (yang notabene Kaukasian) juga menyukai kulit putih pucat.

Di sana ada istilah angelic aura atau angel of the house, karena wanita dengan kelas sosial tinggi umumnya terjaga di dalam rumah kastil. Kurang lebih sama lah pandangannya... orang kaya atau bangsawan kulitnya terawat karena ngga panas-panasan ^^;

Ngomong-ngomong, usaha mereka untuk tampil putih juga luar biasa. Ada yang dicat (red: film era Ratu Elizabeth atau Marie Antoinette), bedakan pake kapur, hingga menggunakan logam berat (lead, mercury, dst). Tapi orang Barat jaman sekarang agaknya lebih suka dengan tanned skin yang glowing.

Kecantikan Klasik Asia

Kunci kecantikan klasik Asia adalah peningkatan kontras warna wajah (clear contrast). Di bawah ini adalah foto orang yang sama dengan tampilan yang berbeda. Clear contrast membuat dia lebih menonjol secara visual.


Orang Asia umumnya memiliki rambut hitam, kulit kuning, dengan struktur tulang wajah yang kurang tegas. Itulah kenapa berbagai resep homemade skin care dari nenek moyang berkisar di pencerah kulit, penghitam rambut, dan gincu.

Berbeda dengan kita, meskipun berambut cokelat atau pirang, orang Kaukasian punya "kontras" yang lain, yaitu kontur tulang wajah yang tegas dan tajam.

Perempuan Harus(?) Lebih Putih dari Laki-laki

Umumnya di Asia, laki-laki menyukai perempuan berkulit putih dan bening (kayak botol aqua?). Selain itu, cewe yang putih (katanya) tampak lebih feminin. Stigma ini yang membuat kebanyakan perempuan berpikir kalau ngga putih, berarti ngga cantik.

Konsep "Cantik" Bentukan Media

Media jelas punya pengaruh yang luar biasa besar dalam membentuk persepsi "cantik ideal". Banyak iklan yang menunjukkan bahwa seolah-olah kulit putih adalah solusi dari segala problem yang ada.

---

Imho...
"Putih" Indonesia berbeda.

Warna kulit saya light medium dengan undertone yang ngga jelas netral atau olive (cek pergelangan tangan ada pembuluh darah hijau dan biru). Kulit saya tidak seputih cewe-cewe Asia Timur, tapi buat orang Indonesia kebanyakan masih masuk kategori "putih" :/

Kadang di email juga suka ngga nyambung dengan reader hehe, saya kira putih yang dimaksud itu ala Kaukasian, tapi yang mereka maksud itu ya.. hmm... cerah (not literally "white"). Dari situ saya menyadari kalau kata "kulit putih" mulai mengalami pergeseran makna. Ngga sedangkal seperti apa yang saya pahami sebelumnya.

Baca juga : Kulit Putih = Cantik?

"Kulit putih" di Indonesia tidak selalu berarti putih porselen. Tapi bisa juga berarti kulit yang cerah, sehat, atau bersih. Lain halnya di negara-negara Asia Timur, kulit putih idealnya ya seperti Fan Bingbing.

Perlu ngga sih pake produk Pemutih?

Produk pemutih biasa (whitening, lightening, brightening) hanya bisa mencerakan sementok-mentoknya seperti warna lengan atas bagian dalam kulit kita (area yang tidak terekspos sinar matahari/warna alami kulit). Jadi, jangan mudah percaya testimoni yang menunjukkan perubahan warna kulit yang drastis secara instan.

Saya sendiri memerlukan produk "pemutih" untuk maintain kulit, supaya warnanya rata dan tidak mudah kusam. Belum lagi kalo ada blemishes ^^; ya mau ngga mau pake pemutih (bayclin? rinso? lol) untuk memudarkan nodanya. TAPI, saya menghindari produk dengan agen pencerah saat kulit sedang bermasalah.

Intinya, menurut saya fine-fine saja memakai produk pemutih. Yang jadi masalah adalah jika obsesi "memutihkan" kulit tidak diimbangi dengan pengetahuan mengenai produk dan treatment yang aman.

Semoga bermanfaat.
Thanks for reading and have a nice day :D

Susahnya Membangun Kebiasaan

Saya pengen seperti anak sehat jaman sekarang yang minum smoothies, diet mayo, pilates, dst. TAPI kenyataannya... hoaaahhh.... Susah banget untuk konsisten dan komitmen pada hal-hal yang ngga pernah kita (iya, saya haha) lakukan.

Ada sih yang bertahan sampe sekarang :p itupun mesti bangun "fondasi" dari 1,5-2 tahun sebelumnya. 


Dua tahun belakangan ini, (walau gaya hidup berantakan) saya jadi lebih errr... health conscious (bener ngga bahasa Inggrisnya? Hehe). Hal-hal yang sehat (seperti jaga makan, banyak minum, kurangin stres, dst) saya rasakan manfaatnya saat menerapkan anjuran dokter dulu (pas ngatasin alergi dan kulit yang bermasalah). Kepepet sih waktu itu, jadi mau ngga mau kudu dilakuin. Setelah sembuh, balik lagi ke kebiasaan lama *sigh -__-

Cuman ya, terasa lho bedanya saat kita jaga gaya hidup (termasuk manajemen stres dan jam tidur), banyak makan yang berserat, atau rajin olahraga. Badan lebih sehat, lebih hepi, pas pms ngga uring-uringan, kulit ngga gitu reaktif, dan.. apa yah, berasa "I do something right".

Saya pikir, "Oke, kenapa ngga diteruskan saja?" (harusnya dari dulu woy).

Akhirnya saya mulai download-download video pilates (untuk beginner tentunya), jaga makan, jaga jam tidur, dan seterusnya. Sayang sebagian besar sulit untuk dilanjutkan.

Dan kemarin, saya ketemu pic ini (credit to ig @songtripletsmeme)

Spontan langsung ngakak parah :')) Saya forward ke temen yang (katanya) pengen diet. Eh, dianya juga ternyata udah ngga minum Herb*lif* dan minyak zaitun lagii. Yaaahh :))

Jujur, saya jadi makin salut sama orang yang bener-bener komitmen dengan raw food dan vegan dietnya, atau yang telaten yoga sampe badannya jadi fit-lentur-melingker-lingker. Karena untuk memulai suatu kebiasaan (terutama mengubah gaya hidup secara total) itu butuh dedikasi yang luar biasa.

Dari pengalaman ini, saya belajar kalau bangun kebiasaan itu baiknya dimulai dengan hal-hal kecil, pelan-pelan, dikit-dikit, satu-satu. Berat memang, tapi prosesnya harus dinikmati (tsah). Saat sudah bisa konsisten, baru kemudian tambah kebiasaan baru. Kalau semuanya mau dilakukan dalam waktu bersamaan, hasilnya, tsk, failed! T.T 

Eniwei, buat yang mau bangun habit, aplikasi Goal Tracker sangat membantu. Tapi kadang remindernya terasa annoying banget kalo kita lagi males atau udah terlanjur skip sekian hari ^^;

Salam sehat 2016, lol.
Thanks for reading (artikel random inii) and have a nice day :D

Kertas Minyak : Acnes, Clean & Clear, Ovale, dan Oxy


Beberapa kali saya ditanya, "Apa ya pelembab yang ngga bikin kulit jadi berminyak siang-siang?"

Sebenarnya mudah saja. Anjuran untuk tipe kulit berminyak adalah cari pelembab yang bertekstur gel atau liquid/watery. Insya Allah tekstur yang cepat meresap tidak membuat kulit jadi mudah kilap berminyak.

Baca juga : Tipe & Kondisi Kulit

TAPI, saya pribadi tidak berharap banyak dengan janji-janji pelembab yang bisa mengurangi produksi sebum segala macam.

Wajar jika di siang hari kulit kita semakin berminyak. Apalagi kita tinggal di negara tropis.

Kulit memang punya mekanisme untuk memproduksi sebum berlebih jika dihadapkan dengan terik matahari atau cuaca panas. Ini bisa diamati dengan membandingkan produksi sebum saat kita berada di dalam rumah dan saat beraktivitas di luar ruangan siang-siang :D

Karena itu, saya mengandalkan kertas minyak untuk "mengontrol" sebum di wajah.

Kertas minyak bikin kulit semakin berminyak?

Mungkin ada yang khawatir kalau kulit dipaksa kering, kelenjar minyak makin terpicu untuk memproduksi minyak berlebih. Padahal, kertas minyak hanya menyerap kelebihan sebum tanpa memaksa kulit jadi kering. Karena itulah labelnya Oil Controlling, bukan Oil Removing.

Tips? Note to my self too...

Ada sebagian orang yang jika wajahnya berminyak, kulitnya langsung ditimpa dengan bedak atau foundation. Kebiasaan ini yang sadar ngga sadar membuat kulit jadi mudah berkomedo. Idealnya, kulit ditap-tap dengan kertas minyak dulu, baru kemudian di-touch up. Supaya sebum dan keringat ngga menggumpal dengan bedak/foundation/bb/cc cream, lalu menyumbat pori.

---

Acnes Oil Control Film
50 lembar | Sekitar Rp 23-28.000

Produk-produk Acnes ditujukan untuk merawat kulit acne prone yang identik dengan produksi sebum berlebih. Variannya lengkap, dari face wash, pelembab, sunblock, kapas, hingga kertas minyak. Ngga heran kalau ada yang beranggapan, "Karena ini dari Acnes, pasti kertas minyaknya juga ada zat aktif buat menangani jerawat."

Aslinya ngga ya... Komposisinya standar oil control film pada umumnya.


Baca juga : Acnes Tea Tree Oil Clay Mask

Clean & Clear Oil Control Film
60 lembar | sekitar Rp 23-28.000

Dari tampilannya aja sudah ketahuan :)) produk ini yang paling sering saya beli. Sebatas ingatan saya, awal-awal ngetrennya kertas minyak di Indonesia itu dimulai dengan Ovale, Clean & Clear, baru kemudian Acnes.

Kalaupun saya ganti (ke Acnes), biasanya karena bosan dengan warnanya, atau beli mana aja yang lagi diskon :p


Clean & Clear juga pernah muncul(?) sepintas di artikel What's in My Pouch? (2014)

Baca juga : What's in My Pouch?

Ovale Face Paper
100 lembar | Rp 7.000

Cocok untuk tipe kulit yang tidak begitu berminyak, yaitu tipe normal dan kombinasi (oily di T-zone). Disukai karena murah dan isinya banyak. Kekurangannya, mudah basah dan sobek.


OXY Oil Control Film
50 lembar | sekitar Rp 32.000

Oxy yang harganya lebih mahal dibanding 3 produk sebelumnya. Yang dimaksud "Daya Serap 3x Lebih Kuat" itu jika dibandingkan kertas minyak seperti Ovale, bukan dengan oil control film sejenis.


Kelihatannya mirip dengan Clean & Clear, tapi warna lembaran Oxy lebih tua sedikit. Selebihnya sama saja.


Kesimpulan

Produk-produk ini sangat mudah ditemukan di supermarket seperti Hypermart, Carrefour, Hero, Lotte Mart atau drugstore seperti Guardian, Century, Watson, dst.

Untuk kulit yang produksi sebumnya tidak berlebih (normal dan kombinasi), kertas minyak seperti Ovale sudah cukup.

Acnes, Clean & Clear, dan Oxy sama saja, baik dari segi penampakan dan fungsinya. Ketiganya adalah oil control film elastis yang tidak basah jika terkena keringat, dan jadi transparan saat menyerap sebum.

Kemasan Oxy dibuat lebih laki ya (padahal mah sama aja haha). Harganya lebih mahal, tapi dari deskripsi produknya persis dengan Acnes. Mungkin karena satu produsen (Rohto).


Semoga bermanfaat.
Thanks for reading and have a nice day.

The Body Shop Camomile Silky Cleansing Oil


Cleansing oil didaulat sebagai salah satu pembersih yang efektif. Alasannya, karena minyak melarutkan minyak (oil dissolved oil, termasuk sebum). The Body Shop Camomile Silky Cleansing Oil bisa jadi pilihan buat kamu yang menginginkan minyak pembersih yang ringan di kulit.

Baca juga : Apa Situs & Channel Kecantikan Favoritmu?

Deskripsi produk

This silky-soft cleanser will effortlessly remove make-up from the whole face quickly and effectively, leaving skin feeling clean, refreshed and clear of impurities. It’s the ultimate time-saver.

Ulaskan dengan gerakan memijat ke kulit dan bilas dengan air bersih. Untuk mengangkat sisa make up, gunakan soft facial cleansing sponge atau luxury facial flannel.


Ingredients

Glycine Soja Oil/Glycine Soja (Soybean) Oil (Emollient/Skin Conditioner), Prunus Amygdalus Dulcis Oil/Prunus Amygdalus Dulcis (Sweet Almond) Oil (Skin-Conditioning Agent), Helianthus Annuus Seed Oil/Helianthus Annuus (Sunflower) Seed Oil (Emollient), C12-15 Alkyl Benzoate (Emollient), Caprylic/Capric Triglyceride (Emollient), Ethylhexyl Palmitate (Skin Conditioning Agent), Isohexadecane (Emollient/Solvent), Polysorbate 85 (Surfactant-Emulsifying), Sorbitan Trioleate (Surfactant-Emulsifying), Sesamum Indicum Seed Oil/Sesamum Indicum (Sesame) Seed Oil (Skin-Conditioning Agent), Octyldodecanol (Emollient), Parfum/Fragrance (Fragrance), Linalool (Fragrance Ingredient), Tocopherol (Antioxidant), Limonene (Fragrance Ingredient), Anthemis Nobilis Flower Oil (Fragrance/Essential Oil), Citric Acid (pH Adjuster).

Noted.

Yang kulitnya sensitif atau alergi pewangi (fragrance) baiknya hati-hati.

Review

Kalau dilihat dari ingredients list-nya, The Body Shop Camomile Silky Cleansing Oil menggunakan Soybean Oil, Sweet Almond Oil, Sunflower Seed Oil, Sesame Seed Oil... Camomile-nya malah dikit hehe (Anthemis Nobilis Flower Oil).

The Body Shop Camomile Silky Cleansing Oil cukup gentle di kulit dan ngga pedih di mata. Aromanya juga lembut menenangkan. Tapi bagi yang tidak terbiasa menggunakan minyak (natural oil) mungkin akan terganggu dengan wanginya.

Tekstur agak pekat dibanding minyak kosmetik yang pernah saya coba. Namun terasa ringan dan sangat encer begitu diaplikasikan di kulit. Daya bersihnya sangat baik. Saya butuh 2-4 kali pump untuk membersihkan wajah dan leher.

Saat dibasuh air, minyak dan kotorannya langsung luruh seperti cleansing milk. Setelahnya, kulit tidak terasa licin berminyak, melainkan halus dan lembab.


Selama berbulan-bulan, produk ini sudah menemani saya dalam 3 kondisi kulit. Kadang cocok banget, kadang mesti diskip.

(1) Saat kulit tidak bermasalah.
Produk ini membuat kulit terasa halus dan lembut. Kulit terlihat lebih cerah dan fresh juga.

(2) Minor break out (jerawat 1-3 biji).
Efek calming dari produk ini terasa banget. Bukan menyembuhkan ya, tapi kulit ngga reaktif saat dibersihkan dan ngga memperparah jerawat. Produk ini masih ramah di kulit yang rentan bermasalah selama bukan kasus yang berat.

(3) Dehidrasi.
Bagi yang belum tahu, kulit kering dan dehidrasi itu berbeda. Kulit kering kekurangan kadar minyak sedangkan dehidrasi (sesuai namanya) kekurangan kadar air. Saat dehidrasi, kulit saya lebih kasar dibanding biasanya. Produk ini malah ngga nyaman dan terasa berat di kulit.

Ngomong-ngomong, tahun lalu saya berencana bahas facial oil (termasuk minyak untuk membersihkan kulit), tapi belum kesampaian ya karena kondisi kulit saya masih naik turun. Insya Allah kalaupun mereview mungkin ngga semua jenis minyak, daripada mubazir ^^;

Baca juga : Tipe dan Kondisi Kulit

Saya simpulkan hasil terbaik dari produk ini dapat diperoleh di tipe kulit normal dan kering.

Kulit berminyak dan kombinasi masih perlu diakalin dengan menggunakan air hangat, washlap, cleansing sponge, atau dilanjut dengan sabun wajah (double cleansing) untuk memastikan tidak ada ampas pembersihan yang tertinggal dan menyumbat pori.

Secara keseluruhan produk ini bagus. Coba browsing aja, sebagian besar reviewnya positif. Yang rada annoying cuma kemasannya hahaha. Isinya gampang beleber. Padahal sudah saya pastikan pumpnya tertutup ^^; Untuk travelling, baiknya dipindah ke botol lain.

Updated! Agustus 2016
Kemasannya udah ganti lhoo... Pumpnya jadi lebih kokoh :D

Harganya Rp 199.000 untuk ukuran 200 ml. Habisnya lumayan lama. Apalagi kalo kita punya beberapa alternatif pembersih lain ^^

Baca juga : Female Daily The Body Shop Camomile Silky Cleansing Oil

Semoga bermanfaat.
Thanks for reading and have a nice day.

STUDIO MAKEUP Rich Hydration Lipstick (SRL-11 Really Red)


Beberapa bulan terakhir, saya suka banget pake lipstik matte. Saya ngga tau ya, apa ini cuma saya saja atau adakah yang lain merasakan hal yang sama? Bibir jadi mudah kering dan begah lagi.

Kayaknya bibir saya lebih cocok dengan lipstik yang mampu menghidrasi dan melembabkan. Tentang ini juga sudah saya update di artikel jadul...

Baca juga : Caraku mengatasi Bibir Pecah-pecah dan Menggelap

Punya problem yang sama dengan saya? Kamu bisa coba varian Rich Hydration Lipstick dari Studio Makeup ini. Warnanya bisa sangat rich dan intens, namun tetap ringan di bibir.

Deskripsi produk
(dikutip dari studio-make-up.com)

Rich Hydratation Lipstick
Creamy, hydrating formula with a rich color pay off
Contains anti-aging and moisturizing ingredients

Baca juga : Apa Situs & Channel Kecantikan Favoritmu?


Ada 12 pilihan warna. Baiknya kalau mau pilih warna langsung ke counternya aja atau lihat dari foto yang jelas. Karena warna saat dioles di bibir berbeda dengan batang lipstiknya.


Packaging


Seri Rich Hydration Lipstick didesain lux, tapi plastiknya gampang gores. Kemasannya juga unik. Model click closure gitu. Kalau ngga salah ingat, ada juga produk lokal yang kemasannya seperti ini (LT Pro? cmiiw).

Jadi, pas ditutup, lipsticknya rada ngeper dan mesti ditekan masuk sampai bunyi klik. Cara keluarinnya juga gitu, kudu diklik ke dalam dulu.


Review

Warna lipstik ini sangat rich dan seolah-olah bergradasi. Rada tricky untuk difoto. Base warnanya merah cherry, kelihatan jika dioles tipis. Pas pudar juga bagus hasilnya (lol), jadi kayak pake lip tint cherry gitu.

Ngomong-ngomong, lipstik merah bisa membuat wajah tampak lebih cerah dan gigi terlihat lebih putih. TAPI lipstik merah juga memperjelas noda kemerahan atau spot jerawat (blemishes). Bagusnya dipake pas kulit bener-bener mulus dari spot.


Warnanya buildable banget. Dengan kata lain, lipstik ini bisa digunakan sebagai lip stain (pemakaian tipis/sheer) dan untuk memberi kesan bibir penuh (bold, bervolume).

Daya tutupnya juga bagus, tepi yang menggelap dapat tercover dengan baik. Sama sekali tidak terasa berat di bibir. Biasa saja, kayak pake lipbalm.

Lipstik ini membuat bibir terlihat moist (basah, bukan berminyak) dan segar. Baiknya bibir discrub dulu untuk mendapat hasil yang lebih smooth.

Walau pigmentasinya oke, tapi daya tahannya standar di bibir saya (makan minumnya barbar kali ya -__- haha). Supaya warnanya ngga mudah geser dan lebih tahan lama, saat diaplikasikan mesti tunggu beberapa saat sampai lipsticknya menyerap, kemudian dilayer lagi.

Oh iya, tentang kemampuan melembabkan dan menghidrasinya ngga perlu diragukan. Studio Makeup Rich Hydration Lipstick mengandung Ceramide 3. Ingredient anti aging yang umumnya ada di dalam produk premium/high end.

Tertarik dengan produk ini?

Harganya sekitar Rp 170.000. Bisa diperoleh di counternya Studio Makeup atau online shop. Baca juga review-review lain di Female Daily Studio Makeup Rich Hydration Lipstick.

Semoga bermanfaat.
Thanks for reading and have a nice day.

CANMAKE Cream Cheek (05 Sweet Apricot)


Blush on memang membuat kulit wajah terlihat segar dan ngga pucat. Tapi, ngga semua orang berani pake karena khawatir bakal menor seperti ini...


Anak-anak sih lucu ya :)) kalo udah gede malah kayak abis ditabok.

Kalo kamu mencari blush on yang hasilnya natural dan mudah digunakan, CANMAKE Cream Cheek bisa jadi pilihan yang tepat. Produk ini berasal dari Jepang dan sudah beredar di Indonesia :D

Baca juga : Apa Situs & Channel Kecantikan Favoritmu?

Deskripsi dan klaim produk
(dikutip dari www.canmake.com)

Contains masses of emollient agents that are highly compatible with your skin (squalene of vegetable origin and amino acid-based emollients), enclosed in a special stretchy gel, which not only protects your skin from drying out, but also improves the blusher's adhesion to your skin, making it longer-lasting.


Deskripsi produk di balik kemasan masih dalam bahasa Jepang ya ^^; Jelasnya, bisa cek di situsnya CANMAKE yang versi bahasa Inggris. Informasi produsen, distributor, notifikasi BPOM, dan ingredients bisa dibaca di bungkus plastiknya. Tapi kecil banget tulisannya ^^;


Cara pemakaian

Totol krimnya dengan jari di pipi, kemudian baurkan dengan gerakan memutar. Cukup satu layer untuk tampilan rona alami. Bisa juga diaplikasikan berulang untuk mendapat hasil yang lebih intens.

Review

Kemasannya mungil dan manis, ala-ala kristal. Cuman, karena terbuat dari plastik, kesannya ringkih banget ^^; Mesti hati-hati supaya kemasannya ngga retak dan patah.


Warnanya peachy pink dengan sedikit shimmer. Kalau di official site-nya, 05 Sweet Apricot ditujukan untuk memberi kesan cute dan polos(?).

Saya ngga paham ya, kenapa produk ini dibilang gel-type. Karena setelah dilihat-diusep-dirasa-rasa, teksturnya lebih mirip butter (krim padat yang empuk, tapi ngga oily sih).


Creamnya mudah lumer begitu diaplikasikan ke kulit. Pertama kali oles memang pigmented banget, tapi semakin dibaurkan, semakin sheer pula warnanya. Natural banget. Suka! :D

Meski demikian, pigmentasinya tetap buildable lho. TAPI setebel apapun yang kita pake, hasilnya ngga sampai kayak pipi Minguk tadi.


Maapkan kantong mata dan bekas jerawatnya ya -__-

Eniwei, CANMAKE Cream Cheek memberi rona sehat yang saking alaminya, seolah-olah itu dari kulit kita sendiri. Produk ini juga ngga menggumpal, sehingga tampak smooth dan benar-benar menyatu di kulit.

Finishingnya semi matte. Bisa digunakan di foundation jenis apapun (baik powder maupun liquid).

Pigmentasinya pun ngga balapan sama warna lipstik. Di kulit medium-agak-light seperti saya, warna ini cocok banget digunakan dengan lipstik merah bata dan nude.

Oiya, banyak yang bilang CANMAKE Cream Cheek long last sampe berjam-jam. Sedangkan di kulit saya, sekitar 2 jam warnanya udah mulai pudar. Mungkin karena pipi saya yang mudah berminyak huhu.

Tertarik dengan produk ini? 

Harganya sekitar Rp 130.000. Totally worth it, karena lama abisnya. Bisa diperoleh di Guardian, Matahari, atau counter kecantikan di mal. Jika masih susah dapetinnya, beli online aja :))

Baca juga review-reviewnya di Female Daily CANMAKE Cream Cheek.

Semoga bermanfaat.
Thanks for reading and have a nice day.