HANITIS

Skin Care Talk // Personal Thought // Blogging Experience

Maybelline Fit Me Matte + Poreless Foundation : 120 Classic Ivory

Jumat, 18 Agustus 2017

Mendengar kata "foundation" kesannya berat ya kayak pake topeng. Nah, jaman sekarang sudah banyak foundation yang menawarkan fitur full coverage, namun tetap ringan di kulit.

Salah satunya?
 
Maybelline Fit Me Foundation.

Produk ini terdiri dari dua varian, yaitu Matte + Poreless dan Dewy + Smooth.

Matte + Poreless adalah liquid foundation yang ditujukan untuk kulit normal dan berminyak. Sedangkan Dewy + Smooth untuk kulit normal dan kering.


Deskripsi dan klaim produk [1]

Fit Me! Matte + Poreless Foundation dengan formula ultra-lightweight. Mengandung micro-powder yang mampu menyerap minyak berlebih untuk hasil matte dan tampak tidak berpori. The ultimate natural skin fit!

Fit Me! Matte + Poreless Foundation dengan formula ultra-lightweight. Mengandung micro-powder yang mampu menyerap minyak berlebih untuk hasil matte dan tampak tidak berpori. The ultimate natural skin fit!

Formula ringan dan tahan lama. Cocok untuk dipakai sehari-hari. Mampu meratakan tekstur wajah untuk jenis kulit normal cenderung berminyak.

Gunakan secara merata pada bagian wajah dan leher dengan menggunakan tangan atau brush.


Our Love-Hate Relationship... 
with The Packaging

Banyak yang suka dengan botol kaca seperti ini. Kelihatan elegan aja gitu.

Tapi...

Subhanallah, itu mulut botol atau terowongan?


Iya, mulut botolnya lebar banget! Padahal tekstur Fit Me Foundation lumayan encer. Jadi, kalau tidak hati-hati, foundation-nya bisa tumpah.

Supaya ngga meleber, kita bisa akali dengan mencolek foundation yang tertinggal di tutup botol.


Atau kita juga bisa menggunakan stik plastik.

Stiknya dicelup masuk ke dalam botol, trus ditotol-totol atau dioles tipis di kulit.

Sekalian ya... Ini foto yang paling mendekati warna aslinya 120. Dipotret dengan pencahayaan natural (daylight).


---

#FYI

Kulit saya kombinasi, acne prone, dan dehidrasi.

Undertone ternyata netral (kirain warm). Pas cek pergelangan tangan, pembuluhnya warna hijau dan biru.

Pantesan rada ngga jelas kalau difoto (tergantung pencahayaan). Maap-maap yaa bosque :D

Plis, bilang aja ngga jago motret.

Make up skill : beginner.

Saya jarang banget dandan. Paling banter pake bb cream atau sunblockan. Ini beli karena lagi butuh(?) aja. Jadi, reviewnya pun dari sudut pandang beginner ya.

---

Review

Harga Maybelline Fit Me Foundation sekitar Rp 145.000 (30 ml). Produk ini mudah diperoleh, karena tersedia hampir di semua counter kecantikan.

Saya pilih Matte + Poreless karena hidung saya tuh oily banget. Jadi, yah... ngga kebayang kalo pake Dewy + Smooth bisa langsung luntur kali.

Range warna Fit Me Foundation sebenarnya ada banyak, sekitar 24. Tapi yang tersedia di Indonesia hanya 9.

115 Ivory
120 Classic Ivory
125 Nude Beige
128 Warm Nude
130 Buff Beige
220 Natural Beige
228 Soft Tan
230 Natural Buff
310 Sun Beige

Menentukan shade Fit Me yang sesuai agak susah. Misal kamu dapet warna yang klop di awal pemakaian, beberapa saat kemudian warnanya bisa menggelap.
Tips dari beauty vloggers : pilih shade yang setingkat lebih cerah.



Masalahnya, warna kulit saya itu, err... tanggung. Jadi saya serahkan pemilihan warna foundation ke BA di counter Maybelline.

Mbak BA Mal Panakukkang menyarankan shade 125. Sedangkan di Mari, saya malah disodorin yang 120. Nah lho haha.

Yasudah sebelum beli (di Mari), saya coba keduanya. Oles di pipi kanan-kiri dan lengan dalam.

Kalau di wajah, 120 dan 125 kayak ngga ada bedanya. Masuk-masuk aja di kulit saya.

Sekitar setengah jam kemudian, saya cek swatch di lengan dalam ternyata dua-duanya menggelap. Yang 120 jadi dusty pink dan 125 jadi orens gelap.

Saya ngga mungkin ambil shade 115, soalnya keputihan. Jadi, saya pilih yang 120, karena kalau dipake di wajah, oxy-nya ngga terlihat kucel.

Matte? Berat dong?

Maybelline Fit Me Matte + Poreless foundation relatif aman digunakan sehari-hari. Meski judulnya ada embel-embel "Matte", tapi asli produk ini tuh ringan banget.

Di foto juga ngga kelihatan flat dan dead matte kan?


Walau hanya satu layer hasilnya cukup bagus lho.

Coverage-nya medium dan buildable. Noda bekas jerawat dan pori-pori lumayan tersamarkan. Warna kulit saya pun jadi lebih rata.

Bdw, kita tetap perlu eksfoliasi sel kulit mati dan pake pelembab yang bagus, karena produk ini memperjelas dry patch dan komedo di hidung.

Staying power bisa tahan sampai 6 jam. Sayang, oil control-nya biasa saja. Dua-tiga jam sudah mulai kilap-kilap. Hmmm... masih bisa diatasi dengan kertas minyak dan touch up.

Baca juga : Kertas Minyak : Acnes, Clean & Clear, Ovale, & Oxy

---

Final Thought

Awalnya saya sempat skeptis. Khawatir kalau review positif yang beredar cuma sekedar internet hype.

Eh, ternyata beneran bagus (sekelas drugstore foundation yaa).

Untuk tampilan yang bener-bener flawless, kita mesti pake primer, concealer, aplikator yang oke, dan lainnya. Selain itu, skill dandan juga jelas berpengaruh banget.

Karena produk ini oxy, sebaiknya kamu pilih shade langsung di counter Maybelline. Kalau cuma mengira-ngira warna dari internet takutnya bakal meleset.

Kemasannya memang rada problematik. Pas dituang, kadang foundi-nya keluar lebih banyak dari yang kita butuhkan.

Selain dua cara yang sudah dibahas di atas, kamu juga bisa memindahkan Maybelline Fit Me (atau liquid foundation lain kesukaanmu) ke cushion case.

Lebih praktis dan travel friendly :D

Baca juga : It's My Cushion : Kamu Bisa Bikin Make Up Cushion Sendiri!

Wallahu a'lam.
Semoga bermanfaat.
Thanks for reading and have a nice day.

Lidah Buaya : Pre-Wash Treatment for Scalp & Hair

Rabu, 16 Agustus 2017
Kemarin kan saya cerita ya kalau ngga cocok pake minyak kelapa (VCO) untuk perawatan rambut. Rasanya gemeessshh deh rambut malah makin ngga keruan hahaha.

Baca juga : Minyak Kelapa (Virgin Coconut Oil)

Jadi, saya coba pake lidah buaya setelah dapat tips dari temen saya, Mayang. Dia sempat rutin menggunakan lidah buaya setiap hari sebelum keramas dan hasilnya bagus.

Saya browsing-browsing "aloe vera for hair" reviewnya pun positif dan banyak yang cocok.


What's cool?

Lidah buaya kaya akan mineral, vitamin, dan asam amino.

Untuk kulit kepala (scalp), lidah buaya dapat mengatasi build up karena mengandung enzim yang dapat memecah timbunan sel kulit mati dan ketombe [1].

Khasiat lainnya yaa seperti yang kita ketahui, rutin menggunakan lidah buaya dapat menyuburkan rambut dan mengurangi rasa gatal pada kulit kepala. Rambut juga jadi mudah diatur dan lebih berkilau.

Cara Pemakaian

Cara tradisionalnya dengan memotong lidah buaya dan aplikasikan langsung ke kulit kepala dan rambut.

Kalau kamu mau cara yang lebih praktis(?) bisa dengan membuat spray lidah buaya. Eh, ngga praktis deng, karena di awal kudu diblender dulu hahahah (gimana sih...).

Apa saja yang diperlukan untuk membuat spray Lidah Buaya?

(1) Lidah buaya
(2) Air secukupnya
(3) Pisau
(4) Wadah
(5) Blender
(6) Saringan
(7) Botol spray kosong
(8) Kulkas


Untuk lidah buaya yang besar seperti foto di atas, kita potong jadi tiga bagian dulu. Setelah itu baru dikupas dan dikeluarkan dagingnya.


Masukkan lidah buaya dan air ke dalam blender. Airnya cukup 300-500 ml saja untuk 1 lidah buaya.


Pisahkan pulpy dan cairannya dengan saringan.

Pulpy-nya bisa langsung kamu gunakan di rambut, sayang kalo dibuang hehehe.


Tuangkan larutan lidah buaya ke dalam botol. Spray lidah buaya bisa bertahan sekitar 4 minggu kalau disimpan di kulkas.

Pssstt! Yang di foto ini airnya memang kebanyakan, makanya jadi 3 botol wkwk. Idealnya sih dua lidah buaya itu jadi 2-2,5 botol.


---

Review

Itu saya gegayaan aja bikin yang spray karena lihat tutorial di youtube. Abis males juga potong-potong lidah buaya tiap pake, enakan langsung semprot hehe.

Untuk lidah buaya utuh (bukan yang spray), hasilnya beyond expectation. Saya perhatikan, tanpa conditioner pun rambut saya jadi ngga gampang kusut dan lebih lemesshh. Padahal jarang-jarang lho ada resep DIY yang langsung cocok untuk rambut saya (tanpa perlu diakali).

Sejak pake lidah buaya (yang utuh dan spray), kulit kepala saya ngga gatal-gatal lagi dan ngga begitu berminyak.

Rambut di dekat scalp pun jadi ridiculously smooth. Lucu aja karena kelihatan jomplang dibandingkan ujung rambut saya yang rusak.



Saya kurang bisa memastikan apakah lidah buaya menguatkan rambut atau tidak (tsah). Karena rambut saya masih suka rontok.

Maka dari itu... untuk nge-boost pertumbuhan rambut, larutan lidah buayanya saya campur dengan bubuk jahe.

Lumayan lho hasilnya. Di area yang menipis muncul rambut-rambut yang baru tumbuh sekitar 3-5 cm.

Kalau tidak ada bubuk jahe, kamu bisa pake jahe yang digeprek. Diamkan dulu larutannya sekitar 15-30 menit, lalu aplikasikan di kulit kepala.

Kamu bisa browsing lebih lanjut pake keyword "ginger for hair growth". Rambutnya pada panjang-panjang dan kuat. Macam cewe-cewe di jaman Janggeum (drama korea Jewel in the Palace).


Final Thought

Hasil terbaik adalah menggunakan lidah buaya utuh.

Larutan lidah buaya juga bagus, tapi ngga se-wow lidah buaya utuh. Kayaknya yang bikin bagus tuh malah lendir lidah buayanya deh. Makin pekat, makin oke.

Karena sudah terlanjur dilarutkan, lidah buayanya hanya saya gunakan untuk scalp. Soalnya dia kurang ampuh untuk mengatasi kekeringan(?). Jadi untuk batang rambut, saya balik lagi pake extra virgin olive oil (EVOO).

Oh iya, kamu juga bisa mencampur lidah buaya dengan bahan lain seperti tea tree oil, argan oil, madu atau jahe. Tapi pastikan kombinasi bahan-bahan tersebut sesuai dengan kondisi dan kebutuhan rambutmu.

Baca juga : Apple Cider Vinegar (Sari Cuka Apel) untuk Perawatan Rambut

Wallahu a'lam.
Semoga bermanfaat.
Thanks for reading and have a nice day.

Minyak Kelapa (Virgin Coconut Oil)

Senin, 14 Agustus 2017
Meski belakangan ini populer banget di youtube, tapi jelas ya minyak kelapa bukan tren baru di dunia kecantikan :D

Apa yang Membuat Minyak Kelapa Spesial?

Minyak kelapa kaya akan fatty acids yang membuat kulit tampak lebih sehat. Kandungan antioksidannya juga dapat meremajakan, mencegah penuaan dini, memperlambat proses penuaan, dan membantu kulit untuk bertahan dari pengaruh buruk lingkungan (mis. polusi).

Untuk foto before after-nya bisa browsing di pinterest yaa, karena tidak bisa saya cantumkan di sini. 

Ngomong-ngomong, Virgin Coconut Oil mengandung antioksidan yang lebih banyak dibanding minyak kelapa biasa. Minyaknya diekstrak dari buah kelapa yang masih segar, bukan yang sudah kering. 

Karena kualitasnya lebih bagus, maka untuk topik kecantikan, umumnya yang diteliti adalah VCO.

Ada ngga "Extra" Virgin Coconut Oil?

Label extra virgin dan virgin pada minyak zaitun menunjukkan adanya perbedaan kadar fatty acids. Tapi hal ini tidak berlaku untuk minyak kelapa.

Ini berarti, extra virgin dan virgin-nya sama saja (cmiiw). Lagipula tidak ada regulasi yang mengatur label extra virgin dan virgin pada minyak kelapa [1].


Anjuran Penyimpanan

Simpan minyak kelapa di suhu ruangan dan tidak terpapar sinar matahari langsung. Lebih bagus lagi kalau disimpan di tempat yang kedap cahaya (dalam lemari).

Kalau aroma dan warnanya sudah berubah, baiknya jangan digunakan.

Minyak kelapa yang bertekstur balm (putih solid) tidak layak dikonsumsi jika sudah muncul dark spot di dasar jar-nya. Supaya tahan lama, gunakan spatula ya :D

Kenapa poin ini harus diperhatikan?

Minyak kelapa yang beredar di pasaran umumnya tidak mengandung zat pengawet. Jadi, minyaknya bisa cepat tengik jika tidak disimpan dengan baik.

---

Review VCO untuk Perawatan Kulit Wajah

Sekilas info... Kulit saya kombinasi (berminyak di hidung, kering di U-zone), acne prone, dan mudah mengalami dehidrasi.

Awalnya saya menggunakan VCO sebagai cleansing oil. Hasilnya bagus banget. Kotoran dan make up cepat lumer, sehingga mudah untuk diringkas. Kulit juga jadi lebih lembab dan lembut.


Karena minyaknya terasa ringan dan gentle, saya coba gunakan untuk memijat wajah. Saya pikir mungkin ngga apa-apa, karena kulit saya dominan kering dan alhamdulillah sudah jarang bermasalah.

Eh, Qaddarullah... komedo malah membludak.

Terutama blackhead sih, banyak banget di hidung. Akhirnya saya batasi lagi penggunaan VCO hanya untuk membersihkan wajah (sebagai bagian dari double cleansing). Itupun sudah jarang banget...

Baca juga : DIY Skin Care Belum Tentu Baik untuk Kulitmu

Minyak kelapa sifatnya comedogenic. Kalau kamu sering mengalami problem pori tersumbat (blackhead/whitehead) dan rentan berjerawat, minyak kelapa berisiko memperparah kondisi kulit kamu.

Dia bagusnya untuk tipe kulit normal dan kering.

Bdw, cara aman menggunakan minyak sebagai pembersih bisa di cek di post...

Baca juga : Ini Lho Pembersih yang Saya Gunakan (2017)




Review VCO untuk Perawatan Rambut

Dulu saya sempat telaten menggunakan santan untuk perawatan rambut. Seingat saya hasilnya lumayan. Makanya pas lihat banyak tutorial DIY hair care memakai minyak kelapa saya pun tertarik untuk mempraktekkan.

Ealah, rambut saya malah makin blangsak, kasar, dan rapuh hahaha. Rambut di dekat scalp juga jadi lepek banget.

Dilansir dari Wellness Mama, tidak seperti Castor Oil (minyak jarak) yang relatif cocok untuk semua orang, minyak kelapa tuh ngga tentu hasilnya (mixed results) [2].

Ada yang sukses, ada yang malah makin rontok.

Masing-masing tipe rambut bisa memberi respon yang berbeda. Orang yang rambutnya sudah bagus, biasanya akan lebih kuat, berkilau, dan bervolume. Sedangkan rambut yang kering, malah makin rapuh dan rontok (seperti yang saya alami).

Berikut saran dari Wellness Mama, kalau kamu ingin menggunakan minyak kelapa untuk perawatan rambut...

(1) Hindari kulit kepala, karena minyak kelapa dapat menyumbat pori.

(2) Gunakan sedikit dulu, kemudian amati bagaimana respon rambut kita terhadap minyak kelapa.

(3) Kombinasikan dengan bahan lain, seperti madu, yoghurt, marula oil, atau argan oil.

Baca juga : Apple Cider Vinegar untuk Perawatan Rambut

---

Kombinasi VCO dan Hand Cream

Oke. Untuk rambut, saya ngga cocok blas. 

Untuk wajah, saya masih mikir-mikir mau lanjut pake VCO atau tidak.

Tapi untuk hand cream? 

Yaaaaayyy!!!


Terinspirasi dari tips yang disharing kak Lulu (Lovely Lue's), saya menggunakan VCO sebagai campuran hand cream hehehe [3].

Resep ini bener-bener oke banget. Hand cream yang murah pun bisa jadi amazing setelah dicampur VCO. InsyaAllah akan ada bahasan sendiri tentang hand cream dan VCO yaah.

---

Akhir kata

In my humble opinion... Pemakaian minyak kelapa untuk perawatan wajah dan rambut lumayan tricky.

Sebagai gambaran, sebagian orang malah memperoleh hasil terbaik (untuk kulit dan rambut) setelah mengonsumsi Virgin Coconut Oil (bukan untuk pemakaian luar). Misal sehari 2 sendok makan di pagi dan malam hari.

Jadi, kayaknya kita perlu trial and error dulu sebelum tahu cara memanfaatkan minyak kelapa yang paling pas untuk kita.

Oh iya, walaupun kejadiannya jarang banget, orang yang alergi kelapa tidak dianjurkan menggunakan minyak kelapa meskipun itu untuk perawatan rambut.

Kalau kamu mengalami efek negatif yang tidak wajar, segera hentikan pemakaian yaa.

Wallahu a'lam.
Semoga bermanfaat.
Thanks for reading and have a nice day.

DIY Skin Care Belum Tentu Baik untuk Kulitmu

Senin, 31 Juli 2017
Pemerintah Amerika Serikat mendokumentasikan lebih dari 10.500 ingredients dalam produk kosmetika, namun hanya sebagian kecil dari itu yang telah diuji keamanannya [1].

Dari hasil uji tersebut, ada yang teridentifikasi sebagai carcinogen (penyebab kanker), teratogen (penyebab cacat janin), dan reproductive toxicant (berdampak pada kemampuan reproduksi).

Kabar tadi jelas sangat meresahkan. Tidak heran kalau banyak orang yang akhirnya banting setir ke produk organik dan DIY Skin Care.

Baca juga : Benarkah Produk Skin Care "Alami" Pasti Lebih Baik?

Eniwei, sebagian penggemar fanatik DIY Skin Care berpendapat bahwa yang terbaik untuk merawat kulit adalah bahan makanan mentah. Karena jika bahan tersebut aman untuk dicerna langsung, berarti aman juga untuk kulit.

Masalahnya, kulit dan organ pencernaan itu beda fungsi. Ini berarti, reaksi keduanya terhadap ingredient yang sama pun bisa berbeda [2].


pH

pH dalam tubuh kita sifatnya agak basa, sedangkan pH kulit agak asam (sekitar 4.2-6.2). Barrier kulit akan mengalami kerusakan yang signifikan jika terus-menerus menggunakan bahan dengan pH di atas 7.

Di sisi lain, kulit kita jadi overexfoliated/overpeeled jika menggunakan bahan yang terlalu asam dengan pH kurang dari 4.

Baca juga : Baking Soda : Yay or Nay?

Ada bahan-bahan mentah yang membuat kulit jadi semakin sensitif seiring berjalannya waktu.

Contoh : perasan lemon segar diklaim lebih baik dari produk yang mengandung L-ascorbic acid (vitamin C).

Kedengarannya memang meyakinkan, tapi hal ini tidak sepenuhnya benar. Perasan buah citrus dapat meningkatkan dampak buruk sinar matahari di kulit.

Ah... aku pake perasan lemon fine-fine aja tuh!

Itu dia masalahnya.
Meski kita tidak melihat tanda-tanda kerusakan di permukaan, bukan berarti kulit kita tidak bermasalah.
Kadang kulit kita sangat baik menyembunyikan efek negatif dari DIY Skin Care. Nanti, setelah sekian lama, tau-tau kulit kita jadi rentan break out dan daya pulihnya pun melambat.

Baca juga : Jangan Merawat Kulit dengan Bahan "Alami" ini

---

Jadi, apa bahan DIY yang aman?

Standarnya ya mentimun, madu, oatmeal, pisang, susu, susu almond, teh hijau, coconut oil, olive oil, avocado oil, dan... (ada yang mau menambahkan?)

FYI, tetap ada "syarat dan ketentuan" yang berlaku...

1) Madu bagus banget untuk kulit. Tapi hati-hati ya, karena ada juga yang alergi madu.

2) Susu dikenal sebagai bahan pencerah yang baik, namun bisa menimbulkan jerawat di sebagian orang. Kalau kamu mengalami break out, segera hentikan pemakaian.

3) Oatmeal yang jadi andalan saya juga ternyata ngga cocok untuk sebagian orang. Veronica Gorgeois (esthetician) menyarankan orang-orang yang alergi gluten untuk menghindari oatmeal sebagai DIY skin care, karena bisa memicu reaksi negatif.

Baca juga : Ini Lho Pembersih yang Saya Gunakan (2017)

4) Coconut oil, olive oil, dan avocado oil idealnya digunakan sebagai bagian dari double cleansing untuk membersihkan wajah. Bukan sebagai pelembab utama.

Minyak-minyak tersebut umumnya bagus untuk tipe kulit kering. Kalau kulit kamu berminyak dan acne prone, hati-hati yaa. Takutnya malah komedoan.

Ps. Ujung-ujungnya tetep cocok-cocokan, lol.



Apakah DIY Skin Care lebih efektif?

Dalam konteks anti aging/rejuvenating dan hiperpigmentasi... Kita ngga bisa menampik fakta bahwa well-formulated product (yang mengandung retinol, niacinamide, vitamin C, glycolic acid, dst) jauh lebih efektif dan progresnya lebih cepat dibanding DIY Skin Care.

Kulit kita pun kurang mampu menyerap nutrisi tertentu, kecuali jika bahan tersebut diformulasikan dengan benar.

Contoh yang disampaikan Skinacea adalah teh hijau (green tea) [3].

Partikel teh hijau terlalu besar untuk diserap oleh kulit. Nah, supaya hasilnya lebih memuaskan, teh hijau tersebut mesti diekstrak dulu dan diformulasikan dengan ingredient lain.

Baca juga : Cuci Muka Pake Air Teh Hijau


Oh iya, untuk masalah kulit yang parah (mis. jerawat kronis) lebih ampuh jika ditangani dengan obat di bawah pengawasan dokter. Salah memilih resep DIY umumnya malah menimbulkan masalah baru.

---

Akhir kata...

Organ pencernaan berfungsi untuk menyerap nutrisi sebanyak mungkin. Sedangkan kulit kita berfungsi untuk melindungi organ dalam dari pengaruh buruk lingkungan (red. sebagian bahan perlu diekstrak dan diformulasikan agar mudah diserap kulit).

Karena fungsi dan pH-nya berbeda, bisa jadi sebagian bahan yang aman dikonsumsi justru menyebabkan break out ketika digunakan di kulit.

Maka hati-hati jika ada sensasi pedih. Biasanya itu bukan tanda bahannya sedang bekerja, melainkan gejala iritasi.

Membuat DIY Skin Care memang seru, tapi cari tahu dulu kondisi dan kebutuhan kulit kamu. Dengan begitu, kamu bisa menentukan resep DIY Skin Care yang sesuai.

Sist, aku pake DIY Skin Care, karena takut dengan produk yang beredar sekarang :(

Formula produk yang terdaftar di database BPOM RI sudah distandarkan keamanannya. Kamu bisa baca lebih lanjut tentang BPOM RI di link berikut...


Wallahu a'lam.
Semoga bermanfaat.
Thanks for reading and have a nice day.

Benarkah Produk Skin Care "Alami" Pasti Lebih Baik?

Sabtu, 29 Juli 2017
Saat sharing dengan pengunjung, banyak yang bilang selesai ngobatin jerawat mau pake skin care alami saja, karena sudah pasti aman dan gentle di kulit.

Hmmm... saya juga dulu begitu haha.

Masalahnya, "alami" tidak selalu berarti lebih baik. Terlebih, kadang klaim alami dan organik hanya digunakan sebagai strategi marketing.

Disclaimer!

Postingan ini bukan untuk menentang penggunaan produk-produk "alami" lho yaa... Saya hanya ingin meluruskan asumsi produk alami pasti lebih bagus dari produk berbahan sintetik.

Sebelum membahas lebih lanjut, kita coba pahami dulu istilah Natural, Organic, dan Vegan.


Natural

Bahan alami diambil dari sumber daya yang sudah tersedia di alam. Umumnya diekstrak dari tumbuh-tumbuhan yang terdiri dari akar, bunga, dan minyak esensial. Sedangkan bahan yang sumbernya dari hewan di antaranya adalah beeswax, susu, madu, collagen, dst.

Untuk membuat produk, ingredients tersebut nantinya juga dikombinasikan dengan agen carrier, pengawet, surfactant, humectant, dan emulsifier [1].

Oleh karena itu... Meski bahannya bukan sintetik, tapi sebagian besar produk "alami" yang beredar masih harus diformulasikan di laboratorium dan dikemas di pabrik.

Baca juga : Lucas' Papaw Remedies Ointment

Dilansir dari Paula's Choice [2], berikut bahan alami yang efeknya positif jika diformulasikan dengan baik.


Loh, Hyaluronic acid kok alami?

Memang alami kok. Hyaluronic acid bisa diekstrak dari jengger ayam atau dibuat dari fermentasi bakteri.

---

Organic

Produsen skin care (yang beneran) organik berusaha menjawab tuntutan konsumen akan transparansi dan keamanan produk.

Sumber bahan-bahannya tidak menggunakan pestisida, GMO, radiasi, dan lainnya. Sedangkan dalam formulanya, produk skin care organik biasanya tidak mengandung zat-zat seperti paraben, pewangi, DEA/MEA/TEA, propylene/butylene glycol, dst.

Sebagian orang menyukai produk organik karena formulanya lebih simpel (less chemical ingredients). Tapi bukan berarti produk organik ngga punya kelemahan. Produk yang bebas pengawet lebih rentan terkontaminasi dan kualitasnya pun lebih cepat menurun.

Produk organik impor biasanya mencantumkan logo Cosmebio, Ecocert, NSF, atau USDA. Nah, yang paling ketat di antara itu adalah USDA organic, karena standar produknya harus mengandung setidaknya 95% bahan organik.

Kok 95% sih? Kenapa ngga 100% aja sekalian?

Penjelasannya bisa baca di Cek Arti Simbol/Logo Kosmetika

---

Vegan

Belakangan ini, produk vegan muncul sebagai sektor baru ngga baru-baru juga sih di dunia kosmetika (skin care dan make up). Tren produk vegan pada dasarnya dipengaruhi oleh berkembangnya gaya hidup vegan dan raw diet.

Produk vegan hanya dibuat dari ekstrak tumbuhan, mineral, dan zat sintetis yang aman [3]. Jadi, produk vegan tidak mengandung zat hewani seperti...

- Collagen
- Keratin
- Squalene
- Lanolin
- Madu
- Hyaluronic acid
- dst

Karena terbuat dari tumbuh-tumbuhan, produk vegan identik dengan label cruelty free.

Padahal... walau produknya tidak diuji di binatang, tidak menutup kemungkinan bahan yang digunakan adalah bahan yang diteliti dan dikembangkan melalui animal testing.

Jadi, kalau kamu bener-bener concern dengan produk vegan yang cruelty free, idealnya kamu mesti memprioritaskan keduanya, yaitu (1) tidak mengandung zat hewani, (2) bahan dan produknya tidak diuji di binatang.

Sayangnya, mencari produk dengan kriteria-kriteria tersebut di Indonesia susah, karena pilihannya sangat terbatas.

Eniwei, list merk produk yang cruelty free bisa dicek di situsnya PETA. Penjelasan singkat tentang cruelty free juga ada di artikel Cek Arti Simbol/Logo Kosmetika.



Lesson learned

#1 Istilah untuk pemasaran


Jangan heran kalau melihat produk "alami", tapi formulanya lebih banyak menggunakan bahan sintetik.

Di Indonesia belum ada badan resmi yang mengatur label "natural" dan "organik". Artinya, tidak ada yang melarang produsen untuk memasarkan produk berbahan sintetik dengan klaim alami.

#2 Area abu-abu

Kalau kamu baca-baca pendapat para pakar (dermatologist, esthetician, chemist, dst), diskusi mengenai "produk skin care alami dan sintetik" masuk dalam area abu-abu [4].

Kenapa?

Karena tubuh kita tidak bisa membedakan mana molekul yang alami dan mana yang sintetik. Contoh, molekul vitamin C yang diperoleh dari jeruk tampak identik dengan molekul vitamin C yang dibuat di lab.

Baca juga : Vitamin C dalam Produk Kosmetika

Selain itu, sebagian besar bahan-bahan alami diekstrak melalui proses kimia.

Kata Louise Hidinger, tak jarang ekstraknya tercampur dengan senyawa lain dan zat yang digunakan untuk mengekstrak. Ini berarti, kita sulit memperoleh ingredient yang bener-bener pure [5].

Di sisi lain, ingredients yang diproduksi secara sintetik dapat dibuat mendekati murni, karena potensi paparan alergen atau senyawa kimia lain yang dapat mengiritasi kulit bisa dikontrol.

#3 Tidak selamanya zat sintetik itu buruk

Seperti yang kita tahu, bahan alami diproduksi tanpa campur tangan manusia. Sedangkan bahan sintetik dibuat oleh manusia dengan metode yang berbeda dengan alam, atau bisa juga dari turunan bahan-bahan yang sudah tersedia di alam.

Oleh karenanya, produksi ingredient sintetik dapat menekan panen berlebih (dari sumber daya alam) yang mungkin membahayakan keberlangsungan hidup spesis tertentu.

Oh iya, menurut Nicki Zevola Benvenuti (via Futurederm), regulasi ingredient alami tidak seketat ingredient sintetik. Ingredient sintetik dibatasi pada konsentrasi tertentu untuk meminimalisir potensi iritasi, inflamasi, dan reaksi alergi di kulit [6].

Jadi, kalau mau hati-hati, ya hati-hati dengan keduanya. Karena bahan alami juga punya potensi alergi dan regulasinya tidak seketat ingredient sintetik (cmiiw).

---

Akhir kata...

Jangan terlalu parno dengan bahan sintetik dalam produk kosmetika.

Masing-masing produk (alami/organik/sintetik) ada yang baik dan ada yang buruk. Di samping itu, sebagus apapun formula produk, biasanya tetap ada someone out there yang ngga cocok kan?

Maka kurang bijak jika kita mengatakan produk "alami"-lah yang terbaik, karena ada juga bahan alami yang berisiko mengiritasi kulit hehe.

Jadi, ketimbang "pokoknya harus yang alami, saya ngga mau break out lagi", mungkin lebih tepat kalau kita bilang, "Saya mencari produk yang gentle dan menghindari ingredient yang harsh untuk kulit." :D

Wallahu a'lam.
Semoga bermanfaat.
Thanks for reading and have a nice day.

Tips Cantik/Ganteng yang Paling Penting : Minum Air Putih!

Selasa, 18 Juli 2017
Halooo.

Gimana kabarnya mbak cantik dan mas ganteng semua?

Setelah bertahun-tahun sharing dengan sesama acne proner, salah satu hal yang bisa saya simpulkan adalah...
Kebanyakan dari kita jarang banget minum air putih. 
Ada juga lho orang-orang yang memang sengaja ngga minum air putih. Paling banter minum es teh pas makan siang dan malam. Hmmm...

Postingan tentang pentingnya minum air putih juga pernah saya buat long-long-time-ago. Tapi emang boring sih penyampaiannya hahaha. Yaudah saya bikin ulang aja...


60 % tubuh manusia terdiri dari air. Ini berarti, semua sistem yang berjalan di tubuh kita membutuhkan air agar dapat berfungsi normal.
Kondisi dimana tubuh kekurangan air disebut dehidrasi.
Saat kita mengalami dehidrasi, otak dan organ lainnya mulai mengkerut (shrink, literally) untuk menyimpan cadangan air. Hal ini menyebabkan kita jadi jarang pipis, air seni jadi lebih pekat, dan baunya lebih pesing.

Selain itu, kemampuan kita untuk berpikir dan memecahkan masalah pun menurun. Jadi emang klop tuh sama iklan "ada Aqua?", lol.

FYI, kita bisa tahu tubuh kita lagi dehidrasi atau ngga hanya dari warna urin. Lebih lanjut bisa baca infografis milik Cleveland Clinic melalui link di bawah ini...

Baca juga : What The Color of Your Urine Says about You

---

Trus, beneran air putih bikin tambah cakep?

Kamu sudah lihat postingan Sarah Smith yang sempat viral di tahun 2013?

Hanya dengan minum air putih 3 liter per hari selama 4 minggu, wajahnya jadi tampak 10 tahun lebih muda.

Baca juga : How Drinking 3 Litres of Water a day took 10 years off my face

Awalnya dia minum air putih 3 liter/hari untuk mengatasi problem sakit kepala dan gangguan pencernaan (red: atas rekomendasi dokter).

Setelah ditelateni, ngga disangka-sangka kerut halus dan dark circle di sekitar matanya memudar. Kulitnya pun terlihat lebih cerah dan fresh.

Kalau dari pengalaman pribadi... Walau kulit saya ngga flawless, tapi saat bermasalah, alhamdulillah cepat membaik.

Dan ini sudah sering saya singgung lho...

Baca juga : Kulit Rentan Bermasalah, Yuk Puasa Produk Kosmetika.



Oke. Aku mau minum air putih. 8 gelas aja kan?

Sebenarnya "8-gelas-sehari" masih diperdebatkan, tapi itulah ukuran yang paling mudah diingat dan relatif aman untuk memastikan kebutuhan air putih kita tercukupi. 

Kebutuhan air putih setiap orang itu berbeda, tergantung berat badan, lokasi tempat tinggal (di dataran rendah atau tinggi), kondisi kesehatan, jenis aktivitas, dan lainnya.

Contoh : orang yang melakukan aktivitas berat dan olahraga intens jelas butuh air yang lebih banyak.
Setiap hari kita butuh sekitar 2-3 liter total water intake (red: kisaran yang pasti dihitung menurut berat badan kamu).
Garis bawahi 3 liter itu total cairan yang masuk ke dalam tubuh ya. Jadi selain air putih, bisa dari buah-buahan seperti melon, pir, dan semangka.

Kita juga boleh mengonsumsi kopi dan teh sewaktu-waktu, tapi minuman tersebut tidak menempati porsi utama dari total water intake.

Updated!

Baru diingatkan sama Mangkawani, untuk menghitung total water intake ada rumusnya (check her comment below, thanks!).

Kalau mau yang praktis...

Hitung kebutuhan air kamu di link ini Hydration Calculation

Noted!

Bagi orang-orang yang mengalami gangguan ginjal dan hati, infeksi kandung kemih, sedang hamil maupun menyusui, baiknya konsultasikan ke dokter untuk bantu menentukan jumlah air yang sesuai kebutuhan.

Baca juga : Tentang Air Putih yang Harus Kamu Tahu

---

Ribet kalau sebanyak itu :(

Kesannya 2-3 liter per hari itu banyak banget. Tapi jadi ngga berasa kalau kita minum dari wadah yang ada ukurannya.

Misal botol air mineral besar itu sekitar 1,8 liter, botol sedang 600 ml, dan ukuran gelas 240 ml.

Saya menggunakan mug melamine ukuran 600 ml, setara dengan botol sedang. Jadi, kira-kira hanya 4 kali isi ulang, kita sudah dapat 2 liter (itu kalo ngisi gelasnya ngga full).


Kalau pake ukuran gelas Aqua 240 ml x 8 = 1.920 ml. Dibuletin aja jadi 9 gelas biar lewat 2 liter haha.

Paling gampangnya pake ancer-ancer botol air mineral besar yang 1,8 liter atau sekalian beli termos air yang 2 liter.


Supaya ngga kayak di-glonggong, cara minumnya disebar ya... 

(1) Setelah bangun tidur,
(2) sebelum dan sesudah mandi,
(3) sebelum dan sesudah makan,
(4) di antara jeda waktu makan (sarapan-makan siang-makan malam),
(5) setelah bak/bab,
(6) sebelum dan sesudah olahraga,
(7) sebelum tidur malam, dst.

Ps. Jangan abaikan rasa haus. Itu sinyal kalau tubuh kita butuh pasokan air.

Tambahan dari Anindya Lubis, minumnya sambil duduk yaa, teman-teman. :D

---

Akhir kata...

Kadang kita bingung menerjemahkan saran "perbaiki gaya hidup" untuk menyehatkan kulit. Padahal kita bisa mulai dari yang simpel-simpel dulu seperti minum air putih setidaknya 2 liter per hari.

Walau kedengarannya mudah, tapi banyak juga kan yang sepele hehe.

Rutin minum air putih ibarat baseline dari pola hidup kita. Efeknya ngga hanya buat kulit lho, tapi juga ke pencernaan, kualitas tidur, lingkar pinggang, dan lainnya.

Oh iya, dulu saya (dengan pedenya) merasa sudah banyak minum air putih. Eh, setelah diukur ternyata belum sampai 2 liter, lol.

Jadi, setelah baca post ini coba dicek deh, kamu sudah minum berapa liter air per hari? :D

Wallahu a'lam.
Semoga bermanfaat.
Thanks for reading and have a nice day.

It's My Cushion : Kamu Bisa Bikin Make Up Cushion Sendiri!

Kamis, 13 Juli 2017
Halo! Kayaknya saya aja nih yang telat cobain make up cushion haha.

Seperti yang kita tahu, kebanyakan make up cushion yang beredar itu dari Korea Selatan.

Masalahnya, shade produk dari Korea Selatan biasanya terbatas banget (ya ngga sih?). Susah cari yang sesuai dengan warna kulit kita. Shade yang "natural" pun kadang agak kelabu gitu untuk skin tone khas orang Indonesia.

Ada juga kan yang kurang sreg dengan formula cushion yang ngga tahan lama, too dewy, atau too dry.

Tapi kamu masih bisa kok menikmati asyiknya pake cushion. Tinggal beli cushion case-nya aja, trus isi deh dengan bb cream atau liquid foundation favorit kamu.

Masih kurang puas?

Kita juga bisa lho membuat mixture sendiri dengan mencampur bb cream/foundation, essence/serum, primer, dan moisturizer :D


Cushion case yang paling beken roman-romannya adalah Memebox It's My Cushion. Harganya sekitar Rp 70.000-100.000 (tergantung beli dimana).

Sepaketnya sudah komplit ya. Ada cushion case, cushion sponge, container, dan air puff.

Printilan-printilan tersebut juga dijual terpisah. Jadi, misal puff kamu kotor, sponge-nya robek, atau mau beli container buat diisi foundation lain ya kamu bisa beli satuan.

Disclaimer!
Ini cushion case pertama saya, jadi maaf ya ngga bisa membandingkan dengan merk lain hahaha.

Deskripsi produk

Case size : diameter 7,5 cm - tinggi 2,6 cm.
Kapasitas : 15 gr

Pilihan warna : putih, hitam, pink, dan mint.


Cara penggunaan

Kalau lihat anjuran pemakaian di situs penjualnya (Althea atau Memebox) dan youtube, banyak cara yang kreatif untuk mengisi cushion case ini.

Misalnya dengan membuat mixture di wadah terpisah. Lalu celupkan spons di wadah tersebut dan pindahkan ke dalam container.

Yang paling umum adalah menuangkan mixture langsung ke container, masukkan spons ke dalamnya, tekan hingga foundationnya meresap, lalu isi lagi sisa mixture di atas permukaan spons.

Kalau saya lebih suka pake cara hemat hehehe. Selain simpel, mixture-nya juga ngga berantakan kemana-mana.

Yang perlu kita sediakan adalah...

(1) bb cream atau foundation (kalau bisa yang teksturnya liquid/encer),
(2) pinset untuk meletakkan dan membalik sponge (kalau pake jari, mixture-nya merembes),
(3) tisu dan cotton bud untuk membersihkan tepi container.

Optional

(4) primer, essence, serum, moisturizer,
(5) wadah (jika kamu ingin membuat adonan di luar container),
(6) spatula plastik kecil (untuk mengaduk mixture, jika mencampur produk).

Bdw, saya mengisi cushion case ini dengan Maybelline Fit Me Matte Poreless Foundation.






Sist... Kok ngga dicampur-campur?

Males hahaha :))

Selain itu saya takut salah campur dan khawatir nanti mixture-nya malah terasa berat di wajah. You know-lah, acne proner.

Oh iya, ada tips dari Renee Gothamista mengenai pantangan mencampur produk untuk make up cushion.

(1) Jangan mencampur oil dengan bb cream/foundation.

Mungkin kita sering lihat orang-orang mencampur foundation dan minyak untuk mendapatkan hasil yang lebih glowing dan dewy.

TAPI khusus untuk mengisi cushion compact, baiknya jangan campur minyak dan foundation (terutama yang water-based).

Saat mixture keduanya ditempatkan di dalam cushion, minyak dan foundationnya akan terpisah.

Kalau di botol kan masih bisa dikocok sebelum digunakan. Lah kalau sudah dalam cushion, gimana coba?

(2) Lebih baik tidak mencampur sunscreen dengan bb cream/foundation

...karena akan menurunkan efektivitas agen tabir suryanya.

Jadi, lebih baik gunakan produk tabir surya dan make up cushion secara terpisah (dilayer setelah sekian menit). Atau sedari awal memang pilih isi cushion (bb cream/foundation) yang sudah mengandung tabir surya.



Kesan dan pesan

Make up cushion populer karena praktis. Di dalamnya sudah termasuk foundation, air puff, dan cermin. Bentuknya portable dan ngga makan tempat. Jadi produk ini travel friendly banget.

Cushion case-nya aman dan kokoh. Ngga perlu takut bocor atau apalah. Walau dari plastik, tapi dia ngga ongklek-ongklek (ringkih).

Awalnya saya mau beli warna mint, tapi kayaknya warna pastel cepet dekil yah? Yaudah deh ambil yang hitam. Hitamnya bagus lho, matte doff gitu.

Air puff-nya halus, lembut, dan empuk kayak minguk. Kalau dandan pake air puff (ngga tau kenapa) hasilnya lebih natural dan smooth. Foundation juga lebih nempel di kulit. Bagus nih buat yang demen No Make Up make up.


Cushion case-nya bisa di-refill dengan merk lain ngga?

Sependek pengetahuan saya, ngga bisa.

Sayang sih, apalagi beli refill (container+foundation) kan lebih murah.

Sebenarnya kita memang bisa gonta-ganti refill, selama merk cushion case-nya dari satu grup cosmetics company yang sama.

Misal merk yang di bawah grup Amore Pacific, di antaranya Etude House, Innisfree, Mamonde, Aritaum, Laneige, Iope, Hera, Sulwhasoo, dst.

Ada juga grup Able C&C, yaitu Missha, Apieu, dst. Group LG Household & Health Care, yaitu The Face Shop, SU:M37, The History of Whoo.

TAPI denger-denger cushionnya Laneige dan IOPE di-upgrade. Jadi sekarang sudah ngga compatible dengan cushion case lain dari grup Amore Pacific (cmiiw).

Baca juga : Review Maybelline Fit Me Matte + Poreless Foundation

Wallahu a'lam.
Semoga bermanfaat.
Thanks for reading and have a nice day.