Original Source Body Butter : Vanilla-Raspberry & British Strawberry


Produk seperti body lotion biasa kurang nendang untuk melembabkan kulit badan saya yang kering. Kalaupun ada, rasanya lengket dan licin. Di sisi lain, sebelumnya saya males banget pake body butter. Yang ada di kepala saya, body butter itu juga lengket, pekat, dan gerah.

Sekarang sudah banyak body butter yang ampuh melembabkan, tapi tetap terasa ringan di kulit. Salah satunya adalah Original Source Body Butter. Produk ini mudah diperoleh di supermarket (saya beli di Carrefour, Rp 28.000).

Harganya terjangkau, mengingat produk ini impor, vegan, dan tidak diuji di binatang. Selain itu, Original Source merupakan member Aromatherapy Trade Council (licence no. 068). Ngga heran sih, wangi produk-produknya enak banget.

Baca juga : Cek  Arti Simbol/Logo Kemasan Produk Kosmetika di Sini

Ada dua varian Original Source Body Butter, yaitu Vanilla and Raspberry dan Seasonal Edition British Strawberry. Dilihat dari komposisi, base-nya sama, beda dikit (sotoy). Saat diaplikasikan ke kulit juga saya tidak bisa membedakan keduanya, karena warna dan tekstur produk mirip plek.

Klaim produk

Our rich and non-greasy body butter deeply conditions and leaves skin moisturised, smooth, and fragrant.





Review

Dikemas dalam jar 100 gr membuat body butter ini kurang cocok untuk dibawa kemana-mana. Padahal bagus banget untuk dijadikan hand cream. Supaya lebih higienis (bukan dipake di rumah), baiknya dipindah ke botol tube. Botol tube kosongan biasanya dijual di counter kecantikan department store. Di tokopedia juga banyak.


Teksturnya sedikit lebih pekat dibanding lotion, tapi lebih melembabkan dan cepat meresap. Kalau diperhatikan yaa, teksturnya tuh mirip yoghurt dan es krim yang sudah mulai melting. Kalau disajikan di piring mungkin bakal saya lahap juga.


Eniwei, saya lebih suka wanginya Vanilla-Raspberry dibanding British Strawberry. Vanilla-Raspberry aromanya bikin laper haha. Beneran lho wanginya lembut manis kayak es krim. Sedangkan Bristish Strawberry lebih strong dan tajam.

Beberapa waktu lalu, saking keringnya kulit saya jadi bersisik dan perih. Waktu itu Lucas' Papaw Ointment (yang biasa jadi andalan) ngga tau lagi nyelip dimana. Akhirnya cuma pake Original Source Body Butter Vanilla-Raspberry. Kulit langsung nyesss, dingin banget rasanya. Beberapa hari kemudian kulit saya pulih seperti semula.

Baca juga : Lucas' Papaw Remedies Ointment

Original Source Body Butter adalah produk rumahan, bukan untuk melindungi kulit saat panas-panasan di pantai. Di list ingredient-nya ada Vitamin C dan Vitamin E, fungsinya sebagai antioksidan (cmiiw). Selama pemakaian, produk ini tidak mencerahkan kulit saya, biasa saja. Kalau mau mengatasi belang dan warna kulit yang tidak rata, lebih ampuh pake body serum dan luluran.

Baca juga : My Favorite Beauty Products (2013)

Selain body butter, produk Original Source lumayan variatif. Ada body shower, body scrub, body lotion, body mist, dan body oil. Pengen banget coba mango oil-nya (buat punggung kaki kering banget, lol), tapi di Makassar belum ada kali ya ^^; Body scrubnya aja kadang stoknya kosong.

Ngomong-ngomong, beberapa hari lalu, saya beli British Strawberry Shower kemasan mini (sekitar Rp 7.000). Oke banget buat dibawa travelling, karena ngga makan tempat. Aromanya persis British Strawberry Body Butter. Buat kulit kering pas lah ya, ngga kesat, ngga terlalu licin juga. Cukup untuk seminggu. Yang saya ngga suka, tutup botolnya model ulir gitu, jadi ngga praktis :( coba pake yang flip-top (banyak maunya haha).


Semoga bermanfaat.
Thanks for reading and have a nice day.

PIXY Cleansing Express : Anti Acne


Beberapa waktu lalu, saya cari toner murah yang mengandung salycilic acid. Ketemulah dengan PIXY Cleansing Express seri Anti Acne (100 ml sekitar Rp 15.000). Karena sebelumnya pernah pake seri Brightening dan alhamdulillah cocok-cocok aja, akhirnya saya memantapkan diri untuk coba seri Anti Acne.


Deskripsi produk

Kulit Anda cenderung berjerawat? Gunakan PIXY Cleansing Express Anti Acne. Diperkaya dengan Salicylic Acid sebagai anti bakteri. Dipotassioum Glycyrrhizate dari ekstrak bahan alami Jepang KANZO, membantu menyejukkan kulit berjerawat.

Formulanya yang bebas alkohol secara lembut mengangkat seluruh kotoran dan make up di kulit tanpa meninggalkan kesan lengket. Dapat digunakan untuk daerah sekitar mata dan bibir.

Terbukti secara klinis tidak memicu timbulnya komedo (non-comedogenic) dan jerawat (non-acnegenic). Sesuai untuk kulit yang cenderung berjerawat. Kulit terasa halus.

Cara pakai
Basahi kapas dengan PIXY Cleansing Express Anti Acne lalu usapkan pada wajah dan leher.

Perhatian!
Hentikan pemakaian jika terjadi iritasi. Jika produk masuk ke dalam mata, segera bilas dengan air. Hindarkan produk dari panas dan sinar matahari. Mengandung menthol. Tidak untuk anak di bawah 3 tahun.


Review

Yang disebut-sebut sebagai "bahan alami Jepang KANZO" itu licorice ya. Jadi bukan sesuatu yang baru.

Dikutip dari Haz-Map [1], nama lain dari Licorice extract antara lain Glycyrrhiza extract; Glycyrrhizae (Latin); Kanzo (Japanese); Kanzou (Chinese); Licorice extract (Glycyrrhiza spp.); Licorice extract powder (Glycyrrhiza glabra L.); Licorice root (Glycyrrhiza glabra L.); Licorice root extract.

Baca juga : Verile Acne Blemish Cream (ada ekstrak Licorice-nya)

Sedangkan Salicylic Acid itu ngga cuma sekedar anti bakteri. Dia juga bisa masuk ke dalam pori untuk membersihkan sebum dan kotoran. Terbukti dalam seminggu pemakaian, whitehead saya berkurang sekitar 30% (tanpa diekstraksi pake stik komedo). Blackheadnya sih tetep anteng di hidung haha.

Daya bersih produk ini sama dengan PIXY Cleansing Express seri Brightening. Tekstur, varian ukuran, dan kepraktisannya juga persis. Jadi ngga perlu dibahas di sini ya...

Baca juga : PIXY Cleansing Express : Brightening

Menurut saya, pemilihan kata "Sesuai untuk kulit yang cenderung berjerawat" itu sudah tepat (supaya ngga ada misleading information). Kulit cenderung berjerawat (acne prone) itu bukan berarti selalu-setiap-saat berjerawat, melainkan mudah mengalami jerawat.

Jadi, jangan heran kalau ada yang kulitnya mulus, tapi dia ngaku acne prone. Ini berarti, jerawat bisa seenaknya muncul saat dia mengalami pms, stres, pake produk kosmetika yang rich, terpapar polusi, dll.

Baca juga : Tipe dan Kondisi Kulit

Pas pertama kali coba PIXY Cleansing Express Anti Acne wanginya berasa tajem banget. Saya lupa wanginya PIXY Cleansing Express Brightening seperti apa, jadi tidak bisa membandingkan.

Produk ini memang tidak mengandung alkohol. TAPI, mengandung zat pewangi (di tengah list ingredients) dan menthol. Memang ada orang-orang yang kulitnya reaktif dengan zat pewangi dan menthol dalam produk kosmetika. Tandanya, kulit mengalami kemerahan, gatal, perih, pedih, dan reaksi tak wajar lainnya.

Alhamdulillah kulit saya ngga alergi zat pewangi maupun menthol, jadi ngga kenapa-kenapa. Tapi untuk repurchase sepertinya ngga ^^; Mau coba pembersih lain hehe.

Akhir kata...

PIXY Cleansing Express Anti Acne cocok digunakan untuk tipe kulit normal cenderung berminyak (slightly oily skin), berminyak, dan kombinasi. Fungsi produk ini seperti produk skin care anti acne dan pore care pada umumnya. Hanya untuk bantu mencegah dan meminimalisir risiko kemunculan jerawat, bukan untuk mengatasi. Bagi yang kulitnya sensitif, kering, dan sedang bermasalah (jerawat parah) baiknya menghindari produk ini.

Semoga bermanfaat.
Thanks for reading and have a nice day.

Verile Acne Blemish Cream (Untuk Noda Bekas Jerawat)


Setelah jerawat sembuh, noda bekasnya selalu bikin gregetan. Banyak yang ingin menghilangkan noda dengan krim obat, namun khawatir akan efek sampingnya. Verile Acne Blemish Cream bisa jadi alternatif salep yang terjangkau dengan hasil yang memuaskan. Baca lebih lanjut untuk tau kenapa saya muji-muji produk ini :))


Klaim Produk

(1) Merawat kulit bekas jerawat,
(2) Menyamarkan noda hitam bekas jerawat, dan
(3) Melembutkan kulit kasar pada daerah bekas jerawat.

Cara Pakai
Oleskan Verile Acne Blemish Cream 2 kali sehari pada daerah bekas jerawat.

Perhatian!
Hanya untuk pemakaian luar. Hindari kontak langsung dengan mata. Jika timbul gangguan pada kulit, kurangi pemakaian, dan hentikan bila gangguan pada kulit tetap ada.

Jauhkan dari jangkauan anak-anak. Simpan di bawah suhu 30 derajat Celcius.

---

FYI

Verile Acne Blemish Cream mengandung bahan aktif natural, yaitu ekstrak Centella Asiatica, ekstrak Licorice, ekstrak Aloe Vera, natural vitamin E, dan vitamin B3 (niacinamide).

Centella Asiatica (Gotu Kola/Daun Pegagan)

Dikutip dari Wikipedia, Pegagan (Centella Asiatica) adalah tanaman liar yang banyak tumbuh di perkebunan, ladang, tepi jalan, dan pematang sawah. Umum ditemukan di wilayah Asia tropik (termasuk Indonesia).

Tanaman ini sudah dari jaman dulu digunakan sebagai obat herbal, karena mengandung anti radang, anti bakteri, anti virus, dan mampu meningkatkan fungsi antioksidan di area kulit yang luka. Ekstraknya (jika diformulasikan dengan baik) juga dapat menenangkan dan menguatkan kulit, meningkatkan produksi collagen, membantu memulihkan luka bakar ringan, psoriasis, mencegah pembentukan bekas luka, serta menyamarkan stretch mark.

Centella Asiatica (biasanya) terkandung dalam produk kosmetika luar, misalnya Michael Todd. Masih jarang produk lokal yang menggunakan Centella Asiatica. Salah satu produk lokal yang menggunakan Centella Asiatica adalah Theraskin Centac Cream. Khasiatnya gimana kurang tau ya, belum coba. Dari deskripsi produknya sih hanya untuk melembutkan kulit.


Licorice Extract

Agen pencerah dan penenang kulit. Membantu mengurangi kemerahan serta iritasi ringan pada kulit.

Baca juga : Sariayu Solusi Organic Face Scrub

Aloe Vera Extract

Sama dengan Licorice Extract, Aloe Vera Extract juga skin soothing agent yang dapat membantu mempercepat proses pemulihan kulit. Fungsinya menyegarkan, memperkuat jaringan kulit, dan menghidrasi. Biasa digunakan sebagai DIY/home remedy untuk kulit yang mengalami radang, kemerahan (redness), luka bakar ringan, lecet, dan iritasi.

Baca juga : Holika Holika Ultra Moist Purity 99% Aloe Soothing Gel

Vitamin E (dalam produk kosmetika)

Disebut-sebut sebagai salah satu highly effective antioxidant. Alasan kenapa vitamin E sering banget terkandung dalam produk skin care adalah kemampuannya untuk masuk ke dalam lapisan kulit dan merangsang pertumbuhan alami sel.

Vitamin E juga mampu memperbaiki dan melindungi kulit dari kerusakan yang lebih parah dan mengatasi bekas merah. Vitamin E sering kita temui di produk anti aging karena terbukti memelihara kesehatan kulit, meremajakan kulit, serta membuat kulit jadi lebih lembab dan elastis.

Vitamin E dalam produk kosmetika bekerja sinergis dengan vitamin C, retinol, niacinamide (vitamin B3), dan Alpha Hydroxy Acid (AHA).

Baca juga : Vitamin C dalam Produk Kosmetika

Vitamin B3 (Niacinamide)

Kedengerannya emang pasaran banget. Tapi popularitas Vitamin B3 (niacinamide) bukan tanpa alasan. Niacinamide efektif mengatasi garis dan kerut halus, hiperpigmentasi, kemerahan (redness), dan iritasi. Niacinamide juga dapat meningkatkan kualitas dan elastisitas kulit, mencerahkan dan memperbaiki tekstur kulit, serta mengurangi radang.

Baca juga : IASO Age Care Toner

-----

Review

Kemasannya mirip dengan Verile Acne Gel, versi ramenya. Yang mana saya juga bingung ya apa hubungannya noda bekas jerawat dengan gitar. Tubenya juga persis dengan Verile Acne Gel, beda judul saja.

Baca juga : Verile Acne Gel


Testurnya krim, yang mudah diratakan. Tidak berminyak, pekat, ataupun lengket. Terasa sejuk saat diaplikasikan ke kulit.


Hasilnya?

Beyond expectation. Padahal ya saya cuma telaten pake (2x sehari) di 2 minggu awal. Setelah itu frekuensi pakainya berkurang, karena lebih sering pake Hada Labo Shirojyun Lotion dan Milk.




Noted!

(1) Produk ini hanya saya gunakan di spot noda saja.

(2) Perbedaan warna di foto terjadi karena pengambilan gambar dilakukan di waktu dan pencahayaan yang berbeda (ngga atur white balance pula).

(3) Tekstur kulit saya memang lebih gradakan kasar jika sedang bermasalah, tapi bukan Verile Acne Blemish Cream yang menghaluskannya. Sepengamatan saya, yang memperbaiki tektur kulit adalah Hada Labo Shirojyun Lotion dan Milk.

(4) Progres di minggu pertama cukup cepat, karena saya menggunakan produk ini di noda bekas jerawat baru. Noda yang lama ngga gitu ngefek.

(5) Hasil di tiap orang bisa berbeda.

---

Setelah minggu kedua, tau dari mana nodanya pudar karena Verile, bukan Hada Labo Shirojyun?

Saya sudah lama menggunakan Hada Labo Shirojyun. Sejauh ini, Hada Labo Shirojyun memang mampu melembabkan, mengenyalkan, meratakan dan mencerahkan warna kulit. Tapi untuk noda bekas jerawat lamaa hasilnya. Terlebih saat ini saya tidak menggunakan Essence-nya Shirojyun.

Baca juga : Hada Labo Shirojyun Ultimate Whitening Series

---

Bedanya dengan Melanox Cream?

Yang paling sering dipakai untuk memudarkan flek/noda bekas jerawat adalah Melanox Cream 2% hydroquinone (yang Forte 4% mesti pake resep dokter). Karena itu obat keras, jadi ada pantangan-pantangannya. Sedangkan produk skin care pencerah biasanya cukup lama yah, sampai berminggu-minggu hingga berbulan-bulan.

Progres yang paling cepat memang Melanox cream. Tapi mesti hati-hati banget karena ini hydroquinone. Obatnya juga hanya boleh dipakai tipis di malam hari. Sedangkan Verile Acne Blemish Cream bisa digunakan 2x sehari, saya coba pake tebal-tebal pun ngga ada efek samping seperti redness. Walau demikian, baiknya tetep dipake tipis saja hehe.

Baca juga : Apakah kamu berlebihan merawat kulit wajah?

Kalau diurut (dari pengalaman saya, belum tentu berlaku untuk orang lain) jadinya seperti ini...

(1) Melanox Cream 2% Hydroquinone - Noda pudar selama 2-3 minggu.

(2) Verile Acne Blemish Cream - 1-1,5 bulan.

(3) Produk skin care pencerah biasa (bukan serum) - berbulan-bulan.

Saya pribadi lebih memilih Verile Acne Blemish Cream, karena relatif aman digunakan saat kulit saya sedang rentan sekalipun.

Tertarik?

Harganya sekitar Rp 25-40.000. Saya beli di Guardian. Di drugstore, apotek lain, dan supermarket (Transmart) juga ada :D Bagi saya, Verile Acne Blemish Cream ini masuk dalam Cheap, but Great Product.

Semoga bermanfaat.
Thanks for reading and have a nice day.

Kenapa Saya Ngga Selfie?

Beberapa kali ada yang tanya (kurang lebih intinya sama), "Selfie-nya mana?" Mungkin karena di akun instagram @haihanitis sekalipun saya ngga pasang selfie. Akun tersebut saya buat untuk memudahkan kontak (direct message) bagi yang kesulitan menghubungi via email atau kotak komentar. Jadi maaf, memang bukan untuk foto-foto pribadi ^^;

Eniweei, sebagian orang langsung paham begitu saya bilang, "Saya sudah ngga selfie-selfie lagi." Tapi ada juga yang masih ngejar, "Pasang aja kali sis, kan ngga ada salahnya, dst dst dst."

:))

Hanitis itu benar nama saya. Hanya karena saya ngga pasang selfie, bukan berarti saya anonim. Sekarang saya ngga nyaman mengupload foto selfie ke internet. Selain itu, selfie bisa disalahgunakan sebagai display/profile picture orang yang punya itikad ngga baik, misal menipu, meneror, akun anonim/hater, dst. 

Lebay.

Ya ngga apa-apa kalo dianggap begitu. Ini bentuk kehati-hatian saya saja dan saya ngga memaksakan pendapat ini ke orang lain :D 

Oh iya, alasan ketiga, kadang pas genic, foto saya keliatan cakep aja gitu. Rada beda dengan aslinya. Pas dilihat lebih lama, berasa membohongi diri sendiri :))


...malah pasang Manse :)) 
Thanks for reading and have a nice day.

Tren Operasi Plastik di Korea Selatan

"Going under the knife" adalah istilah yang menakutkan bagi sebagian besar orang (termasuk saya). Meski demikian, operasi plastik sangat populer di Korea Selatan. Saking lumrahnya, bikin double eyelid sudah tidak dianggap sebagai plastic surgery, melainkan cosmetics procedure.

Beberapa hari yang lalu, saya nonton video Al Jazeera 101 East : The Cost of Beauty (2014). Rasanya campur aduk begitu baca subtitle berikut...

Let's be honest, everyone likes pretty girls.


Memang ada sebagian orang yang menginginkan hasil before-after yang ekstrim (dengan referensi wajah selebriti tertentu) hingga akhirnya menjalani pemotongan tulang pipi dan tulang rahang (agar wajah jadi V-shape). TAPI, "perbaikan" yang ditawarkan klinik kecantikan umumnya "sederhana", seperti bikin double eyelid, facial liposuction, hair transplant, botox, filler, lip augmentation, atau laser untuk menghilangkan noda di kulit.

Totally safe and harmless?

Dimana-mana orang kalo "jualan" bakal bilang barang atau jasanya aman. Tentu calon pasien harus jeli memilih klinik kecantikan, yaitu dengan mempertimbangkan reputasi dokter, jaminan pasca operasi, kompensasi jika terjadi malpraktik, dan lainnya.

Berdasarkan keterangan dari Shin Hyun Ho (medical malpractice lawyer), operasi plastik di klinik kecantikan tertentu berisiko tinggi, karena anestesi (pembiusan) tidak dilakukan oleh ahlinya. Selain itu, banyak juga klinik kecantikan yang pake calo. Jadi, calonya bisa dapat gratis oplas sekali jika bisa mengumpulkan 10 orang. Para calo pun tidak mewanti-wanti apakah klinik kecantikan tersebut aman atau tidak. Jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, mereka lepas tangan.

Dari sisi psikologis...

Walaupun banyak yang lebih percaya diri dan bahagia setelah operasi plastik, TAPI ada juga orang-orang yang kecewa. Orang yang sebelumnya memang sudah memiliki problem self esteem yang serius, umumnya tidak puas dengan hasil operasi yang dijalaninya. Ini bisa berujung pada "ketagihan" untuk mengoreksi bagian tubuh yang dinilai kurang estetik. Dengan kata lain, masalah yang ada di "dalam" tidak bisa semerta-merta teratasi dengan operasi plastik.

Baca juga : Body Dismorphic Disorder

Promosi dan Tren

Saya sering banget melihat iklan klinik kecantikan Korea Selatan di website Indonesia. Bahkan kliniknya menyediakan paket full sponsor. Rupanya, Korea Selatan memang lagi promosi medical tourism. Tanpa turis dari luar negeri, banyak klinik kecantikan yang tidak akan bisa bertahan.


"Tren" operasi plastik adalah masalah yang kompleks. 

Nilai-nilai yang ada pada masyarakat Korea Selatan berbeda dengan masyarakat kita. Tampilan fisik yang menarik dipandang sebagai jaminan kehidupan yang lebih baik. Oleh karena itu, operasi plastik dianggap sebagai jalan pintasnya.

Prof. Yang Yoon menyimpulkan akar masalahnya dimulai dari membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Orang Korea umumnya ingin tampil lebih baik dibanding teman-teman sebayanya. Mereka juga punya dorongan yang kuat untuk mengikuti apa yang sedang populer di media.

Ngomong-ngomong, videonya bisa ditonton di sini...


Berkat video ini, saya jadi tertarik (lagi) untuk baca-baca tentang body image, persepsi cantik ideal, dan rutinitas kecantikan di kebudayaan lain. Semoga ada kesempatan dan kemampuan untuk nyusun artikelnya :D Sebagai penutup, ada kata-kata yang bagus dari Prof. Yang Yoon untuk dijadikan renungan...

Our outer appearance don't wholly define our lives. If people were neglect the growth of their abilities and other important factors because they solely focus on their appearance, they would be nothing more than good looking people.

Semoga bermanfaat.
Thanks for reading and have a nice day.

Perlu Toner Atau Tidak?

Sekitar setahun lalu, secara khusus saya mulai memasukkan toner dalam regimen skin care. Kulit saya benar-benar menunjukkan perbedaan yang nyata saat menggunakan toner untuk "mengeringkan" dan menyiapkan wajah ke step berikutnya :D Pokoknya, saat ini toner jadi salah satu barang wajib buat saya untuk mengatasi kulit dehidrasi.

Baca juga : "Mengeringkan" Kulit Wajah

Ngomong-ngomong (meskipun banyak yang puas), ternyata penggunaan toner masih "diperdebatkan" perlu atau tidaknya. Hmmm...


Beda Pendapat

#1 Memastikan kulit benar-benar bersih?

Klaim tersebut seringkali dicemooh, karena kalau kita masih perlu toner untuk memastikan ada ampas pembersihan yang tertinggal, berarti produk pembersih yang kita gunakan tidak bekerja sesuai fungsinya.

Untuk pendapat ini, saya pilih 50-50.

Membersihkan wajah dari debu, sebum, kotoran biasa memang cukup dengan satu produk. Apalagi sekarang sudah ada cleansing water (satu produk pembersih yang memiliki fungsi toning).

TAPI untuk membersihkan make up, saya masuk tim double cleansing :p Setelah menggunakan cleansing oil, toner adalah produk yang cukup gentle untuk memastikan kulit benar-benar bersih, tanpa khawatir merusak skin barrier.

#2 pH kulit dapat pulih dengan sendirinya

Saya baru tahu kalo setelah cuci muka, pH kulit bisa pulih dengan sendirinya setelah 15-30 menit. Jadi, menurut mereka tidak perlu menggunakan produk dengan fungsi yang sebenarnya sudah mampu dilakukan kulit kita.

Yang ini juga saya 50-50.

Kulit normal dan berminyak emang ngga masalah kalau skip toner. Tapi, pada kondisi tertentu, kulit yang kering dan dehidrasi butuh rangkaian produk khusus supaya tidak gersang/kaku/tegang.

#3 Kulit Kaukasian & Kulit Asia

Beauty expert Barat umumnya berpendapat bahwa sebagian besar toner tidak memberi efek signifikan untuk kulit.

Wajar-wajar saja mereka mengeluarkan statement seperti itu, karena audiencenya adalah masyarakat Barat yang rata-rata Kaukasian.

Yang perlu kita pahami, kulit Kaukasian itu berbeda dengan kulit Asia. Kulit Asia punya lapisan dermis yang lebih tebal, tapi epidermisnya lebih tipis dibanding kulit Kaukasian.


Ini berarti, meskipun kulit orang Asia lebih awet muda (resistant to aging), skin barrier kulit Asia lebih lemah, lebih sensitif, lebih mudah muncul noda bekas jerawat atau luka, lebih mudah kehilangan kadar air di kulit, dan lebih lambat menyerap produk (sehingga perlu disiapkan untuk masuk ke step berikutnya).

Intinya... Dengan karakteristik kulit yang berbeda, tentu pendekatan perawatannya tidak sama persis. Ngga heran kalau produk toner sangat berkembang di Asia, karena memang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan tipikal kulit Asia pada umumnya.

---

Jenis Toner

Secara umum, toner bisa kita bagi menjadi tiga, yaitu toner biasa, toner yang sebaiknya dihindari, dan toner yang bagus (lol).

#1 Toner biasa

Toner biasa tidak memberi perubahan yang signifikan untuk kulit. Formulanya standar. Cocok digunakan untuk remaja, kulit normal, atau kulit yang tidak butuh perawatan intens.

Baca juga : Viva Spirulina Toner

#2 Toner beralkohol (astringent)

Astringent umumnya masuk dalam varian produk anti acne dan ditujukan untuk tipe kulit berminyak - acne prone. Cirinya, kandungan alkohol tinggi (ada di urutan kedua ingredient list) dan terasa pedih jika diaplikasikan di kulit.

Masalahnya, kulit yang dipaksa kering (dengan alkohol) justru memicu produksi sebum berlebih. Jadi kayak lingkaran setan gitulah.
Noted!
Tipe kulit kering, sensitif, dan dehidrasi wajib menghindari toner yang mengandung alkohol. Salah-salah malah iritasi.

Solusinya?
Untuk mengatasi komedo atau mencegah pori tersumbat, baiknya menggunakan toner non-alcohol yang mengandung salicylic acid. Salicylic acid dapat masuk ke dalam pori untuk membersihkan kotoran dan sebum. Selain itu, salicylic acid juga membantu mengontrol produksi minyak di kulit.

#3 Toner bagus

Toner yang recommended memiliki fungsi spesifik, seperti hydrating, anti aging, exfoliating, dst. Kadang dikemas dengan label lotion (Jepang), pre-essence, facial treatment essence, booster, atau skin balancer.

Produk seperti ini recommended untuk orang-orang yang beraktivitas di lingkungan berpolusi, stressful, sering terpapar terik matahari, dan memiliki konsen perawatan anti aging/rejuvenating.

Kontroversinya?
Beauty expert Barat pun setuju kalau toner yang bagus itu worth to try, TAPI lebih baik langsung menggunakan serum yang konsentratnya tinggi, karena tidak ada perbedaan yang berarti meskipun tonernya diskip. Cari saja serum dengan ingredient yang kita butuhkan (mis. salycilic acid, hyaluronic acid, vitamin C dan antioksidan lain). Dengan begitu penetapan regimen juga jadi lebih efisien dari segi budget.

---

Cara tahu kulit butuh toner atau tidak?

Skip penggunaan toner sekitar 3-7 hari. Biasanya di awal sudah kerasa sih bedanya. Tapi kalau ragu, coba berhenti selama seminggu dan amati perbedaannya. Kalau kulit terasa lebih baik dengan toner, berarti kulit kita memang butuh ditoning sebelum menggunakan serum atau pelembab.

Bagi yang belum pernah memakai toner, bisa coba toner biasa dulu. Kalaupun mau pake toner yang bagus, untuk pertama kali amannya cari yang satu seri dengan serum atau pelembab yang sedang kita gunakan.

---

Kesimpulan

Ada kulit yang butuh toner, ada juga yang tidak.

Dalam memilih jenis toner, kita perlu mempertimbangkan tipe, kondisi, dan kebutuhan kulit kita sendiri. Apa yang cocok buat orang lain, belum tentu cocok di kita. Begitu pula sebaliknya.

Produk toner bisa diskip dari regimen skin care, jika (1) kulit kita tidak butuh skin care berlayer-layer, (2) sudah ada serum berkonsentrat tinggi dengan formula spesifik (tonernya jadi rada useless atau khawatir overdoing), dan (3) anggaran skin care terbatas.

Baca juga : Apakah kamu berlebihan merawat wajah?

Artikel lain tentang toner bisa baca di sini...

Tentang Produk Perawatan Wajah
Toner, Mineral Oil, dan Stress
Toner, Facial Spray, dan Face Mist

Semoga bermanfaat.
Thanks for reading and have a nice day.

Obsesi Kulit Putih Sebagian Orang Asia

Produk pemutih/pencerah merupakan salah satu bisnis yang menjanjikan di Asia. Bahkan beberapa tahun belakangan, industri kosmetika juga mentargetkan kaum pria dengan mempromosikan standar yang sama, bahwa kulit putih membuat kita lebih rupawan.

Beragam produk pemutih beredar di masyarakat, di antaranya krim, masker, suplemen pemutih, hingga treatment di klinik kecantikan. Pokoknya, kalau mau laku, pake embel-embel whitening aja :D


Di Cina, kulit putih dikatakan mampu menutupi seratus kejelekan. Sedangkan di Jepang, jauh sebelum masuknya pengaruh Eropa dan Amerika, ada istilah "kulit putih menutup tujuh cela". Yang berarti, wanita berkulit putih akan terlihat cantik, meski wajahnya tidak menarik.

Setidaknya ada empat alasan kenapa kulit putih digandrungi sebagian orang Asia, yaitu...

Kelas Sosial yang Tinggi

Jaman dulu, kulit putih mencerminkan kelas dan status sosial yang tinggi (ningrat). Sebenarnya tidak hanya di Asia ya. Orang-orang Eropa (yang notabene Kaukasian) juga menyukai kulit putih pucat.

Di sana ada istilah angelic aura atau angel of the house, karena wanita dengan kelas sosial tinggi umumnya terjaga di dalam rumah kastil. Kurang lebih sama lah pandangannya... orang kaya atau bangsawan kulitnya terawat karena ngga panas-panasan ^^;

Ngomong-ngomong, usaha mereka untuk tampil putih juga luar biasa. Ada yang dicat (red: film era Ratu Elizabeth atau Marie Antoinette), bedakan pake kapur, hingga menggunakan logam berat (lead, mercury, dst). Tapi orang Barat jaman sekarang agaknya lebih suka dengan tanned skin yang glowing.

Kecantikan Klasik Asia

Kunci kecantikan klasik Asia adalah peningkatan kontras warna wajah (clear contrast). Orang Asia umumnya memiliki rambut hitam, kulit kuning, dengan struktur tulang wajah yang kurang tegas. Itulah kenapa berbagai resep homemade skin care dari nenek moyang berkisar di pencerah kulit, penghitam rambut, dan gincu.

Berbeda dengan kita, meskipun berambut cokelat atau pirang, orang Kaukasian punya "kontras" yang lain, yaitu kontur tulang wajah yang tegas dan tajam.

Perempuan Harus(?) Lebih Putih dari Laki-laki

Umumnya di Asia, laki-laki menyukai perempuan berkulit putih dan bening (kayak botol aqua?). Selain itu, cewe yang putih (katanya) tampak lebih feminin. Stigma ini yang membuat kebanyakan perempuan berpikir kalau ngga putih, berarti ngga cantik.

Konsep "Cantik" Bentukan Media

Media jelas punya pengaruh yang luar biasa besar dalam membentuk persepsi "cantik ideal". Banyak iklan yang menunjukkan bahwa seolah-olah kulit putih adalah solusi dari segala problem yang ada.

---

Imho...
"Putih" Indonesia berbeda.

Warna kulit saya light medium dengan undertone yang ngga jelas warm atau olive (cek pergelangan tangan ada pembuluh darah hijau dan biru). Kulit saya tidak seputih cewe-cewe Asia Timur, tapi buat orang Indonesia kebanyakan masih masuk kategori "putih" :/

Kadang di email juga suka ngga nyambung dengan reader hehe, saya kira putih yang dimaksud itu ala Kaukasian, tapi yang mereka maksud itu ya.. hmm... cerah (not literally "white"). Dari situ saya menyadari kalau kata "kulit putih" mulai mengalami pergeseran makna. Ngga sedangkal seperti apa yang saya pahami sebelumnya.

Baca juga : Kulit Putih = Cantik?

"Kulit putih" di Indonesia tidak selalu berarti putih porselen. Tapi bisa juga berarti kulit yang cerah, sehat, atau bersih. Lain halnya di negara-negara Asia Timur, kulit putih idealnya ya seperti Fan Bingbing.

Perlu ngga sih pake produk Pemutih?

Produk pemutih biasa (whitening, lightening, brightening) hanya bisa mencerakan sementok-mentoknya seperti warna lengan atas bagian dalam kulit kita (area yang tidak terekspos sinar matahari/warna alami kulit). Jadi, jangan mudah percaya testimoni yang menunjukkan perubahan warna kulit yang drastis secara instan.

Saya sendiri memerlukan produk "pemutih" untuk maintain kulit, supaya warnanya rata dan tidak mudah kusam. Belum lagi kalo ada blemishes ^^; ya mau ngga mau pake pemutih (bayclin? rinso? lol) untuk memudarkan nodanya. TAPI, saya menghindari produk dengan agen pencerah saat kulit sedang bermasalah.

Intinya, menurut saya fine-fine saja memakai produk pemutih. Yang jadi masalah adalah jika obsesi "memutihkan" kulit tidak diimbangi dengan pengetahuan mengenai produk dan treatment yang aman.

Updated! (September 2016)

Kadang kita penasaran ya, sudah pake produk skin care dari dokter kulit atau serum hasilnya cuma cerah, tidak seglowing krim abal-abal. Sebatas pengetahuanku, krim abal-abal (yang mengandung logam berat seperti merkuri) menggerus lapisan atas kulit. Kelihatannya jadi putih, tapi justru itu efek negatifnya.

Ada orang yang tubuhnya responsif banget dengan krim abal-abal (langsung muncul reaksi penolakan). Ada juga yang tidak, makanya pada ngerasa biasa saja, dan keukeuh bertahan. Dampak buruknya baru muncul belakangan, seperti kulit jadi menggelap (menghitam, ada juga yang abu-abu), jerawat pasir, bruntusan ngga sembuh-sembuh, dst.

Semoga bermanfaat.
Thanks for reading and have a nice day :D